
Aurora mendorong dada Mikha dan menarik wajahnya, Mikha dengan sigap menahan tengkuk Aurora dan menempelkan keningnya di kening wanita itu untuk berkata, "Tubuh kamu dan bibir kamu kenapa berkata beda? Tubuh kamu jelas-jelas menginginkan aku, tapi kenapa bibir kamu berkata lain?"
Aurora diam membisu, namun jantung dan hatinya membuat kegaduhan.
Melihat Aurora diam membisu, Mikha mencium kening Aurora dan berkata di sana, "Aku keren, cerdas, lucu, dan jadi diri aku sendiri saja rasanya cukup untuk membuat kamu merasa aman, nyaman, dan bahagia. Jadilah pacarku Rora"
Aurora masih diam membisu dengan hati dan jantung yang masih gaduh. Otaknya berkata jangan karena berpacaran dengan Mikha akan melanggar norma kesopanan dan kalau ketahuan pihak kampus, dia dan Mikha akan dikeluarkan. Tapi, hatinya sungguh-sungguh Ingin memerintahkan mulutnya untuk menyemburkan kata, iya.
Melihat Aurora masih diam membisu, Mikha kembali menunduk dan menempelkan bibirnya di bibir wanita itu. Saat bocah tengil itu melihat Aurora memejamkan mata alih-alih mendorong dadanya, Mikha mengerang dan bergumam di atas bibir wanita itu, "Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi, Rora"
Mendengar ucapan itu, seketika Aurora terhempas ke realita. Wanita itu mendorong dada Mikha dan berkata lirih, "Jangan!"
"Buka mata kamu dan tatap aku, lalu katakan jangan sekali lagi sambil menatap kedua mataku, Rora! Aku ingin lihat apakah kamu berani berkata jangan tanpa memejamkan mata dan tanpa mengalihkan pandangan kamu dariku, Rora" Mikha berkata dengan suara dalam nan seksi.
Aurora merasa tertantang dan wanita itu membuka kedua bola matanya dengan cepat.
Jantung Aurora seketika berdetak lebih keras saat ia melihat Mikha Mahesa menatap matanya dengan lekat dan bocah tengil itu memberi senyum singkat, lalu melihat bibirnya sekilas.
Aurora langsung mengalihkan pandangannya dan berkata, "Jangan tersenyum seperti itu!"
"Rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum di dekatmu, kamu bukan hanya cantik
cerdas, kamu juga sangat menyenangkan!" Mikha tersenyum menggoda.
Aurora menatap Mikha kembali dan seketika membatin, sial! Kenapa dia begitu tampan, seksi dan tampak sangat menggoda dengan ketengilannya itu.
"Aku masih menunggu kamu mengatakan jangan, Rora" Mikha menatap bibir Aurora sekilas lalu ia menatap dalam-dalam kedua bola mata birunya Aurora.
Glek! Aurora spontan kesulitan menelan air liurnya sendiri. Lalu, wanita itu bergumam, "Masa bodo dengan norma kesopanan!" Saat degup jantungnya semakin tidak terkendali, wanita itu mengerang sambil menarik kerah kemeja Mikha dan bruk! Bibir dia dan bibir Mikha bertabrakan.
Alih-alih mengatakan kata jangan untuk yang kedua kalinya, Aurora justru mengajak Mikha berciuman kembali.
Mikha terkejut bukan main, namun pemuda tampan itu menyeringai senang.
Mikha Mahesa yang memiliki banyak mantan pacar karena dia, selalu berpacaran maksimal tiga bulan saja, setelah tiga bulan ia akan putuskan pacarnya dan cari lagi. Dengan pengalaman yang seperti itu tentu saja bocah tengil itu memiliki teknik berciuman yang lebih menggoda, menggairahkan, dan pastinya berbeda. Namun karena Aurora yang memulai terlebih dahulu, Mikha memilih untuk mengikuti gerakan wanita cantik pujaan hatinya itu agar ciuman tak menjadi benturan yang menyakitkan. Mikha melakukan dan mengikuti apa yang Aurora lakukan dan nikmati.
Kemudian Mikha menarik bibirnya dengan sangat terpaksa karena ada hal mendesak yang ingin segera ia tanyakan, maka bertanyalah ia dengan segera, "Apakah ciuman kamu mengartikan kalau kamu sudah menerimaku menjadi pacar kamu?"
