Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Bayaran


__ADS_3

Pemikiran bahwa kemungkinan Brandon selingkuh, terus menghantui Aurora. Pemikiran itu semakin diperkuat dengan kenyataan yang ada. Brandon selalu menolak setiap kali ia ajak bercinta jika bukan di jadwal mereka bercinta.


Aurora menyetir mobil dan hampir saja menabrak trotoar yang membuat Marco sontak berteriak, "Ma! Hati-hati!"


Ckiiittttt! Aurora refleks.mengerem dadakan mobilnya dan langsung menoleh ke Marco, "Kamu tidak apa-apa, kan, Sayang?"


"Aku baik-baik saja, Ma"


Aurora tersenyum lega dan sambil mengelus kepala putra tampannya berulang kali, ibu muda yang sangat cantik itu berkata, "Syukurlah. Maafkan Mama! Mama melamun tadi dan Mama nggak akan mengulanginya lagi. Mama akan kemudikan mobil dengan hati-hati, oke?"


"Oke" Sahut Marco dengan senyum tampannya.


Sesampainya di sekolahan tempat Marco menimba ilmu, Aurora seketika lupa akan kejutan yang ia dapatkan dari kemeja suaminya dengan ternoda lipstick wanita dan parfum wanita lain.


Aurora dengan dibantu wali murid dan beberapa guru menurunkan lima kardus berukuran sedang berisi seratus toples kue nastar.


Marco langsung masuk ke dalam sekolahan bersama teman-temannya.


Acara bazar di sekolahnya Marco dalam rangka pengumpulan dana untuk anak-anak penyandang kanker pun dibuka. Dan Aurora dikejutkan dengan kemunculannya Mikha bersama dengan band barunya di tengah-tengah halaman depan sekolahan tepat Marco menimba ilmu.


Aurora langsung menundukkan kepala saat ia beradu pandang dengan Mikha dan wanita itu sontak bergumam, kenapa bocah tengil itu bisa ada di sini? Kenapa juga dia ajak band baru besutannya? Bikin heboh aja, cih! Dasar bocah tengil.


Otomatis terjadi keramaian di sekolahannya Marco. Semua wali murid, guru-guru, para murid, bahkan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah langsung mendatangi Mikha beserta grup band baru besutannya Mikha yang tengah naik daun untuk menyalami dan meminta tanda tangan.


Dave dan manajer band baru itu langsung mengatur jumpa fans dadakan itu agar bersalaman dan tanda tangan berjalan dengan kondusif.


Mikha berhasil meloloskan diri dari kerumunan orang-orang dan pemuda berumur dua puluh enam tahun itu langsung mendekati meja stand tempat di mana Aurora tengah menata kue nastar.


Tanpa diminta, Mikha membantu Aurora menatap toples kue nastar sambil berkata, "Senyum, dong. Kalau jualan nggak senyum entar nggak laku, lho, jualan kamu"


Aurora mendengus kesal dan berkata tanpa menatap Mikha, "Kenapa kau ada di sini?"


Mikha berucap sembari menaikkan satu kardus di atas meja untuk ia keluarkan semua toples dari dalam kardus itu, "Aku nggak ada kerjaan dan ingin berpartisipasi di acara penggalangan dana untuk anak-anak kanker ini. Aku menghubungi kepala sekolah kemarin malam dan langsung disetujui"


"Siapa yang kasih tahu kamu kalau ada acara di sekolahannya Marco" Tanya Aurora sambil sibuk menata toples nastar dan wanita itu masih belum mau melihat wajah Mikha.

__ADS_1


"Marco yang kasih tahu" Sahut Mikha dengan santainya sambil menurunkan kardus yang telah kosong dan menaikkan lagi kardus yang masih penuh toples berisi kue nastar.


Mikha mengeluarkan semua toples berisi kue nastar dari dalam kardus sembari mengedarkan pandangannya dan berkata, "Wah, ada banyak stand makanan enak dan ada stand baju dan mainan anak-anak juga. Wah, keren!"


Aurora menarik kardus yang sudah kosong ke bawah, lalu ia bersedekap dan menatap Mikha, "Terima kasih sudah membantuku menata semua ini"


Mikha menoleh ke Aurora, lalu pria tampan dengan rambut berombak dan sedikit gondrong itu tersenyum. Ada cinta dan kerinduan yang sangat besar di senyuman dan tatapannya Mikha pagi itu. Aurora seketika menunduk di saat ia merasakan jantungnya kembali berdegup kencang. Wanita itu kemudian berkata sambil merapikan dagangannya, "Kenapa kamu masih di sini? Bukankah seharusnya kamu ada di panggung bersama dengan band kamu dan Dave"


"Panggung itu milik mereka sedangkan aku hanya milik kamu" Mikha menyenggolkan bahunya ke bahu Aurora dengan wajah semringah.


Aurora langsung mengangkat wajahnya, menoleh ke kanan dan menggeram, "Mikha, jangan bicara aneh-aneh di sini!"


"Kalau yang nggak aneh-aneh boleh?" Mikha mengangkat salah satu alisnya dan memandang Aurora dengan penuh arti.


"Apa maksud kamu?"


"Cintaku nggak aneh-aneh. Cintaku sederhana . Apa aku boleh ngomong soal cintaku di sini? Nggak aneh-aneh, lho, cintaku" Mikha tersenyum tengil.


