
Firda masih saja mau bersiap-siap mengintip, Bujang sudah keluar saja dari dalam kamar mandi.
Eh, sudah nggak Bujangan lagi, sudah buka segel, ganti panggilan ah.
"Abang nggak mandi?"
"Nggak, wudhu aja. Siapa tahu nanti bisa nambah lagi, tadi kan belum sempurna." Hamish naik ke atas ranjang, menatap Firda yang sudah memakai piyamanya. Tapi cuma atasannya saja, bawahnya masih polos. Lihat saja celananya masih teronggok begitu saja di ujung ranjang.
"Belum sempurna bagaimana? Aku bisa lihat Abang tadi memejamkan mata, pasti...."
Hamish segera membungkam mulut Firda dengan telapak tangannya.
"Jangan di perjelas! Malu, Abang. Tadi kan baru permulaan, kamu saja belum rasa kan? Apalagi kamu ribut, Abang kan jadi nggak konsentrasi." Hamish melepaskan tangannya yang ada di mulut Firda.
"Sakit, Bang, masak aku nggak boleh teriak. Enak di Abang nggak enak di aku. Katanya malam pertama itu indah dan sulit dilupakan, nyatanya bohong. Yang sulit di lupakan itu sakitnya, enaknya...Entah. Enak nggak, Bang?"
Hamish menepuk jidatnya, dia mau menjawab apa?
"Bang."
"Hmm,"
"Enak nggak?"
Hamish menggeleng.
"Kalau nggak enak, kenapa Abang mau nambah tadi bilangnya?" Firda memiringkan kepalanya menatap Hamish yang mulai berbaring di sebelahnya.
"Nggak enak, tapi enak sekali. Nanti kalau itu kamu sudah nggak terlalu sakit, kita ulangi ya! Atau besok saja biar kamu juga merasakan."
Firda mengangguk.
Malam pertama mereka memang tidak semanis dan seromantis seperti kisah romance. Tapi keterbukaan antara keduanya tanpa rasa sungkan terutama dengan Firda yang banyak bertanya, membuat malam pertama mereka jadi terasa spesial.
Tidak ada pakai drama harus meneteskan air mata karena memang Firda rela-rela saja tuh di perawani oleh suaminya, justru penasaran dengan rasanya itu seperti apa.
"Bang."
Hamish yang sudah memejamkan matanya, membuka kembali.
"Aku penasaran dengan rasanya, Bang, ceritakan bagaimana?" Firda masih memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Hamish.
"Usia kamu belum juga genap dua puluh tahun, tapi kenapa pikiran kamu itu mesum sekali, Firda? Yang seperti itu nggak bisa di ceritakan, itu cuma bisa di rasakan. Sama seperti rasa cabai atau gula, apakah kamu bisa menjabarkan melalui kata-kata pada seseorang yang tidak pernah makan cabai?"
Firda menggeleng.
__ADS_1
"Nah, seperti itu juga rasa nikmatnya yang kita lakukan tadi. Abang tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata, seluruh tubuh akan merasakan nikmatnya. Bukan hanya di situ saja, atau kita ulangi lagi sekarang?"
Beuh, maunya Hamish.
"Nggak, ah, besok saja. Masih perih, aku mau buang air saja takut."
Hamish terkekeh.
"Buang saja, nanti nggak bisa tidur kalau di tahan mau buang air. Mau Abang temani?"
"Nggak, malu." Firda pelan-pelan turun dari tempat tidur, berjalan perlahan dengan gerakan yang sedikit aneh lalu menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Hamish menyalahkan ponselnya untuk melihat sprei yang berada di bawah tubuh Firda tadi, dia bisa melihat ada beberapa tetes noda darah berwarna merah muda disana.
Ternyata lebih membanggakan dan membahagiakan mendapatkan yang masih perawan, bukan bekas dari pria lain. Tidak sia-sia aku bujangan sampai seminggu yang lalu.
...*****...
Sudah hampir tengah malam keduanya tidak tidur dengan baik bahkan nyaris tidak bisa tidur, baik Firda dan Hamish sama-sama gelisah dan penasaran.
Firda penasaran karena ingin tahu bagaimana rupa dan rasanya, tapi di area pribadinya masih perih.
Hamish sendiri gelisah menahan hasrat karena menginginkan lagi, dia juga penasaran bagaimana rasanya setelah jalanan itu sudah mulai lancar di lalui. Yang tadi kan baru merintis, masih tersendat-sendat. Mana miliknya juga terasa sakit karena memaksa masuk.
Hamish meringsek mendekati Firda yang tidur membelakangi dirinya, tangannya memeluk pinggang Firda.
"Fir, Abang mau lagi, boleh ya?"
lho, kok Hamish mendadak kalem dan permisi. Biasanya main curi-curi.
