Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
39. Pagar Bambu


__ADS_3

Waktu baru juga menunjukkan pukul enam pagi, Hamish sudah berdiri dan berjalan mondar-mandir seperti hansip yang sedang latihan baris berbaris di depan teras rumah.


Abah yang sedang menyeruput kopi buatan Umi melirik lucu.


"Mish," panggilan Abah dari ruangan tempat biasa menonton TV membuat Hamish melongokkan kepalanya ke dalam, dia mendesah pelan lalu melangkah mendekati Abah.


"Ngapain di teras?"


"Nggak ada, Bah, cuma nunggu matahari terbit saja, siapa tahu hari ini dia sedikit telat." kekeh Hamish, Abah juga ikut terkekeh.


"Kamu bisa saja ngelesnya, ketularan Firda ya?" canda Abah sambil mencomot pisang goreng yang masih hangat di atas piring sebagai teman minum kopi.


"Nunggu yang membawa pakaian pengantin? Belum lah, Mish. Palingan juga nanti datangnya menjelang Dzuhur, kamu kan tidak di make-up segala. Cuma memakai pakaian pengantin saja tidak sampai lima belas menit sudah selesai, berbeda dengan Firda."


Duh, Abah jangan menyebut nama Firda dong? Hamish makin kangen nih.


"Faiza dan Hana juga belum datang, kata Umi mereka berdua nyalon dulu."


"Iya, Bah."


Hamsih berjalan ke dapur, dilihatnya Umi sedang menggoreng pisang.


"Umi nggak ke salon juga?"


Hamish aneh, masak Uminya di tanya mau ke salon atau tidak. Efek sedang kangen berat ya gitu, nggak fokus.


Umi tersenyum.


"Mish, Umi tidak perlu ke salon. Mau ngapain? Nanti orang yang akan merias tipis wajah kamu biar semakin cakep kan merias Umi juga, nggak perlu Umi ke salon juga seperti Hana dan Faiza.


Umi cuma orang tua kamu yang akan duduk manis, senyum terus dan mengucapkan terimakasih kepada para tamu karena sudah bersedia datang memenuhi undangan. Kalau Umi dandan habis, ntar tamu undangan bingung. 'Yang mana pengantinnya? Hayoo...."


"Iya ya, Mi."


Hamish lalu kembali lagi duduk di sebelah Abah.


"Kamu kenapa? Dari tadi seperti orang yang sedang bingung, kan tidak diulang ijab qobulnya lagi. Administrasi dan buku nikah juga sudah beres, ini cuma resepsi saja menunjukkan kalau kamu dan Firda memang sudah suami istri. Masak mau disanding saja pakai acara grogi, santai saja, Mish! Enak lho di tonton sama tamu undangan, berasa jadi artis untuk satu hari ini." kekeh Abah semakin menggodai putra sulungnya.


"Nggak kok, Bah. Aku cuma merasa kenapa jam itu lama sekali berputar ya? Apa sudah habis baterainya?" tunjuk Hamish pada jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit.

__ADS_1


Abah ikut melayangkan tatapan matanya ke arah jam dinding, lalu melihat ke arah Hamish yang sedang menatap ke arah layar televisi yang sedang menyala


"Waktu kamu mau menikah dengan Mawar ke kantor urusan agama kala itu, Abah tidak melihat kegugupan kamu, Mish. Berbeda sekali dengan sekarang, kamu kangen sama Firda?"


"Hah?"


Melihat Hamish yang bengong, Abah tergelak.


"Baru empat hari tidak bersama sudah kangen, sabar! Beberapa jam lagi juga ketemu."


"Nggak lah, Bah, setiap malam kan aku menghubungi dia." Hamish ngeles.


"Aku cuma tidak sabar menunggu Ryu dan Noah yang katanya mau jadi pagar bambu, kuatir mereka tidak jadi datang." kali ini Hamish melihat ke arah pintu keluar, berharap kedua temannya itu datang agar Abahnya percaya dengan alasan yang baru dia utarakan. Tapi mana mungkin, kedua temannya itu pasti masih di rumah mereka masing-masing jam segini. Mau ngapain datang buru-buru? Memangnya Ryu dan Noah mau memasang sound sistem di rumah Firda.


"Kamu memang semakin pintar ngeles, Mish. Abah juga pernah muda dan pernah juga jadi pengantin, bukan ujuk-ujuk sudah punya anak tiga. Cuma bedanya Abah dan Umi setelah menikah langsung resepsi, jadi nggak pakai nahan rindu seperti kamu.


Kamu pasti kangen lah sama istrimu itu, jangan bohong! Kalian kan sedang...Nah itu, Faiza dan Hana sudah datang." Abah mengalihkan ucapannya melihat kedatangan kedua anak perempuan dan menantunya yang sudah memasuki halaman rumah. Hamish menghembuskan napas lega, karena dia sudah tahu Abahnya akan mengatakan apa. Kalau dilanjutkan pasti dia akan sangat malu.


...*****...


Saat acara tradisi temu pengantin sedang berjalan, tatapan mata Hamish tidak pernah lepas dari Firda yang tampak sangat anggun dan cantik dengan pakaian pengantinnya.