Aurora sontak berkacak pinggang dan mendelik ke Mikha, "Kau mau aku banting di sini, hah?! Aku bisa taekwondo sekarang"


"Siapa yang mengajari kamu taekwondo?" Ada kecemburuan yang sangat kentara di wajah tampan Mikha saat pemuda itu membayangkan ada pria lain menyentuh tangan dan kaki Aurora saat pria lain itu mengajari taekwondo ke Aurora.


"Oh, Om Dito ternyata. Kalau kau sebut nama pria lain maka aku akan cari pria itu dan aku akan bikin perhitungan sama dia"


Aurora kembali mendelik dan dengan masih berkacak pinggang, wanita itu menyemburkan, "Kau pergi saja sana! Sukanya, kok, ngomong ngawur nggak jelas"


Mikha memandang lekat kedua bola mata cantiknya Aurora dan berkata, "Kau tahu betul kalau aku tidak pernah ngomong ngawur karena aku tidak suka basa-basi"


Aurora menghela napas panjang dan berkata, "Yeeaaahhhh, terserah kamu"


Saat ada tiga orang pembeli mendekati meja standnya Auroa, Mikha langsung tersenyum lebar dan berkata, "Kalau Anda semua membeli kue ini lebih dari tiga toples per orang, maka saya akan kasih souvenir cantik untuk Anda semua"


Aurora sontak mendelik dan menyemburkan, "Hei, Mikha! Apa yang kau lakukan?"


Mikha langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Aurora dan Aurora langsung menepis Karo telunjuk Mikha dengan mendengus kesal

__ADS_1


Ketiga wanita muda yang seketika terpesona akan ketampanan pria jangkung bertubuh atletis itu, langsung bertanya secara serempak, "Apa souvenirnya?"


"Gantungan kunci dengan gambar grup band DC Thunder, yang sedang manggung itu, plus foto mereka dengan tanda tangan mereka" Mikha tersenyum lebar ke ibu-ibu muda yang masih berdiri di depan meja stand jualannya Aurora.


"Baiklah saya beli lima" Sahut Ibu A.


"Saya mau sepuluh toples" Sahut Ibu B.


"Bungkus lima belas toples untuk saya" Sahut Ibu C.


Mikha tersenyum lebar melihat Aurora dari arah samping dan Mikha bahagia ketika ia melihat Aurora dengan wajah semringah melayani ketiga ibu-ibu muda itu.


Saat Mikha memberikan sovenir ke ibu-ibu muda itu, tiba-tiba salah satu dari ibu-ibu muda itu bertanya ke Mikha, "Apa kami boleh berfoto dengan Anda? Anda,kan, produser musik yang terkenal itu? Mikha Mahesa, betul? Anda, kan, yang mendidik dan membesarkan Guro band DC Thunder?"


Mikha terkejut dan langsung menoleh ke Aurora sambil berkata, "Kalau mau foto dengan saya, Anda harus meminta ijin sama wanita ini" Mikha berkata sambil meletakkan telapak tangannya di atas pundak Aurora.


Aurora menoleh kaget ke Mikha dan langsung menoleh ke ibu-ibu muda yang telah memborong kue nastarnya itu, untuk berkata dengan senyum canggung, "Hehehehehe, tentu saja boleh. Anda tidak perlu meminta ijin sama saya. Emm, dia adik ipar saya dan silakan saja kalau Anda ingin berswafoto dengan dia, hehehehehe"


Mikha terkejut mendengar jawabannya Aurora dan sebelum ia keluar dari meja stand jualannya Aurora untuk berswafoto dengan ibu-ibu muda itu, Mikha menyempatkan berbisik di telinga Aurora, "Aku akan minta bayaran untuk ini"


Aurora seketika terlonjak kaget dan saat wanita cantik itu menoleh ingin bertanya, "Bayarannya apa?" Bocah tengil itu telah berswafoto dengan ibu-ibu muda itu.


Sementara itu, saat ia mengetahui kalau semalam Brendon mengantarkannya pulang, Angela meletakkan tasnya di meja kerja dan bergegas pergi ke ruangannya Brandon. Dia membuka pintu dan menemukan Brandon tengah menekuri berkas-berkas. Angela berdiri di depan mejanya Brandon dan berkata, "Terima kasih banyak untuk semalam. Aku rasa aku perlu membalas budi baik kamu karena semalam kamu telah menemaniku mana dan minum, lalu kamu mengantarkan aku pulang"


"Lupakan saja" Sahut Brandon sambil melepas kacamatanya.


"Tapi, kau tahu betul kalau aku nggak suka punya hutang budi"


Brandon menghela napas panjang dan menatap Angela dengan wajah penuh tanda tanya.


"Makan siang bareng? Aku yang traktir"


Brandon masih bergeming.


"Ayolah. Jangan biarkan seorang wanita berhutang budi karena itu bisa jadi ancaman buat kamu" Ucap Angela dengan senyum lebar. Itu adalah ucapan yang pernah Angela ucapkan di pertemuan pertamanya dengan Brandon dulu.

__ADS_1


Brandon terkekeh geli dan setelah menyugar rambut dengan jari jemarinya, Brandon bangkit berdiri, merapikan jasnya, kemudian keluar dari meja kerjanya sambil berkata, "Baiklah. Hanya makan siang dan setelah ini jangan menemuiku lagi! aku sudah menikah dan aku sangat mencintai Istri dan anakku"


"Oke" Sahut Angela dengan anggukkan kepala dan senyum lebar.


__ADS_2