Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Terkejut


__ADS_3

Brandon berdiri di samping kanannya Angela dan berkata, "Selamat, ya, pameran lukis kamu sukses besar"


"Terima kasih. Kau datang sendiri?"


"Tidak. Aku ajak Istriku. Tapi, dia menghilang saat aku selesai mengobrol dengan beberapa klien yang aku temui di sini barusan" Sahut Brandon.


"Menurut kamu bagaimana lukisan cewek Jawa yang aku lukis ini?"


"Kenapa tanya ke aku? Kenapa kamu nggak nanya ke Mikha?"


"Mikha tidak menyukai lukisan dan tidak menyukai keramaian. Untung itulah pria brengsek itu menghilang dan meninggalkan aku sendirian" Tanpa Angela sadari ia mengumpat kesal.


Brandon menoleh kaget ke Angela dan pria itu langsung bertanya, "Hubungan kamu dan Mikha nggak harmonis, ya?"


Angela menoleh ke Brandon dan tersenyum getir, lalu berkata, "Aku akan jujur sama kamu karena kamu sudah terlanjur mendengar umpatanku barusan. Iya. Aku dan Mikha tidak harmonis. Mikha tidak pernah mencintaiku dan dia tidak pernah mengajakku berkencan"


"Tapi, kenapa Mikha mau bertunangan dengan kamu?" Brandon masih menatap Angela dengan penuh tanda tanya.


"Karena permintaan Papanya"


"Oh, gitu, ya. Yeeaahhh, aku rasa dia masih suka bermain-main"


"Tapi, Mikha tidak berkencan dengan wanita manapun saat ini. Dia setia dengan bertunangan ini. Tapi, dia tidak pernah peduli padaku"


"Oh" Sahut Brandon singkat.


"Kenapa kau menghampiri aku? Kau bilang kau tidak akan menemuiku lagi setelah kemarin"


"Aku tidak menghampiri kamu. Aku menghampiri lukisan ini. Lukisan ini sederhana, namun sarat makna. Ada kesetiaan seorang wanita di lukisan ini"


"Wah, kita sepemikiran" Angela kemudian nekat menggenggam tangan Brandon dan mengajak Brandon ke kolam renang.


"Kenapa kau menarikku ke sini? Bagaimana kalau Istriku mencariku? Aku harus kembali ke dalam.


Angela menahan lengan Brandon dan wanita itu nekat mencium bibir Brandon.


"Cinta kasihmu yang dalam di masa lalu dan aku yakin masih tersimpan rapat di hati kamu, telah kau torehkan begitu dalam di hatiku dan tidak pernah bisa ku hapus, Bee. Kasihmu terus aku rasakan mengalir di kehidupanku, Bee" Mikha mengusap pucuk kepala Aurora.


Aurora hanya bisa berdiam diri menatap dalam-dalam kedua bola kecokelatan milik Mikha Mahesa.


"Di detak jantungku selalu kudengar namamu. Di tarikan napasku selalu kucium wangi kamu, Bee. Sekarang katakan bagaimana aku bisa hidup tanpamu?" Mikha kembali menjumput rambut Aurora dengan mencium rambut itu dengan penuh kerinduan.


Aurora bisa merasakan tangan Mikha bergetar. Tangan pria itu bergetar karena pria itu tengah menahan diri untuk tidak bertindak lebih. Wanita cantik itu kemudian mendorong dada Mikha dengan kedua telapak tangan dan dengan sekuat tenaga sambil berkata, "Aku harus pulang. Aku akan cari Brendon. Marco dan Shasha menungguku" Aurora langsung berjalan meninggalkan Mikha.


Mikha menatap punggung Aurora yang menjauh dengan helaan napas panjang. Lalu, pria itu melangkah ke kolam renang. Dia ingin berenang untuk meredakan gairahnya.


Mikha mengerem dadakan langkahnya saat ia melihat Brandon dan Angela berciuman dengan sangat liar dan sensual di tepi kolam renang. Seketika Mikha mengepalkan kedua tangannya dan berlari mendekati Brandon dan Angela. Tanpa berpikir panjang, Mikha menghujamkan bogem mentahnya di pipi kanan Brandon sampai kakak tirinya itu jatuh terjengkang ke samping.


