
Mikha langsung menarik Angela ke mobilnya begitu wawancara selesai.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada apa?" Tanya Angela.
Mikha menatap Angela dengan wajah dingin dan datar dan setelah menghela napas panjang, Mikha berkata dengan nada kesal, "Kenapa kau yang menjawab semua pertanyaan wartawan tadi? Padahal kau tahu benar bahwa laguku bukan untukmu dan aku bernyanyi juga bukan untukmu"
Angela menatap Mikha dengan senyum lelah, lalu gadis cantik itu berkata, "Apa aku tidak boleh berhalusinasi beberapa menit saja? Aku ingin berhalusinasi sejenak bahwa kau bernyanyi untukku dan kau menciptakan lagu itu untukku" Gadis itu membelai pipi Mikha dan Mikha langung menepis tangan Angela dengan kesal.
Angela menarik tangannya sambil bertanya, "Apa aku boleh tahu untuk siapa lagu itu? Dan siapa yang kau tatap saat kau menyanyikan lagu kamu tadi?"
"Kau tidak perlu tahu. Lagipula apa untungnya buat kamu kalau kamu tahu siapa cewek yang selalu ada di hatiku" Ucap Mikha dengan wajah dingin.
"Yeeeaaahhh, kau benar. Kalau aku tahu siapa cewek itu aku hanya akan bertambah kesal. Mikha bisakah kau peduli padaku sedikit saja. Ajak aku berkencan walaupun cuma sebentar"
Alih-alih menjawab pertanyannya Aurora, Mikha justru membuka pintu dan keluar dari dalam mobil dengan kesal.
Angela mendengus kesal saat ia melihat Mikha keluar dari dalam mobil dan meninggalkannya begitu saja. Pelukis dan model cantik itu tersentak kaget saat ada pesan text masuk ke dalam telepon genggam super mahalnya. Angela membaca pesan text itu di dalam hatinya, aku butuh bicara sama kamu soal masa lalu kita. Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu akan pulang dan kini kamu bertunangan dengan Mikha Mahesa. Tapi, kenapa kau masih meneleponku semalam? kita bertemu di tempat biasa kita berkencan dulu.
Angela memasukkan telepon genggam super mahalnya ke dalam tas kerjanya dan berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya, "Aaaaaaa!!!!!" Lalu, gadis cantik itu keluar dari dalam mobilnya Mikha untuk masuk ke dalam mobilnya sendiri dan ia pergi meninggalkan pelataran parkir dengan perasaan campur aduk.
Brandon mengantarkan anak dan istrinya pulang, lalu ia kembali lagi ke kantor. Aurora hanya bisa memandang mobil suaminya yang menjauh dengan wajah kecewa. Ia ingin berduaan lebih lama dengan suaminya, tapi apa daya suaminya selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Aurora kemudian berputar badan dan masuk ke dalam vila untuk mulai memasak. Sedangkan Marco telah masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Di sore hari nan cerah, Aurora yang sedang menemani Marco bermain mobil-mobilan di taman sambil menyirami tanaman yang ada di teras depan, dikejutkan dengan masuknya sebuah mobil ke halaman depan dan dia kenal betul pemilik mobil itu. Mikha Mahesa keluar dari dalam mobil dan Marco langsung berlari kencang sambil berteriak riang, "Om Mikha!"
Mikha langsung menyambar tubuh mungilnya Marco dan menerbangkan Marco seperti Superman. Marco dan Mikha tertawa lepas secara bersamaan. Aurora tertegun melihatnya.
Untuk apa dia ke sini lagi? Batin Aurora sembari mematikan keran air dan menggulung kembali selang yang habis dia pakai untuk menyiram semua tanaman di teras depan.
Aurora berjalan melintasi Marco dan Mikha sambil berkata, "Aku mau mandi dulu"
Kepala Mikha mengikuti arah perginya Aurora, lalu ia menurunkan Marco, berjongkok, dan bertanya, "Jagoannya Om sudah mandi?"
"Sudah, dong" Sahut Marco dengan wajah bangga dan senyum cerah.
"Om juga sudah, dong. Emm, Om bawa es krim strawberry. Om suka es krim strawberry. Tapi, Om juga bawa es krim cokelat. Mama kamu suka es krim cokelat Kalau kamu suka yang mana?"
__ADS_1
"Strawberry, dong. Kita punya satu kesamaan lagi, Yeeaaayyy!" Marco mengajak Mikha tos dan Mikha sontak tertawa bahagia lalu berkata dengan senyum cerah, "Kita masuk dan makan bareng, yuk!"
"Yuk!" Sahut Marco sambil menggandeng tangan Mikha.
Mikha menatap tangannya yang digenggam erat oleh Marco dengan senyum bahagia. Ada sentuhan hangat menjalar di dadanya seketika itu juga.
Kedua cowok tampan itu kemudian Kakan es krim strawberry di ruang keluarga sembari menonton film kartun kesukaannya Marco. Mikha kemudian iseng bertanya, "Papa kamu pulangnya malam terus, ya?"
"Iya. Aku sama Mama sering berduaan aja di rumah" Sahut Marco sambil menikmati es krimnya.
"Mama kamu tidak bekerja?" Tanya Mikha kemudian sambil menjilati sendok es krimnya.
