Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Ketakutan


__ADS_3

Aurora mengantarkan Marco ke sekolah, lalu ia menelepon Marsha sahabatnya, "Sha, bisa tolong jemput Marco nanti?"


"Bisa. Tentu saja bisa. Lha, kamu mau ke mana, Ra?"


"Aku akan menemui konsultan pernikahan dan ke pengacara keluargaku. Aku rasa aku akan menceraikan Brandon dan minta saran sama Pak Bondan pengacara keluargaku"


"Konsultan pernikahan? Kau tidak pergi ke sana dengan Brandon?"


"Aku sudah nelpon Brandon dan dia menjawab tidak mau pergi ke konsultan pernikahan. Dia tetap berpikir kalau pernikahanku dan dia baik-baik saja"


"Emang udah konslet otak itu orang, ya. Oke. Aku doakan urusan kamu hari ini lancar. Aku akan jemput Marco dan akan aku ajak Marco pulang ke rumahku. Kau jemput Marco ke rumahku nanti, ya"


"Oke. Makasih banyak, Sha"


"Kau tidak minta Mikha untuk menemanimu?"


"Apa itu perlu?"


"Perlu. Kau tidak pernah ke kantor pengacara sendirian, kan? Kali ini aku nggak bisa menemanimu. Telepon lah Mikha untuk menemanimu"


"Tapi, Sha, aku rasa itu ........."


"Turuti aku. Jangan buat aku khawatir! Telpon Mikha, oke?!"


"Baiklah. Demi kamu" Sahut Aurora dengan helaan napas panjang


"Hati-hati di jalan" Sahut Shasha kemudian.


Setelah menelpon Mikha dan Mikha setuju untuk menemaninya pergi ke konsultan pernikahan dan ke kantor pengacara keluarga Zeto, Aurora menunggu Mikha di dalam mobil di halaman depan sekolahan.


Mikha turun dari dalam mobilnya dan Dave langsung melajukan mobil itu kembali ke kantor.


Mikha berlari menghampiri Aurora yang tengah berdiri bersandar di pintu mobil. "Biar aku yang bawa mobilnya" Mikha mengantungkan tangannya di depan Aurora.


Aurora menyerahkan kunci mobil, lalu masuk ke dalam.


Beberapa jam kemudian, Mikha dan Aurora telah sampai di ruang tunggu yang ada di kantor konsultan pernikahan. Mereka duduk bersebelahan dengan. bahu saling menempel.


Tiba-tiba Mikha nyeletuk, "Rasanya seperti akan masuk ke ruangan guru BK, ya?"


"Apa?! Aku nggak pernah masuk ke ruangan guru BK. Aku, kan, anak saleh yang tidak pernah melanggar aturan"


Mikha kemudian menyusupkan wajahnya ke telinga Aurora dan berbsisik, "Bagaimana pendapat guru BK kamu kalau dia tahu semalam aku menginap di rumah kamu" Mikha menarik wajahnya, lalu menatap Aurora dengan binar nakal.


Kesal dengan ekspresi wajah Mikha yang tengil, Aurora.menyelipkan tangan di antara mereka dan mencubit pinggang Mikha, pria tampan itu hampir menjerit, tetapi segera menutupinya dengan berpura-pura batuk.


Untuk menghukum Aurora karena wanita itu sudah mencubit pinggangnya, Mikha menggenggam tangan Aurora dan berkata, "Kau tidak lepas dariku dan tunggu pembalasanku nanti"


Aurora menoleh ke Mikha dan terkekeh geli.


Saat nama Aurora Zeto dipanggil, Mikha melepaskan tangan Aurora dan berkata, "Aku bukan Suami kamu. Kalau aku masuk ke dalam hanya akan menimbulkan banyak pertanyaan. Masuklah! Aku akan tunggu kamu di sini"


Aurora menganggukkan kepala dan tersenyum ke Mikha, lalu ia melangkah masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Mikha menunggu di depan ruangan dan duduk di atas bangku sambil mengerjakan pekerjaannya lewat ponsel pintarnya.


Satu setengah jam kemudian, Aurora muncul di depan Mikha. Mikha langsung memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku kemejanya, lalu bangkit berdiri sambil bertanya, "Gimana?"


"Ibu Hendrawati menyarakan perceraian karena pernikahanku dan Brandon sudah tidak sehat dan itu tidak baik untuk tumbuh kembangnya Marco"


"Benar, kan, apa kataku. Lalu, kita ke mana sekarang?"


