Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Seringai Tengil


__ADS_3

Aurora langsung menutup lehernya dengan telapak tangan dan melangkah maju sambil berkata, "Emm, anu, iya saya tadi ke rooftop untuk sekadar menghirup udara segar di sana dan menjernihkan pikiran saya. Dan saat saya melamun di bibir rooftop, tiba-tiba leher saya terasa panas dan saya cuma mengelusnya. Ternyata merah, ya, Bu?" Aurora menatap koleganya yang bernama Nancy itu sambil mengambil buku-buku yang ia butuhkan untuk mengajar di kelas selanjutnya.


"Iya. Merah. Saya ada salep untuk luka akibat digigit serangga. Sebentar saya ambilkan dan......."


"Nggak usah, Bu. Saya ada kelas dan saya harus segera ke kelas"


"Oh! Lalu, setelah itu apa Anda akan balik ke ruang kerja Anda sendiri"


"Sepertinya begitu. Ada beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi yang membutuhkan konseling. Memangnya kenapa, Bu?"


"Saya akan ke sana nanti untuk kasih salepnya ke Anda. Sayang kalau kulit leher Anda merah dan kalau tidak segera diobati takutnya akan menimbulkan bekas di kulit leher Anda yang putih dan mulus itu, Bu"


"Emm, kalau begitu, saya boleh minta salepnya sekarang saja?"


"Sebentar" Koleganya Aurora yang bernama Nancy itu memang terkenal ceriwis dan suka mencari tahu kehidupan semua dosen di kampus itu.


"Terima kasih, Bu Nancy" Lalu, Aurora menggenggam salep obat gatal akibat digigit serangga dan melintasi Bu Nancy dengan senyum manis.


Arah pandang Bu Nancy mengikuti arah perginya Aurora dengan helaan napas panjang kemudian bergumam, "Serabgganya jenis apa dan sebesar apa, ya? Kenapa bekas gigitannya merah banget dan berbentuk bulat?"


Sial! Kenapa Bu nancy awas banget matanya dan kenapa Mikha tinggalkan tanda merah di leherku? Dasar bocah tengil. Awas aja, aku akan protes habis-habisan sama bocah tengil itu nanti. Batin Aurora sembari melangkah lebar menuju ke kelasnya.


Mikha turun dari atas rooftop setelah melemparkan dua paper bag ke dalam tong sampah. Bocah tengil itu terus tersenyum lebar bahkan ia serasa ingin melompat setinggi-tingginya dan kembali meneriakkan kalau dia sudah jadian dengan wanita yang sudah ia taksir sejak ia masih berumur lima tahun. Wanita cantik dan cerdas yang selalu mengurusnya sejak ia masih bayi, kini telah menjadi pacarnya dan itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa bagi seorang Mikha Mahesa.


Begitu masuk ke kelas yang masih kosong, Mikha menyeringai tengil dan memilih untuk duduk di bangku paling belakang pojok. Entah apa yang ia pikirkan saat itu.


Dave yang masuk ke klas belakangan langsung mengoceh, "Pacarku minta dilamar. Menurut kamu gimana?"

__ADS_1


Mikha menoleh ke Dave dan berkata, "Kau bertanya pada orang yang salah, Bro. Aku benci melamar dan hal itu tidak pernah terlintas di pikiranku"


Dave mengabaikan ucapan Mikha dan kembali bertanya, "Kalau melamar enaknya melamar di mana, ya? Tempat yang romantis apa tempat yang nyaman?"


"Di rumah kamu aja" Sahut Mikha asal.


Dave langsung menoleh ke Mikha dan menepuk pundak Mikha sambil berkata dengan senyum lebar, "Wah, ide bagus, tuh. Hemat uang dan lebih private"


Mikha membalas senyum lebarnya Dave dengan senyum malas.


Mikha kemudian menegakkan badannya dan tersenyum lebar saat ia melihat Aurora melangkah masuk ke kelas dan mulai menyapa semua mahasiswa yang memenuhi kelas di siang itu.


