Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
My Love


__ADS_3

Aurora yang belum pernah diboncengkan laki-laki naik motor gede merasakan sensasi asyik yang sangat luar biasa. Dan dia membiarkan saat ia merasakan tangannya yang mendekap erat perut atletisnya Mikha Mahesa digenggam bocah tengil itu. Aurora seperti kena setrum jutaan voltase saat tangan Mikha menggenggam tangannya.


Mikha sesekali menunduk dan tersenyum senang saat melihat tangannya menggenggam tangan wanita pujaan hatinya.


Sesampainya di rumah Aurora, Mikha menstandarkan motor gedenya, lalu ia membantu wanita cantik pujaan hatinya turun dari motor gede dengan cara mencekal pinggang ramping Aurora dengan kedua tangan kekarnya dan mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan hati-hati.


Setelah berhasil menapakkan kaki Aurora di atas rumput, Mikha membuka helm Aurora dan setelah mencantolkan helm ke kaca spion motor gedenya, pemuda itu merapikan rambut Aurora sambil berkata, "Kenapa kamu tetap aja imut dan sepertinya tinggi badan kamu nggak nambah sejak kamu berumur delapan tahun"


Aurora refleks memukul dada bidang Mikha dan ia mendongak dengan wajah cemberut lalu berkata, "Tumbuh tinggi segini aja sombong amat, huh!"


Cup! Mikha nekat mengecup bibir Aurora. Aurora mendelik kaget. Wanita itu kemudian berdeham, menunduk, dan jadi salah tingkah di depan Mikha. Mikha yang masih menunduk, sontak mengulum bibir menahan geli. Saat Aurora hendak berbalik badan, kedua lengan Mikha langsung menggaet pinggang ramping Aurora dan bocah tengil itu berkata, "Kamu suka banget kabur, ya? Mau kabur ke mana kamu kali ini, hah?"


Mikha kemudian nekat menundukkan kepala lebih dalam untuk mencium bibir wanita pujaan hatinya itu dan Aurora langsung mencubit keras-keras kedua pipi Mikha yang kalau bocah tengil itu tersenyum ada lesung pipinya. Mikha sontak mengaduh dan refleks melepaskan pinggang ramping Aurora soalnya dia mau pakai kedua tangannya untuk mengelus pipinya. Aurora langsung berbalik badan dengan cepat dan berlari kecil meninggalkan Mikha.


Mikha melangkah pelan mengikuti Aurora dengan senyum geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan masih mengelus-ngelus kedua pipinya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakannya Aurora, "Aaaaaaaa!!!!!"


Mikha refleks melesat masuk dan pemuda itu kemudian melongo di samping Aurora.


"Aku sepertinya lupa mematikan kompor. Aku tadi masak air mau bikin kopi dan kelupaan" Aurora menoleh ke Mikha.


"Maaf kalau Pak Seno mengagetkan kamu, Rora. Tadi pas Pak Seno memotong rumput di teras depan rumah Pak Seno, Pak Seno melihat ada api di dapur Ibu. Pak Seno nekat mendobrak masuk saat tiga kali ketukan dan tiga kali memencet bel tidak ada sahutan dari dalam, Pak Seno mendobrak pintu untuk memadamkan api dengan bantuan warga dan Pak Seno masih tinggal di sini untuk membantu kamu membereskan dapur ini"


"Nggak papa, Pak. Saya justru berterima kasih sama Pak Seno udah mendobrak pintu dan menyelamatkan rumah saya dari kerugian yang lebih besar dari ini"


"Siapa dia?" Tanya Mikha dan ada nada cemburu di suaranya yang dalam dan seksi.


Aurora menoleh kembali ke Mikha, "Dia sahabatnya Papa yang tinggal di depan rumahku. Dia yang menjagaku selama ini sebagai gantinya Papa. Pak Seno udah menikah dan punya seorang bayi cowok yang sangat lucu"


"O" Mikha menyahut singkat.


Pak Seno menurunkan kacamatanya saat ia menatap pemuda tinggi dan tampan di depannya sambil mengajukan pertanyaan entah kepada siapa, "Dia adalah........"