Aurora yang masih memejamkan mata karena dirinya mulai merasakan pening karena gairah menganggukkan kepala dan kembali menarik kerah bajunya Mikha Mahesa. Aurora kembali memagut bibir Mikha dan mengajak Mikha berciuman.
Mikha tersenyum geli dan ia menarik bibirnya dengan pelan karena ia ingin memastikan arti dari anggukkan kepalanya Aurora tadi. "Apa arti dari anggukkan kepala kamu barusan adalah..........."
__ADS_1
Aurora yang masih memejamkan mata berkata dengan napas terengah-engah, "Iya. Aku mau jadi pacar kamu" Lalu, Aurora kembali menarik kerah bajunya Mikha.
Pekik kebahagiaan Mikha seketika terbungkam karena Aurora terus mengajaknya berciuman dengan penuh gairah. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati, Mikha membaringkan kepala Aurora di atas lantai rooftop dan bocah tengil itu memakai telepak tangannya menjadi bantal kepala wanita itu. Kemudian ia dan Aurora melanjutkan berciuman sambil berbaring bisa jadi jawaban yang tepat. Anda bisa mencium sambil berbaring dan bergerak secara perlahan.
Leher adalah zona erotis dan yang bisa membuat pria dan wanita bergairah. Pertama, Mikha membasahi bibirnya dengan lidah untuk memastikan bibirnya lembut, lalu ia mengerutkan bibir, mengusapkannya di leher Aurora dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana, jejak ciuman kecil di leher putihnya Auroa. Lalu, bocah tengil itu mengisap leher wanita itu dan meniupnya dengan lembut sesekali. Kemudian bocah tengil itu memberikan sedikit gigitan di leher. Aurora bergelinjang, merintih, dan mengerang, ketika ia merasakan semua kenikmatan sensual yang Mikha berikan.
Saat tangan Mikha bergerak membuka kancing blusnya Aurora yang paling atas, terdengar bunyi telepon genggam.
Aurora langsung mendorong dada Mikha dan terus mendorongnya sampai Mikha bangun dari atas tubuhnya.
Mikha merengut dan menarik tengkuk Aurora untuk kembali mengajak Aurora berciuman. Namun, bunyi dering telepon genggam kembali terdengar.
Aurora kembali mendorong dada Mikha dan berkata masih dengan napas terengah-engah, "Maaf aku harus jawab telepon dulu"
"Dari siapa teleponnya?" Mikha langsung merebut ponsel dari tangan Aurora.
Aurora mendelik dan merebut ponselnya kembali, lalu ia bergegas bangkit berdiri dan berlari meninggalkan Mikha.
Mikha langsung muram dan gelisah karena ia sempat melihat nama Theo. Lalu, bocah tengil itu merebahkan diri di lantai rooftop dengan menggunakan lengannya dan menatap langit di siang itu sambil bergumam, "Kenapa pria brengsek itu masih menelepon Rora dan kenapa Rora masih mau mengangkat teleponnya?"
Karena masih tergoda dengan harum dimsum dari restoran Yummy kesukaannya, Aurora kembali melangkah mendekati duduk bersila kembali di depan Mikha dan sambil menyupit satu dimsum untuk ia masukkan ke saos pedas, wanita itu berkata, "Aku akan langsung makan dengan cepat dan kembali bekerja. Jam makan siang udah hampir habis"
Aurora melirik Mikha dan membatin, ada apa dengan bocah ini? Kenapa dia mengabaikan aku?
Aurora menendang pelan ujung sepatunya Mikha sambil bertanya, "Kamu nggak makan? Enak banget, lho ini"
"Buat kamu aja semuanya" Sahut Mikha acuh tak acuh.
Aurora kembali menendang pelan ujung sepatu Mikha dan bertanya, "Kamu kenapa? Kamu marah sama aku? Baru aja kita jadian beberapa menit yang lalu kamu udah marah sama aku. Kalau gitu nggak jadi aja"
Mikha langsung bangun dan seketika wajahnya berada dekat sekali dengan wajah Aurora.
Aurora tersentak kaget dan saat ia hendak memundurkan wajahnya, Mikha menahan tengkuknya dan menggeram, "Kenapa kau masih menerima telepon dari si brengsek itu, hah?! Apa yang ia inginkan?"
"Dia nanya jam tangannya. Dia nanya apa aku menyimpan jam tangannya karena terakhir kali dia pakai jam tangan itu pas pergi denganku sebelum dia berselingkuh"
"Lalu, apa kau masih simpan jam tangan itu?" Mikha menempelkan keningnya ke kening Aurora.