Umi terharu karena akhirnya putra sulungnya jadi pengantin juga.


Dua kali bertunangan putus ditengah jalan sebelum memasuki tahap selanjutnya tanpa alasan yang jelas, kali ketiga sudah hendak menikah dengan janda tetapi gagal lagi. Dan sekarang... Lihatlah! Menantunya itu sangat imut dan cantik dengan balutan pakaian pengantin bergaya modern, Firda diapit oleh kedua orang tuanya.


Prosesi adat yang biasa dibuat di komplek perumahan tempat tinggal keluarga Firda sudah berjalan dengan lancar, saatnya Firda dan Hamish duduk di pelaminan. Hamish langsung saja menggenggam tangan Firda karena sudah tidak tahan lagi, pegang tangan saja dulu jadilah.


"Abang kangen, Fir." bisiknya pelan, Firda senyum malu-malu. Dia juga kangen, empat malam bobok nggak ada yang ngelonin. Kedua temannya itu justru berisik menceritakan bagaimana serunya lamaran yang dilakukan oleh Noah dan Ryu, membuat Firda semakin tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Aku juga kangen, nggak tidur sama Abang bikin pikiranku kemana-mana. Kalau tidur sama Abang kan...." Firda tidak meneruskan ucapannya, kedua matanya melihat ke arah Noah dan Ryu yang ngobrol asik dengan Gita dan juga Sisil.


"Kenapa pager ayu dan pagar bagusnya malah pacaran di sana?" gumam Firda melihat ke arah dua pasang sejoli yang sedang terkekeh-kekeh.


Yang terkekeh sih Ryu dengan Noah, Gita dan Sisil justru terlihat wajahnya rada-rada penuh kecemasan.


Kayaknya Gita dan Sisil diajak untuk nikah cepat, keduanya cemas karena belum siap atau tidak sabar. Yang tidak sabar itu pasti Noah dan Ryu, lihat saja wajah berbinar keduanya saat melihat anak gadis orang yang di dandani cantik sebagai pengiring pengantin wanita.


Firda melepaskan genggaman tangan Hamish dan berdiri dari kursinya, Hamish cepat menarik tangan Firda kembali.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? Buang air?"


"Nggak, mau mendengarkan kedua teman Abang itu ngomongin apa sih sama mereka berdua, Abang nggak lihat wajah Gita dan Sisil seperti bocah yang sedang menunggu di khitan?"


"Ish, duduk saja, Fir! Kamu itu pengantinnya, bukan penerima tamu. Biar saja mereka! Lagi pula keduanya sudah bertunangan lho."


Firda melirik ke arah ibunya yang terlihat menatap penuh tanya saat melihat dirinya tadi berdiri, . Begitu juga dengan Umi, Abah dan Ayah yang duduk di kanan kiri kursi pengantin.


Firda tertawa malu sebentar lalu duduk kembali.


"Bang, kan Abang bisa duduk sendiri di sini, masak harus di temani. Nggak takut kan? Lagi pula tetangga disini sudah kenal denganku, jadi mereka tidak perlu melihat aku lagi. Beda sama Abang, aku boleh ikut ngobrol disana ya?"


"Jangan macam-macam, Firda! Yang jadi pengantin itu kita berdua, bukan Abang sendiri. Duduk yang manis dan jangan lupa senyum juga dengan manis. Setelah acara selesai, Abang janji akan mengembalikan ponsel hasil taruhan itu ke kamu lagi."


Mendengar kata ponsel, telinga Firda langsung tegak.


"Jadi belum Abang jual?"


Hamish menggeleng.


"Ish, Abang makin cakep kalau gitu. Baiklah, aku akan duduk manis sampai pesta usai." janji Firda memposisikan duduknya dengan nyaman.


Hamish hanya bisa menghembuskan napas kuat


Segala sesuatu harus apa upahnya.


Satu demi satu para tamu undangan mulai menyalami kedua pengantin, ada Hans diantara tamu undangan yang sedang makan. Firda sengaja mengundangnya, terlihat Syakila dengan gaya centilnya mendekati kursi dimana Hans duduk.


Padahal dia di beri tanggung jawab menjaga meja tamu sembari memberikan suvenir pada tamu yang memasukkan amplop kedalam kotak besar yang ada di sudut meja, tetapi melihat kekasihnya datang dia langsung meninggalkan meja penerima tamu dengan petakilan seperti ulat nangka.


Firda meraih ponsel yang dia selipkan di balik gaun pengantinnya, mengetik pesan cepat ke grup chat.


[ Jangan pacaran terus, meja penerima tamu kosong. Buruan balik! Kedua calon suami kalian tidak akan kemana-mana. ] Firda segera mengirimkan pesan.


Terlihat Gita dan Sisil sama-sama membaca pesan lewat ponsel mereka masing-masing, keduanya mencebik melihat ke arah kursi pengantin. Lalu Gita dan Sisil sama-sama melangkah menuju meja penerima tamu meninggalkan Noah dan Ryu yang menatap heran.


Eh, tunggu dulu! Ponsel mereka kok sepertinya sama.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2