Aurora berkata, "Saya akan bagikan kertas quiz untuk kalian semua. Saya harap kalian semua sudah siap untuk quiz dadakan di hari ini"


"Hah?! Quiz?!" Dave sontak melotot, lalu sahabatnya Mikha itu kembali berkata dengan wajah kesal, "Kenapa cantik-cantik suka nyiksa orang, sih? Kenapa kasih quiz dadakan?"


Mikha langsung menoleh ke Dave dan menggeram, "Jangan hina dia! Kalau kau berani hina dia dan memuji dia cantik sekali lag, aku akan buat kamu berakhir di IGD"


"Hei! Aku serius" Pekik Mikha dengan wajah sangat kesal.


"Yeaahh, terserah kamu" Sahut Dave dengan mendengus kesal.


Saat Aurora sampai di deret bangku yang diduduki oleh Dave dan Mikha, dosen cantik itu melangkah hingga sampai ke pojok untuk meletakkan kertas terakhir untuk quiz di hari itu di mejanya Mikha. Dan Aurora menoleh kaget ke Mikha saat bocah tengil itu nekat menggenggam tangannya.


Aurora menarik tangannya dengan cepat dan saat ia mendelik ke Mikha, bocah tengil itu tersenyum lebar dan berkata I love you tanpa mengeluarkan suara.


Aurora langsung mengalihkan pandangannya ke depan dan sambil melangkah menjauhi bangkunya Mikha ia berteriak, "Waktu kalian satu jam dan kalian boleh open book!"

__ADS_1


Semua mahasiswa dan mahasiswi sontak berteriak senang termasuk Dave.


Mikha menoleh ke Dave dan berkata, "Keren, kan, dia. Makanya jangan ejek dia dulu"


"Bodo amat" Sahut Dave masih dengan wajah kesal.


Beberapa jam kemudian, Mikha memilih untuk menumpuk kertas quiz-nya paling akhir. Dia bahkan berkata ke Dave agar Dave pulang duluan. Mikha menunggu sampai kelas benar-benar kosong, barulah ia melangkah ke depan. Mikha menumpuk kertas quiz-nya, lalu menggenggam tangan Aurora dan mengecup singkat bibir Aurora, kemudian bocah tengil itu berlari keluar dari dalam kelas.


Aurora langsung membeku beberapa detik lamanya.


"Siapa Anda?!" Mikha menatap pria yang belum pernah ia temui sebelumnya dengan wajah datar dan sedikit mendongakkan kepalanya dengan tengil.


"Aku pengacaranya Tuan Theo dan kamu harus ikut dua polisi ini"


"Ngapain aku ikut? Nggak mau!!!!!" Pekik Mikha dengan wajah merah padam penuh amarah.


Dosen cantik itu tersadar dari kebekuannya saat ia mendengar suara orang tengah berdebat dan salah satu suara itu adalah suaranya Mikha Mahesa.


Aurora bergegas memasukkan semua kertas quiz ke dalam tas kerjanya, lalu ia bergegas berlari keluar dari dalam kelas sambil mencangklong dan menutup tas kerjanya.


Aurora langsung mengerem langkahnya saat ia melihat pengacaranya Theo berdiri di depan Mikha dan berkata, "Kamu harus ikut ke kantor polisi sekarang juga!"


"Nggak mau!" Mikha mendelik dan berteriak lebih kencang dari sebelumnya.


"Kau harus ikut. Harus!" Pengacaranya Theo tidak kalah kesal dan pengacara itu nekat mencekal pergelangan tangan Mikha. Ketika Mikha mengangkat tangan ingin memukul wajah pengacara itu, Aurora langsung menarik tangan Mikha sambil bertanya, "Tunggu! Kenapa murid saya harus ikut ke kantor polisi?"


"Dia menganiaya Tuan Theo, Nona Rora" Sahut pengacaranya Theo

__ADS_1


Aurora menoleh kaget ke Mikha dan bertanya, "Benarkah itu?"


Mikha mengabaikan Auroa dan menatap tajam pengacaranya Theo dengan seringai tengil dan berkata, "Oh! Ngomong, dong, kalau soal itu. Oke, aku akan ikut kalian"


__ADS_2