Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Tutor Pribadi


__ADS_3

"Kenapa? Ah, sial! Berarti kamu dan Mikha sudah........"


Aurora menutup wajahnya dengan telapak tangan, menunduk, lalu mengangguk pelan.


Shasha langsung memeluk Aurora sambil memekik senang, "Wah, akhirnya sahabatku yang lugu ini menyerahkan segel kesuciannya ke berondong tampan. Wow! keren banget!"


Aurora langsung mendorong kedua bahu Shasha dan mendelik ke sahabatnya yang berwajah manis itu sambil berkata, "Keren pala Lo! Yang ada aku justru pusing menghadapi kegilaannya Mikha. Dia itu adikku, adik kecil yang bermain bareng sama kita di masa kecil kita. Ah, sial! Dia juga Muridku dan aku sudah tidur dengannya, lalu kau berkata keren dengan santainya. Kau gila atau apa, hah?! Dia anak ingusan yang waktu kecil sering bermain dengan kita, Sha!"


"Lalu, kenapa dengan Mikha? Mikha sekarang sangat keren dan tampan. Mikha mencintai kamu dengan tulus sejak ia masih berumur lima tahun. Aku bisa lihat itu. Dan kemarin malam saat aku mengenalinya, dia langsung bertanya gimana kabar kamu. So sweet, kan? Dia sungguh-sungguh mencintai kamu dan peduli sama kamu. jadi, apa salahnya kalau kamu terima saja dia. Jadikan dia pacar kamu daripada si Theo brengsek itu" Shasha berucap dengan senyum ceria.


"Dasar gila! Kau dan Mikha sama-sama gila!. Sudahlah kita bahas lagi soal ini nanti. Sekarang kerja! aku ada kelas sepuluh menit lagi"


"Aku juga" Sahut Shasha masih dengan senyum ceria dan Aurora hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepala melihat tingkah gila sahabatnya itu.


Hanya dalam hitungan detik, Mikha berhasil menjatuhkan Theo ke atas rumput dan Mikha langsung duduk di perut Theo sambil berkata, "Ini untuk kelancangan kamu membawakan mawar kuning untuk Rora" Bug! Satu bogem mentah mendarat di wajah tampannya Theo. Lalu, Mikha kembali berkata, "Dan ini untuk kelancangan kamu mencium paksa Rora" Bug! Bug! Dua bogem mentah mendarat di wajah tampan mantan tunangannya Aurora.


"Dan ini karena kau sudah lancang berselingkuh dan membuat Rora sedih" Saat Mikha mengangkat tangannya dan hendak mendaratkan bogem mentahnya di wajah tampannya Theo kembali, Dave berlari kencang dan berteriak, "Hei! Hentikan! Mikha hentikan! Dia bisa mati kalau kamu pukuli terus" Dave kemudian memeluk tubuh jangkung Mikha dari arah belakang dan menarik tubuh pria itu dengan sekuat tenaga agar Mikha menjauh dari tubuh pria yang sudah terbaring tak berdaya di atas rumput.


Dave mendelik ke Mikha dan berkata, "Kau gila, ya?! Kamu mau berakhir di penjara, hah?!"


"Nggak ada yang bisa membuatku berakhir di penjara" Ucap Mikha sambil mengusap buku-buku tangannya yang memar. Lalu, pria tampan bertubuh jangkung itu mengambil telepon genggamnya dan menelepon ambulans.


Sambil menunggu ambulans datang, Mikha melotot ke Theo yang ternyata masih bisa bangun dan berdiri tidak begitu tegak di depan Mikha.


"Lihat! Dia masih bisa berdiri dan menyeringai di depanku" Mikha menunjuk Theo dan menatap Dave.


"Lalu, kenapa? Justru bagus, kan, kalau dia masih bisa berdiri dan menyeringai. Itu tandanya kalau dia baik-baik saja dan kamu nggak akan dituntut berat lalu masuk penjara"


"Tapi, aku nggak rela pria brengsek itu masih bisa menyeringai" Geram Mikha sambil menghunus tatapan tajam ke Theo.


Theo meludah di atas rumput untuk mengeluarkan darah dari dalam mulutnya, kemudian mantan tunangannya Aurora itu berkata, "Aku akan tuntut kamu!"


