Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Berbincang


__ADS_3

Karena hangatnya sinar mentari dan semilir angin yang menyegarkan, Aurora jatuh tertidur di dalam dekapan hangatnya pria yang dulu dan sekarang masih sangat ia cintai.


Mikha mengambil sejumput rambut yang menutupi wajah Aurora dan menyelipkannya di telinga. Lalu, pria tampan yang masih bertelanjang dada itu mencium kening Aurora dengan penuh perasaan cinta dan kerinduan.


Pria tampan itu kemudian menghela napas dan bergumam sambil menyelipkan tangan kanannya di belakang kepala, "Kenapa aku dulu begitu bodoh melepaskanmu begitu saja? Kenapa dulu aku menolak kehamilanmu? Aku sudah banyak membuatmu menderita, Bee. Maafkan aku. Aku berjanji padamu kalau aku nggak akan melakukan kebodohan lagi. Kalau kau ingin pelan-pelan maka aku akan melakukannya pelan-pelan"


Dua jam kemudian, Aurora membuka mata dan langsung bangun, duduk bersila di tengah selimut dan menatap Mikha sambil merapikan rambutnya.


Mikha ikutan bangun dan duduk bersila di depan Aurora.


Aurora bangkit berdiri dengan wajah panik dan berkata, "Kenapa kau tidak bangunkan aku? Ini sudah sore. Ayo kita buruan balik. Shasha dan Marco pasti menunggu kita dengan cemas. Kita pergi cukup lama dan........."


Mikha memagut bibir Aurora, lalu melepaskannya dan berkata, "Jangan panik! Thunder bisa berlari kencang dan kita bisa sampai di vila sebelum malam tiba"


"Kau! Kenapa kau menciumku lagi?" Aurora menepuk kesal bahu Mikha


Mikha bangkit berdiri sambil berkata, "Kalau kau ceriwis lagi, maka aku akan menciummu lagi"


Aurora langsung menutup mulutnya dan berkata, "Aku nggak akan ceriwis lagi"


Mikha terkekeh geli dan setelah semuanya beres, Mikha membantu Aurora naik ke atas pelana, lalu ia naik ke atas pelana sendiri dan duduk di belakang Aurora.


Aurora mendekap keranjang yang berisi buah blueberry dengan tegang. Dia tidak berani bergerak dan membuka mulut karena Mikha membuat kuda yang mereka tunggangi berlari sangat kencang.


Sepanjang perjalanan kembali ke perkebunannya Mikha mereka berdua hanya diam. Mikha yang duduk di atas pelana kuda di belakangnya Aurora terasa sekali kalau pria itu tengah berusaha menahan diri dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Marco dan Kak Shasha pasti sedang makan sore saat ini" Mikha membuka pintu dan memberikan jalan bagi Aurora untuk masuk mendahuluinya.


Saat Mikha masuk dia langsung diserang pekik riangnya Marco, "Om Mikha! Ayo kita belajar naik kuda poni!"


Mikha berjongkok, menggendong Marco, dan berkata, "Ayo! Om akan ajari kamu naik kuda poni"


"Hore! Asyik!" Pekik Marco dengan wajah girang.


Aurora tersenyum bahagia melihat Mikha dan Marco saling menyayangi dan akrab. Shasha menepuk pundak Aurora sambil bertanya, "Apa yang terjadi? Kenapa leher kamu merah? Hah?! Apa kalian sudah bercinta?" Shasha sontak menutup mulutnya yang menganga lebar.


Aurora menoleh ke Shasha dengan wajah kesal dan sambil menepuk bahu Shasha ia berkata, "Belum. Aku dan Mikha belum bercinta. Aku masih menahan diri dan Mikha masih menghormatiku"


"Wah, keren. Dia pria yang sangat keren, Rora. Dia banyak berubah. Dia juga sangat menyayangi Marco dan Marco juga menyayangi Mikha. Kalau aku jadi kamu, tanpa pikir panjang lagi aku sudah ceraikan si Brandon brengsek itu"


"Aku akan ajak Brandon bicara empat mata dulu. Bagaimana pun dia adalah papa kandungnya Marco dan aku tidak ingin memisahkan Marco dengan papa kandungnya"


"Iya. Mikha juga berkata seperti itu. Aku akan ambil keputusan setelah aku berbicara empat mata dengan Brandon"


"Yes! Aku doakan kalian bercerai secepatnya"


"Sha!"


