
Setelah bercinta dengan penuh sensasi dan hadiah di dalam ruang kerjanya Brandon, Angela merapikan bajunya dan melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya Brandon dengan wajah semringah dan bergumam, "Aku rasa aku mencintai Brandon dan aku akan memutuskan pertunanganku dengan Mikha dan merebut Brandon dari Istrinya. Aku rasa Brendon juga mencintaiku"
Brandon merapikan bajunya dan duduk terhenyak di kursinya dengan wajah melongo. Dia takjub dengan apa yang baru saja ia lakukan. Dia belum pernah menjadi bad boy, yang bercinta begitu saja tanpa memikirkan tempat dan waktu. "Ternyata menjadi bad boy itu asyik juga. Setelah pulang nanti, aku akan ajak Rora bercinta gila-gilaan tanpa memikirkan tempat dan waktu lagi"
Sementara itu, Mikha mengajak Aurora turun dari bus umum saat kondektur bus umum yang tumpangi berkata, "Ini perhentian terakhir"
Aurora dan Mikha duduk sejenak di halte bus. Lalu, Mikha bertanya, "Kau ingin pergi ke mana? Aku akan pesan taksi online"
"Entahlah. Aku hanya malas pulang. Bukan karena aku tidak ingin bertemu Marco. Marco aman bersama Shasha saat ini. Aku sedang malas bertemu siapa pun termasuk kamu"
Mikha terkekeh geli dan berkata, "Tapi, aku tidak akan meninggalkan wanita secantik kamu sendirian"
Aurora menoleh dan tersenyum ke Mikha, "Cantik darimana. Aku sudah tua dan aku sudah punya anak"
"Kau tidak percaya kalau kamu kasih sangat cantik dan menarik?"
Aurora menggelengkan kepala dengan wajah lesu.
"Oke, aku akan tinggalkan kamu sendirian di sini. Kalau ada pria mendekatimu barulah aku muncul dan......."
Aurora langsung menahan lengan Mikha dan berkata, "Jangan tinggalkan aku! Aku berubah pikiran sekarang. Aku senang kau menemaniku"
Mikha duduk kembali dengan wajah semringah dan saat ia menggenggam tangan Aurora yang tergelung di lengannya, Aurora refeks menarik tangannya dan Mikha hanya bisa menghela napas panjang.
Dia masih belum mau membuka diri untukku. Batin Mikha.
"Kau sudah pernah naik kereta pergi ke pantai?"
"Belum"
"Ayo kita ke pantai naik kereta"
"Kau gila, ya?! Kita bisa sampai rumah larut malam. Bagaimana dengan Marco?"
"Aku sudah kirim pesan text ke Kak Shasha kalau kamu sedang sedih dan aku ada bersama kamu dan kemungkinan kita akan pulang malam"
"Nggak. Aku nggak mau pergi ke pantai. Banyak kenangan tentang kita kalau kita pergi ke pantai. Kita dulu, kan, senang pergi ke pantai"
"Benarkah? Apakah kita dulu sering pergi ke pantai? Kenapa aku lupa?"
Aurora menepuk pelan bahu Mikha dengan senyum tipis.
Mikha ikutan tersenyum, lalu berkata, "Kalau begitu, kita pergi ke taman aja. Ada taman indah di dekat sini. Kita bisa berjalan santai ke taman itu"
"Baiklah. Aku memang ingin berjalan santai"
"Ayo!" Mikha menggenggam tangan Aurora dan wanita itu langsung menarik tangannya sambil berkata, "Tanpa bergandengan tangan karena kita hanya teman"
"Oke! Baiklah!" Sahut Mikha dengan helaan napas panjang.
Aku akan menuruti semua permintaan kamu saat ini asalkan aku bisa membuatmu tersenyum lagi, aku akan bersabar menerima semua penolakan kamu. Batin Mikha.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah taman yang cukup indah dan bersih untuk duduk bersantai. Ada beberapa penjual kaki lima di sana dan setelah duduk di salah satu bangku taman pilihannya Aurora, Mikha langsung berkata, "Kalau kamu minta jajan aku tidak bisa mentraktir kamu. Uang tunai ku sudah habis dan semua Abang penjual itu pasti nggak akan menerima pembayaran dengan kartu"
Aurora terkekeh geli dan berkata, "Aku tidak lapar sekarang dan males nyemil"
"Tumben. Biasanya kau selalu minta ini dan itu kalau sedang.........."
"Sedang apa?"
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kau rasakan sekarang dan aku tidak tahu kenapa kau aneh saat ini"
Aurora mengalihkan pandangannya ke depan dengan berkata, "Aku hanya ingin diam saat ini"
__ADS_1
"Oke. Aku akan biarkan kamu berdiam diri selama mungkin"
Saat Aurora masih asyik berdiam diri selama hampir setengah jam, tiba-tiba turun hujan dan Mikha refleks membopong Aurora dan pergi ke gubuk kecil yang terbuat dari bambu untuk berteduh.
