Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Cukup!


__ADS_3

"Jangan berhenti, Bee! Terus sentuhlah aku!" Ucap Mikha dengan suara parau. "Seberapa jauh kau bisa tahan, Bee? Seberapa jauh kau bisa berkata jangan, Bee?" Mikha memberikan tantangan yang sangat sulit untuk Aurora selesaikan.


Otak dan logika yang ada mendesak Aurora untuk berkata jangan, namun seluruh bagian dalam tubuhnya bergejolak, tetapi Aurora mencoba tetap tenang dan meletakkan kedua telapak tangan pada dada Mikha. Kemudian, entah karena merasa tertantang atau karena desakan gairah, Aurora mengelus dada itu dengan gerakan yang agak menekan. Setelah itu ia menatap Mikha lekat-lekat.


Ujung-ujung jari Aurora menimbulkan sensasi yang luar biasa pada kulit Mikha yang berbulu. Mikha terasa begitu hangat dan hidup. Bahkan hanya terbaring diam, ia memancarkan maskulinitas yang mampu membuat semua wanita di dunia ini sesak napas.


Aurora merasakan oksigen berhenti di tenggorokannya. Melalui jari-jarinya ia membuai bagian paling feminin di dalam dirinya. Ada kehangatan yang mengalir dahsyat di hatinya.


Mikha melemparkan kaosnya ke sembarang arah dan Aurora seketika mengerang lirih. Mikha tampak begitu indah untuk dilihat. Aurora terus mengelus permukaan dada Mikha yang lapang, berotot, dan berbulu. Aurora menjelajahinya dengan jari-jari dan tatapan yang lapar, mengikuti lekukan keras pada dada atletis dan berbulu itu, lalu menyerap kehangatan kulit Mikha dan di saat ia merasakan degup jantung Mikha dengan telapak tangannya, Aurora menatap lekat-lekat kedua mata cokelatnya Mikha.


Mikha terkesiap ketika Aurora memandang wajahnya, Aurora melihat rahang pria tampan itu menjadi kaku dan matanya terpejam.


"Kau ingin aku berhenti menyentuhmu?" Bisik Aurora.


"Ya Tuhan, tentu saja tidak. Buat aku merana, Bee. Buat aku tidak tahan dengan sentuhanmu. Buat aku tergila-gila karena menginginkanmu"


Kata-kata itu langsung menghipnotis Aurora dan membuat Aurora bertekad mengakhiri siang yang indah ini dengan bercinta. Bercinta dengan Mikha Mahesa. Setelah menuang jauh-jauh semua hal yang merintangi dirinya, Aurora menundukkan kepalanya. Rambutnya yang pertama mengenai tubuh Mikha. Seperti kain sutra, rambut wanita cantik itu mengusap Mikha.


Mikha meraih sejumput rambut panjang indah itu dalam kepalan tangannya dan mengerang penuh penderitaan. Mikha masih menderita menahan hasratnya. Hasrat yang masih ragu untuk ia bebaskan begitu saja.

__ADS_1


Dengan malu-malu bibir Aurora turun mencicipi Mikha. Bibir itu menari-nari pada leher, dada, dan kulit kecokelatannya Mikha, menyapukan ciuman yang lembut dan hangat. Lalu, benak Aurora bertanya pada dirinya sendiri, beranikah ia menyentuhkan lidahnya pada daerah itu seperti yang ia dambakan selama ini. Aurora tersentak dengan sendirinya saat ia merasakan dirinya berani melakukan itu.


"Ya ampun!" Mikha mengerang frustasi.


"A......apa? Ke.....kenapa? Aku melakukan kesalahan?" Aurora sontak menghentikan aktivitasnya.


Mikha menggenggam rambut Aurora dengan lembut dan berkata, "Kau tidak melakukan kesalahan. Yang kau lakukan luar biasa menyenangkan"


Aurora sontak menempelkan pipinya pada perut Mikha karena malu.


Mikha tersenyum geli, lalu pria tampan itu menarik pelan Aurora ke atas dan Aurora tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumi wajah pria tampan yang sejujurnya sudah sangat ia rindukan beberapa tahun yang lalu. Napas hangat Aurora yang terlepas di atas wajah tampannya Mikha terasa seperti sinar mentari yang memberikan harapan baru. Lalu, Mikha tersenyum dan nampaklah lesung pipi di wajah tampan itu.


