Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Jangan!


__ADS_3

Shasha tiba-tiba berkata ke Brandon, "Besok malam ada acara reuni. Apa aku boleh ajak Aurora dan Marco? Aku lihat beberapa tahun ini Rora tidak pernah pergi ke pesta"


Brandon menoleh ke Aurora, meraih tangan istri cantiknya, dan setelah ia mencium tangan lembut yang sudah banyak menghasilkan hal menakjubkan di hidupnya, pria tampan itu, bertanya ke istrinya, "Kamu pengen pergi?"


Aurora tersenyum dan mengangguk pelan.


"Aku juga mau pergi ke pesta" Sahut Marco.


Brandon mencium kembali tangan istrinya, lalu menoleh ke Marco, mencium pipi putra tampannya itu, lalu berkata, "Baiklah. Kalian boleh pergi ke pesta" Brandon menoleh ke Shasha dan berkata, "Jaga baik-baik Istri dan anakku"


Shasha bertepuk tangan dengan wajah girang, lalu berkata, "Tentu. Tentu saja aku akan menjaga Rora dan Marco dengan sangat baik"


Aurora menatap Shasha dengan senyum riang dan mengucapkan kata thank you tanpa bersuara.


Shasha tersenyum lebar ke Aurora dan ia kemudian berkata ke Brandon, "Thank you udah ijinkan Rora dan Marco pergi menemani aku ke reuni itu"


"Sama-sama" Sahut Brandon sambil mencium pelipis istri tercintanya.


Malam reuni pun tiba. Shasha yang menyetir mobil mewah miliknya Brandon dan meninggalkan mobil sedan lama miliknya di vilanya Brandon.


Shasha melirik Aurora dan terkejut geli, "Mana ada pergi ke pesta memakai celana panjang kulit dan blus tertutup, hahahahaha"


"Kenapa emangnya? Mama cantik banget hari ini" Sahut Marco yang duduk di bangku belakang.


Shasha melihat ke rear-mirror vision untuk melihat Marco dan berkata, "Iya. Mama kamu pakai apa aja tetap cantik. Tapi, bajunya lebih mirip untuk mengajar anak SD daripada untuk pergi ke pesta, hahahahaha"


Aurora menepuk bahu Shasha dan berkata sambil menoleh ke bangku belakang, "Jangan hiraukan Tante Shasha kamu! Yang penting Mama nyaman dan Marco suka, oke?"


"Oke" Sahut Marco dengan senyum lebar.


Akhirnya Aurora melangkah masuk ke dalam sebuah rumah yang sangat besar sambil menggenggam tangan Marco.


Bola lampu berputar di atas kepalanya. Suara orang tertawa beradu dengan suara musik menyentak yang cukup keras membuat suasana di dalam ruang itu tampak berdesir luar biasa.

__ADS_1


Panca Indra Aurora seketika dipenuhi getaran dari pesta reuni Akbar kampus yang dulu ia pernah mengais rejeki di sana sebagai dosen di fakultas psikologi. Hati dan jantungnya berdetak penuh antusias, karena ia sudah lama tidak pergi ke pesta, tetapi ia cuma bisa berdiri bingung di depan meja pendaftaran.


"Aurora Zeto! Ya Tuhan, Rora! Rora Zeto!"


Seorang wanita yang sedang duduk di belakang meja pendaftaran langsung bangkit berdiri dan mengitari meja pendaftaran sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wanita itu memeluk Aurora erat-erat dan dadanya menempel ke dada Dani. Dada wanita itu membuat banyak wanita cemburu. Wanita itu memiliki dada yang seksi.


Pemilik dada yang membuat banyak wanita cemburu itu melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Aurora sembari memindai dari ujung kepala Aurora sampai ke ujung kaki. Lalu, wanita itu berkata dengan seringai kesal, "Sumpah, Rora, aku benci padamu saat ini juga"


"Kenapa kau bilang begitu Christie?" Aurora menatap mantan koleganya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Berat badan kamu sama sekali tidak bertambah selama enam tahun ini. Padahal kamu sudah punya anak sedangkan aku belum, tapi lihatlah tubuhku! Gempal, kan? Dan kau, semakin tampak cantik. Kau sangat cantik, Rora!" Wanita yang bernama Christie itu terkekeh geli dengan sendirinya.


Aurora langsung menghela napas panjang dan berbisik ke wanita yang bernama Christie itu, "Tapi, kau seksi. Banyak wanita cemburu sama keseksian kamu. Percaya sama aku"


Wanita yang bernama Christie itu langsung menepuk bahu Aurora dan tertawa senang mendengar bisikan dari Aurora.


