
Mikha mengentikan langkahnya dan berbalik badan dengan santainya sampai kening Aurora menabrak dada Mikha.
"Aduh! Kenapa kau berhenti?"
Mikha mendengus kesal, "Katanya suruh berhenti"
"Iya, tapi, jangan dadakan juga" Aurroa mendelik dan bersedekap di dalam Mikha.
"Kita bicara saja di meja makan" Mikha langsung berbalik badan kembali dan melangkah lebar mendahului Aurora.
Aurora menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, menikah dengan bocah memang seperti ini. Masih suka berpetualang.
Sesampainya di meja makan, Aurora tersentuh melihat Mikha memasak gurame asam manis dan udang goreng tepung untuknya. Ada puding mangga juga. Aurora duduk di meja makan di depan Mikha Mahesa dan dia berkata, "Terima kasih udah masak ini untuk aku"
"Hmm" Sahut Mikha acuh tak acuh.
"Tapi, Mikha.........."
Mikha mengangkat wajahnya dan menatap Aurora dalam diam.
Aurora menyisir rambutnya ke belakang dengan jari jemari sambil berkata, "Balap mobil itu bukankah berbahaya.. Aku nggak bisa mengijinkan suamiku mengikuti sesuatu yang berbahaya"
Mikha kembali menundukkan wajahnya dan makan sambil berkata, "Aku sudah bilang kalau aku tidak butuh ijin dari kamu. Aku hanya ingin kasih info ke kamu kalau tiga bulan lagi aku akan ke Swiss ikut lomba balap mobil"
"Berarti ucapanku tidak ada artinya bagi kamu? Kekhawatiranku tidak ada artinya bagimu? Berarti balap mobil itu lebih penting dariku?"
__ADS_1
Mikha diam seribu bahasa.
"Katanya kita akan bicara di meja makan. Kenapa diam saja sekarang?"
Mikha menyahut tanpa mengangkat wajahnya, "Aku malas berdebat. Toh, aku sudah ambil keputusan. Nggak ada yang bisa dirubah"
Aurora menghela napas panjang dan memilih untuk melanjutkan makan. Wanita itu akhirnya diam seribu bahasa.
Setelah selesai makan, Aurora mengambil semua piring dan gelas ke dapur untuk ia cuci tanpa mengatakan satu kata pun.
Mikha bangkit berdiri dan melangkah ke teras depan. Pemuda tengil itu menyulut cerutunya di sana. Bocah tengil itu memang selalu menghisap cerutunya kala pikirannya tengah kalut.
Mikha langsung memadamkan cerutunya di asbak dan meletakkan cerutunya di sana saat ia mendengar Aurora terbatuk-batuk. Sejak kecil Aurora alergi dengan asap. Asap apapun akan membuat Aurora terbatuk-batuk dan lama-lama akan mengalami sesak napas,.lalu bisa pingsan.
Mikha menoleh ke Aurora dan bertanya, "Kenapa belum tidur?"
"Kau mau ikut?" Mikha bangkit berdiri dengan wajah kaget.
"Karena keinginan kamu tidak bisa aku bendung dan kamu sudah mendaftar ikut lomba balap mobil itu, maka aku memutuskan untuk ikut saja daripada mengkhawatirkan kamu di sini lebih baik aku ikut ke Swiss"
Mikha melangkah lebar dan langsung memeluk tubuh ramping istri cantiknya dengan erat dan berkata, "Tentu saja kamu boleh ikut" Mikha mendaratkan ciuman di pucuk kepala Aurora dan berkata, "Terima kasih kamu menawarkan diri untuk ikut ke Swiss. Ini yang aku tunggu dari kamu. Aku mencintaimu Rora. Sangat mencintaimu" Mikha kemudian membopong tubuh ramping istrinya dan mengajak istrinya bercinta dan karena terlalu bahagia, Mikha lupa memakai pengaman.
