
Aurora langsung merengkuh Marco dari gendongan Mikha dan saat wajah Aurora mendekati wajahnya, Mikha nekat berbisik lirih di telinga Aurora, "Wangi kamu masih sama"
Aurora sontak mendekap Marco dengan erat dan berbalik badan dengan cepat, lalu berlari pergi meninggalkan Mikha Mahesa.
Marco bertanya, "Ma, kenapa lari? Aku belum berpamitan dengan benar sama Om Mikha. Aku suka sama Om Mikha, Ma. Om Mikha memiliki wangi yang sama dengan Papa. Dan namanya pun Mahesa. Apa Om Mikha saudaranya Papa?" Marco terus menatap ke belakang dan Mikha melambaikan tangannya ke Marco dengan senyum lebar. Marco membalas lambaian tangnnya Mikha dengan senyum lebar.
Aurora lupa bahwa ia memiliki putra yang sangat cerdas dan kritis. Karena masih gusar dan gelisah untuk alasan yang tidak jelas, Aurora hanya bisa menjawab, "Hmm"
"Hmm. Apa maksud Mama dengan Hmm?"
Aurora menghela napas panjang dan akhirnya berkata, "Om Mikha adalah adik Papa kamu dan hentikan! Jangan lambaikan tangan kamu ke dia"
"Tapi, kenapa, Ma? Kalau kita tidak balas melambaikan tangan dan tersenyum kepada kita, bukankah itu tidak sopan?"
"Marco tolong diam, ya?! Mama sedang pusing mencari Tante Shasha" Sahut Aurora dengan menghela napas panjang.
Marco langsung mengunci rapat-rapat bibirnya.
Aurora langsung berdiri di sebelahnya Shasha dan menyemburkan, "Sha! Kenapa kau menghilang begitu saja. Kau tahu siapa yang aku temui?"
"Siapa?" Tanya Shasha dengan wajah penuh tanda tanya.
"Adiknya Papa. Om Mikha Mahesa" Sahut Marco.
Aurora menoleh ke Marco dengan sorot mata kaget dan Shasha sontak berteriak, "Hah?! Mikha Mahesa ada di sini?!"
"Hmm. Kenapa Tante kaget?" Sahut Marco.
Shasha menatap Marco dengan wajah kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Lebih baik kita pulang saja" Bisik Aurora.
Shasha berbisik di telinga Aurora, "Nggak! Biar aku gendong Marco. Kamu perlu bicara sama Mikha. Selesaikan masalah yang mengganjal di hati kamu sekarang juga biar bocah tengil itu tidak bertindak macam-macam!"
"Kau yakin aku perlu bicara dengannya?"
"Hmm. Biar aku gendong dan jaga Marco" Shasha merengkuh Marco ke dalam gendongannya.
Aurora menuruti nasehatnya Shasha walaupun dia sendiri ragu apakah dia perlu melakukannya.
Aurora berdiri di depan Mikha Mahesa dan tanpa mengucapkan apa-apa, Mikha langung menggenggam tangan Aurora, lalu menarik Aurora ke teras samping.
__ADS_1
Aurora langsung menarik tangannya dari dalam genggaman tangan Mikha sambil berkata, "Jangan pernah menyentuhku! Aku sudah menikah"
Mikha tersenyum tipis, lalu berkata, "Yeeeeaahhh, kau kejam, Rora. Kau menikahi Kakak tiriku. Kakak tiri yang sangat aku benci"
"Iya dan aku bersyukur menemukan seorang Mahesa lain yang lebih dewasa dan bijak di dalam mencintai diriku"
"Kau tidak bahagia. Aku bisa melihat dari sorot mata kamu. Aku sangat mengenal kamu, Rora" Mikha memandangi wajah Aurora tanpa henti dan pandangannya berhenti di bibir ranumnya Aurora. Mikha sangat merindukan bibir ranum itu dan betapa ia ingin memagutnya saat ini.
"Kau salah! Aku sangat bahagia dan aku menemui kamu untuk mengatakan kalau aku sangat bahagia"
"Pembohong!" Mikha menggeram kesal.
"Dan kau juga sudah bertunangan. Jadi, jangan berpikiran macam-macam soal kita. Kisah kita sudah selesai saat aku kehilangan bayi kita dan kamu tidak peduli" Aurora menepis tangan Mikha yang ingin memeluknya, lalu wanita itu kembali berbalik badan dengan cepat dan berlari pergi meninggalkan Mikha Mahesa.
"Hei! Darimana kau tahu kalau aku sudah bertunangan?!" Teriak Mikha kesal, namun Aurora mengabaikan teriakannya.
Mikha menghela napas panjang, meraup kasar wajah tampannya dan berbalik badan untuk melangkah pergi meninggalkan pesta reuni itu.
Mikha Mahesa melepas kekecewaan, kerinduan, cinta, dan kecemburuan yang sekaligus ia dapatkan hanya dari seorang wanita yang bernama Aurora Zeto dengan pergi ke sebuah klub malam.
Di sana, Mikha membiarkan dua orang gadis seksi mendatanginya dan duduk mengapitnya dan menemaninya minum.
