
Mikha kemudian mengejar Aurora dan berhasil mencekal lengan wanita cantik itu.
Aurora tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang.
Mikha tersenyum ke Marco dan berkata, "Om masih ingin bermain sama kamu"
"Om Mikha mau main ke rumah Marco?" Marco menatap Mikha dengan wajah cerianya dan penuh antusias.
"Iya" Sahut Mikha
Nggak"Sahut Aurora.
Marco menoleh ke mamanya dengan wajah merengut.
"Sayang, Om Mikha sibuk dan harus bekerja"
"But, Mom, i need a friend at home and i need a man. Papa selalu sibuk dan aku bosan bermain bola bersama dengan Mama ataupun dengan Tante Shasha" Marco masih merengut di depan Aurora.
Mikha tersenyum lebar dan akhirnya Aurora mengalah dan berkata, "Baiklah"
"Yeeaayyy, hore!" Marco mengangkat kedua tangannya ke atas dengan tawa renyah.
Mikha langung merengkuh Marco ke dalam gendongannya dan melangkah lebar meninggalkan Aurora sambil mengajak Marco bercakap-cakap.
Aurora melongo menatap punggung Mikha lalu bergumam, "Aku lupa kalau Mikha itu tengil dan menyebalkan. Dia tidak suka ditolak"
Aurora kemudian melangkah pelan mengekor Mikha dengan hati kacau balau. Terus terang ia juga sangat merindukan Mikha dan kerinduannya pada Mikha Mahesa, Aurora tuangkan ke dalam novelnya yang berjudul, "Kekasih Impianku" Novel itu meledak di pasaran dan menjadi best seller di tingkat nasional. Di dalam novel itu, Aurora menceritakan kisah cintanya bersama Mikha Mahesa tanpa ia kurangi sedikit pun dan Aurora bahkan memakai nama Mikha untuk tokoh prianya dan Bee untuk tokoh wanitanya. Aurora lupa mengganti nama tokoh prianya.
Brandon yang tidak suka membaca novel, mendukung karya istrinya, namun ia tidak pernah membacanya. Jadi, Brandon tidak pernah tahu apa isi novel karya Istrinya itu yang ditulis oleh Aurora satu tahun setelah Marco lahir ke dunia ini.
"Kau tidak masuk?" Tanya Mikha sambil.menahan pintu lift saat ia melihat Aurora beridri di dalam lift dan mematung.
Aurora yang tidak ingin berada di dalam satu lift dengan Mikha, menggelengkan kepala lalu berjalan ke tangga darurat. Aurora memilih turun dari lantai delapan ke lantai satu lewat tangga darurat.
Mikha menghela napas panjang dan menutup pintu lift, lalu ia kembali bercanda dengan Marco.
Marco ikut di dalam mobilnya Mikha dan Aurora membawa sendiri mobilnya.
Beberapa jam kemudian mereka bertiga sampai di vilanya Brandon Mahesa.
Marco langsung menarik Mikha ke halaman belakang untuk bermain bola dan Aurora langung masuk ke dalam dapur untuk memasak makan malam.
Beberapa jam kemudian, Aurora tesentak kaget saat ia melihat Mikha telah duduk di meja makan dan tersenyum padanya lalu Mikha berkata, "Marco sudah mandi dan tidur"
"Terima kasih" Sahut Aurora sambil menata semur ayam kecap dan bakso goreng di atas meja makan tanpa menoleh ke Mikha.
"Kau pandai memasak, ya, sekarang" Ucap Mikha sambil terus memandangi sosok Aurora Zeto yang sama sekali tidak berubah.
Aurora menyahut, "Semua orang akan bisa melakukan apa saja demi orang-orang yang dia cintai" Aurora melepaskan celemek dan melipatnya, lalu ia kembali ke dapur untuk meletakkan celemek itu ke tempatnya semula.
Aurora tesentak Kaget saat Mikha nekat memeluknya dari arah belakang dan berbisik di telinganya, "Aku membeli novel kamu dan berulangkali aku membacanya. Aku merindukanmu, Bee. Aku tahu kalau kau juga merindukanku"
Aurora berbalik badan dengan cepat, mendorong dada Mikha kemudian ia melangkah meninggalkan Mikha. Aurora melangkah lebar ke teras depan untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena saat ini ia merasa sesak.
__ADS_1
Mikha menyusul Auora dan berdiri di sebelah kanannya Aurora kemudian pria itu berkata, "Di halaman delapan puluh enam chapter sebelas, Ketika kita mencintai seseorang yang tidak dapat diraih, wajar jika kita mencoba mengubur perasaan kita untuk terhindar dari kenyataan pahit. Itu salah satu kalimat yang kau tulis di buku novel kamu dan aku sangat menyukai deretan kalimat indah itu. Itulah kenapa aku bisa hapal betul kalimat itu berada di halaman dan chapter yang mana dan aku juga hapal betul kalimatnya" Mikha menatap dalam-dalam kedua rambut indahnya Aurora yang sudah berwarna hitam dengan debaran jantung abnormal.
