Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
21. Praktek Ilmu


__ADS_3

Sholat isya benar-benar tidak khusu' bagi Bujang. Saat imam membaca ayat, pikiran Bujang melayang kepada Firda. Terutama saat dia dan Firda beradu bibir untuk pertama kalinya.


Tanpa sadar, bibir Bujang tersenyum tipis.


Astagfirullah....


Bujang mengucap istighfar di dalam hati, lalu membaca Audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim, terus Bujang meludah pelan ke arah sebelah kiri sebanyak tiga kali agar syaiton yang menggoda do dalam hati dan pikirannya segera enyah. Tapi tentu saja jangan sampai mengeluarkan liur atau suara, bisa hilang konsentrasi kawan di sebelah.


Mencoba kembali khusu' dengan mendengarkan apa yang dibaca oleh pak Imam hingga selesai.


Beberapa meter lagi keduanya sampai di depan rumah, Abah dan Bujang melihat Firda dan dua temannya sedang mengobrol di teras rumah.


"Itukah dua teman Firda yang memberikan tantangan waktu itu, Mish?" tanya Abah melambatkan langkah kakinya agar tidak terlalu cepat sampai di rumah


"Iya, Bah."


"Wah, sudah go publik istrimu? Kirain Abah masih kucing-kucingan, karena kata ibu mertuamu kemarin Firda masih menyembunyikan statusnya."


"Nggak tahu juga, Bah, mungkin karena sebentar lagi resepsi. Mana mungkin dia masih menyembunyikannya lagi."


Abah mengangguk- anggukkan kepalanya.


"Assalamualaikum." Abah mengucapkan salam dengan ramah.


"Waalaikumussalam." jawab ketiganya dengan serentak.


Gita dan Sisil terus memandangi Bujang yang lewat begitu saja masuk kedalam rumah tanpa menegur kecuali memberikan senyuman tipis, dia hanya melirik sekilas ke arah Firda yang menatapnya penuh arti.


"Fir, bang Bujang habis di sunat ya?" tanya Sisil pelan sembari melongokkan kepalanya melihat ke dalam rumah.


Gita cekikikan.


"Apa? Karena pakai sarung? Bagus kan? Nggak repot-repot, tinggal tarik aja." Firda terkekeh.


Gantian Gita dan Sisil yang mencebik.


"Mentang-mentang sudah punya suami, omongannya terus nyerempet kesana." Sisil mencibir.


"Kan kau yang mulai. Bang Bujang pakai sarung kau bilang baru selesai di sunat, kan nggak ada hubungannya. Terus, kalian berdua malam-malam gini kemari ngapain? Tadi kita sudah ketemu di kampus, besok juga ketemu. Kalian pulang gih!" usir Firda menarik-narik tangan keduanya.


"Kau kenapa tinggal disini? Memang enak tinggal di rumah mertua? Enakan tinggal di rumah orang tuamu sendiri." Sisil mulai memprovokasi.


"Iya, Fir, nanti kau di jadikan pembantu lho, disuruh mengerjakan semua pekerjaan. Terus bang Bujang membawa perempuan lain ke rumah ini, terus...."


"Ternyata kau berbakat menjadi pengarang ya? Sepertinya kita salah mengambil jurusan, kau pikir ini cerita ratapan menantu yang terzalimi?" potong Firda cepat sebelum Gita mengatakan hal-hal yang tidak masuk di akal.


Umi dan Abah, kedua orang tua Bujang adalah mertua yang baik untuk Firda. Bahkan beberapa hari tinggal di rumah mertua, Firda masih juga belum pernah menghidupkan kompor. Karena apa? Dia juga nggak tahu mau ngapain, jadi untuk apa menghidupkan kompor.


Sisil dan Gita cengengesan.


"Bukan gitu, Fir. Kalau kau tinggal di sini, tidak ada alasan untuk kami bertemu dengan bang Bagas. Rindu kami, Fir." Sisil menampilkan wajah memelas.


Firda jadi kasihan melihat keduanya, rasa pengen menjitak biar pikirannya nggak bang Bagas terus.

__ADS_1


"Kalau kalian mau ketemu, pergi saja ke Bank!"


"Ngapain?" tanya Sisil dan Gita berbarengan.


"Ya nabunglah? Memangnya mau ngapain? Melamar pekerjaan? Kuliah saja baru kemarin sore, siapa tahu ketemu sama bang Bagas."


Gita sama Sisil mencebik. Bagas bukan teller atau costumer servis, dia bagaian administrasi di dalam. Tidak bertemu atau melayani nasabah.


"Kau nyindir, uang apa yang akan kami tabung? Uang mbahe Kobong?" Gita mengerucutkan bibirnya.


"Nanti saat acara resepsi tinggal beberapa hari lagi, kalian kan bisa kerumah untuk bantu-bantu."


Mendengar kata resepsi, Gita dan Sisil terlihat sumringah. Sudah terbayang dengan keduanya setiap hari kerumah Firda, kalau perlu menginap biar puas memandangi wajah Bagas. Syukur-syukur di ajak bobok bareng di kamarnya. Iya dong, nggak mungkin tidur dengan Firda, dia kan sudah punya suami.


