Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Makanan Kesukaan


__ADS_3

Theo berkata ke pengacaranya, "Besok kau ke rumahnya Mikha Mahesa dan tuntut dia dengan tuntutan penganiayaan"


"Siap, Tuan" Sahut pengacaranya Theo.


Aurora langsung mendorong dada Mikha dan wanita itu bergegas berbalik badan masuk ke kamar.


Brak! Setelah menutup pintu kamar dengan keras, wanita itu kemudian bersandar di daun pintu dan sambil mengelus dada ia berkata, "Sial! Jantungku terus mengkhianati aku dan terus berdentum kencang seperti ini"


Mikha menatap pintu yang sudah menutup dengan mengulum senyum. Kemudian, pemuda tampan berkulit kecoklatan itu berputar badan dan melangkah pelan untuk naik ke lantai dua. Bocah tengil itu merebahkan diri di atas ranjang dan bergumam dengan senyum antusias, "Aku akan terus mengejarmu Rora sampai kau berkata iya"


Keesokan harinya Mikha dibangunkan dengan teriakan kencang. Mikha langung melompat dari atas kasur dan berlari kencang keluar dari dalam kamarnya.


"Aaaaaaaa!!!!!"


Terdengar teriakan kembali dan Mikha langsung berlari ke dapur karena ia dengarkan suara teriakan itu berasal dari dapur.


Sesampainya di dapur, Mikha langsung melongo. Ia berkacak pinggang kemudian berteriak kencang karena kaget melihat Rora memukul ikan dengan ulegan "Stop! Apa yang kau lakukan, Rora?!"


Rora seketika menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke Mikha dengan memamerkan deretan gigi putih cantiknya.


"Kau mau apa, hah?! Oh! Astaga! Kau mau memporak-porandakan dapurku seperti yang sudah kamu lakukan di dapur kamu?" Mikha yang masih berkacak pinggang mendelik ke Aurora saat ia melihat dapurnya penuh berantakan penuh dengan kulit wortel, kentang, udang, bawang bombay, bawang putih dan bawang merah berserakan di mana-mana.


"Kenapa ada kulit udang? Mau kau apakan udangnya?"


"Ma....maafkan aku. Aku cuma ingin masak sup ikan kesukaan kamu dan di internet pakai udang dan........."


Mikha seketika meredupkan matanya dan dengan senyum senang ia segera menyahut, "Kau masih ingat makanan kesukaanku?"


"Tentu saja ingat. Waktu kau masih kecil setiap hari kau selalu minta sama Papaku untuk dimasakkan sup ikan"


"Dan kau ternyata sama seperti Tante Tika, Mama kamu. Kalian takut sama mata ikan yang melotot"


"Iya. Makanya aku pukul dulu kepala ikannya untuk menghilangkan rasa takutku, hehehehehe"


Mikha sontak menggelengkan-gelengkan kepalanya, lalu membuang napas kesal dan setelahnya ia berkata, "Minggirlah! Kamu mandi aja sana! Aku yang akan bereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat ini"


"Nggak mau. Aku akan bantuin kamu. Apa yang bisa aku bantu?"


Mikha mengangkat sebuah penggaris dan bertanya, "Untuk apa penggaris ini?"


"Di internet Chefnya bilang kalau wortelnya dipotong dadu sepanjang lima sentimeter, makanya aku bawa penggaris ke sini untuk mengukur wortelnya, hehehehehe"


Mikha menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia menyerahkan penggaris itu ke Aurora, "Nih! Masukkan penggarisnya ke tas kamu lagi! Kalau memotong wortel tinggal dikira-kira aja kayak gini nggak usah pakai penggaris segala" Mikha berkata sembari mendengus dan memotong-motong wortel yang masih utuh.