"Oh, dia murid saya, Pak. Emm, tadi saya dari rumahnya memberikan bimbingan belajar dan karena kemalaman dia mengantarkan saya pulang" Auroa berkata dengan senyum lebar.


"Oh, kalau begitu Bapak pulang dulu. Untuk sementara rumah kamu butuh direnovasi dan saat ini tidak aman untuk ditempati. Pintu dapur terbakar dan terbuka lebar nggak bisa dikunci. Paling nggak selama satu bulan kamu harus cari kontrakan" Ucap Pak Seno sembari berjalan melintasi Aurora dan Mikha.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya" Sahut Aurora.


Sepeninggalnya Pak Seno, Aurora langsung menghubungi Shasha, "Sha, kamu di mana sekarang ini?"


"Lho, aku,kan, dapat tugas studi banding. Aku ada di Bandung saat ini dan untuk satu bulan ke depan aku ada di Bandung. Ada apa?"

__ADS_1


"Hufftttt! Nggak papa. Ya udah kalau gitu. Selamat bertugas dan sukses, love you" Klik! Aurora mematikan ponselnya.


Kemudian, Aurora melengkungkan tubuhnya, menghela napas panjang dan bergumam, "Ke mana aku harus mencari kontrakan? Ini sudah jam sebelas malam dan kalau ke hotel aku masih trauma pergi ke hotel aku pernah hampir dilecehkan saat aku menginap di salah satu hotel yang ada di Jepang saat aku dapat tugas studi banding di sana"


Bruk! Mikha menjatuhkan tas ransel di samping Auroa sambil berkata, "Aku sudah masukkan baju kamu plus pakaian dalam kamu ke tas ransel ini karena tas Jenin ini cocok untuk kita pakai bepergian naik motor gede dan aku rasa cukup untuk satu bulan" Lalu, pemuda itu berdiri di depan Aurora dengan wajah datar.


Aurora langsung menoleh ke kanan dan terkejut bukan main saat ia melihat tas ranselnya teronggok manis di sebelahnya. Lalu, wanita itu mengalihkan pandangannya ke depan, mendongak untuk menyemburkan, "Kapan kau.......sial! Kau baru saja masuk ke kamarku dan mengacak-acak lemari bajuku, hah?!"


Mikha menunduk untuk berbisik di telinga Aurora, "Aku cuka selera pakaian dalam kamu, Rora"


Seketika wajah Aurora memerah dan wanita itu langsung mendorong keras dada bidang Mikha sambil menggeram, "Dasar otak mesum!"


Mikha sontak tertawa ngakak dan sambil menyangklong tas ransel yang ada di samping Auroa, ia berkata, "Ayo ikut aku!"


"Ke mana?"


"Ke rumahku" Ucap Mikha sambil berbalik badan dengan santainya.


"Tunggu!" Aurora langsung mencekal ujung kaos Mikha.


Mikha mengentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Ada apalagi? Kau butuh tempat tinggal, kan? Rumahku jauh lebih besar dari rumah kamu ini dan rumahku sangat aman dan sangat kayak untuk ditempati"


Aurora menarik kaos Mikha saat pemuda itu melangkahkan kakinya lagi ke depan.


Mikha mendengus kesal dan kembali menoleh ke belakang, "Lepaskan kaosku dan jangan kamu tarik-tarik lagi. Kau mau merusak kaosku lagi?"


Mikha yang masih mencangklong tas ransel berbalik badan dan menghadap Aurora untuk berkata, "Dengar Rora, baik dan buruk, salah dan benar, dunia tidak sesederhana itu. Begitu juga Kita. Kita tidak sesederhana itu"


"Aku kira aku berbeda"


"Tidak. Kita sama"


"Tapi, aku masih tidak yakin soal ini, Mikha"


"Lagian bodo amat dengan pandangan dunia. Kita adalah kita dan hanya kita yang tahu siapa kita, kan? Saat ini kau butuh tempat tinggal and that's it for now on"


Aurora masih bergeming di depan Mikha.


