Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Air Mata


__ADS_3

Saat Mikha tengah sibuk melayani permintaan selfie dari pengunjung meja stand jualannya Aurora, Aurora menelepon suaminya, "Mas, maaf kalau aku dan Marco tidak bisa ke kantor kamu hari ini. Bazarnya belum selesai"


"Nggak papa. Lagian aku banyak kerjaan" Sahut Brandon.


'Jangan lupa makan siang, tapi"


"Iya. Aku juga lagi makan siang,nih"


"Benarkah? Mas makan siang di mana?"


"Di kantor" Jawab Brandon.


"Oh, baiklah. Aku lanjut berjualan dulu kalau gitu Oh, iya, emm, Mikha dan bandnya ikut membantu mencari dana di sini, kalau nanti aku ajak Mikha makan siang boleh?"


"Hmm. Boleh saja. Jangan lupa kalau aku selalu merindukan kamu dan jangan lupa kalau aku selalu mencintaimu" Sahut Bernadin.


"Hmm" Sahut Aurora singkat.


Brandon memasukkan telepon genggam mahalnya ke dalam saku jasnya dan langsung mendapatkan rentetan pertanyaan dari Angela, "Kenapa kau bohong? Kalau kau cinta sama Istri kamu, kenapa kau bohong? Kenapa tidak kau katakan ke Istri kamu kalau kamu sedang ada di sini makan siang denganku"


"Justru karena aku sangat mencintainya, aku tidak ingin dia dibebani pikiran yang aneh-aneh. Lagian kita nggak ada hubungan apa-apa dan kita hanya makan siang. Dan setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi,kan? Ini pertemuan terakhir kita demi masa lalu kita"


Angela hanya mengulas senyum lebar di depan Brandon Mahesa.


Di akhir acara bazar, di meja stand penjualannya Aurora masih sisa dua puluh lima toples. Mikha langsung menjatuhkan uang satu juta rupiah dan mengangkut semua toples itu ke dalam mobilnya.


Aurora tersentak kaget, ia bergegas mencangklong tas, mengambil uang yang ditinggalkan Mikha, lalu berlari mengejar Mikha sambil berteriak, "Mikha! Ambil kembali uang kamu! Kamu nggak perlu menyumbang lagi!" Aurora mengerem langkahnya di depan Mikha dan dengan terngah-engah ia menyodorkan uang satu juta rupiah yang Mikha tinggalkan di meja stand-nya.


Mikha menatap Aurora lalu berkata sambil memberikan botol mini berisi vitamin C, "Minumlah dulu!"


Aurora meletakkan uang satu juta rupiah itu di bagasinya Mikha dan dia menerima botol mini berisi vitamin C. .


Mikha menunggu Aurora menenggak habis vitamin C tersebut, lalu pria tampan itu memasukkan uang satu juta rupiah ke dalam tasnya Aurora yang masih terbuka sambil berkata, "Uang itu sengaja aku berikan untuk menyumbang acara ini. Untuk anak-anak penderita kanker"


Aurora langsung merogoh tasnya untuk mengambil uang satu juta rupiah yang Mikha masukkan sambil berkata, "Tapi, kamu dan band kamu sudah menyumbang banyak sekali. Deri hasil pentas kalian terkumpul uang sepuluh juta rupiah yang masuk ke rekeningku. Kamu nggak usah nyumbang lagi dan........"


Mikha menahan tangan Aurora yang terlanjur masuk ke dalam tas dan berkata, "Kalau kamu nekat mengembalikan uang itu, aku akan nekat mencium kamu"


Aurora langung menyikut dada Mikha dan mengeluarkan tangannya dari dalam tas sambil melotot ke Mikha, lalu berkata, "Kenapa kau.........."


"Kenapa apa? Kenapa aku ingin mencium kamu? Tentu saja karena aku masih sangat mencintaimu"


Aurora refleks menepuk bahu Mikha cukup keras dan sambil mendelik kesal ia berucap, "Bukan itu! Aku belum selesai bicara, kok, seenaknya kamu potong. Dasar menyebalkan"


"Lalu, apa?" Mikha terkekeh geli sambil mengelus bahunya.


"Kenapa kau datang ke sini dan menyumbang banyak banget"


"Karena kamu adalah ketua panitianya. Aku ingin acara sosial yang kamu gelar ini berjalan sukses. Aku juga ingin menyumbang untuk anak-anak penderita kanker untuk menebus dosaku dulu"

__ADS_1


"Menebus dosa apa?" Aurora menatap Mikha dengan penuh tanda tanya.