"Ke kantornya Pak Bondan. Pak Bondan adalah pengacara keluargaku"


"Oke. Aku akan antarkan kamu dan menemani kamu menemui pengacara itu" Brandon Kembali menggenggam tangannya Aurora.


Sementara itu, Brandon masih menggenggam buku novel karya pertamanya Aurora dengan tatapan kosong.


Angela yang masih duduk di depan Brandon berkata, "Itu adalah fantasinya Aurora, Istri kamu. Dia sudah berselingkuh duluan dari kamu. Aku yakin itu dan........"


"Diam!" Brandon menatap Angela dengan wajah dan mata menyala merah. Tangan Brandon bergetar menahan amarah dan kecemburuan.


"Aku tidak akan diam kalau pikiran kamu belum terbuka dan kamu masih belum mau menerima kenyataan. Istri kamu tidak sepolos dan sesuci yang kamu kira selama ini. Dia.adalah mantan Istrinya Mikha Mahesa dan aku yakin mereka berselingkuh selama ini. Buktinya adalah kisah di buku novel karya Istri kamu itu" Pekik Angela kesal.


Brandon bangkit berdiri dan menendang kursi restoran. Lalu, ia berbalik badan dengan cepat dan pergi meninggalkan Angela begitu saja"


Angela sontak bangkit berdiri dan berlari menyusul Brandon sambil berteriak, "Brandon! Tunggu aku! Aku belum selesai bicara! Brandon!" Namun, karena dia memakai high heels tujuh centimeter, dia tidak bisa berlari kencang menyusul Brandon dan hanya bisa gigit jari melihat mobilnya Brandon melaju kencang meninggalkan halaman restoran. Wanita cantik itu kemudian melangkah dengan sangat kesal ke mobilnya. sambil bergumam, "Semoga setelah ini kau akan ceraikan Aurora Zeto dan menikahiku, Brandon"


Aurora menoleh ke Mikha saat Pak Bondan berkata, "Saya sarankan Anda menggugat cerai suami Anda, Nyonya Aurora"


Mikha menggenggam tangan Aurora dan berkata, "Aku akan terus mendampingi kamu selama proses perceraian berlangsung sampai selesai nanti"


"Baik, Bu Rora. Anda tunggu sebentar akan saya siapkan"


Tiba-tiba ponselnya Mikha berdering kencang, Mikha melepaskan tangan Aurora sambil berkata, "Aku akan terima telepon ini sebentar. Ini dari manajer musik" Mikha menunjukkan layar ponsel pintarnya ke Aurora.


"Oke" Aurora menganggukkan kepala dan tersenyum.


Setengah jam kemudian, Mikha muncul di depan Aurroa dengan wajah kebingungan.


"Ada apa?"


"Ada masalah di studio rekaman. Anak didik baruku menolak melakukan rekaman dan manajerku membutuhkan bantuanku"


"Pergilah! Ini sudah hampir selesai"


"Tapi, kau akan menemui Brandon. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Entah kenapa perasaanku nggak enak. Aku takut kamu kenapa-kenapa"


"Pak Bondan akan menemaniku"


"Tapi, aku tetap merasa kalau sesuatu yang buruk menanti kamu dan aku sangat ingin menemanimu. Sial! Kenapa juga harus ada masalah di kerjaanku" Mikha menjambak pucuk kepalanya.


"Pergilah! Aku akan baik-baik saja. Jangan berpikir berlebihan! Aku hanya akan menemui Brandon. Aku nggak akan pergi jauh" Aurora menepuk bahu Mikha.


"Baiklah. Telepon aku kalau ada masalah" Mikha mencium tangan Aurroa.


"Baiklah. Kamu naik apa?"

__ADS_1


"Dave otewe ke sini"


"Ati-ati di jalan"


"Hmm. Kamu juga Ati-ati" Sahut Mikha sambil mengusap lembut pipi Aurora.


Aurora menganggukkan kepala dan tersenyum.


Mikha masih menoleh ke belakang saat pria tampan itu sudah membuka pintu dan hendak melangkah keluar, dan ia kembali berkata, "Telepon aku kalau ada masalah!"


"Iya" Sahut Aurora dengan anggukkan dan senyuman.


Pak Bondan kembali masuk ke kantornya dan menemui Aurora untuk berkata, "Berkas dan surat gugatan cerai sudah jadi, Nyonya. Tapi, maaf banget saya tidak bisa menemani Anda menemui suami Anda hari ini. Bagiamana kalau besok?"


