
Brandon menatap arah perginya Aurora dan hanya bisa diam mematung.
Aurora masuk ke dalam kamarnya Marco dan saat ia menutup pintu, ia terkejut dan mematung. Ada seseorang yang memeluknya dari arah belakang.
Mikha memeluk Aurora dari arah belakang dan segera membisikan kata, "Kau memiliki kulit yang sangat halus, bentuk tubuh yang ramping sekaligus seksi, tapi wajah kamu lembut dan keibuan. Kenapa kau bisa tumbuh menjadi wanita yang sangat sempurna seperti ini, Bee?"
Aurora dengan cepat mengunci pintu kamarnya Marco dan memutar kepala ketika Mikha menyentuhkan hidungnya pada leher Aurora. Lalu, dengan ciuman yang sangat manis Mikha mengunci bibir mereka. Pria tampan itu kemudian membenamkan lidahnya dalam-dalam. Lidah itu bergerak dengan gesit,liar, dan menggoda, sementara jari-jarinya mengelus tengkuk Aurora, ibu jarinya menggoda dan telapak tangannya membelai.
Dengan mengerang, Mikha menurunkan tangannya dan memutar badan Aurora agar menghadap dirinya. Ia kemudian memeluk erat-erat tubuh Aurora dan sambil membenamkan wajahnya di leher wanita pujaan hatinya itu, Mikha berkata, "Aku masih merindukan kamu dan Marco. Untuk itulah aku nekat menerobos masuk ke kamar ini. Aku ingin tidur bertiga dengan kamu dan Marco malam ini"
"Kau gila!" Aurora mendesis kaget.
Mikha menyahut, "Iya. Aku memang gila"
"Mobil kamu gimana?"
"Aku suruh Dave mengambilnya dan aku memanjat tembok lalu masuk ke kamar ini"
"Kau memang gila"
"Yeaaahhh, aku sudah banyak berubah ku rasa. Tapi, entahlah aku sulit menghilangkan kegilaanku" Mikha terkekeh lirih.
Aurora menepuk punggung Mikha dan berkata lirih, "Dan tengil kamu juga belum hilang"
"Tengil? Emangnya aku tengil?"
Aurora kembali menepuk pelan punggung Mikha dan Mikha terkekeh lirih.
Ketika Mikha akhirnya melepaskan Aurora, mereka berdua saling pandang dengan malu. Mereka berdua malu pada emosi yang begitu mendalam.
Aurora kemudian berjalan ke ranjang dan berbaring di sisi kanan Marco, memunggungi Mikha.
Mikha berdiri di belakang Aurora, ia masih mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya kembali. Setelah ia merasa tenang, Mikha berjalan ke sisi ranjang yang satunya dan tidur miring. Tangannya memeluk tubuh mungilnya Marco yang tidur terlentang, namun matanya terus menatap Aurora.
Aurora menggelengkan kepalanya dan berkata lirih, "Kau nekat banget tidur di sini"
__ADS_1
"Aku nggak bisa menahan kerinduanku padamu dan pada Marco" Mikha mencium pipi Marco, namun pandangannya tetap melekat di wajah cantiknya Aurora.
"Kau memang nakal, Mikha" Bisik Aurora
"Kau yang lebih nakal sebenarnya" Mikha menyahut dengan suara lirih.
"Aku?"
"Iya. Kau ingat kalau kau sering menindas diriku waktu aku masih kecil" Mikha masih berkata dengan suara lirih.
"Mana ada. Aku nggak pernah menindas anak kecil" Aurora kemudian mengulum bibir menahan geli.
"Nggak pernah? Lalu, kenapa kau mengulum bibir? Kau ingat saat kita bertiga nonton film horor di ruang keluarga, di rumah Papa Dito. Kau duduk di tengah karena kau penakut. Aku di sisi kiri kamu dan Kak Shasha di sisi kanan kamu. Saat film udah mulai kamu tidak menonton filmnya, tapi kamu asyik mencubit pipiku"
"Itu karena aku gemas sama pipi gembul kamu. Bukan menindas itu namanya"
"Oh, iya? Lalu, bagaimana saat kamu menyikut dadaku berulangkali"
"Itu karena aku nggak ada kegiatan. Aku takut lihat film horor dan kalian fokus ke filmnya. Aku, kan, jadi kesepian dan tidak ada kegiatan"
"Dan kenapa waktu itu kamu tiba-tiba mencium pipiku? Kau sudah ada rasa sama aku saat itu?"