Keduanya lalu duduk bersila di tengah gubuk bambu itu dan Mikha langsung melepas jasnya dan memakaikan jas itu ke tubuh Aurora.
"Sial! Kenapa alam jadi aneh kayak kamu"
Aurora menoleh kesal ke Mikha dan pria itu langsung meringis dan berkata, "Lha iya, aneh. Kenapa tiba-tiba turun hujan. Sama, kan, kayak kamu. Tiba-tiba naik bus dan nggak ingin pulang"
Aurora mendengus kesal dan berkata, "Yeeaahhh, terserah kamu saja"
"Aku ingin kita saling memeluk saat ini. Berpelukan sampai kita meleleh. Lalu kita berciuman hingga bibir kita memar. Aku rindu manis bibirmu. Aku ingin mencicipinya lagi. Aku ingin kau menarik lepas kemejaku keluar dari celana panjang dan meletakkan tanganku di dadaku seperti dulu"
"Hentikan, Mikha"
"Kenapa? Aku ingin kau mengingatnya. Aku ingin kau mengingat betapa liarnya kita dulu. Betapa bebasnya kita dulu. Betapa kita berdua saling tergila-gila. Aku masih seperti itu, Bee. Dan aku merasakan semua itu, masih merasakan semua itu hanya saat aku bersamamu. Hanya saat aku memikirkanmu. Aku hanya mencintaimu. Dulu, sekarang, dan masa yang akan datang, aku hanya akan mencintaimu" Mikha nekat mengusap pipi Aurora.
"Jangan, Mikha! Hentikan!" Aurora menarik tangan Mikha.
"Inilah yang selalu kau ucapkan. Jangan! Hentikan! Tapi, aku bisa melihatnya, Bee. Sejujurnya kau tidak ingin berkata jangan dan hentikan. Kau juga ingin memeluk diriku. Berciuman denganku. Kau juga ingin menyentuhku. Kenapa kau tidak bebaskan dirimu, Bee? Kenapa?"
"Karena aku seorang Ibu sekarang ini. Aku wanita yang sudah menikah dan aku harus menjaga kesucian pernikahanku"
"Kau jaga kesucian pernikahan kamu dengan sekuat tenagamu. Tapi, bagaimana dengan Brandon?"
"Brandon mencintaiku dan dia lebih dewasa dari kamu. Selama enam tahun ini Brandon memberiku rasa aman. Tidak seperti dirimu dulu, Mikha!"
"Ya! Aku dulu dikuasai amarah pada Papaku. Untuk itulah aku tidak siap menjadi seorang Papa. Tapi, aku sekarang berbeda, Bee"
"Kita dulu sering bertengkar"
"Aku masih dua puluh tahun saat itu. Aku masih labil. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku bersumpah demi apapun di dunia ini kalau aku akan membuatmu merasa aman berada di dekatku. Menikahlah dengan Bee. Tinggalkan Brandon"
"Tidak? Kenapa tidak?"
"Ada Marco. Marco adalah segalanya bagiku. Aku tidak bisa meninggalkan Brandon karena aku tidak ingin Marco kehilangan Papanya atau Mamanya kalau pengadilan memutuskan hal asuh jatuh ke tangan Brandon kalau aku minta cerai. Aku nggak bisa hidup tanpa Marco"
"Aku akan membantumu sekuat tenaga untuk merebut hak asuh Marco. Aku juga sangat menyayangi Marco. Kalau kita menikah, aku ingin Marco ada di tengah-tengah kita. Aku bersedia menjadi Papa untuk Marco"
"Tapi, kamu Bukan Papa kandungnya dan tidak seharusnya kamu kembali ke sini. Tidak seharusnya kau menemuiku. Kau hanya akan terluka, Mikha. Aku bukan Bee kamu lagi. Aku bukan Aurora yang sama"
"Aku ke sini karena aku ingin menagih hutang kamu"
Ketakutan dan gairah bercampur dalam kerongkongan Aurora, "Hutang apa? Apa yang kau inginkan dariku?"
"Sebelum kau keguguran dan pergi meninggalkanku dengan secarik kertas, kau berjanji akan memuaskan dengan caramu" Mikha mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hanya berjarak beberapa inci.
Selama beberapa detik Aurora hanya menatap Mikha, tak berdaya, tak mampu bergerak, tak mampu berpikir, tak mampu bernapas. Syok melanda dirinya sejenak dan baru setelah beberapa saat ia mengerti apa yang harus ia lakukan. Dia mendorong dada Mikha dan sambil berkata, "Aku tidak ingat"
"Iya, kau ingat" Mikha menyeringai jahil.
Aurora membasahi bibirnya, sambil berharap Mikha segera pergi darinya. Meskipun dirinya mendambakan sentuhannya Mikha. Sentuhan yang sudah hampir ia lupakan itu, kini sangat ia dambakan.