Angela berteriak kaget, namun wanita itu sontak tersenyum lebar dan berkata, "Apa kau cemburu, Mikha? Akhirnya aku bisa membuatmu peduli padaku"


Mikha menoleh ke Angela dengan sorot mata mematikan. Lalu, pria tampan bermabut bergelombang itu menggeram, "Aku ridak cemburu. Aku juga tidak peduli padamu. Aku memukul Brandon bukan demi kamu dan bukan karena cemburu, cih!"


Angela tersentak kaget dan mundur dua langkah ke belakang dengan wajah kecewa.


"Bangun kau!" Mikha menarik kerah bajunya Brandon.


Brandon dengan susah payah bangkit berdiri sambil berkata, "Tunangan kamu yang menciumku dulu"


"Kulihat kau membalas dan menikmatinya, brengsek!" Bug! Mikha kembali mendaratkan bogem mentahnya di wajah Brandon sambil terus memegang kerah bajunya Brandon.


"Kenapa kau memukuliku? Aku tidak bersalah. Lala yang menciumku dulu"

__ADS_1


"Lala? Kenapa kau panggil Angela dengan Lala? Kalian.........Cih!" Mikha menyeringai kesal dan melepaskan kerah bajunya Brandon begitu saja.


Brandon terhuyung ke belakang dan saat ia berhasil menegakkan badannya, kakak tirinya Mikha itu menutup lubang hidungnya dengan saku tangan, lalu berkata, "Iya. Aku dan Lala pernah punya hubungan. Tapi, itu sudah berlalu. Tujuh tahun yang lalu dan........."


"Tujuh tahun yang lalu. Sudah berlalu dan kalian berciuman, cih?!" Mikha masih menatap Brandon dan Angela dengan sorot mata mematikan dan kedua tangannya mengepal erat.


"Dia yang menciumku dulu" Brandon menunjuk Angela dan Angela menoleh ke Brandon dengan kesal, "Kenapa kau terus berkata seperti itu, hah?! Iya, aku akui kalau aku memang menciummu duluan. Tapi, kau membalas ciumanku dan kau juga menikmatinya!"


Brandon seketika mematung di depan Angela dan Mikha.


"Istri kamu banyak berkorban untuk kamu. Istri kamu menghormati pernikahan kalian dan dia wanita bodoh yang terus mempertahankan kesetiannya. Tapi, apa yang kau lakukan! Apa yang sudah kau lakukan, dasar brengsek!" Mikha melotot dan melompat kesal penuh amarah di depan Brandon.


Brandon masih membisu dan mematung.


"Apa kau akan ceritakan semua ini ke istrinya Brandon?"


"Nggak! Aku nggak akan biarkan Kakak iparku bersedih" Mikha kemudian berbalik badan dengan cepat dan pergi meninggalkan Brandon yang masih berdiri mematung di samping Angela.


Angela menoleh ke Brandon dan berkata, "Aku tidak menyesalinya."


Brandon menghela napas panjang, lalu pergi meninggalkan Angela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aurora tersentak kaget saat ia menemukan suaminya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Aurora mengusap pipi suaminya dengan pelan sambil berkata, "Kenapa pipi kamu merah dan ada darah kering di lubang hidung kamu? Kamu habis berkelahi?"


"Aku terjatuh di tepi kolam renang tadi. Lantainya licin dan tukang kebun membantuku berdiri tadi. Ayo kita pulang!" Brandon memeluk pinggang Auroa dan mengajak Aurora pulang.


Sesampainya di rumah, Aurora tidak jadi meminta jatah karena ia tidak tega melihat wajah suaminya yang lebam. Meskipun hari ini adalah jadwal bercintanya dengan Brandon, tapi setelah mengobati wajah suaminya, Aurora membiarkan Brandon tidur tanpa ia ganggu.


Aurora kemudian turun ke lantai satu untuk menemui Shasha.


