
Mikha langsung menarik bangku dan duduk di sebelahnya Aurora begitu ia sampai di mejanya Aurora. Pria tampan itu kemudian menoleh ke kekasihnya, mencium pipi Aurora dan sontak menautkan alisnya kemudian bertanya, "Kenapa kau cemberut? Maaf kalau aku lama. Udah lapar banget, ya? Mau makan apa?" Mikha menarik buku menu dan membukanya.
Aurora yang masih bersedekap bertanya dengan wajah cemberut, "Siapa wanita itu?"
Mikha menoleh kaget ke Aurora lalu bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lantai dua kafe tersebut. Lalu, pria berambut cokelat bergelombang itu menunduk untuk menatap wajah cantik wanita yang sangat ia cintai untuk bertanya, "Wanita? Ada banyak wanita di sekitar kita. Wanita yang mana yang kamu maksud?"
Aurora mendengus kesal, "Yang ada di lantai bawah. Yang tadi duduk bersama kamu"
Mikha menegakkan badannya dan melihat lurus ke balkon. "Oh, kamu bisa melihatku dari sini, ya. Iya, aku tadi duduk di meja itu" Mikha menunjukkan jari ke meja yang ada di lantai satu, di halaman kafe tersebut. Meja yang ia pakai untuk mengobrol bersama seorang wanita seksi dan cantik, di beberapa menit yang lalu.
"Siapa wanita itu?" Aurora bertanya masih dengan bersedekap dan wajah cemberut.
Mikha menoleh ke Aurora dan berkata dengan senyum tertahan, "Dia, emm, wanita itu, yang tadi duduk bersamaku di lantai satu di meja itu, dia adalah manajer di salah label rekaman ternama di Korea. Beberapa hari yang lalu ia menghubungiku. Dia mau bekerja sama menggarap grup band baru yang aku didik saat ini"
"Kenapa rapat bisnis pakai baju seksi begitu, cih!" Aurora yang masih bersedekap dan belum mau menoleh ke Mikha, mendengus kesal.
__ADS_1
Mikha sontak mengulum bibir menahan geli lalu berkata, "Lho, jangan nanya ke aku, dong. Kenapa kamu tadi nggak samperin mejaku? Aku, kan, bisa mengenalkan kamu ke wanita itu.
"Siapa namanya?"
Mikha menangkup wajah Aurora dan memutar pelan wajah wanita itu untuk menghadapnya. Mikha meringis di depan Aurora lalu berkata, "Aku lupa namanya"
"Bohong!" Aurora membiarkan Mikha tetap menangkup wajahnya.
Mikha mengecup bibir Aurora lalu menegakkan wajah tampannya dan berkata, "Aku beneran lupa. Apa kamu cemburu?"
Lalu, Mikha menegakkan wajahnya untuk menatap wajah Aurora dengan senyum geli bercampur cinta, "Iya, kau cemburu"
"Nggak" Aurora mengerucutkan bibirnya dan mendelik kesal ke Mikha.
"Kau tidak suka dengan wanita tadi?"
__ADS_1
"Tentu saja. Dia menggoda kamu. Dia sengaja pakai baju seksi dan dia memeluk kamu dari belakang tadi"
"Oke, aku akan robek kontrak kerja sama dengan wanita itu" Mikha tanpa ragu merobek map cokelat yang ia letakkan di atas meja lalu pria itu membuang map tersebut ke tempat sampah.
"Kau........Mikha itu kontrak penting, kan?"
Mikha meletakkan jari telunjuknya di bibir Aurora dan langsung berkata ke telepon genggamnya, "Anda adalah Nona yang baru saja bertemu dengan saya di kafe tadi, kan?"
"Iya, benar. Ada apa kau menghubungi aku?" Wanita yang dihubungi oleh Mikha Mahesa sontak semringah. Ia mengira Mikha berubah pikiran dan mau menjadi pacarnya.
"Maafkan aku. Kita tidak bisa berkerja sama. Aku berubah pikiran. Silakan Anda mencari partner lain. Terima kasih" Klik! Mikha langsung menutup panggilan. telepon itu.
Mikha menarik jari telunjuknya dari mulut Aurora yang ternganga dengan senyum geli.
"Kau.......Itu pasti kontrak yang sangat berharga. Kau tidak perlu membatalkan. kontrak kerja sama kamu dan....... hmpppttthhh"
__ADS_1
Mikha langsung membungkam bibir Aurora dengan bibirnya.