
Theo akhirnya mendekam di penjara karena dia nekat mengusik bocah tengil sebelum ia selidiki terlebih dahulu asal-usul dari bocah tengil tersebut.
Setelah makan malam romantis dan diakhiri dengan pemasangan kalung berlian di leher cantiknya Aurora, Mikha mengajak Aurora menonton bioskop.
Di dalam perjalanan menuju ke bioskop, Aurora bertanya ke Mikha, "Kamu pakai uang Papa kamu, ya? Aku nggak enak kalau kita berkencan dan kamu pakai uang Papa kamu"
"Jangan salah Rora. Aku berkerja sendiri. Aku bermain saham dan ternyata aku cukup ahli. Dari hasil bermain saham, aku bisa beli motor gede dan punya yang untuk berkencan. Kalung berlian itu aku beli dengan uangku sendiri. Kalau rumah yang aku tempati sekarang, itu rumah milik almarhum Mamaku. Aku malas pakai fasilitas dari Papa. Tadi aku terpaksa pakai pengacaranya Papa. Sebarnya aku malas banget menghubungi pengacaranya Papa" Sahut Mikha.
"Wah! Ternyata anak kecil yang dulu cengeng dan suka ngompol, bisa cari uang sendiri ternyata"
"Hei! Jangan bawa-bawa ngompol segala, dong"
Aurora langsung tergelak geli. Mikha langsung mengerucutkan bibirnya dan membuat Aurora semakin tergelak geli.
Sesampainya di studio XX yang berada di lantai tiga sebuah mall yang sangat besar, Mikha menyuruh Aurora menunggu di sofa sementara ia masuk ke ruang manajer.
"Studio yang menayangkan film horor studio berapa?"
"Studio satu, Tuan"
"Oke, aku mau beli semua bangku yang ada di studio satu dan aku mau CCTV infra red dinonaktifkan"
"Hah?! Anda serius, Tuan"
"Iya. Aku lebih dari serius. Seratus rius malah. Cepetan hitung semuanya dan berapa aku harus bayar?"
"Sebentar, Tuan" Manajer studio XX yang duduk di depan Mikha langsung menggerakan jari-jarinya di atas keyboard. Kemudian manajer studio XX yang berwajah Jawa tulen itu menatap Mikha dan setelah tersenyum ia berkata, "Total semuanya enam puluh juta rupiah, Tuan"
"Ini. Aku bayar pakai kartu" Mikha meletakkan kartu kreditnya di atas meja.
"Baik, Tunggu sebentar, Tuan" Manajer studio XX itu tersenyum kembali ke Mikha.
Beberapa menit kemudian, manajer tersebut menyerahkan kartu kredit kembali ke pemiliknya dan berkata, "Terima kasih banyak, Tuan"
"Ingat CCTV infra red harus dinonaktifkan"
"Baik, Tuan. Tapi, emm, filmnya diputar satu jam lagi"
"Oke, nggak masalah" Mikha berucap sembari bangkit berdiri dan setelah memasukkan kembali kartu kredit ke dalam tas pinggangnya, Mikha melangkah keluar dari ruangan manajer tersebut.
Mikha kemudian duduk di sebelahnya Aurora dan langsung bertanya, "Mau nunggu di sini atau mau jalan-jalan di mall? Filmnya masih satu jam lagi baru main"
"Emm, aku udah capek jalan-jalan. Kita nunggu di sini saja, ya"
"Baiklah terserah kamu" Mikha menggenggam tangan kekasihnya lalu ia mencium tangan Aurora dengan penuh perasaan cinta.
__ADS_1
"Aku pengen popcorn dan waffle. Apa kau mau mengantre? Kau, kan paling benci mengantre"
"Astaga! Perut kamu itu perut karet, ya? Kenapa nggak ada.kenyangnya, sih?"
"Popcorn dan waffle, kan, camilan. Waffle dan popcorn, kan, camilan. Oh, kamu nggak mau mengantre, ya, oke, aku sendiri yang akan mengantre" Aurora bangkit berdiri dan langsung ditarik oleh Mikha.
Aurora kembali terduduk dan giliran Mikha yang bangkit berdiri sambil berkata, "Siapa bilang aku tidak mau mengantre. Demi kamu apapun akan aku lakukan"
Aurora menatap Mikha dengan senyuman penuh cinta.