Aurora sontak menghadap ke samping untuk berkata, "Mikha, jangan seperti ini!" Aurora kemudian melangkah mundur dengan pelan untuk menjaga jarak dengan Mikha Mahesa.
"Yang mana yang kau maksud jangan? Berdiri di depan kamu seperti ini atau kau berkata jangan karena aku terus menatap wajah cantikmu yang sangat aku rindukan dengan seperti ini? Atau kau melarangku membaca novel kamu?" Mikha melangkah maju dengan perlahan sambil terus menatap kedua bola matanya Aurora dan Auroa kembali melangkah mundur dan berkata, "Jangan, Mikha!" Jantung Aurora mulai berdegup abnormal.
"Kenyataan pahit yang pernah kita alami berdua, yaitu saat kamu keguguran, aku sangat menyesalinya"
Aurora hanya diam membisu, menatap Mikha dan tanpa ia sadari, ia menitikkan air mata di depan Mikha.
Mikha nekat menarik Aurora ke dalam pelukannya dan pria itu nekat mencium keningnya Aurora dengan penuh kerinduan dan tangan Mikha mengusap air mata di pipi Aurora dengan penuh cinta.
Aurora tersentak kaget dan langsung mendorong dada Mikha cukup keras sambil berteriak, "Mikha! Cukup!"
Mikha meraup wajah tampannya dan berkata, "Kau merindukan aku. Kau menulis novel itu karena kau merindukan aku dan kau tidak bahagia dengan pernikahan kamu. Jujurlah padaku, Bee!"
"Aku bahagia Mikha. Oh, astaga! Kenapa kau tidak percaya kalau aku bahagia? See! Aku tersenyum lebar saat ini dan aku bahagia" Aurora memamerkan deretan gigi putihnya di depan Mikha.
"I am not exactly sure (aku tidak begitu yakin) dengan wajah bahagia yang kau tunjukkan padaku saat ini. Karena aku melihat ada kekosongan di kedua bola mata kamu dan itu artinya kamu berpura-pura bahagia, Bee" Ucap Mikha dengan wajah serius.
"Aku sudah menikah. Itu kenyataan pahit lainnya yang harus kau telan karena kamu tega membuatku keguguran Mikha. Jadi, pergilah dan lupakan aku! Kamu sudah punya tunangan maka berbahagialah dengan tunangan kamu itu, Mikha!"
Mikha tersenyum getir dan berkata, "Berapa kali aku harus bilang ke kamu kalau bukan aku yang membuatmu keguguran"
"Ya, anggap saja itu benar. Tapi, kau tidak menginginkan kehamilanku, kan? Kau menerimanya karena terpaksa dan kau lega saat aku akhirnya keguguran dan kehilangan anak kita" Aurora kembali menitikkan air mata dan saat Mikha ingin memeluknya kembali, Auora menahan dada Mikha dan berteriak, "Jangan peluk aku lagi!"
"Aku akui aku bodoh saat itu Tapi, aku sudah berubah Bee. Aku siap jadi Ayah saat ini dan aku ingin punya anak hanya denganmu. Aku tidak ingin punya anak dengan wanita lain"
"Iya! Aku gila karena kamu. Aku gila karena aku sangat mencintaimu dan........"
"Cukup!" Aurora mendelik ke Mikha, lalu ia berlari ke kamarnya dan meninggalkan Mikha begitu saja.
Mikha kemudian menghela napas panjang dan pergi meninggalkan Vila-nya Brandon dengan hati dan pikiran yang kacau.
Di malam hari, Brandon pulang di saat Istri dan anaknya sudah tertidur pulas. Brandon tidur setelah ia mencium Marco dan mencium istrinya.
Keesokan harinya saat mereka bertiga sarapan, Brandon berkata ke anak dan istrinya, "Nanti siang di hotelnya Papa ada acara. Papa meminta kita semua datang ke acara itu"
"Baiklah. Aku dan Marco aka. langsung ke hotel sepulang Marco dari sekolah"
"Oke" Sahut Brandon.
Di suatu siang yang cerah meskipun sedikit berawan, Mikha Mahesa mengadakan acara musik di hotel milik papanya. Acara musik itu untuk mengenalkan grup band musik baru hasil besutannya Mikha Mahesa dan berkat tangan dinginnya Mikha Mahesa, grup band musik itu sukses besar di pasaran.
Tiba-tiba Mikha mendekati Aurora saat wanita itu tengah mengambilkan es buah untuk Marco dan Brandon.
Aurora tersentak kaget dan sontak mendelik ke Mikha.
Mikha tersenyum dan berkata sambil meletakkan beberapa es batu ke dalam mangkok es buah yang Aurora pegang, "Terima kasih sudah datang. Aku akan menyanyikan lagu ciptaanku sendiri setelah ini dan lagu itu aku buat khusus untukmu"
Aurora mengabaikan Mikha dan langsung berjalan meninggalkan Mikha sambil membawa dua mangkok berisi es buah. Saat wanita itu sudah sampai di meja tempat suami dan anaknya duduk menunggunya, Aurora meletakkan dua mangkok di atas meja lalu duduk di sebelah suaminya.
