
"Maaf, Pak, saya tidak bisa menerima pernyataan cinta Bapak. Saya juga tidak bisa menerima bunga dan cokelat ini"
"Apa karena cincin yang melingkar di jari manis tangan Anda, Bu Rora?" Tanya pak Bagas sembari menerima kembali bunga dan kotak cokelat dari tangan Aurora.
Aurora terkejut dan sontak menunduk untuk melihat jari manis tangan kanannya.
"Apakah itu cincin pernikahan? Karena setahu saya kalau itu cincin pertunangan maka cincin itu akan melingkar di jari manis tangan kiri" Ucap pak Bagas.
"Saya, emm, benar sekali. Saya sudah menikah" Aurora mengangkat pelan wajahnya dan menatap pak Bagas kembali.
"Kenapa Anda tidak mempublikasikan pernikahan Anda? Kenapa Anda tidak mengundang kami semua di pernikahan Anda, Bu Rora?"
"Emm, itu karena, emm,..........."
"Suaminya masih ada di luar negeri dan belum bisa kembali untuk mengadakan resepsi pernikahan mereka" Suara Shasha tiba-tiba menggema di ruangan dosen dan Aurora sontak menoleh ke asal suara dengan senyum lega.
"Oh, Anda tahu kalau Bu Rora sudah menikah, Bu Shasha?"
"Tentu saja tahu. Kami sahabatan sejak kecil" Sahut Shasha sambil merangkul bahu Aurora.
Pak Bagas kemudian berkata sambil mendekap bunga dan botak cokelatnya, "Baiklah, saya mengerti. Selamat atas pernikahan Anda dan maafkan kelancangan saya menyatakan cinta ke Anda, Bu Rora"
Aurora hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Sepeninggalnya pak Bagas, Aurora langsung memeluk Shasha dan berkata, "Saved by the bell. Makasih kamu datang tepat waktu, Sha"
"Apa sih yang nggak buat kamu" Sahut Shasha dengan tawa renyah.
Dave menghampiri Mikha dan ia melihat ada cincin melingkar di jari manis tangan kanan sahabatnya itu. Langsung bertanya lah Dave si comel itu, "Itu cincin apa, Kha?"
Mikha melihat jari manis tangan kanannya, lalu memainkan cincin itu dan berkata, "Cincin nikah, dong"
__ADS_1
"What?! Kamu sudah menikah?!" Dave sontak berteriak kaget dan Mikha langsung membungkam mulut Dave dengan telapak tangannya.
Mikha kemudian mendelik dan menggeram, "Jangan bilang ke siapa-siapa soal ini!"
Dave menarik tangan Mikha dari mulutnya dan berkata, "Kenapa? Kenapa kau sembunyikan pernikahan kamu? Papa kamu juga nggak tahu soal ini?"
Mikha menggelengkan kepalanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri lalu meletakkan jari telunjuk di bibirnya sambil mendesis, "Ssssttt!"
"Kenapa kau sembunyikan pernikahan kamu, hah?! Apa pacar kamu hamil?" Dave berkata dengan suara setengah berbisik.
Mikha langsung menepuk bahu Dave dan berkata, "Aku belum siap jadi Ayah. Kau pikir aku akan sebodoh itu membiarkan wanitaku hamil"
"Lalu, kenapa?" Dave kembali berbisik lirih.
"Karena kamu masih ingin bersenang-senang" Sahut Mikha dengan senyum tengilnya.
"Kau akan meninggalkan dia setelah tiga bulan seperti wanita-wanita kamu yang sebelumnya? Yeeaahhh, cuma bedanya yang ini kamu nikahi" Sahut Dave masih dengan suara setengah berbisik.
Mikha langsung menepuk cukup keras bahu Dave dan berkata, "Tentu saja tidak, bodoh! Kalau aku pengen main-main untuk apa aku menikahinya. Aku sangat mencintainya dan akan bersama dengannya sampai selama-lamanya. Bahkan sampai maut memisahkan kita, amin"
Dave mendelik kesal ke Mikha. Lalu, pria tampan itu bertanya, "Nanti pas kita pergi ke Swiss kita harus menang. Kita sabet juara satu"
"Sip!" Sahut Mikha sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya ke Dave.
Dave dan Mikha mengentikan obrolan mereka saat mereka melihat Aurora, si dosen cantik idola para kaum Adam, melangkah masuk ke dalam kelas.