"Kamu bilang kalau aku yang menyebabkan kamu keguguran, kan? Aku ingin menebus dosaku dengan cara-cara seperti ini dan semoga dengan begini, anak kita bisa damai di surga sana" Mikha menatap dalam-dalam kedua bola mata indahnya Aurora.


Aurora seketika mematung di depan Mikha.


Mikha menepuk pelan bahu Aurora untuk mengusir kesedihan yang tiba-tiba menyeruak masuk ke hati mereka. Lalu, Mikha mengerucutkan bibirnya selancip-lancipnya di depan Aurora dan berkata, "Aku sudah banyak melakukan selfie dengan ibu-ibu demi penjualan nastar kamu. Aku minta bayaran untuk itu. Selfie itu paling kerja berat buatku. Kau tahu, kan, kalau aku benci selfie apalagi selfie dengan wanita yang tidak aku kenal"


Aurora refleks terkekeh geli, lalu berkata, "Oke, Aku akan rapat kecil sebentar dengan timku, lalu kita makan siang bareng. Aku yang traktir"


"Aku boleh milih tempatnya?" Tanya Mikha dengan wajah semringah"


"Hmm" Sahut Aurora dengan senyum cantiknya.


Mikha langsung tersenyum lebar.


Mikha menemui Dave dan berkata, "Akamu balik ke kantor dan bagikan toples berisi nastar yang ada di bagasi ke satpam dan OB"


"Siap" Sahut Dave.


Setelah meminta band beserta tim dan Dave balik lebih dulu, Mikha masuk ke dalam sekolahannya Marco dan setelah bertemu dengan Marco, pria tampan itu mengajak Marco duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang.


"Kita nunggu Mama kamu di sini" Mikha tersenyum ke Marco sambil memberikan satu batang cokelat mete berukuran besar ke Marco, "Kita nunggu Mama kamu sambil nyemil cokelat, oke?"


"Oke, dong. Makasih Om. Ini sandwich bikinan Marco. Marco bangun pagi bikin sandwich ini untuk Om. Makasih udah kasih oleh-oleh robot-robotan dan kasih es krim kemarin" Sahut Marco dengan senyum lebar.


"Hmm"


"Emm, enak banget. Kamu pandai memasak" Mikha mencium pipi Marco dengan penuh cinta.


Marco tersenyum lebar dan langsung berkata, "Om ikut kita pulang, ya?!" Marco menatap Mikha dengan wajah ceria.


"Om pengen banget bisa ikut kalian pulang, tapi hari ini Om banyak kerjaan. Kita hanya bisa makan siang bareng"


Marco langsung menunduk dan wajahnya tampak kecewa.


Mikha tersenyum, lalu ia mengusap lembut kepala Marco sambil berkata, "Tapi, Om akan main ke rumah kamu besok. Om akan bermain robot-robotan sama kamu dan Om akan bawa PS tiga. Eh, tapi, kamu suka main game bola, nggak?"


Marco sontak melompat dan berteriak kegirangan, lalu berkata, "Suka, Om. Marco suka bola"


"Ada apa ini? Kenapa Marco kegirangan begini?" Aurora berdiri di depan Mikha dan Marco dengan wajah tersenyum heran.


Mikha langsung menggendong Marco dan berkata ke Aurora, "Rahasia antara aku dan Marco. Wanita nggak boleh tahu, iya, kan, Brother?"


Marco terkekeh geli dan menyahut, "Iya" Lalu, tertawa lepas.


Aurora tersenyum lebar dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berucap, "Yeeaahhh, terserah kalian"


"Om, jangan biarkan Mama menyetir. Mama pasti capek, bahaya kalau Mama nyetir. Tadi, aja pas berangkat Mama hampir menabrak trotoar" Ucap Marco sambil masuk ke jok belakang.

__ADS_1


"Hah?! Tapi, kalian nggak kenapa-kenapa, kan?" Mikha langsung berlari mengitari mobil dan berdiri di depan Aurora.


Ketika pria tampan itu ingin menyentuh kedua bahu Aurora untuk mengecek kondisi Aurora, Aurora langsung berkata, "Aku baik-baik saja dan jangan menyentuhku!"


Mikha menarik tangannya dan berkata, "Biar aku yang nyetir" Mikha lalu merebut kunci mobil dari tangan Aurora.