"Sial! Aku sudah panggilkan ambulans untuk kamu dan kamu masih mau menuntut aku, hah?! kalau begitu, sekalian saja aku buat kamu koma!" Mikha melangkah maju dengan geram dan Dave langsung menghalangi langkah Mikha.


Mikha mendelik ke Dave, "Minggir!"


"Nggak! Aku nggak mau kamu tidur di atas lantai penjara yang dingin"


"Dia akan menuntut aku dan sial! Dia sudah hilang. Minggir! Aku akan kejar dia"


"Biarkan saja dia pergi. Sekarang lebih baik kamu memikirkan cara untuk bisa menghindar dari tuntutannya daripada mengejar dia"


"Ada CCTV di ruang kerjanya Rora. Aku akan ambil rekamannya. Lalu, ada CCTV di taman ini. Tuh, lihat, kan. Aku juga akan ambil rekamannya. Ayo!" Mikha langung menarik ujung jaketnya Dave.


Dave yang terpontang-panting mengikuti langkah lebarnya Mikha, bertanya, "Untuk apa kau ambil semua rekaman CCTV itu?"

__ADS_1


"Tentu saja untuk melawan tuntutan pria tadi, bodoh!" Pekik Mikha kesal dan Dave hanya bisa menghela napas panjang.


Setelah berhasil mendapatkan semua rekaman CCTV yang dia mau, Mikha keluar dari kampus dan langsung mengajak Dave untuk pulang.


"Kau bukan hanya tampan tapi juga cerdas. Pantas saja banyak gadis tergila-gila sama kamu" Ucap Dave.


"Kau juga tampan" Sahut Mikha.


"Tapi, otakku nggak segila dan secerdas kamu. Eh! Kamu tahu nggak, dosen wanita yang tadi kamu hadang di lorong kantin, dia seumuran, lho, denganku, tapi dia sudah S2. Gila, ya! Wanita itu bukan hanya cantik, tapi juga sangat cerdas. Sedangkan aku, di umur dua puluh lima masih jadi mahasiswa S1"


Mikha terkekeh geli dan berkata, "Kita sama, kan, kita masih mahasiswa S1"


"Beda, dong. Jangan hina aku secara tidak langsung begini, Bro! Aku udah dua puluh lima tahun dan kamu masih dua puluh dua tahun. Beda, Bro!" Sahut Dave dengan mulut manyun dan Mikha sontak tertawa ngakak mendengar ucapannya Dave.


"Aku langsung antarkan kamu pulang, ya" Sahut Mikha setelah ia berhasil mengentikan tawa ngakaknya.


"Lho, kenapa? Biasanya kita pergi makan dulu atau kalau nggak main game dulu di game center" Sahut Dave.


"Aku ada acara nanti sore. Aku harus buru-buru pulang untuk beresin rumah. Aku belum sempat beresin rumahku"


"Mau aku bantu?"


"Nggak usah!" Sahut Mikha dengan cepat.


"Oke, nggak usah nyolot juga jawabnya"


Mikha menoleh sekilas ke Dave dan bertanya, "Emangnya aku nggak pernah minta maaf?"


"Jarang. Bahkan sudah berabad-abad kamu nggak pernah ucapkan kata maaf Seingatku"


"Itu berarti aku nggak pernah berbuat salah, kan" Sahut Mikha dengan santainya.


"Nggak pernah berbuat salah gundulmu! Kamu justru sering berbuat salah, tapi nggak pernah minta maaf" Dave mendengus kesal.


"Benarkah?" Mikha bertanya dengan tanpa dosa.


"Hmm" Sahut Dave dengan sungguh-sungguh dan Mikha langsung terkekeh geli, lalu berkata, "Berarti orang yang beruntung saja yang bisa mendengar kata maaf dariku. Jadi, kamu beruntung hari ini, Bro"


"Dasar gila!" Pekik Dave dengan kesal dan Mikha kembali terkekeh geli.


"Terima kasih kau sudah bayar orang untuk membawa mobilku ke sini" Ucap Aurora sambil mengecup pipi Shasha.


"Sama-sama cantik" Shasha berucap sembari mengelus pelan pipi Aurora.