Mikha menghela napas panjang dan langsung berkata, "Kau mau ku gendong seperti apa saat ini, hah? Panda, Oshin, atau karung beras. Kalau panda aku akan gendong kamu di depan, kalau Oshin, kayak film Oshin, aku akan gendong kamu di belakang dan karung beras, aku akan sampirkan kamu di pundakku"


Aurora sontak melangkah lebar melintasi Mikha lalu berlari kecil menuju ke motor gedenya Mikha dan Mikha memutar badan dan sambil tertawa ngakak ia melangkah pelan mengikuti Aurora.


Beberapa jam kemudian, Mikha dan Aurora masuk kembali ke dalam rumah besar dan mewahnya Mikha Mahesa.

__ADS_1


"Kau lihat, kan, kita aman di sini. Rumahku berada di tengah hutan buatan dan aku tidak punya tetangga aneh seperti Pak Seno"


Aurora terkekeh geli dan berkata, "Iya, kamu benar"


Mikha kemudian mengajak Aurora ke kamar yang berada di depan ruang tamu dan berkata, "Ini kamar kamu. Kamarku di atas. Jadi,.aman, kan" Mikha meletakkan tas ransel di atas lantai kemudian ia melangkah keluar dari kamar itu sambil berkata, "Aku akan masak steak"


"Mikha, emm, kau yakin aku........."


"Yakin" Sahut Mikha dengan cepat.


"Hei! Aku belum selesaikan ucapanku"


"Pokoknya aku yakin" Mikha tersenyum dan bergegas keluar dari kamar itu"


Aurora menghela napas panjang dan setelah selesai memindahkan semua isi tas ransel ke dalam lemari pakaian, Aurroa keluar dari dalam kamar dan melangkah ke ruang tamu. Ia duduk di sana dan melamun.


Mikha menghela napas panjang saat ia melihat Aurora melamun di ruang tamunya. Lalu, pemuda itu berkata, "Kau tahu apa yang cocok dengan dilema moral yang ada di dalam kepala kamu saat ini, Rora?"


"Apa?" Aurora yang masih duduk di sofa ruang tamu rumahnya Mikha menoleh kaget.


"Steak daging sapi dan kentang goreng. Aku masak khusus untuk kita berdua. Makanlah!" Mikha meletakkan dua buah piring di meja lalu ia duduk di sebelahnya Aurora.


"Terima kasih" Aurora mengambilnya laku memangkunya.


Di tengah keasyikannya makan steak lezat itu, Aurora dikejutkan dengan mendaratnya bibir Mikha di sudut bibirnya.


Mikha tersenyum, menegakkan wajahnya, lalu berkata, "Kenapa semua wanita punya modus yang sama"


Aurora sontak menoleh kesal ke Mikha dan dengan wajah tersinggung ia menyemburkan, "Modus apa?!"


"Makan belepotan. Itu modus kalau kalian ingin. dicium. Iya, kan?"


Aurora langsung memukul keras bahu Mikha dan dengan melotot ia menggeram kesal, "Jangan suka berasumsi ngawur. Aku tidak seperti itu"


Mikha tertawa lepas dan berkata, "Oke. Maafkan aku kalau aku salah berasumsi. Aku lupa kalau kamu, tuh, beda dengan kebanyakkan wanita di luar sana"


Selesai makan, Auroa meraih piring Mikha yang telah kosong dan sambil bangkit berdiri ia berkata, "Aku akan cuci piringnya"


Mikha menunggu Aurora di ruang tamu dan saat wanita itu hendak masuk ke kamar, Mikha langung melesat kencang dan menarik Wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


Aurora tersentak kaget dan sontak memekik, "Mikha! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"


Mikha mencium kening Aurora cukup lama kemudian bocah tengil itu melepaskan Aureoa sambil berkata, "Selamat tidur My love"

__ADS_1


"Hei! Sejak kapan aku jadi My love?" Aurora melempar protes dengan senyum malu-malu.


"Sejak aku mencium kamu dalam keadaan sadar di rooftop beberapa jam yang lalu" Mikha tersenyum lebar di depan Aurora.


__ADS_2