"Iya, iya, nggak usah pamer! Aku, kan, nggak pernah masuk dapur dan nggak suka masuk dapur"


"Kayak gitu, kok, masuk dapur. Hufftttt! Jadi berantakan, kan, dapurku. Untuk dapurku tidak meledak atau terbakar kayak dapur kamu"

__ADS_1


"Iya, iya, maaf!" Aurora langsung mengerucutkan bibirnya di depan Mikha.


Mikha menghela napas panjang dan berkata, "Mandi aja sana!"


'Nggak mau. Aku udah bilang nggak mau, kan, tadi. Aku ingin bantu kamu, titik. Kasih tahu aku mana yang harus aku kerjakan"


"Cantik-cantik, tapi keras kepala tetap aja ada, Hufftttt! Oke, sekarang kamu iris bawang aja!"


"Nggak mau! Iris bawang bikin mata perih. Lainnya aja"


"What?! Katanya mau bantuin, kok, milih-milih?!" Mikha menautkan kedua alisnya di depan Aurora


"Pokoknya jangan ngiris bawang"


"Kalau gitu kamu siapkan panci dan kamu isi air setengah liter dan tumpangkan ke atas kompor" Ucap Mikha sambil mengiris-iris bawang dan sesekali mendengus.


"Siap!" Sahut Aurora dengan senyum cerah.


Kepala Mikha berputar mengikuti arah perginya Aurora dengan menggeleng-menggelengkan kepala dan tersenyum geli. Dia masih saja ceroboh dan masih menggemaskan. Dia memang unik. Batin Mikha dengan senyum geli.


Setelah selesai menata Sup ikan dan perkedel kentang di atas meja makan, Aurora berbalik badan sambil berteriak, "Aku mau mandi dulu!"


Beberapa meni kemudian, Mikha dan Aurora berhadapan di meja makan untuk sarapan.


"Gimana? Enak nggak?"


"Syukurlah kalau enak. Makan yang banyak. Kamu itu kurus sekarang ini. Kau akan jauh lebih cantik kalau lebih berisi. Tapi, kalau kurus seperti ini pun aku juga tetap suka" Sahut Mikha.


Aurora hanya berdeham untuk mengusir rasa canggung saat ia kembali menerima perhatian dari Mikha.


Setelah menyelesaikan sarapan dengan lebih banyak berdiam diri daripada saling mengobrol, mereka berdua berhadapan di depan mobilnya Aurora.


"Aku akan berangkat dulu. Kita berangkat sendiri-sendiri" Lalu Aurora bergegas masuk ke dalam mobilnya tanpa pamit ke Mikha dan Mikha menatap mobil Aurora yang keluar dari dalam pekarangan luas rumahnya dengan wajah datar.


Saqt Aurora melangkah masuk ke dalam kelas, ia dikejutkan dengan wajah nyengir kudanya Mikha yang duduk u bangku terdepan. Aurora langsung mengalihkan pandangannya ke semua muridnya sambil meletakkan tas kerjanya di meja dan menyapa, "Selamat pagi semuanya"


"Pagi, Bu" Sahut semua mahasiswa di kelasnya dan hanya Mikha yang tidak menyahut selamat pagi. Bocah tengil itu memilih bertopang dagu dan terus menatap wajah wanita pujaan hatinya dengan senyum lebar.


Dave langsung menepuk bahu Mikha dan berbisik, "Kalau kau kayak gini terus lama-lama dosen kita akan lempar kamu dengan high heelsnya"


Mikha langsung menegakkan badan dan menoleh ke Dave dan berbisik, "Kalau kau ceriwis terus aku lemparkan bogem mentahku ke kamu"


"Dasar gila" Dave menggeram kesal ke Mikha.


Aurora mendelik kaget membaca pesan text dari Mikha yang menyuruh dia naik ke rooftop.


"Ada apa, Bu? Kenapa Anda kaget?" Tanya koleganya Aurora yang duduk di depan meja kerjanya Aurora.