Dave berbisik ke Mikha, "Dosen kita makin hari makin cerah auranya. Wah, tambah adem, nih, mata liatnya"
Mikha langung menepuk keras bahu Dave sambil berkata, "Sekali lagi kau bilang gitu, aku akan kirim kau ke UGD"
"Aduh!" Dave mendelik kaget ke Mikha dan kembali berbisik, "Kau sudah menikah, tapi masih ngebelain Bu Rora. Kau gila, hah?!"
__ADS_1
"Kau yang gila" Sahut Mikha dengan wajah garangnya.
Dave hanya bisa mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di jam istirahat makan siang, Mikha terpaksa menahan keinginannya untuk makan siang dengan istrinya di rooftop saat kakak tirinya datang mencarinya. Dengan langkah gontai, pemuda tengil itu naik ke ruang penerimaan tamu untuk bertemu dengan kakak tirinya.
Brandon Mahesa sontak bangkit berdiri dan melangkah lebar, lalu memeluk erat Mikha Mahesa dengan penuh kerinduan dan rasa sayang yang tulus. Namun, Mikha mendorong kasar dada kakak tirinya sambil menggeram, "Untuk apa kau mencariku?"
Brandon tersenyum dan berkata, "Duduklah dulu! Kakak baru balik dari Jerman dan langsung ke sini karena Kakak rindu sama kamu dan mau kasih oleh-oleh ke kamu"
"Kenapa kemari?" Mikha menatap kakak tirinya dengan wajah datar dan dingin. Pemuda tengil itu tetap berdiri tegak di depan kakak tirinya.
"Mau kasih oleh-oleh dan mau kasih kabar ke kamu kalau Papa sakit. Papa mencari kamu. Untuk itulah Kakak buru-buru pulang. Kakak akan menunggu sampai jam kuliah kamu selesai dan kira ke rumah sakit nengok Papa bersama-sama, ya?"
"Nggak! Aku nggak mau pergi ke rumah sakit bersama dengan kamu"
"Mikha, Papa merindukan kamu. Tolong jenguk lah Papa dan pulang lah sesekali! Kasihan Papa" Brandon mengatupkan kedua tangannya di depan Mikha.
"Jangan sok suci dan sok baik. Dasar munafik. Karena kehadiran kamu, Mamaku berpisah dengan Papa. Jadi, stop berlagak baik" Mikha menyipitkan kedua kelopak matanya dan menatap kakak tirinya dengan sorot mata penuh kebencian.
"Aku tahu kalau aku muncul di waktu yang tidak tepat. Tapi, bukan aku yang membuat Mama kamu dan Papa kamu berpisah. Sumpah demi apapun di dunia ini, aku juga menyesali perpisahan itu, Mikha" Sahut Brandon dengan wajah penuh penyesalan.
"Cih! Munafik! Kau balik saja dan bawa pulang oleh-olehnya! Aku tidak butuh oleh-oleh dari kamu" Mikha Mahesa berbalik badan dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan kakak tirinya.
Brandon menatap punggung adik tirinya yang sejujurnya sangat ia cintai dan sayangi itu dengan menitikkan air mata. Setelah mengusap air mata di pipinya, pemuda tampan berwajah lembut dan kebapakan itu menenteng kembali paper bag dan melangkah turun untuk kembali ke parkiran mobil.
Saat Brandon membelokkan langkahnya tanpa sengaja ia menyenggol bahu seorang wanita dan pemuda tampan berumur dua puluh delapan tahun itu langsung menundukkan kepala dan berkata dengan tulus, "Maafkan saya. Saya tidak sengaja"
Aurora tersenyum dan sambil mengelus bahunya sendiri, ia berkata ke pemuda yang sangat sopan itu, "Tidak apa-apa, Emm, Kak, ah, maaf, Tuan"
Mendengar suara merdu seorang wanita, Brandon langsung menegakkan wajahnya dan seketika terpesona dengan senyum cantik wanita yang berdiri di depannya. Brandon sontak berkata, "Panggil saja Brandon. Nama saya Brandon dan Anda?"
__ADS_1
Aurora menyambut ukuran tangan pria sopan itu dan berkata, "Saya Aurora" Lalu, perempuan itu menarik tangannya dan berkata, "Maaf, saya harus segera pergi ke ruangan saya. Permisi Brandon"
Brandon hanya bisa tersenyum, menganggukkan kepala, lalu kepalanya berputar mengikuti arah perginya wanita cantik itu. Brandon kemudian bergumam, "Aurora. Nama yang sangat cantik dan sangat pas dengan orangnya. Dia sangat cantik dengan bola mata birunya"