Tiba-tiba Mikha melihat seorang pria yang sangat ia kenal. Dia adalah mantan pacarnya Aurora Zeto yang pernah ia penjarakan. Mikha bangkit berdiri dan sambil menyeringai jahil, Mikha melangkah pelan mendekati pria yang masih ia ingat betul namanya adalah Theo.
"Kau memberinya apa? Kunci kamar hotel kamu, Theo?" Mikha berkata tanpa menoleh ke Theo.
Theo tersentak kaget dan langsung menoleh ke samping kirinya, "Kau?! Kenapa kau ada di sini?"
"Tentu saja untuk mencari kesenangan sama seperti kamu" Mikha tersenyum tengil.
"Kau! Mau apa kau mendekatiku? Pergi sana!"
"Aku akan pergi setelah aku tahu siapa yang akan menang dalam permainan ini" Bisik Mikha.
Theo mendelik kesal dan sontak menyemburkan, "Apa maksud kamu, hah?!"
Mikha mengeluarkan cek dari dalam dompetnya dan memberikannya ke model cantik di depannya dan berkata, "Kau pilih yang mana? Cek atau kunci kamar hotel pria ini"
Model cantik yang sedari tadi terus memandangi Mikha karena terpesona akan ketampanan dan kesempurnaan tubuh Mikha, langsung mengambil cek sambil berkata, "Aku pilih kamu"
Mikha tertawa ngakak dan menoleh ke Theo dengan sedikit menunduk karena Theo lebih pendek darinya, lalu Mikha berkata, "Dia pilih aku"
__ADS_1
"Dasar brengsek!" Theo menggeram kesal dan melotot ke Mikha.
"Tentu saja aku memilih kamu. Ayo kita pergi sekarang, Tampan" Sahut model itu dengan senyum penuh percaya diri.
"Dasar membosankan" Mikha bersedekap dan menatap cewek cantik dengan tubuh aduhai di depannya dengan sorot mata muak.
"Apa maksud kamu?" Model wanita yang cantik dan bertubuh molek itu sontak memasang mimik wajah tersinggung.
"Kamu wanita yang terlalu gampang untuk aku dapatkan dan itu sangat membosankan" Mikha menyeringai lalu ia melangkah pergi meninggalkan model cantik bertubuh seksi itu.
"Hei! Kenapa kau pergi? Kau berikan aku cek. Kau tidak ambil kembali ceknya. Sepuluh juta rupiah adalah uang yang cukup besar" Teriak model itu dengan nada yang terdengar bingung.
"Cek itu untuk mengingatkan kamu akan kebodohan kamu. Ambil lah!" Mikha menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang dan setelah mengucapkan kata-kata itu, pemuda tengil itu kembali melangkah maju dengan pelan.
Theo menggeram kesal menatap punggung Mikha yang menjauh dan pria tampan itu kemudian berteriak lantang, "Hei! Mikha Mahesa brengsek! Aku akan membalasmu lain waktu! Ingat itu!"
Mikha yang terus melangkah maju hanya melambaikan. tangan tanpa menoleh ke belakang.
Theo kemudian menatap model wanita itu dan bertanya, "Gimana? Kalau kamu mau ikut aku ke kamar hotel, aku akan berikan cek yang nilainya lebih banyak dari itu dan aku akan lancarkan karir kamu di dunia modeling"
Model itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia berpikir betapa beruntungnya dia, hanya semalam saja ia mendapatkan dua cek dengan nilai yang cukup besar dan karirnya akan dilancarkan.
Sementara itu, sesampainya di rumah, Aurora langsung menidurkan Marco di kamarnya Marco dan saat putra tampannya itu sudah benar-benar lelap tertidur, Aurora bergerak masuk ke kamarnya. Dia menemukan suami tampannya masih asyik bekerja memangku laptop di atas ranjang.
"Hei! Kok pulangnya cepat?"
Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Aurora langsung melepas emsua bajunya dan merangkak di atas tempat tidur, dan memagut bibir suaminya dengan penuh damba sembari menutup laptop dan menjauhkan laptop itu dari suaminya sambil memperdalam ciumannya.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Brandon mendorong pelan kedua bahu Aurora sambil berkata, "Sayang, ini buka hari kita untuk bercinta dan hmppthhhh!" Aurora kembali memagut bibir suaminya dan berkat di atas bibir suaminya, "Persetan denah. Shri bercinta. Aku menginginkan kamu saat ini"
Brandon kembali menodong kedua bahu Aurora sambil berkata, "Maafkan aku, Sayang. Aku ada presentasi besok dan aku harus lembur"
Aurora langsung merebahkan diri di atas kasur dan memunggungi suaminya dengan kesal.
Brandon mengelus punggung Aurora dan berkata, "Maafkan aku"
Aurora menjawab singkat, "Lupakan saja! Aku yang salah tidak melihat hari apa ini" Lalu, wanita itu memejamkan kedua matanya dengan hati kesal dan kecewa.
Brandon kemudian dengan santainya memangku dan membuka laptopnya kembali.
Dia tidak menyadari kalau istrinya tengah kecewa untuk yang ke sekian kalinya.
__ADS_1
Entah pikiran gila apa yang merasukinya, malam itu Aurora bermimpi ia bercinta dengan Mikha Mahesa di sebuah pantai.