Tepat di saat Aurora duduk, grup band besutannya Mikha Mahesa telah menyelesaikan pertunjukan mereka dan vokalis dari grup band tersebut berkata, "Produser sekaligus guru besar kami, Mikha Mahesa akan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Waktu dan tempat kami persilakan, Guru"
__ADS_1
Mikha tersenyum lebar lalu melangkah maju ke depan dan setelah pemuda itu berada di depan mikrophone ia berkata, "Terima kasih untuk kesempatan ini dan bagi yang punya sakit telinga, saya sarankan segeran keluar dari ruangan ini karena sebentar lagi saya akan bernyanyi"
Sontak semua hadirin di siang itu tertawa lepas mendengar guyonannya Mikha Mahesa itu.
Mikha kemudian mengalungkan gitarnya, mulai memetik gitar kesayangannya itu, dan menyanyikan lagu ciptaannya yang ia tulis dan buat untuk Aurora Zeto.
Mikha menyanyikan lirik demi lirik lagu ciptaannya dengan penuh perasaan..........
...Aku bersalah telah melenyapkan senyuman di wajah cantikmu...
...Aku bersalah telah membekukan kenangan indah kita di otakmu...
...Aku bersalah telah menghapus tiap detik cinta kita di sanubarimu...
...Aku bersalah telah mengusap goresan cerita kita di Atmamu...
...Dengar, dengarkan aku, aku akan selalu tersenyum tuk dapatkan kembali senyummu...
...Dengar, dengarkan aku, aku akan selalu hangat tuk mencairkan kebekuanmu...
...Dengar, dengarkan aku, aku akan kokoh berdiri tuk dapatkan kembali cintamu...
...Dengar, dengarkan aku, aku akan menggoreskan kisah kita di Atmamu....
...Ku tak akan pernah menyerah, hu, hu, hu.............
...*Ku tak akan pernah mengeluh menunggumu...
...Kau telah bersama yang lain, hu,hu,hu*............
...Tapi ku ingin kau jatuh bebas di pelukanku...
Mikha menyanyikan lagu berirama Ballad ciptaannya itu dengan bermain gitar dan terus memandang lekat wajah cantik Aurora Zeto.
Aurora Zeto seolah tersihir dan tak mampu mengalihkan pandangannya dari permainan gitar dan lagu ciptaanya Mikha yang dinyanyikan oleh Mikha sendiri. Genggaman tangan Brandon membuat Aurora menoleh ke suami tampannya. Brandon kemudian mencium pelipis Aurora dan Aurora hanya mengulas senyum tipis. Hati Aurora seketika jumpalitan tidak karuan saat ia mendengar lagu ciptaannya Mikha Mahesa yang dinyanyikan oleh penciptanya sendiri itu dan melihat si pencipta lagu itu terus menatapnya dengan tatapan yang dalam dan penuh arti.
Brandon yang tidak mengetahui kisah cintanya Mikha Mahesa dan Aurora Zeto, berisik di telinganya Aurora, "Mikha ternyata punya bakat terpendam. Dia tidak hanya memiliki suara yang sangat bagus, dia juga punya bakat menciptakan lagu ternyata. Lagu yang dia bikin bagus banget. Aku suka"
Aurora hanya mengangguk pelan dan berkata di dalam hatimu, kau tidak akan menyukai lagu itu kalau kau tahu Mikha menciptakan lagu itu untuk siapa.
Aurora mengajak Brandon dan Marco pulang saat Mikha dan grup band hasil besutannya Mikha diwawancari oleh banyak media baik cetak maupun elektronik.
Salah satu wartawan tergelitik untuk bertanya ke Mikha Mahesa, "Apa lagu tadi Anda ciptakan untuk tunangan Anda, Tuan Mikha Mahesa?"
Angela yang duduk di sebelah Nikah langsung menyahut, "Tentu saja, iya! Terima kasih Sayang kamu sudah menciptakan lagu yang sangat indah untukku"
Mikha hanya menatap Angela dengan wajah datar kemudian ia tersenyum ke wartawan yang menanyakan pertanyaan itu tanpa mengucapkan kata apapun.
"Anda menyanyikannya dengan penuh perasaan tadi dan saya lihat pandangan Anda terus tertuju ke depan bukannya ke samping. Padahal tunangan Anda ada di samping panggung pas Anda bernyanyi tadi, Tuan Mikha Mahesa" Tanya wartawan yang lainnya.
Mikha hanya tersenyum dan Angela yang kembali menyahut, "Tentang saja Mikha akan terus menatap ke depan ke arah penonton karena ia sedang pentas. Kalau hanya ada aku dan dia, maka dia akan menatapku sambil menyanyikan lagu itu, benar,kan, Sayang?"
Mikha menghela napas dan hanya mengulas senyum lebar di depan semuanya.
__ADS_1