Eh, tunggu dulu! Nggak mungkin juga Gita dan Sisil tidur di kamar Bagas. Kalaupun mungkin, Bagas-nya ngungsi ke kamar Raka.


"Sudah, pulang sana! Nggak enak aku nganggurin suami, lagian kalian adalah tamu yang tidak tahu situasi."


"Maksudmu apa?" Gita mulai tersinggung tadi tadi di usir terus.


"Aku pengantin baru, kenapa kalian datang malam-malam? Ini waktunya aku bersama suamiku, masak gitu saja kalian nggak tahu sih."


Gita dan Sisil semakin mendekat ke arah Firda, saking dekatnya sampai saling berdempetan.


"Memang kau dan bang Bujang begituan? Kau kan nggak cinta? Janganlah cinta, kenal saja tidak. Cuma tahu iya, masak mau sih kau di gitukan." Sisil menatap wajah Firda yang cuma melengos.


"Bang Bujang suamiku, dia bukan orang lain. lagipula, punya suami enak tahu? Aku kan sudah bilang dikampus, sudah kalian pulang! Aku sudah nggak tahan nih."


Sisil dan Gita tidak mau mendengar ucapan yang semakin aneh dari mulut Firda, keduanya langsung saja pergi tanpa sempat permisi pada Abah dan Umi yang sedang nonton TV.


Dilihatnya Bujang sudah tertidur sambil memeluk bantal guling menghadap ke arah dinding.


"Ya, Abang, cepat benar tidurnya, katanya mau ngajarin yang tadi?" gerutu Firda sambil berjalan lesu ke kamar mandi untuk berganti pakaian dengan piyama tidur.


Bujang yang mendengar ucapan Firda tertawa tanpa suara.


Bisa-bisanya dia nagih untuk di cium, ckckck.


Bujang kembali memejamkan matanya pura-pura tidur ketika mendengar bunyi pintu di buka.


Firda segera mematikan lampu kamar sebelum naik ke tempat tidur.


Menatap punggung Bujang dalam kegelapan, dia sangat ingin merasakan bagaimana di peluk Bujang yang memiliki badan besar itu.


Pasti anget kali ya?


Sayangnya Firda masih belum berani untuk memulai lebih dulu, dia hanya meraba bibirnya mencoba kembali merasakan apa yang mereka lakukan tadi.


Bujang membalikkan badannya pelan.


"Kenapa di pegangin bibirnya? Pengen yang tadi?" tanya Bujang sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Firda, sontak Firda tersentak kaget.


"Abang belum tidur?"

__ADS_1


"Belum, kan nunggui kamu. Teman kamu ngapain kesini?"


"Jangan bahas mereka! Nggak asik. Enakan..." Firda sudah menempelkan bibirnya ke bibir Bujang, Bujang tertawa.


Ternyata Firda agresif juga, tapi tidak tahu mau ngapain. Cuma di tempelkan saja.


"Ikuti apa yang Abang lakukan ya!" lirih suara Bujang berucap di depan bibir Firda.


"Ingat, bernapas seperti biasa dari hidung. Oke!"


Firda hanya diam, mulai mengikuti apa yang dilakukan Bujang pada bibirnya. Bayangan tangan cewek yang melingkari leher sang pria kala sedang berciuman ketika mereka menonton drama romantis Firda ikuti, dia juga mengalungkan tangannya ke leher Bujang.


Ketika tangan Bujang mulai membuka pengait kancing piyamanya, Firda langsung mendorong dada Bujang.


"Abang mau ngapain? Kan belum resepsi, ntar kurang greget kalau udah begituan"


"Mau membuat tanda merah di dada kamu, Fir. Kamu pengen rasa nggak?"


"Pengen sih, tapi aku malu,"


"Kan gelap? Lagi pula Abang sudah tahu bentuk dan ukurannya kok, kenapa malu?"


"Waktu itu kan aku tidur, ya pasti nggak malulah."


"Ya sudah, sekarang pura-pura saja tidur!"


"Iya, juga ya,"


Firda mendadak Oneng, Bujang menyeringai.


Lucu juga punya bini masih bocah.


Bujang mulai melakukan dan membuat apa yang dilakukannya malam kemarin, tapi Firda justru cekikikan.


"Bang, geli." Teriak Firda sambil tertawa.


"Ssstttt ...Jangan kencang-kencang, Fir! Abah dan Umi masih nonton TV tuh."


"Tapi geli, Bang." Firda mengecilkan suaranya.


"Kamu nikmati saja, jangan gelinya yang kamu rasakan."


Firda tetap saja cekikikan, akhirnya Bujang duduk menatap sebal pada Firda.


"Kok berhenti, Bang?"


"Kamu tertawa terus, jadi hilang konsentrasi Abang. Nanti kita lanjutkan! Sekarang kita ngobrol saja dulu!" ucap Bujang mengecup sekilas bibir Firda.


Firda-nya nggak rela kalau cuma sekilas, dia langsung saja nemplok pada Bujang sehingga Bujang telentang kembali di atas ranjang.


Firda yang sudah tahu bagaimana bersilat bibir mulai menunjukkan kebolehannya, tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh Bujang.


Bujang membiarkan Firda praktek ilmu yang baru diajarkannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2