Tiba-tiba Mikha menundukkan wajahnya dan berkata, "Kasih hadiah dulu biar aku semangat mengantrenya" Mikha mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk sebanyak tiga kali.
Aurora mengerucutkan bibirnya.
"Tidak mau? Oke, nggak usah beli popcorn dan waffle aja kalau gitu" Mikha langsung mengalihkan pandangannya ke kurir dengan mendengus kesal.
Aurora langsung menangkup wajah Mikha, mengarahkannya ke depan dan ia mengecup bibir Mikha.
Pemuda tengil itu tersenyum lebar dan menegakkan wajahnya kembali sambil berkata, "Nah, sekarang aku udah full energi"
"Dasar gila" Gumam Aurora dengan mengulum bibir menahan geli melihat tingkah konyol Mikha.
Di depan meja pemesanan makanan Mikha memasang wajah kesal saat wanita yang ada di depannya bertanya dengan senyum genit dan suara menggoda, "Mau pesan apa Kakak tampan? Kalau Anda memberikan nomer ponsel Anda maka saya akan beri gratis semua makanan yang Anda pesan"
"Hei! Jangan menggodaku! Aku sudah punya pacar. Aku juga nggak kere. Aku nggak butuh makanan gratisan, cih! Buruan siapkan popcorn jumbo dan waffle! Nggak pakai lama!" Mikha menghunus tatapan tajam ke wanita yang ada di depannya.
"Ini, Kak pesanan Anda. Maafkan saya kalau lancang meminta nomer ponsel Anda. Emm, tita.semuanya dua ratus ribu rupiah" Sahut wanita itu.
Mikha meletakkan uang dua ratus ribu rupiah di atas meja dan langsung membawa paper bag yang berisi makanan pesanannya kemudian ia berbalik badan dengan cepat meninggalkan wanita itu tanpa pamit.
"Huh! Tampan dan sangat seksi, tapi sayangnya galak dan tengil" Gumam wanita yang bertugas di balik meja food and beverage studio XX.
Mikha melangkah pelan dan kembali duduk di sofa Lalu, ia meletakkan paper bag berbentuk lucu di atas pangkuannya Aurora sambil berkata,"Nih popcorn dan waffle untuk kamu"
"Wah, paper bag-nya lucu banget mirip tas dokter jaman dulu. Aku suka. Setelah dipakai jangan dibuang, ya, kita bawa pulang"
"Terserah kamu saja. Kamu nggak ingin beli minum?"
"Nggak. Aku takut kebelet pas filmnya lagi seru-serunya. Aku malas keluar dan pergi ke toilet"
Mikha kembali merangkul bahu Aurora dan memainkan tangan Aurora sambil sesekali menciumi tangan itu.
Mikha sesekali tersenyum nakal saat ia membayangkan dirinya berusaha saja di dalam bioskop. Dia bisa melakukan apa saja dengan Aurora.
Aurora.mendongak dan menoleh ke Mikha sambil berkata, "Kau senyum-senyum dari tadi. Ada apa?"
__ADS_1
Mikha langung memasang wajah datar, mencium pelipis Aurora dan berkata, "Nggak papa. Aku cuma senam mulut aja biar awet muda"
"Kalau kamu awet muda lalu aku gimana dong? Aku, kan, lebih tua tiga tahun dari kamu"
"Ya, nggak gimana-gimana. Wajah cantik kamu ini imut dan pastinya awet muda. Kalau kamu tanya ke salah satu orang di sekitar kita saat ini mereka pasti bilang kalau kamu seumuran. Karena kamu imut"
"Bilang aja aku ini pendek dan lebih pendek dari kamu. Nggak usah pakai kata imut" Aurora berucap sembari menarik tangannya dari genggaman tangan Mikha lalu bersedekap dengan wajah kesal.
Mikha terkekeh geli dan mendekap erat Aurora dengan gemas sambil berkata, "Kalau aku bilang imut, ya, imut, kalau aku bilang pendek baru pendek. Gitu aja, kok, ngambek"
"Kamu, sih nyebelin" Auroa terkekeh senang mendengar kata imut dan Mikha kemudian mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Aurora.
Mikha mencubit mesra pucuk hidungnya Aurora dengan senyum dan tatapan penuh cinta.
