Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
61. Tidak mau Kalah


__ADS_3

Hamish yang hendak mematikan lampu kamar menautkan alisnya melihat Firda yang terus senyam-senyum sambil memeluk bantal guling.


Di bilang sedang berkhayal matanya terbuka, tapi kalau tidak...Dia juga tidak melihat ke arah Hamish, kedua matanya menatap ke sembarang arah.


"Fir, kamu kenapa?" tanya Hamish sesudah mematikan lampu dan naik ke atas ranjang.


"Hah? Kenapa apanya?"


"Senyum-senyum terus."


"Oh, itu, lagi mikirin Sisil sama Gita, mereka lagi ngapain ya, Bang?"


"Astaghfirullah... Kenapa itu yang kamu pikirkan? Terserah mereka mau ngapain, yang pasti mereka tidak akan sama seperti ketika malam pertama kita sekamar."


"Iya, Abang kejam, masak aku disuruh tidur di lantai."


Eh, siapa yang nyuruh? Perasaan Firda sendiri yang mau.


Dalam keremangan suasana kamar Firda cemberut.


"Habisnya, Abang kan sedang jengkel, seenaknya saja kamu memfitnah, Abang. Tapi semua berbuah indah kok, Fir. Abang cinta sama kamu, sayang sekali malah. Kalau waktu itu... Astaghfirullah...Kesel sama kamu, tapi sekarang Abang bersyukur sekali." Hamish menarik pinggang Firda agar lebih dekat padanya.


"Iya, tahu aku akhirnya..." Firda melingkari leher Hamish dengan tangannya.


"Akhirnya apa?" suara Hamish mulai berubah, makin kesini Firda semakin agresif. Bagaimana dirinya bisa tahan.


"Bersama Abang itu asik dan menyenangkan, aku langsung saja mau tidur seranjang dengan, Abang." Firda terkikik, Hamish mencubit puncak hidung Firda.


"Dasar mesum, makanya sekarang hamil kan?" Hamish jadi ikut-ikut aneh.


"Kan Abang yang buat aku hamil. Bang, kita malam kesekian juga yuk, jangan mau kalah sama mereka!"


"Kamu yang kalem ya! Nikmati, oke!"


"Hmm,"


Widiiih, Hamish dan Firda nggak mau kalah sama pengantin baru.


...******...


Gita duduk serba salah di atas ranjang, matanya terus mengawasi gerak-gerik Noah yang baru keluar dari kamar mandi.


Hanya mengenakan celana pendek dengan atasan kaus tanpa kerah, sehingga memperlihatkan otot lengan dan sebagian pahanya yang terlihat kokoh. Diam-diam Gita menelan salivanya.


Ternyata Mas Noah lebih seksi dari bang Bagas.

__ADS_1


Ekhem.


Gita tersentak kaget. Karena terlalu fokus dengan paha dan lengan Noah sehingga Gita tidak melihat kalau Noah tengah melihati dirinya.


"Ada yang aneh dengan penampilan, Mas, Git?"


Noah melangkah mendekat ke arah ranjang, bukannya Noah tidak tahu apa yang di perhatikan Gita dari tadi. Cuma dia pura-pura acuh saja, anggap saja selebriti yang tengah si sorot camera.


Pasti dia sudah ngiler, dari tadi menelan saliva terus. Dasar, lugu-lugu tapi otaknya mesum juga.


Perpaduan apa itu?


"E-Nggak, nggak lihat apa-apa. Cuma celana yang Mas pakai apa nggak kependekan? Ntar di gigit nyamuk lho, di kira itu rumput."


Tunjuk Gita lewat ekor matanya pada kaki dan paha Noah yang berbulu, lengannya juga. Cuma kalau lengan, Gita kan sudah sering melihat kalau Noah menggulung lengan kemejanya. Tapi kalau paha dan betisnya, baru kali ini. Apalagi yang lainnya ya? Pasti berbulu juga, eh.


"Ini bukan rumput, coba kamu rasakan!"


Noah menggesekkan kakinya ke betis Gita, sehingga Gita melotot. Seketika kulit di permukaan tubuhnya langsung meremang. Melihat reaksi Gita, Noah terkekeh.


"Tidur sini, Git! Lelah kan?" Noah membaringkan tubuhnya di sisi ranjang, Gita masih belum bergerak. Dia antara takut-takut tapi penasaran.


Menunggu Gita kelamaan, Noah menarik tangan Gita hingga perempuan muda itu jatuh menimpa tubuhnya.


Gita cepat-cepat hendak menyingkir, jantungnya sudah berdegub dengan detakan yang kencang, darahnya juga berdesir. Bagaimana tidak berdesir, posisi jatuhnya itu lho, sangat ambigu. Noah sendiri juga tersentak kaget, kok bisa pas.