"Oke, Pak. Besok saja nggak papa. Tapi, apa saya boleh minta salinan gugatan perceraiannya. Saya tetap akan kasih lihat surat ini ke Suami saya hari ini dan Anda boleh menemui Suami saya besok"


"Baiklah, Nyonya. Ini salinannya"


"Terima kasih, Pak Bondan. Saya pamit"


"Silakan, Nyonya"


Saat Aurora memasang sabuk pengamannya, telepon genggamnya berbunyi, "Halo?"


"Ke sini cepat! Aku butuh penjelasan dari kamu saat ini juga! Ke sini secepatnya!" Suara Brandon menggeram menakutkan.


"Oke. Aku juga akan ke sana. Tunggu aku!" Klik! Aurora langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu sahutan dari Brandon.


Satu jam kemudian, Aurora muncul di depan meja kerjanya Brandon. Wanita itu langsung meletakkan aurat gugatan cerai dan berkata, "Aku mau bercerai"


Brandon bangkit berdiri lalu mengitari mejanya dengan tawa mengerikan. Pria itu kemudian berdiri di belakangnya Aurora dan menempelkan buku novel karya pertamanya Aurora ke pipi kanan Aurora.sambil berkata, "Kau sudah tidak sabar ingin masuk ke pelukannya Mikha Mahesa, ya? Kau ternyata mantan istrinya Mikha dan kau berselingkuh dari Mikha selama ini, hah?!"


Aurora sontak bangkit berdiri dan buku novel karya pertamanya jatuh ke lantai. Aurora memutar badan, mendorong dada Brandon, dan menggeram kesal, "Siapa yang berselingkuh dengan Mikha selama ini, hah?! Aku menulis novel itu karena kamu tidak pernah mau memuaskan hasratku. Kamu selalu sibuk dan selalu menolak setiap kali aku butuh kehangatan kamu di ranjang. Kisah di novel itu hanya fantasi liarku yang tidak bisa aku salurkan di dunia nyata!"


Brandon menyeringai kesal dan dia menyobek surat gugatan cerai di depan Aurora sambil berkata, "Aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku akan kungkung kamu di pernikahan kita selamanya. Kau hanya milikku seorang, Rora! Hanya milikku dan aku tidak akan pernah melepaskanmu! Tidak akan pernah!!!!!!"


Aurora mulai ketakutan melihat Brandon yang tampak mengerikan. Matanya menyala merah dan wajah Brandon merah padam. Aurora melangkah mundur perlahan saat Brandon melangkah maju mendekatinya. Dengan cepat Aurora memutar badan dan berlari, Tapi terdengar suara klik! Brandon mengunci pintu ruang kerjanya dengan remote dan membuang remote itu ke belakang.


Aurora menoleh ke Brandon dengan wajah ketakutan dan wanita itu bertanya, "Kau mau apa Brendon?"


"Kau Istriku dan kau bilang hasratmu tidak terpuaskan selama ini, kan? Maka aku aka. memuaskan hasratmu saat ini juga di sini. Kau ingin bercinta di kantor, kan? Kau menulis nya di novel kamu dan akan aku wujudkan" Brandon menyeringai menakutkan dan Aurora sontak berlari sambil berteriak ketakutan, "Jangan dekati aku!"


Brandon mengejar Aurora dan berhasil mencekal kedua pergelangan tangan istri cantiknya. Lalu, ia menarik kedua tangan Aurora ke punggung mengikatnya dengan ikat pinggang.


Aurora meronta dan berteriak, "Apa yang akan kau lakukan, Brandon?! Lepaskan aku! Ku mohon jangan sakiti aku, Brandon!"


Brandon mengabaikan teriakan Aurora dan ia mendorong Aurora sampai wanita itu berdiri di depan meja kerjanya. Lalu, Brandon menekan kepala Aurora sampai pipi kanan Aurora menempel di meja kerjanya Brandon.


Aurora semakin panik dan wanita itu sontak menjerit, "Lepaskan aku Brandon! Lepaskan! jangan begini! Sakit! Hu,hu,hu,hu" Aurora mulai menangis ketakutan saat tangan kiri Brandon yang bebas menyibak rok dan Brandon berdiri gagah di belakang Aurora dan memaksa menyatukan raganya dengan kejam dari arah belakang dengan tangan kanan terus menekan pipi kanan Aurora di meja kerjanya.


Brandon terus bergerak dengan kasar sambil terus menggeramkan, "Kau milikku, Rora! Hanya milikku! Kau milikku!!!!"


Seketika Aurora merasakan rasa perih di hati sekujur tubuh, dan pipinya. Aurroa menangis sejadi-jadinya di sana saat suaminya tega memerkosa dirinya dengan kejam.

__ADS_1


__ADS_2