Beberapa jam kemudian Mikha memarkirkan mobilnya Aurora di halaman restoran berkonsep alam dan Mikha langsung melepas sabuk pengamannya untuk menoleh ke jok belakang, "Kamu suka memancing?"


"Marco belum pernah memancing, Om. Tapi, Marco rasa Marco bakalan suka memancing"


Sahut Marco dengan wajah semringah.


"Oke, kita turun, yuk!" Mikha menoleh ke Aurora dan Mikha tertawa lirih saat ia melihat wanita pujaan hatinya itu telah turun tanpa ia minta.


Mikha kemudian mengunci pintu mobilnya Aurora dan menggandeng tangan Marco untuk melangkah masuk ke dalam restoran berkonsep alam itu.


Aurora yang lebih dahulu masuk ke dalam restoran itu terkejut melihat sekelebat sosok pria yang mirip dengan suaminya. Aurora bergegas mengejar sosok itu yang melangkah ke parkiran belakang restoran itu dengan seorang wanita.


Aurora tertegun di depan pintu yang menuju ke halaman belakang restoran berkonsep alam itu, saat ia melihat suaminya membukakan pintu untuk seorang wanita. "Kenapa Mas Brandon membohongiku? Beberapa menit yang lalu, ia berkata kalau makan siang di kantor karena lagi banyak kerjaan. Kenapa, dia malah ada di sini dengan wanita lain? Sayangnya aku tidak melihat jelas wajah wanita itu" Gumam Aurora.


Aurora terlonjak kaget saya pundaknya ditepuk oleh seseorang dari arah belakang.


"Ada apa? Kamu lihat hantu, ya? Wajah kamu, kok, pucat gitu?" Mikha menunduk untuk melihat wajah Aurora kemudian pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman belakang restoran berkonsep alam itu.


"Hantu? Mama beneran lihat hantu? Di mana, Ma?" Sahut Marco.


Aurora menoleh ke Marco dan langsung berkata, "Nggak ada hantu. Mama cuma melihat seseroang yang Mama kenal dan ternyata Mama kehilangan sosok orang itu. Ayo kita cari tempat kosong" Aurora kemudian melangkahkan kakinya sambil menggandeng tangan Marco.


Mikha menatap punggung Aurora dan pria tampan itu bergumam di dalam hatinya, apa yang telah membuatmu pucat dan gusar, Bee? Apa yang kamu lihat tadi?


Brandon memarkirkan mobilnya di basement dan tersentak kaget saat Angela mencium pipinya.


Brandon melepas sabuk pengamannya dan sambil mendelik ke Angela ia menyemburkan, "Kenapa kau cium pipiku?"


"Maaf, itu kebiasaanku saat aku masih tinggal di Amerika. Setiap kali aku berterima kasih kepada siapa pun entah itu cowok atau cewek, aku selalu mencium pipi mereka. Terima kasih, Brendon" Angela kemudian turun dari mobilnya Brandon dan melangkah ke lift dengan senyum ceria.


Brandon mematung di dalam mobil dan sambil mengelus pelan pipi kanannya, Brandon bergumam, kenapa jantungku berdegup kencang saat Angela mencium pipiku tadi? Ada apa dengan diriku?


Beberapa jam kemudian, Mikha melajukan kembali mobilnya Aurora menuju ke vila tempat tinggalnya Aurora. Mikha menoleh sekilas untuk melihat Marco sambil berkata, "Marco anak yang cerdas. Sekali diajari caranya memancing dia langsung bisa mengalahkan aku"


Aurora yang memangku Marco, mengelus pelan kening Marco dan berkata dengan senyum bangga, "Iya. Marco anak yang cerdas. Seringkali aku kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan kritisnya. Untung saja dia udah tidur saat ini kalau tidak, aku akan kewalahan meladeni keceriwisannya" Aurora kemudian mencium kening Marco dengan penuh cinta kasih.


MIkha melirik ke pangkuannya Aurora sambil berkata, "Kalau anak kita masih hidup, dia pasti tumbuh cerdas sama seperti Marco"


Aurora sontak menoleh ke Mikha dan menatap Mikha dari samping dengan perasaan sedih.


Aurora refleks mengalihkan pandangannya ke jendela mobil saat air matanya menetes jatuh di atas pipinya.


Tanpa Aurora sadari, Mikha juga meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2