"Iya. Aku lupa mengembalikannya karena ada banyak hal mengejutkan yang terjadi padaku setelah aku memergoki ia tidur dengan wanita lain"
"Sekarang jam itu di mana?" Mikha mulai melunak, ia melepaskan tengkuk Aurora, dan menarik keningnya, lalu menatap wanita itu.
__ADS_1
"Ada di laci kantorku"
"Berikan padaku jam tangan itu! Aku yang akan kembalikan ke pria brengsek itu. Kamu adalah pacarku sekarang dan aku nggak akan ijinkan kamu menemui mantan pacar kamu lagi"
"Iya. Aku akan ambilkan jam tangannya dan akan aku kasihkan ke kamu nanti di rumah" Lalu, Aurora meminum habis jus mangganya dan berkata ke Mikha, "Kita sudah jadian sekarang ini. Tapi, aku mohon kita rahasiakan hubungan kita sampai kamu lulus kuliah, ya"
"Kenapa begitu? Saat ini aku bahkan ingin berteriak sekencang-kencangnya kalau aku ini pacar kamu sekarang" Mikha langsung memasang wajah keberatan.
"Jangan!" Aurora langsung membungkam mulut Mikha. Lalu, wanita itu bergegas berkata, "Dan jangan menyentuh dan jangan menciumku tanpa ijin dan permisi dulu" Aurora berkata sembari mengunyah dimsum yang ada di dalam mulutnya.
"Hei! Kau yang menciumku duluan barusan" Sahut Mikha dengan senyum tengil.
Aurora menepuk keras bahu Mikha dengan mendelik kesal.
Mikha terkekeh geli, lalu bertanya, "Jadi, kalau aku permisi dan minta ijin dulu, boleh?" Mikha memajukan wajahnya dengan senyum tengil dan tangannya menjumput rambut Aurora untuk ia ciumi.
Aurora menarik rambutnya dan sambil mendelik ke Mikha ia berkata, "Ijin pun juga nggak akan aku biarkan kamu menyentuh dan menciumku"
"Oh! Kalau gitu aku akan nunggu kamu yang menciumku kalau di kampus. Seperti yang kamu lakukan tadi" Mikha menyeringai tengil dan Aurora langsung menggeram kesal, "Mikha!"
Mikha terkekeh geli kemudian berkata, "Kenapa kamu nggak adil gitu. Kita sudah jadian, tapi harus sembunyikan hubungan kita dan aku tidak boleh seenaknya mencium dan menyentuh kamu"
Aurora kembali menyupit Dimsum dan berkata dengan senyum penuh arti, "Kalau di kampus, jangan!"
"Jadi, maksud kamu kalau di luar kampus boleh? Emm, di sini atau di halaman belakang boleh?" Mikha langsung menarik pinggang Aurora dan wanita itu kembali jatuh di atas pangkuannya Mikha.
Aurora menyuapkan dimsum ke Mikha dan dengan senyum malu-malu ia menggelengkan kepala,"No, no, no" Lalu, berkata kembali, "Hanya boleh bersentuhan di rumah"
Mikha sontak mengerucutkan bibirnya dan Aurora langsung berbalik badan dengan cepat, lalu melangkah pergi meninggalkan Mikha dengan tergelak geli sambil berteriak, "Terima kasih untuk makan siangnya"
Saat punggung Aurora telah lenyap dari pandangannya, Mikha langsung menengadahkan kepalanya ke langit dan berteriak, "Yeeeessss!!!!!! Akhirnya aku berhasil menaklukkan Aurora. Aku pacarnya Rora sekarang ini!!!!!!?"
Sementara itu Aurora melangkah menuju ke kantor dosen dengan senyum riang. Sesekali wanita itu terkekeh geli dengan sendirinya untuk mentertawakan dirinya sendiri yang nekat berpacaran dengan bocah tengil yang lebih muda tiga tahun dari dirinya dan bocah tengil itu adalah muridnya.
Aurora tersentak kaget dan langsung menoleh ke kiri saat ia merasakan pundak kirinya disentuh oleh seseorang.
"Oh, Bu Nancy, ada apa, Bu?"
"Justru saya yang ingin bertanya pada Bu Rora. Kenapa Bu Rora terus tersenyum lebar dan Bu Rora saya lihat turun dari rooftop. Lalu, leher ibu ini kenapa? Leher ibu merah. Apa Ibu digigit serangga?"
Glek! Aurora sontak kesulitan menelan air liurnya sendiri.
__ADS_1