"Sori, Ra. Tapi, itu kejujuranku. Aku tidak rela kamu hidup satu atap dengan si tukang selingkuh itu. Dia akan bilang itu khilaf dan nggak akan mengulanginya lagi, cih! Tapi percaya sama aku, itu penyakit. Suatu saat nanti, ia akan mengulanginya lagi entah dengan wanita yang sama atau wanita yang lainnya lagi. Kita ini lulusan Psikolog. Kita tahu benar sindrom itu" Sahut Shasha dengan kesal. Dia kesal sama Brandon dan bahkan ia sudah membenci Brandon.


"Yeeaaahh, kau benar, Sha. Hanya saja aku juga merasa enggan bercerai. Jika aku bercerai maka aku akan menjadi janda untuk yang kedua kalinya. Itu rasanya berat dan aku masih belum rela, Sha"

__ADS_1


"Ceraikan Brandon dan kembalilah ke Mikha!"


Shasha menepuk pundak Aurora dan Aurora hanya bisa menghela napas panjang.


keesokan harinya, Mikha mengantarkan Shasha pulang ke apartemennya Shasha lebih dulu, lalu ia mengantarkan Aurora ke vilanya Brandon. Mikha menggenggam tangan Aurora sebelum wanita cantik itu turun dari dalam mobilnya, "Hubungi aku kalau ada apa-apa!"


Aurora mengangukkan kepala dan setelah mengucapkan terima kasih, ia turun dari dalam mobilnya Mikha dan Mikha turun untuk membantu Marco turun dari jok belakang.


Di malam hari saat Marco sudah tidur nyenyak. Brandon pulang dan langsung memeluk Aurora dari arah belakang sambil berkata, "Syukurlah kau sudah pulang, Sayang. Aku sangat merindukanmu"


Aurora berbalik badan dan mendorong dada Brandon sambil berkata, "Jangan peluk aku! Jangan sentuh aku!"


Brandon menatap Aurora dengan wajah penuh tanda tanya.


"Aku rasa kita baik-baik saja, bahagia dan aman, Rora. Aku masih mencintaimu dan kamu masih mencintaiku, kan? Kau pulang karena kau masih mencintaiku. Lalu, kenapa kau tidak ijinkan aku memeluk dan menyentuh kamu? Kau masih Istriku, Rora"


"Kau bercinta dengan wanita lain dan aku hampir saja bercinta dengan pria lain, kemarin. Dan kau sebut pernikahan kita ini pernikahan yang aman dan bahagia? Kau gila, Brandon! Gila!" Aurora memijit pelipisnya dan memutar badannya ke kiri dan ke kanan dengan kesal.


"Ya, aku memang gila! Aku gila karena aku ingin mengisi kekosongan di hatiku dengan amarah, amarah karena pengkhianatan yang aku lakukan, amarah karena kau hampir saja bercinta dengan pria lain, tapi tidak bisa. Bahkan di saat aku ingin mengisi kekosongan di hatiku dengan kebencian, aku tidak bisa. Kenapa? Karena kau masih memakai cincin pernikahan kita. Itu berarti kau tidak ada niat untuk meninggalkan aku. Aku bisa menerima pengkhianatan kamu dan aku harap kau bisa menerima pengkhianatan yang sudah aku lakukan. Lalu, kita mulai benahi pernikahan kita, kita rapatkan celah besar yang ada di antara kita dan..........."


"Aku rasa aku tidak bisa menerima pengkhianatan kamu, Brandon. Tidak bisa" Auroa bersedekap dan menggelengkan kepalanya dengan tegas.


Brandon langsung bersimpuh di depan kaki Aurora dan berkata, "Aku pernah bersumpah kalau tidak akan pernah ada cinta yang lain di hatiku selain cinta untuk dirimu. Aku pernah bersumpah kalau apapun tidak bisa mengubah cintaku padamu dan itu masih berlaku, Rora. Sumpahku masih berlaku" Brandon menggenggam kedua tangan Aurora.


Aurora menarik kedua tangannya dan melangkah mundur sambil berkata, "Aku sudah tidak percaya pada sumpahmu itu, Brandon. Kau sudah bercinta dengan wanita lain dan bisa-bisanya kau membual begini"

__ADS_1


"Aku tidak membual. Aku hanya khilaf sekali dan aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Dia terus menggodaku dan aku.........."


"Yeeaahhh. Aku rasa percuma bicara denganmu. Aku akan tidur di kamarnya Mikha malam ini" Aurora berbalik badan dengan cepat meninggalkan Brandon.


__ADS_2