"Oh, begitu, ya. Lalu, kenapa kamu tidak menjahili Kak Shasha?"
"Karena, Shasha galak. Aku bisa dibanting di lantai kalau aku menjahili dia pas dia asyik nonton film favoritnya" Aurora terkejut geli dan Mikha langsung menggenggam tangan Aurora dengan erat dan berkata, "Aku rela kau jahili. Kapan pun kau mau, aku siap kau jahili"
Aurora langsung memejamkan mata dan berkata, "Aku capek. Mau tidur"
Mikha tersenyum lebar dan berbisik, "Tidurlah! Mimpiin aku, ya"
Aurora tersenyum tanpa menyahut dan Mikha ikutan tersenyum dan berbisik, "Aku sangat mencintai kalian. Kamu dan Marco adalah hidupku sekarang ini"
Brandon terus berdiri di depan pintu kamar anaknya dengan wajah sedih dan muram. "Baiklah, Rora. Aku akan biarkan kamu tenang malam ini. Besok, aku akan buatkan kamu sarapan kesukaan kamu dan aku yakin kamu akan luluh kembali. Kamu akan memaafkan aku dan mencintaiku lagi karena aku masih sangat mencintaimu dan aku nggak mau kehilangan kamu dan Marco" Lalu, Brandon berbalik badan dan melangkah ke kamarnya dengan helaan napas berat.
Brandon kaget saat ia masuk ke kamar dan menemukan telepon genggamnya berbunyi nyaring tiada henti. Pria tampan itu tergopoh-gopoh mengambil telepon genggamnya dari atas nakas dan tanpa melihat layar siapa yang meneleponnya, Brandon mengangkat panggilan itu, "Halo?"
__ADS_1
"Brandon. Akhirnya kau angkat juga teleponnya. Kau ke mana aja, hah?! Aku udah nelpon kamu lebih dari enam kali"
"Angela?"
"Iya, ini aku"
"Kenapa kau nelpon aku pas aku ada di rumah? kau sudah gila, ya, jangan ganggu aku lagi!"
"Enak aja. Aku nggak akan lepaskan kamu setelah apa yang sudah kita alami bersama"
"Kau gila! Itu kesalahanku dan aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku akan tutup telepon ini dan ........."
"Tunggu dulu! Aku ada kejutan untuk kamu. Ini soal Mikha dan Istri kamu"
"Mikha dan Rora?"
"Iya. Kalau kamu tahu kebenaran ini maka aku yakin banget kalau kamu akan berpikir dua kali untuk mempertahankan pernikahan kamu"
"Apa maksud kamu? Katakan sekarang juga!"
"Nggak. Aku sangat merindukanmu dan kamu terus mengindari dan mengabaikan aku beberapa hari ini. Untuk itu, temui aku jam tujuh pagi. Kita sarapan di restoran yang ada di dekat kantor kita. Aku menunggumu di sana karena aku sudah sangat merindukanmu. Aku akan katakan semuanya di sana. Mimpi indah, Brandon. Aku mencintaimu" Klik! Angela memutuskan panggilan telepon itu sebelum Brandon menyahut.
Brandon duduk di tepi ranjang dan meletakkan telepon genggamnya di atas nakas dengan gamang.
Keesokan harinya, tepat jam lima pagi, Aurora menggoyang tubuh Mikha sambil berbisik, "Mikha, cepat bangun!"
Mikha membuka mata dan memutar badan, "Ada apa?" Pria itu bertanya dengan wajah yang masih sangat mengantuk.
Aurora menarik tubuh Mikha sampai Mikha bangkit berdiri sambil berkata, "Kau harus pergi dari sinis secepatnya sebelum Marco bangun" Bisik Aurora.
"Kenapa harus begitu? Aku ingin Marco melihatku saat ia bangun. Marco pasti senang melihatku ada di kamarnya pagi ini" Bisik Mikha.
"Kau jangan gila! Marco akan bertanya-tanya kenapa kau tidur di sini dan Marco bisa cerita ke Papanya. Aku nggak ingin menambah kesalahpahaman lagi di antara aku dan Brandon"
Mikha mencium kening Aurora dan berkata, "Baiklah. Aku akan pergi. Aku akan hubungi kamu nanti"
__ADS_1
Aurora menganggukkan kepala dan berbisik, "Cepat pergi"
Sementara itu, Brandon tengah asyik memasak dimsum untuk Aurora dan Marco. Pria itu memasak dimsum dengan tergesa-gesa karena ia akan menemui Angela di jam tujuh pagi.