Tiba-tiba datang pria berseragam di depan mereka dan berkata, "Studio satu sudah siap, Tuan"
"Ah, iya. Terima kasih" Mikha kemudian mengajak Aurora untuk berdiri dan berjalan menuju ke studio satu.
Mikha melangkah masuk ke studio satu dengan menggandeng tangan Aurora dan dia mengajak Aurora duduk di barisan belakang di dekat dinding, di deretan kursi yang cenderung kosong.
Mikha langsung meletakkan lengannya di sandaran kursi pada awal film dan kemudian memindahkannya ke bahu Aurora saat film berlanjut. Pemuda tampan berambut cokelat itu kemudian duduk merapat ke kursi sebelah sehingga bagian luar kaki dan lengan saling bersentuhan dan menjadi pengantar untuk sesi bersentuhan selanjutnya. Untung bagi Mikha bioskop menyediakan kursi untuk pasangan (love seat), jadi bocah tengil itu bisa duduk lebih merapat ke kekasih hatinya.
Udara di bioskop selalu dingin. maka Mikha menunduk dan berbisik di telinga Aurora untuk bertanya, "Apakah kamu kedinginan?" hal itu bisa menjadi alasan bagi bocah tengil itu untuk meringkuk lebih rapat saat Aurora menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya. Dingin banget ternyata" .Setelah duduk berdempetan, Mikha memulai aksi saling menyentuh. bocah tengil nan tampan itu menggenggam tangan Aurora sambil membelai jemarinya sesekali. Lalu ia tangan menyentuh lengan kemudian pinggang dan lutut Aurora. Badan Aurora sontak terasa panas dingin dan dia berteriak di dalam hatinya, Mama tolong Rora! Rora mesti ngapain ini? Mikha t rus menyentuh Rora, Ma.
Saat melihat Aurora membeku dan diam saja pemuda tampan itu mulai meningkatkan sentuhan. Pemuda tampan itu memang juaranya di dalam mendapatkan waktu yang tepat untuk memiringkan kepala dan saling mendekat sampai bibir nyaris bersentuhan. sambil tangan bergerak dan menaruh tangan itu di pinggul. Lalu, pemuda tampan itu memagut bibir Aurora dan mengajak Aurora berciuman. Ciuman diawali dengan ciuman ringan dan lembut kemudian Pemuda berbola mata cokelat menawan itu mulai nekat menggunakan tangan untuk meningkatkan suhu permainan. Mikha nekat menyusupkan tangannya, meraba paha hingga berakhir di lembah kenikmatan.
Aurora tersentak kaget dan menarik bibirnya untuk bertanya, "Apa yang kau lakukan, Mikha?"
Mikha terus bermain di lembah kenikmatan dan menatap mata Aurora sambil bertanya, "Kau ingin aku berhenti?"
Alih-alih menjawab pertanyaan bocah tengil itu, Aurora justru menarik tengkuk Mikha dan mengajak Mikha untuk berciuman kembali.
Mikha menyeringai senang dan semakin liar bermain di lembah kenikmatan.
Ini gila! Kenapa aku biarkan Mikha menyentuhku seperti ini? Tapi, kenapa tubuhku tidak bisa menolaknya? Aku benar-benar tidak berdaya saat ini. Mikha sangat hebat dan aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini. Batin Aurora dengan degup jantung abnormal.
Aurora akhirnya memekik puas dan terkulai lemas di dak. pelukan Mikha. Mikha menarik tangannya dan memeluk erat Aurora sambil berkata, "Aku mencintaimu Rora. Sangat mencintaimu"
Aurora menjawab dengan. suara lemas dengan senyum bahagia, "Aku juga sangat mencintaimu Mikha Mahesa"
Kedua sejoli itu akhirnya menikmati film yang masih berlangsung sampai habis dengan terus saling berpelukan dan sesekali menegur bibir dengan tatapan penuh cinta.
Saat film selesai dan lampu dinyalakan barulah Aurora terkejut dan menoleh ke Mikha, "Kok, nggak ada orang lain selain kita?"
"Iya. Mungkin karena filmnya horror jadi nggak ada yang suka" Sahut Mikha asal sambil menggenggam Aurora keluar dari dalam bioskop.
__ADS_1
"Begitu, ya?" Gumam Aurora sambil menoleh ke belakang.
"Hmm" Sahut Mikha.