Keesokan harinya, Mikha tersentak kaget dan berkata, "Semalam sepetinya aku lupa memakai pengaman. Dengan kinerjaku yang sangat luar biasa semalam kemungkinan besar kau akan hamil. Nanti kita akan pergi ke apotik sebentar untuk beli obat penunda kehamilan"
Aurora tersentak kaget mendengar ucapannya Mikha dan dia sontak bertanya, "Kenapa harus beli obat penunda kehamilan? Kita sudah menikah sah. Apa salahnya kalau aku hamil"
__ADS_1
Mikha sontak bangun dan duduk bersila di atas ranjang untuk berkata, "Aku masih kuliah. Walaupun aku sudah bisa mencari uang sendiri, tapi terus terang aku belum siap untuk jadi seorang Ayah. Kau tahu, kan, aku tidak ingin jadi Ayah seperti Ayahku. Aku takut akan jadi seperti Ayahku. Aku belum siap untuk itu"
"Belum tentu juga kamu akan jadi Ayah seperti Ayah kamu. Kalian pribadi yang berbeda dan........"
"Aku masih belum siap, Rora. Maafkan aku" Mikha menatap Aurora dengan wajah datar dan sorot mata yang sangat serius.
Aurora akhirnya mengalah dan berkata, "Baiklah. Aku akan ke apotik nanti untuk beli obat penunda kehamilan" Lalu, Aurrora berlari ke kamar mandi dan merenung di sana. Belum ada satu bulan sudah ada dua perdebatan dengan suaminya dan dia yang akhirnya mengalah. Ada perasaan aneh di hati Aurora,namun perempuan itu langsung menepisnya dan bergumam, "Aku mencintai Mikha. Nggak ada salahnya kalau aku mengalah. Toh, aku lebih tua darinya"
Setelah Aurora mandi, Mikha berkata, "Aku bikin sandwich dan susu cokelat untuk kamu. Aku mau mandi dulu" Mikha mencium pipi Aurora dan masuk ke kamar mandi.
Aurora tersenyum dan kembali berkata, "Iya. Aku mencintai bocah itu" Kemudian Aurora berdandan dan bergegas turun ke bawah untuk menata meja makan.
Mikha muncul di ruang makan dengan mengenakan kemeja dan celana kain yang dibelikan oleh Aurora sewaktu di Lombok. Kemeja biru langit dan dipadukan dengan celana kain berwarna biru tua. Mikha tampak sangat tampan dan dewasa.
Melihat Istrinya membeliak senang, Mikha duduk di sebelah istrinya dan setelah mencium bibir istrinya, ia berkata, "Oke, tidak usah memujiku. Air liur kamu udah cukup mewakilinya"
Aurora langsung mengusap sudut bibirnya dan melihat Mikha terkekeh geli, wanita itu langsung menepuk bahu Mikha dan berkata, "Kau menggodaku, ya"
"Hahahahahaha" Mikha tertawa.lepas dan Aurora pun ikutan tertawa lepas.
Beberapa jam kemudian, Mikha mengajak Aurora berciuman di dalam mobil sebelum Aurora turun dan melangkah untuk masuk ke dalam kampus.
Lima belas menit kemudian Mikha menyusul langkah istri cantknya. Mikha langsung menuju ke kelasnya, jadi dia tidak mengetahui momen pak Bagas memberikan sepucuk mawar putih dan satu kotak cokelat di meja istrinya.
Aurora tersentak kaget dan karena ruangan dosen masih sepi dan hanya ada dirinya dan pak Bagas, perempuan itu berani bertanya, "Apa maksud Pak Bagas memberikan bunga dan cokelat ke saya? Dalam rangka apa ini? Hari ini bukan hari Valentine, bukan hari besar, dan bukan hari ulang tahun saya"
__ADS_1
"Tolong diterima, Bu. Saya sudah lama mencintai Anda. Sejak Anda masuk pertama kali bekerja di kampus ini. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, baru di hari ini saya berani menyatakan perasaan saya, Bu" Pak Bagas menatap Aurora dengan sorot mata penuh harap dan Aurora sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.