Setelah mendaftar dan mengenalkan Marco ke Christie, Aurora menggandeng tangan Marco untuk masuk lebih dalam sambil celingukkan. mencari sosok Shasha yang tiba-tiba menghilang.


Aurora tersentak kaget saat ia merasakan bahunya ditepuk pelan dari arah belakang. Wanita itu kemudian menoleh dan ia kembali mendapatkan pelukan erat dari seorang wanita.


Wanita yang bernama Anik melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar, lalu berkata, "Masih, dong. Lalu, kau apa masih suka dimsum?"


"Hahahahaha. Masih, dong" Sahut Aurora dengan senyum lebar.


Anik dan Aurora kemudian tertawa bersama-sama dan berpelukan kembali.


"Kau tidak berubah, Anik. Senang sekali bisa bertemu kembali dengan kamu" Aurora melepaskan pelukannya dan menatap mantan koleganya dengan senyum bahagia.


"Aku sering melihat kamu muncul di koran bersama suami kamu Brandon Mahesa dan aku ingin bertemu denganmu dari jarak sedekat ini, kau tahu aku berharap bisa menemukan tanda-tanda penuaan di wajah kamu atau perubahan tubuh kamu menjadi gemuk dan gempal, tapi ini apa, hah?! Kamu sama sekali tidak berubah, Rora! Tak ada tanda-tanda face lift. Cantik alamiah dan tetap awet muda"


"Terima kasih. Kamu juga sama, kok" Sahut Aurora dengan senyum bahagia.


Anik tersenyum lebar lalu menunduk dan bertanya, "Siapa anak tampan ini? Astaga dia cakep banget dengan bola mata dari kamu, Rora. Bola matanya mirip banget dengan bola mata kamu"

__ADS_1


Aurora tersenyum lebar dan Marco langsung menyahut, "Terima kasih Tante cantik"


"Wah, dia bukan saja tampan, tapi juga pandai merayu cewek, Rora!" Pekik Anik dengan wajah cerah ceria.


Aurora dan Anik kembali tertawa bersama-sama.


Tiba-tiba terdengar suara dalam dan seksi yang menggema di antara Anik dan Aurora. "Anda berdua tidak berubah sama sekali, Bur Rora dan Bu Anik"


Anik membeliak kaget di saat Aurora memutar badannya dengan pelan ke kanan.


Deg! Jantung Aurora seolah berhenti berdetak saat dirinya bersitatap dengan Mikha Mahesa dan seketika Aurora mematung.


Anik langsung menepuk bahu Mikha Mahesa dan berkata dengan wajah ceria, "Wah, kamu sekarang tampak beda, Mikha Mahesa. Kau tampak dewasa, matang, dan semakin tampan. Kamu sudah balik dari Amerika?"


"Iya, Bu. Saya sudah bakin dari Amerika. Saya balik karena saya, merindukan seseorang" Sahut Mikha tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata cantik milik Aurora.


Anik kemudian berkata, "Oke, selamat mengobrol. Aku tinggal dulu"


Aurora meraih tangan Anik, namun terlambat, Anik sudah menjauh dan meninggalkan dirinya sendirian saja bersama dengan Mikha Mahesa.


"Kenapa? Kau butuh tangan untuk menopang kamu? Kamu bisa menggenggam tanganku, Rora"


Aurora menggeram kesal sambil berjinjit untuk berbisik di telinga Mikha Mahesa, "Jangan berkata sembarangan! Ada Marco, anakku"


Mikha balik berbisik di telinga Aurora, "Kau masih ingat di mana letak telingaku. Apa kau masih ingat di mana letak hatiku, Rora?"


Rora langsung menapakkan kedua kakinya ke lantai dan melangkah mundur sebanyak dua langkah dan berkata, "Aku akan cari Shasha"


"Tunggu! Kau belum mengenalkan anak tampan ini" Mikha Mahesa kemudian berjongkok dan bertanya ke Marco, "Siapa nama kamu anak tampan?"


"Marco Mahesa, om" Sahut Marco dengan senyum ramah dan sopan.


Mikha kemudian merengkuh Marco ke dalam dekapannya dan bangkit berdiri sambil menggendong Marco untuk berkata, "Kita punya inisial nama yang sama, MM. Kamu Marco Mahesa dan aku Mikha Mahesa"

__ADS_1


"Mikha! Turunkan Marco!" Aurora menggeram kesal.


"Aku menyukai anak kamu, Rora, karena ia mewarisi bola mata kamu yang sangat indah" Ucap Mikha sambil menatap dalam-dalam kedua bola mata Aurora yang sangat ia rindukan dan saat Mikha ingin menyentuh pelipis Aurora, wanita itu refleks menepis tangan Mikha dan berkata, "Jangan!"


__ADS_2