"Aku harus ke rumah Mikha lagi nanti sore" Ucap Aurora sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Untuk apa? Mau lanjut ke ronde berikutnya, ya?"


Aurora langsung mendelik dan menepuk bahu Sasha.


"Aduh! Sakit!" Shasha meringis di depan Aurora.


"Salah sendiri kamu suka ngawur. Aku jadi tutornya Mikha mulai sore ini dan itu aku lakukan karena terpaksa"


"Aku doakan kalian jadian malam ini, da,da, bye, bye, cantik" Shasha berucap sembari melambaikan tangan dan melangkah pergi meninggalkan Aurora dengan senyum lebar.


Aurora sontak berteriak dengan senyum lebar pula, "Dasar gila!"


Beberapa jam kemudian,Aurora mencoba beberapa setelan baju dan mematut diri depan cermin sebelum ia pergi ke rumahnya Mikha dan ketika ia belum juga menemukan baju yang pas untuk dia pakai pergi ke rumahnya Mikha, gadis itu duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang dan bergumam kesal, "Kenapa aku pusing soal baju hari ini? Aku nggak pernah sepusing ini soal baju sebelumnya? Sial! Ada apa dengan diriku? Kenapa aku peduli banget dengan penampilanku sore ini? Ah! Pakai ini saja"


Akhirnya Aurora memutuskan memakai setelan jumpsuit berwarna hijau pupus dengan kerah berbentuk V dan jumpsuit itu berlengan pendek.


Kemudian dia memutuskan untuk mengucir kuda rambut panjang yang dia semir dengan warna kuning keemasan itu. Setalah mengangguk di depan cermin, wanita cantik itu melangkah keluar dari dalam kamarnya dan tak lupa meraih tas kerjanya. Dia siap pergi ke rumahnya Mikha Mahesa.


Mikha menunggu kedatangan Aurora dengan memakai kaos putih polos dan celana jins berwarna hitam yang robek di kedua lututnya. Pemuda tampan dan jangkung itu juga menyiapkan kue bolu pandan hasil masakannya sendiri dan beberapa kaleng bir di atas meja tamu.


Pemuda tampan itu tidak bisa duduk tengah di sofa. Ia memilih keluar dan berjalan mondar-mandir di teras depan. Dia sudah sangat tidak sabar menunggu kedatangannya Aurora.


Ketika pada akhirnya sang pujaan hati muncul di depannya, Mikha tersenyum lebar dan berkata, "Ayo masuklah! Anggap saja rumah sendiri"


Aurora masuk ke dalam dengan langkah santai dan saat wanita cantik pujaan hatinya duduk di sofa, Mikha langsung berkata, "Aku bikin kue bolu pandan kesukaan kamu"


Aurora menoleh kaget ke Mikha dan langsung bertanya, "Kau masih ingat makanan kesukaan aku?"


Mikha duduk di samping Aurora dan dengan senyum lebar ia berkata, "Tentu saja aku masih ingat"


"Lalu, kue ini kau beli di mana?"


"Beli? Mana ada waktu aku pergi keluar untuk beli kue. Aku sibuk beres-beres rumah tadi"


"Lalu?"


"Aku bikin sendiri dong kuenya"


"Beneran kamu bikin sendiri nih kue?"


"Hmm. Kenapa? Kau tidak percaya? Mau aku ajari? Ayo?!" Mikha menggenggam tangan Aurora dan Aurora langsung menarik tangannya dan berkata, "Hentikan basa-basi kita. Kita langsung mulai kegiatan belajar mengajar kita saja biar aku tidak pulang terlalu malam" Ucap Aurora sambil menunduk untuk mengeluarkan buku dan alat tulis dari dalam tas kerjanya.


"Siapa yang butuh tutor pribadi untuk belajar?"


Aurora menoleh kaget ke Mikha dan sontak mendelik dan menggeram, "Kau! Lalu, untuk apa kau butuh tutor pribadi kalau tidak untuk belajar, hah?!"

__ADS_1


"Aku hanya butuh teman mengobrol, hehehehe" Mikha meringis di depan Aurora dan Aurora langsung bersedekap di depan Mikha dengan helaan napas panjang.


__ADS_2