Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Demi Cinta


__ADS_3

Auora memilih berjalan di belakang Mikha. Dia ingin melihat punggung suaminya yang lebar dan tampak nyaman untuk disandari.


Aurora tersenyum melihat punggung Mikha. Di dalam hati ia berkata, bocah tengil ini ternyata bisa tahu soal tanggung jawab juga dan bocah tengil ini adalah suamiku sekarang. Kapan aku harus bilang ke Mama sama Papa? Apa Mama dan Papa akan menyetujui pernikahanku ini? Ah, nanti aja aku tanya ke Mikha kapan kasih tahu soal pernikahan ini ke orangtua kami.


Mikha meletakkan semua tumpukan kertas tugas di atas meja Auroa yang berada di ruangan dosen. Aurora duduk di kursi dan berkata, "Terima kasih, Mikha"


Namun, Mikha mengabaikan Auroa. Bocah tengil itu justru melangkah ke meja dosen yang bernama Ibu Christie untuk bertanya, "Bu, meja di sebelahnya Bu Aurora adalah mejanya........."


Dosen yang bernama Christie langsung menoleh ke Aurora sambil menjawab pertanyannya Mikha, "Mejanya Bu Ani"


Untuk apa bocah itu nanya-nanya meja? Batin Aurora.


"Kalau boleh tahu, Pak Bagas duduknya di sebelah kanan?" Mikha kembali bertanya ke dosen yang bernama Christie.


Kenapa nanya mejanya Pak Bagas segala? Batin Aurora sembari menarik lebih dalam kedua alisnya.


"Oh, Pak Bagas mejanya jauh di pojok sana. Tapi, kayaknya Pak Bagas belum balik dari mengajar. Kamu ada perlu sama Pak Bagas?" Sahut dosen yang bernama Christie.


"Oh, di sana, ya. Aman berarti" Sahut Mikha dengan sikap tengil.


"Apa maksud kamu aman?" Dosen yang bernama Christie dan Aurora melontarkan pertanyaan itu secara bersamaan.


Mikha tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala dan hanya berkata, "Saya permisi. Terima kasih untuk infonya"


Aurora terhenyak di kursinya dan mulai memijit pelipisnya sambil membatin, benar-benar, ya, tuh anak emang perlu sekali-kali dijitak.


Bu Christie langsung menoleh ke Aurora, "Anda pasti pusing berhadapan setiap hari dengan murid seperti Mikha Mahesa, ya, Bu Rora?"


Aurora tersentak kaget dan langsung menegakkan badannya sambil berkata, "Ah, iya, Anda benar, Bu Christie. Bocah itu emang rumit"

__ADS_1


"Yeeaahhh, begitulah sifat pewaris tunggal dari seorang konglomerat. Arogan dan tengil. Untungnya dia cerdas dan tampan. Jadi, ada nilai plusnya"


"Jangan puji dia tampan, Bu!" Aurora sontak menyemburkan kata itu karena cemburu. Ia cemburu ada wanita lain yang mengatakan kalau suaminya tampan.


"Hah?! Kenapa Ibu membentak saya? salah saya apa? Mikha Mahesa emang tampan dan semua guru bahkan semua mahasiswi mengakuinya" Bu Christie tersentak kaget.


"Ah, maafkan saya, Bu, maksud saya, emm, tidak! Maksud saya dia biasa aja. Tidak tampan, jadi jangan puji dia tampan, Bu, hehehehehe" Aurora tersenyum ke Bu Christie dengan senyum canggung.


"Tapi, emang, sih. Penilaian tampan bagi tiap wanita, tuh, beda. Kalau bagi Bu Aurora Mikha tidak tampan, tapi bagi saya tampan dan........"


"Cukup!" Aurora tanpa sadar meninggikan suaranya lagi.


"Kenapa Anda membentak saya lagi, Bu Rora?" Bu Christie kembali mendelik kaget.


"Ah, hahahahahaha, maaf Bu Christie, maksud saya, cukup kita bahas soal murid-murid kita. Mari kita bahas soal kerjaan saja" Aurora kembali tersenyum canggung ke Bu Christie dan Bu Christie berkata, "Oh! Baiklah. Bilang baik-baik,kan, bisa. Kenapa harus pakai nada tinggi, sih, Bu"


"Ah, maafkan saya. Saya kurang tidur semalam. Jadi, agak nggak fokus hari ini" Aurora masih tersenyum canggung di depan Bu Christie dan Bu Christie langsung berkata, "Lupakan saja, Bu. Mari kita fokus ke kerjaan kita!"