"Mama tidak bekerja. Papa tidak mengijinkan Mama berkerja" Sahut Marco.
"Oh" Sahut Mikha singkat sambil menoleh ke arah pintu dan berharap Aurora segera muncul di balik pintu itu. Namun, harapan Mikha sirna.
Mikha kemudian menoleh ke Marco yang masih asyik makan es krim dan nonton film kartun. Lalu, Mikha bertanya, "Akan ada tamu, ya?"
"Nggak" Marco menoleh ke Mikha sambil menjilati sendok es krimnya.
"Kenapa Mama kamu lama sekali berada di dapur"
"Ada bazar?"
"Hmm. Uang hasil penjualan bazar akan dikumpulkan dan diberikan ke rumah sakit khusus anak-anak yang sakit kanker, Om"
"Oh, keren juga, tuh, idenya"
"Itu idenya dari Mama. Mama ketua panitianya"
Mikha mengusap pucuk kepala Marco dan berkata, "Mama kamu memang hebat dari dulu. Emm, karena Mama kamu nggak ke sini, Om bawa es krim cokelatnya ke dapur dulu, ya, Om akan simpan es krimnya di freezer"
"Hmm" Sahut Marco dengan senyum lebar.
Mikha membawa kotak es krim rasa cokelat dan melangkah keluar dari dalam ruang keluarga.
Sesampainya di dapur, Mikha langsung membuka freezer tanpa ijin dan meletakkan kotak es krim cokelat ke dalam freezer tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
Kemudian, pria tampan itu menutup pintu freezer dan berputar badan dengan pelan untuk melihat apa yang tengah dikerjakan oleh Aurora.
Mikha melihat Aurora tengah memasukkan kue nastar ke dalam toples.
Mikha kemudian tersenyum dan melangkah pelan mendekati Auroa sambil berkata, "Aku akan membantumu"
Aurora tersentak kaget dan langsung menggeser kakinya menjauhi Mikha.
Mikha mengernyit dan bertanya, "Kenapa kau kagetan sekarang ini dan kenapa kau selalu menjauhiku? Aku tidak akan menggigitmu kecuali jika kau mau aku menggigitmu dengan senang hati aku akan menggigitmu"
Aurora menggeser kakinya kembali sambil berkata, "Jangan macam-macam!"
Mikha menghentikan langkahnya dan berkata, "Aku hanya ingin membantumu"
"Nggak usah. Aku bisa melakukannya sendiri" Sahut Aurora tanpa menoleh ke Mikha dan melanjutkan kegiatannya memasukkan kue nastar ke dalam toples.
"Aku akan tetap membantumu. Emm, oh, iya, aku belikan kamu es krim cokelat kesukaan kamu. Aku sudah simpan es krim itu di dalam freezer"
"Aku tidak menyukai es krim cokelat lagi. Bawa pulang saja!" Aurora belum menoleh ke Mikha.
Mikha menghela napas panjang dan berkata, "Kenapa Marco bisa memiliki banyak kesamaan denganku. Marco juga suka es krim rasa strawberry"
"Papanya juga menyukai rasa strawberry" Sahut Aurora sembari memasukkan toples yang sudah rapat dan sudah diisolasi ke dalam kardus.
"Bagiamana cara mengisolasi toples ini?" Mikha bertanya dengan harapan Aurora menoleh dan menatapnya.
Namun, Aurora mengambil toples dari tangan Mikha tanpa menoleh ke Mikha, lalu wanita itu mengisolasi toples itu dan memasukkannya ke dalam kardus.
Mikha menghela napas panjang dan ia nekat memeluk Aurora dari arah belakang sambil berkata, "Apa benar kamu tidak menyukai es krim cokelat lagi? Apa kau tidak ingat kalau kau pernah makan es krim cokelat dari atas dadaku?"
Aurora sontak menyikut Mikha dan segera bergeser, lalu berbalik badan untuk melangkah menjauhi Mikha.
"Bee! Aku masih sangat mencintaimu dan aku tidak akan menyerah. Kau dengar sendiri lirik lagu ciptaanku tadi, kan? Aku tidak akan menyerah akan cinta kita"
Aurora bersedekap di depan Mikha dari jarak satu setengah meter dan berkata, "Cinta kita? Cinta kita apa? Aku sudah menikah dan aku mencintai Brandon sekarang. Lupakan masa lalu kita, Mikha dan jangan ke sini lagi!"
"Dasar pembohong!" Mikha kemudian berbalik badan dengan cepat dan pergi meninggalkan Aurora.
__ADS_1
Aurora langsung membungkukkan badannya dan bernapas lega sambil bergumam, "Untunglah dia sudah pergi. Aku sungguh-sungguh merasakan sesak napas yang luar biasa setiap kali dia muncul di depanku"
"Kenapa begitu? Kalau kau tidak ada cinta untukku, kenapa kau bisa merasakan sesak napas yang luar biasa saat aku ada di depan kamu? Kenapa begitu?" Suara Mikha tiba-tiba menggema kembali di dapur dan Aurora sontak jatuh terduduk di atas lantai dapur dan berteriak kesal, "Mikha! Kenapa kau belum pergi juga, hah?!"