Gara-gara sudah dapat sekali, mendadak jadi kucing rumah. Apa mungkin karena panggilannya sudah beda?
Firda membalikkan badannya, antara mengantuk dan mau.
"Nanti sakit lagi, aku mau ke kampus lho. Kalau nggak bisa jalan gimana?"
"Bolos."
"Kemarin sudah bolos, masa' nanti bolos lagi."
Tapi tangan Firda mulai menyentuh dada Hamish ketika Hamish mulai berada di batas tubuhnya, ujung jari tangannya menusuk-nusuk pelan dada Hamish yang bidang. Hormon estrogennya mulai bereaksi, padahal Firda tidak dalam masa subur. Namanya juga pengantin baru, jadi yang subur itu pikirannya.
"Nggak bakalan sakit lagi, percaya pada, Abang! Kamu pengen rasa kan?" tangan Hamish pun sudah tidak tinggal diam. Membuka apa yang bisa di buka lalu melepaskan dan melemparkan ke sembarang arah.
Tidak ada di setiap inci tubuh Firda yang luput dari bibirnya, semua di sentuh dan di kecap agar Firda siap untuk di ajak mengarungi dunia yang penuh warna.
__ADS_1
Firda masih diam menikmati tanpa berani bertindak karena dia murid yang baik, biarkan saja gurunya yang lebih dahulu memberikan contoh apa yang harus dilakukan.
Karena ini yang kedua, pemanasan juga sudah cukup maksimal. Firda dan Hamish sama-sama bisa berada dalam pusaran gelombang yang selalu diarungi oleh para pencinta.
Firda yang baru merasakan apa itu pelepasan meneriakkan nama Hamish pelan sambil mencengkram rambut Hamish dengan kuat.
Membiarkan wajah Hamish berada di dadanya, Firda masih terus memejamkan kedua matanya menikmati sisa-sisa manisnya madu penyatuan mereka.
Seperti itu rupanya, pantasan saja dia minta ngulang. Kalau seperti ini aku juga mau ngulang lagi, eh.
Setelah deru napasnya sudah mulai normal pelan Hamis menarik diri dari atas tubuh Firda yang masih diam tidak bergerak, melihat itu Hamish tertawa tanpa suara.
"Mau mandi bareng, nggak? Biar lengkap ritual malam pertama kita." tawar Hamish memungut sarungnya yang ada di lantai.
"Abang mandi dulu aja, badanku seperti sulit di gerakkan. Aku mau tidur sebentaaaarrr saja." ucap Firda yang tidak sanggup untuk menarik selimut hingga menutupi dada, dia membiarkan asetnya terekspos begitu saja.
Hamish terkekeh pelan, menyelimuti Firda lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Terimakasih ya, kalau begini Abang rela kamu menggagalkan pernikahan Abang kemarin. Kamu memang lucu, Firda sayang. Semoga benih yang Abang taburkan dari malam tadi, menjadi calon anak kita ya!" bisik Hamish pelan mengusap perut Firda dari atas selimut, Firda tidak bereaksi dengan ucapan Hamish karena dia sudah tertidur.
Hamish langsung melangkah masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri untuk mandi junub, hatinya benar-benar bahagia.
Melepaskan keperjakaan pada perempuan yang benar-benar masih suci untuknya, tidak sia-sia dia menjaga dirinya selama ini karena dia mendapatkan jodoh yang juga masih terjaga.
Untuk urusan kenakalan Firda yang sudah menggagalkan pernikahan dirinya dengan Mawar itu justru patut dia syukuri. Kalau tidak karena Firda yang bertindak pendek pikiran, tidak mungkin Firda ada di dalam kamarnya bahkan ada di atas ranjangnya.
Menjelang hendak pergi ke mesjid dan keluar kamar, Hamish membiarkan Firda tidur sebentar. Setelah pulang dari mesjid baru akan dia bangunkan, karena pasti Firda sangat lelah dan mengantuk.
Abah yang juga sudah keluar dari dalam kamar menatap Hamish dengan seksama, lalu bibir Abah membentuk senyuman.
Hamish yang tahu arti senyuman Abahnya ikut tersenyum.
"Pagi ini semakin cerah ya, Mish. Hawa-hawanya Abah dan Umi akan punya cucu lagi nih."
"Abaaah...."
"Memang kamu nggak kepengen? Adik-adikmu sudah memberikan Abah dan Umi cucu, tinggal nunggu dari kamu, Mish."
"Do'akan ya, Bah! Semoga segera."
"Aamiin, yuk!" ajak Abah.
Abah dan Hamish melangkah menuju ke mesjid yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah. Baik Abah, Hamish dan Firda tidak ada yang ingat jika Firda masih berusia sembilan belas tahun dan masih kuliah. Kalau hamil bagaimana jadinya?
...****************...
__ADS_1