__ADS_1


Aurora mengangkat wajah dan langsung berkata, "Ah! Nggak ada apa-apa, Bu. Maaf saya harus pergi ke kantin sebentar"


"Ah! Silakan" Sahut koleganya Aurora dengan senyum sopan.


Aurora langsung bergegas berlari ke rooftop untuk menyemburkan protes ke Mikha kenapa bocah tengil itu bisa tahu nomer ponselnya dan memaksanya ke rooftop.


Setelah mengirim pesan text ke Aurora Mikha duduk bersila di lantai rooftop dan meletakkan dua buah paper bag berisi dimsum dan jus mangga kesukaan Aurora di depan kakinya.


Beberapa menit kemudian Aurora muncul di depan Mikha dan langsung menyemburkan, "Kenapa kau memintaku ke sini, kenapa kau mengancamku kalau aku tidak ke sini kamu akan neka datang ke kantor dosen dan menarikku paksa ke sini, lalu kenapa kau bisa tahu nomer ponselku?"


"Yang mana dulu yang harus aku jawab?" Mikha berkata sambil mengambil dua kotak bertuliskan dimsum Yummy dari dalam paper bag dan mengeluarkan dua cup jus mangga dari dalam paper bag yang satunya.


"Jawab semuanya sekaligus!"


"Makan aja dulu! Aku laper dan jam makan siang keburu habis" Mikha menarik tangan Aurora hingga wanita cantik itu jatuh di atas pangkuannya Mikha.


Aurora terlonjak kaget dan langsung melompat dari pangkuan Mikha sebelum bocah tengil itu menahan pahanya.


Aureos mendengus kesal saat ia duduk bersila di depan Mikha.


"Makan dulu! Aku beli dimsum dan jus mangga kesukaan kamu" Sahut Mikha dengan senyum lebar.


Aurora.menunduk dan saat ia melihat tulisan di kotak makanan, wanita itu sontak memekik, "Kenapa kau bisa minta bungkus dimsum ini? Pemiliknya tidak pernah mengijinkan pembeli minta bungkus dimsum ini"


"Kau cari tahu semua nilaiku. Tapi, kau tidak pernah mencari tahu mengenai aku di internet?"


"Untuk apa aku mencari kamu di internet dan apa kaitannya dimsum ini dengan mencari tahu soal kamu di internet?"


"Kau akan menemukan postingan saat aku menghadiri pembukaan restoran Yummy. Pemiliknya adalah sepupuku"


"Benarkah?!" Aurora membeliak kaget.


"Hmm. Dan selain itu, di internet kau akan tahu sekaya apa Ayah aku dan kau akan tahu bagaimana aku diberitakan di sana. Kebanyakan orang khususnya wanita akan langsung mencari aku di internet setelah mereka bertemu untuk yang pertama kalinya denganku"


"Tapi, aku nggak suka kepoin hidup orang apalagi itu kehidupan kamu. Kamu adalah Mikha Mahesa"


"Yeeaahhh, kau bukan orang kebanyakan dan kamu nggak pernah peduli soal aku" Mikha langung memasang wajah cemberut.


"Oh, come on! Jangan cemberut seperti itu. ku sudah tahu siapa kamu sejak kamu masih bayi. Jadi, untuk apa ku mencari kamu di internet. Bahkan waktu kamu masih kecil, aku yang mandiin kamu dan..........."


"Aku juga mau kamu mandikan lagi sekarang ini" Sahut Mikha dengan cepat.


"Mikha! Jangan bercanda kayak gitu! Nggak sopan!"


Mikha langung menarik tangan Aurora sampai wanita itu kembali jatuh ke pangkuannya dan Mikha berbisik, "Kenapa nggak boleh? Kita bahkan sudah melakukan hal yang tidak sopan, kan?"


Saat Aurora mendorong dada Mikha, bocah tengil itu nekat menarik tengkuk Aurora dan tanpa permisi, ia memagut bibir ranum wanita pujaan hatinya itu

__ADS_1


__ADS_2