Aku harus beli cincin sebelum Aurora berangkat ke Lombok besok. Emm, apa aku pesan cincin sekalian di Lombok aja, ya? Pengrajin di sana, kan, lebih memiliki jiwa seni dan artistik yang tinggi. Batin Mikha sembari melangkah lebar kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya dan pindah ke kelas lain untuk mengikuti mata kuliah berikutnya.


Mikha masuk ke aula yang cukup besar untuk mengikuti mata kuliah literasi dan dosen pengajarnya adalah Pak Bagas.


Mikha kemudian duduk di bangku paling depan untuk melihat lebih jelas Pak Bagas.


Sial! Dia lumayan cakep dan dewasa. Dia juga rapi. Batin Mikha sambil menunduk untuk melihat dirinya sendiri yang memakai kaos polos, jins belel, dan jaket kulit hitam.


Apa Rora suka pria yang rapi, sopan, seperti ini? Theo si brengsek itu penampilannya juga seperti si Bagas ini. Sial! Apa Rora menang suka cowok rapi? Batin Mikha dengan wajah yang mulai gusar.


"Siapa nama kamu?" Pak Bagas tiba-tiba mengetukkan ujung pulpen di mejanya Mikha.

__ADS_1


Mikha tersentak kaget dari lamunannya dan sontak ia menjawab dengan wajah sedikit mendongak dan dingin, "Mikha, Pak. Mikha Mahesa"


"Berani-beraninya kamu duduk di depan, tapi malah melamun di kelas saya?"


"Saya nyimak, kok, Pak" Sahut Mikha masih dengan wajah tengil.


"Kamu, udah ketangkap basah melamun malah ngeles. Kalau gitu buktikan ke Bapak! Kerjakan soal di depan!"


Mikha maju dengan langkah santai dan berhasil mengerjakan soal di papan whiteboard dengan baik dan benar. Pemuda tengil itu malah berani menambahkan, "Mitologi itu bukan cuma cerita tentang dewa dan Dewi, Pak. Tentang hantu, atau pahlawan dengan asal-usulnya juga bisa masuk ke dalam mitologi"


Pak Bagas terpana melihat Mikha dan dosen tersebut spontan bertepuk tangan dan berkata, "Wah, kamu ternyata cerdas Mikha Mahesa. Bapak akan selalu mengingat kamu. Benar apa yang diajarkan Mikha Mahesa. Cerita tentang hantu atau pahlawan dengan asal-usulnya juga bisa masuk ke dalam mitologi"


Mikha Mahesa duduk kembali ke bangkunya dengan wajah datar. Dia tidak terpengaruh dengan pujian. Dia tidak terbiasa menerima pujian dan bagi dirinya, pujian hanyalah suatu kemunafikan yang tertunda.


Setelah kelasnya Pak Bagas selesai. Mikha Mahesa langsung dicegat banyak mahasiswi yang ingin berkenalan lebih dekat dengan dirinya dengan modus bertanya, "Apakah kita bisa belajar kelompok bersama?"


Mikha langung berkata, "Tidak bisa"


"Kenapa?" Tanya kelima mahasiswi yang mencegah Mikha secara bersamaan.


"Aku tidak suka keramaian Minggir!" Mikha melotot serius ke kelima mahasiswi itu Kelima mahasiswi itu sontak membuka jalan untuk Mikha dan bocah tengil itu langsung berlari ke rooftop. Di rooftop, ia mengirim pesan text ke Aurora, Aku menunggu kamu makan siang di rooftop.


Namun, sayangnya pesan Mikha tidak terbuka dan tidak terbaca oleh Aurora karena Aurora tengah rapat dengan rektor dan para dosen dan tidak diperbolehkan membawa telepon genggam di ruang rapat.


Mikha terus menunggu di rooftop selama dua jam dan akhirnya turun dari rooftop dengan wajah kesal, "Kenapa dia tidak membaca pesan text dariku? Sedang apa dia?" Gumamnya sambil melangkah lebar ke ruang dosen.


Saat tiba di rumah dosen, barulah Mikha tahu kalau Aurora tengah rapat dan bocah tengil itu kemudian meletakkan roti sandwich yang dia beki di kantin di atas mejanya Aurora dan meninggalkan catatan kecil, jangan lupa dimakan! Aku membelinya dengan mengantre dan itu aku lakukan karena aku mencintaimu.


Setelah selesai rapat, Aurora dikejutkan dengan adanya sandwich dan catatan kecil di bawah wadah sandwich itu. Aurora membaca di dalam hati catatan kecil itu dengan senyum bahagia.

__ADS_1


"Bu, kenapa senyum-senyum sendiri? Dari siapa sandwich itu? hayo?" Goda Bu Anik yang mejanya bersebelahan dengan mejanya Aurora.


Aurora hanya tersenyum lebar ke Bu Anik dan berkata, "Mari makan, Bu"


__ADS_2