Gita yang baru bisa membayangkan, sekarang justru sudah berada di atas tubuh Noah dan merasakan sesuatu yang mengganjal diperutnya.


Didalam kamarnya sendiri, mereka cuma berdua dan keduanya juga sudah menikah, hormonnya langsung bereaksi dengan cepat. Apalagi Noah memulainya tanpa banyak kata-kata dan tidak membiarkan Gita untuk berkata-kata.


Gita hanya pasrah saat Noah membalikkan posisi tubuh mereka, membawa Gita ke dunia yang baru Gita lihat hanya di film-film yang pernah dirinya lihat bersama dengan Firda dan Sisil. Sekarang dia merasakannya sendiri, Gita juga tidak sadar kapan Noah melucuti semua pakaiannya.


Dalam keremangan cahaya kamar pengantin, Gita melihat bagaimana fisik Noah yang sebenarnya. Matanya terus menerus terbuka dan tertutup menatap pria berbadan besar polos seperti bayi sedang bermain-main pada tubuhnya, sampai dirinya yang berada di dunia yang belum pernah dijelajahinya harus kembali ke alam nyata saat Noah memasukinya dengan paksa.


"Sakit, Mas," teriak Gita yang langsung di dekap mulutnya dengan telapak tangan Noah.


"Ssstttt...Git, di luar masih ramai orang, tahan dikit ya, please!"


"Tapi sakit, udah, udah, besok sambung lagi!" Gita sudah mendorong-dorong badan Noah, tubuh Noah yang seksi dan berotot di mata Gita tidak lagi membuatnya menelan saliva seperti tadi. Yang dia inginkan agar Noah segera beranjak dari atas tubuhnya.


Mana Noah perduli dengan permintaan Gita, tangan Gita yang mendorong-dorong dadanya di satukan dan di cengkeram dengan satu tangan lalu diletakkan di atas kepala Gita. Bibir Gita dibungkam dengan bibirnya sendiri supaya Gita tidak menjerit, hingga Noah selesai baru dia melepaskan penyatuan bibir mereka.


Noah segera menjatuhkan dirinya disebelah Gita dengan peluh yang terlihat mengkilap di dahi dan seluruh permukaan tubuhnya, Gita yang kesakitan memukul lengan Noah dengan keras.


"Sakit, tau nggak?"

__ADS_1


Noah tertawa kecil.


"Besok nggak sakit lagi, Gita sayang. Percayalah!"


"Benar kata Firda, malam pertama itu menyakitkan dan meremukkan."


Noah terkekeh.


"Jadi itu yang di ucapkan istri Hamish tadi sore kenapa kalian berdua bisa memekik ketika di pelaminan?"


"Hmm,"


Noah kembali terkekeh, dia beranjak dari atas kasur untuk segera ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Noah tidak bisa polos berlama-lama di atas ranjang. Diluar masih terdengar suara orang-orang yang tengah beberes sisa-sisa pesta tadi, jadi dia jangan sampai kelihatan kalau sudah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.


...*****...


Apa kabar Ryu dan Sisil?


Membuat Sisil terlena hanya dengan permainan bibir dan bersilat lidah bukan sesuatu yang susah bagi Ryu, bibir Sisil sampai membengkak di buat Ryu.


Kissmark juga sudah memenuhi dada dan perut Sisil, jangan di tanya apa yang sudah Sisil rasakan. Dia sampai harus menutupi mukanya sendiri dengan bantal karena malu terus memekik disebabkan Ryu yang terus mengeksplorasi setiap inci tubuhnya.


Hingga saat Ryu meminta izin untuk melakukannya, Sisil tidak menolak atau mengiyakan. Dia hanya bisa diam, karena dirinya sudah terlalu lelah.


Sisil tidak lagi bisa berteriak ketika rasa sakit mendera bagian bawah tubuhnya, dia hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat sembari tangannya mencengkram alas kasur.


"Bang, tadi kan aku katakan besok, kenapa sekarang?"


Telat Sil, sudah selesai baru ngomong, tadi diam saja.


"Sama saja, Sil, besok atau sekarang nggak ada bedanya. Besok kalau di hotel kamu boleh teriak sekencang-kencangnya, nggak perlu di redam dengan bantal. Nggak bakalan ada yang denger juga."


Sisil langsung memukul badan Ryu dengan bantal.


Menyebalkan.


...****************...


catatan.


Di Turun Ranjang itu juga ada sambungan cerita Ray dan Kanaya.


( Akunya kan suka nyambung-nyambungkan hahahaha )

__ADS_1


Sabar, mereka akan muncul di bab 9.


Mungkin mulai daily awal bulan depan ya!


__ADS_2