Brandon berbalik badan saat ia melihat Angela bersandar di mobilnya. "Sial! Kenapa dia ada di mobilku? Mau apa wanita itu?" Brandon kemudian memilih melangkah ke depan dan pulang dengan baik taksi online.
Angela yang ingin meminta diantarkan pulang oleh Brandon harus gigit jari karena setelah menunggu selama satu jam Brandon tidak muncul dan saat ia menelepon Brandon, pria itu tidak mengangkat teleponnya.
Shasha menelepon Brandon dan dia langsung memborbardir Brandon dengan pertanyaan, "Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan?"
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bertanya nggak jelas seperti ini, Sha?" Brandon menautkan kedua alisnya.
"Rora tadi ke kantor kamu. Kalian ketemu, kan? Lalu, apa yang kau lakukan pada Rora?"
__ADS_1
"Hah?! Rora ke kantorku? Aku tidak ketemu sama Rora"
"Lalu, kenapa Rora tidak ingin pulang dulu saat ini. Rora ingin berjalan-jalan dulu. Apa yang sudah kau lakukan?"
"Aku tidak tahu. Kenapa Rora tidak ingin pulang? Rora di mana saat ini?"
"Aku tidak tahu. Kalau Marco ada di rumahku. Marco biar di sini dulu sampai besok. Kalian selesaikan dulu masalah kalian" Klik! Shasha mematikan sambungan telepon begitu saja.
Brandon memasukkan telepon genggam super mahalnya ke dalam saku jas dan bergumam setelah ia meraup kasar wajahnya, "Rora ke kantorku? Kenapa Rora tidak menemuiku? Sial! Apa Rora melihat aku dan Angela sedang ...........sial! Semoga saja tidak"
Mikha kemudian berkata ke Aurora untuk menepis semua fantasi liar yang ada di benaknya. "Hujan sudah reda dan taksi online yang aku pesan sudah tiba. Kita pulang, yuk!"
"Oke" Aurora menyetujui ide untuk pulang karena dia takut lama kelamaan berduaan saja dengan bocah tengil seperti Mikha Mahesa justru dia yang akan menyentuh dan mencium Mikha.
Setalah masuk ke dalam taksi online, Aurora menoleh ke Mikha dan berkata, "Besok adalah acara penandatanganan novel keduaku dan acara jumpa fans. Apa kau mau datang?"
"Mau! Tentu saja aku harus datang. Tokoh pria di novel kamu, kan, aku"
Aurora menepuk pelan bahu Mikha dan berkata, "Di novel kedua tidak ada kamu"
"Yeeaahhh, kok, gitu? Apa novel kedua sudah ada di pasaran?"
"Baru beberapa eksemplar. Aku akan kasih kamu satu sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah menemaniku seharian ini"
"Terima kasih banyak. Aku akan sangat senang membaca novel kedua kamu" Mikha tersenyum lebar dan tulus ke Mikha.
Kenapa Brandon tidak seperti Mikha? Brandon mendukungku membuat novel bahkan mendanai biaya cetak dan pemasarannya. Namun, Brandon tidak pernah tertarik untuk membaca novelku dengan alasan dia banyak kerjaan dan tidak punya waktu untuk membaca hal lain selain kontrak kerja. Batin Aurora.
Apa benar apa yang dikatakan oleh Mikha, kalau aku hanya mencari aman dan sebenarnya aku tidak mencintai Brandon? Batin Aurora.
Shasha menelepon Aurora, "Jangan jemput Marco. Kamu selesaikan dulu masalah kamu dengan Brandon"
"Baiklah. Makasih, Sha"
"Apa sih yang nggak buat kamu" Sahut Shasha dengan terkekeh geli.
Setelah taksi online berhenti di depan gerbang vila suaminya, Aurora menoleh ke Mikha dan tersenyum, "Teiema kasih. Besok jangan lupa datang. Acaranya jam sepuluh setelah Marco pulang sekolah di mall XX"
"Apa Brandon tidak akan datang?"
"Brandon selalu sibuk dan tidak pernah mau datang. Di novel pertamaku dulu, Brandon juga tidak mau datang"
"Kalau begitu, Aku yang akan jemput Marco. Kamu langsung ke tempat acara saja. Untuk persiapan"
"Tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak"
"Terima kasih"
"Hmm" Sahut Mikha dengan wajah semringah.
Saat Aurora berbalik badan hendak turun, Mikha menahan lengan Aurora sampai membuat wanita cantik itu memutar badan dan Mikha nekat mencium kening Aurora.
Aurora sontak mematung dan melongo.
"Apa? Kenapa melongo? Apa kau mau lebih?"
Aurora mendelik dan langsung mendorong dada Mikha, lalu bergegas turun dari dalam taksi online. Setelah Aurora masuk ke dalam, Mikha berkata ke supir taksi online, "Maaf, ya, Pak, kalau ada adegan cium-cium tadi. Saya sudah tidak bisa menahan kerinduan saya, Pak, hehehehe"
"Nggak papa, Mas. Namanya juga anak muda"
"Eh, iya, benar" Sahut Mikha dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1