Mikha mencubit dagu Aurora, menariknya pelan ke atas, dan ia memagut bibir Aurora saat ia telah menemukan bibir yang sangat ia dambakan selama ini. Mikha mengajak Aurora berciuman dengan pelan, penuh kelembutan, dan di detik berikutnya, ciuman itu mulai mendesak dan saling menuntut dengan menggunakan lidah.


Angela menabrak dada Dave dan tanpa sengaja Dave menjatuhkan buku novel yang tengah asyik ia baca. Buku novel iru adalah buku karya pertamanya author Bee yang adalah Aurora Zeto.


Angela dengan sigap memungut buku novel iru dari atas lantai dan mendorong dada Dave saat pria itu ingin merebut buku novel itu dari tangannya.


"Kenapa ada nama Mikha di sini? Siapa Bee?" Angela yang cerdas menatap Dave dengan wajah penuh tanda tanya.

__ADS_1


Dave merebut paksa buku novel itu lalu berlari melintasi Angela tanpa menjawab pertanyannya Angela.


Angela berputar badan mengikuti laju larinya Dave dan menatap punggung Dave yang menjauh dengan mengerutkan keningnya. "Kenapa Dave lari? Apa Mikha yang ada di dalam buku novel tadi adalah Mikha Mahesa? Aku harus ke toko buku sekarang dan semoga aku masih bisa menemukan novel itu" Angela bergegas berlari ke parkiran mobil.


Brandon masih terus berusaha menelepon telepon genggamnya Aurora maupun Shasha, namun kedua nomer itu tidak aktif. "Ke mana mereka membawa Marco pergi? Kenapa telepon genggam keduanya tidak aktif?"


Dave masuk ke dalam mobilnya dengan terngah-engah dan menautkan kedua alisnya sambil bergumam kesal, "Sial! Kenapa tadi aku malah berlari? Bukankah itu semakin menambah rasa penasaran di diri Angela? Sial! Bodoh banget aku. Maafkan, aku, Bro! Kalau Angela mencarimu dan meminta penjelasan, jangan salahkan aku, ya, hiks,hiks,hiks. Derita Lo, Mikha, karena kau punya sahabat bodoh kayak aku ini, hiks,hiks, hiks"


Tangan Mikha menahan kedua bahu Aurora saat wanita cantik itu ingin menunduk dan mencium perut Mikha.


Mikha segera berucap, "Cukup, Bee!" Mikha berucap dengan suara parau. "Kau sudah membuatku tidak tahan lagi dan aku tidak ingin memiliki dirimu di sini. Aku tidak ingin alam semesta ini melihat keindahan kulit kamu. Tidak! Kita akan lakukan nanti di saat kamu benar-benar siap" Mikha kemudian menarik Aurora ke atas dan memeluknya.


Mikha mengusap rambut Aurora, mencium kening Aurora, dan berkata, "Aku sangat mencintaimu. Dulu, sekarang, dan nanti. Aku hanya akan mencintaimu"


Aurora membeku di dalam pelukan hangatnya Mikha yang masih bertelanjang dada. Wanita itu ingin mengatakan, aku juga mencintaimu, namun lidahnya kelu di saat pikirannya kembali ke dunia nyata yang mengatakan dengan jelas padanya kalau dia adalah istrinya Brandon Mahesa bukan istrinya Mikha Mahesa.


Mikha menghela napas panjang dan terus membelai rambut indah selembut sutra dan wangi di saat kata-kata cintanya tidak mendapatkan balasan dari wanita yang sangat ia cintai.


"Aku tahu kau masih bingung saat ini. Aku tahu kau belum bisa membuat keputusan karena kamu dan Brandon sudah memiliki Marco. Tapi, ada yang perlu kamu camkan baik-baik, Bee. Yaitu, kalau kamu mempertahankan pernikahan kamu dengan Brandon dan kamu tidak bahagia maka Marco pun juga tidak akan tumbuh dengan baik. Marco akan menyalahkan kamu saat ia tumbuh dewasa nanti. Apa kau sudah siap untuk itu?"

__ADS_1


Aurora seketika terisak menangis di dalam dekapan hangat mantan tengil yang sejujurnya masih sangat ia cintai itu.


__ADS_2