
Dengan sekuat tenaga dan mengabaikan telapak kakinya yang terasa beduri tajam dan menusuk-nusuk, Mikha akhirnya berhasil duduk di tepi ranjang, di sebelahnya Aurora. Mikha meletakkan nampan di antara dia dan Aurora.
"Tidak ada es batu. Tapi, minuman soda ini sangat dingin, Rora" Ucap Mikha mencoba untuk santai padahal degup jantungnya sudah tidak beraturan dan dia masih gugup.
"Terima kasih, Mikha" Sahut Aurora dengan senyum yang belum pernah Mikha lihat sebelumnya.
"Apa kau gugup saat ini?"
Aurora menelan cepat minuman soda yang sudah masuk ke dalam mulutnya sambil menggelengkan kepalanya dan beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil meletakkan gelas yang telah kosong ke lantai tanpa melepaskan tatapannya dari wajah tampan pria yang masih sangat ia cintai.
__ADS_1
Mikha menyingkirkan nampan dan meletakkannya di atas lantai yang ada di belakang badannya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik wanita yang masih sangat ia cintai.
Mikha kemudian menggeser pantatnya agar dia bisa duduk lebih dekat dengan Aurora. Kemudian Mikha meraih kedua tangan Aurora untuk ia genggam dan ia pangku. Pria tampan dengan rambut cokelat bergelombang seksi itu menghela napas panjang kemudian berkata, "Aku juga gugup, Rora. Aku gugup karena takut aku akan menyakitimu lagi. Aku gugup karena aku takut akan membuatmu kecewa lagi. Aku gugup karena takut kamu akan pergi meninggalkan aku lagi tanpa pamit" Mikha mengamati wajah Aurora dengan sorot mata sendu.
Dan tanpa Mikha sadari, ia meneteskan air mata.
Mikha menyahut dengan suara serak menahan gairah, "Tubuh kamu tidak mencerminkan dirimu. Aku mencintai kamu secara utuh bukan hanya mencintai tubuh kamu, Rora. Lagipula guratan yang ada di perut kamu itu ada untuk melahirkan Marco, anak yang sangat aku cintai seperti aku mencintai anakku sendiri"
Mikha dan Aurora kemudian menangis dan saling memeluk dengan erat. Sepasang insan yang masih sangat saling mencintai itu melepaskan segala rasa yang terpendam di hati mereka selama bertahun-tahun dengan cara mereka sendiri.
__ADS_1
Mikha melonggarkan pelukannya untuk mencium wajah Auroa yang penuh dengan air mata dan pria tampan itu menghapus air mata di kelopak mata dan kedua pipi Aurora dengan bibirnya. Aurora kemudian melakukan hal yang sama dan tanpa mereka sadari bibir mereka saling bertabrakan.
Mikha dan Aurora mematung untuk sepersekian detik lamanya, kemudian entah siapa yang memulainya lebih dulu, keduanya berakhir saling memagut dengan erangan penuh kerinduan, cinta, dan gairah yang panas.
Mikha kemudian menyusuri wajah Aurora dengan penuh kelembutan, lalu menyusupkan bibirnya ke leher Aurora dan berbisik di sana, "Lupakan semua yang sudah terjadi di masa lalu, Rora. Kita adalah kita di masa sekarang. Kita berhak dan harus melepaskan semua trauma di hidup kita, lalu kita buka lagi lembaran baru tentang kita. Tentang Mikha yang jauh lebih dewasa, aku kira dan tentang Aurora yang masih saja keras kepala sampai sekarang"
Aurora terkekeh geli dan langsung menepuk pelan punggung Mikha.
Dan Mikha melanjutkan aksinya. Dia bertekad akan memiliki Aurora sepenuhnya malam ini.
__ADS_1