"Terima kasih Sha sudah menjaga Marco. Maaf kalau aku dan Brandon pergi terlalu lama"


"Gagal total. Brandon malah terpeleset di tepi kolam renang tadi dan sekarang ia sudah tidur setelah aku obati lukanya"


Shasha menghela napas kecewa dan sedih. Dia lalu memeluk Aurora dan berkata, "Yang sabar, ya"


Sesampainya di rumah, Mikha meninju tembok rumahnya dengan penuh amarah dan pria itu berteriak, "Aku menahan diriku untuk tidak menyentuh Rora, karena aku pikir kau mencintai Rora dan setia. Tapi, ternyata kau brengsek! Kau brengsek Brandon! Jangan salahkan aku kalau mulai besok, aku akan nekat merebut Rora dari tangan kamu. Aku akan buat Rora menceraikan kamu dan menikahiku"


Keesokan harinya, sepeti biasanya Aurora bangun dan mendapati ranjang telah kosong. Suaminya telah pergi ke kantor


Aurora memulai aktivitasnya seperti biasa, namun di hari ini, Aurora menitipkan Marco ke Shasha karena ia ingin memberi kejutan ke suaminya. Dia merasa beberapa bulan terakhir hubungan dia dan suaminya sedikit renggang, untuk itu dia ingin makan siang di kantor suaminya, lalu mengajak suaminya bercinta di sana. Dia akan memakai segala cara agar suaminya mau ia ajak bercinta di ruang kerja suaminya.


Shasha menepuk pundak Aurora dan berbisik, "Semoga berhasil"


Angela masuk ke ruang kerja Brandon dan pria itu terkejut dan langsung berteriak, "Keluar!"


Alih-alih melangkah keluar, Angela justru melangkah maju, mengitari meja Brandon dengan langkah dan senyum sensual, lalu ia duduk di atas pangkuannya Brandon sambil berkata, "Aku terus membayangkan ciuman kita kemarin"


Alih-alih mendorong Angela menjauh, Brandon justru memagut bibir Angela.


Aku hanya ingin memastikan kalau aku masih normal. Aku masih memiliki gairah sebagai laki-laki. Karena entah kenapa, aku akhir-akhir ini malas bercinta dengan Rora. Bukan karena aku tidak mencintainya. Nggak! Bukan. Tapi, mungkin karena aku bosan dengan rutinitas. Setelah ini, aku akan berhenti menemui Angela dan akan mengajak Rora bercinta dengan suasana dan hal yang baru. Aku hanya butuh sensasi sejenak. Hanya sejenak. Batin Brandon sambil terus mengajak Angela berciuman.


Namun, kata sejenak tidak berlaku. Brandon dan Angela menginginkan lebih dan akhirnya kedua insan itu nekat menyatukan raga mereka di atas meja kerjanya Brandon.


Aurora yang ingin memberikan kejutan kepada suaminya, justru mendapatkan kejutan. Dia melihat pintu ruangan suaminya sedikit terbuka dan saat ia membuka pelan pintu itu tanpa mengeluarkan suara, wanita itu langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan, berbalik badan dengan cepat dan berlari kencang menuju ke lift ketika ia melihat suaminya bercinta dengan wanita lain dengan penuh gairah.


Untuk menghilangkan sesak napas setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya bercinta dengan wanita lain di ruang kerja suaminya, Aurora berlari ke halte bus umum dan memutuskan naik bus umum itu dan membiarkan bus umum itu membawanya berkeliling ke mana saja.


Mikha yang melihat Aurora, langsung menyusul bus umum itu dengan menekan gas dalam-dalam mobil sportnya. Lalu, saat bus umum itu berhenti di halte selanjutnya, Mikha mengentikan mobilnya dan bergegas keluar dari dalam mobil sportnya, lalu menyeberang dengan tidak sabar. Kemudian, dia melompat masuk ke dalam bus yang ditumpangi Aurora begitu saja.


Bus umum itu kebetulan lengang. Mikha melihat Aurora duduk di ujung bangku di sisi kanan dan bangku yang ada di dekat jendela kosong. Mikha juga melihat bangku di seberang kiri kosong. Lalu, Mikha duduk di bangku itu dan menoleh ke seberang kanan untuk berkata, "Hai Nyonya cantik, kita bertemu lagi"Mikha tersenyum tengil.

__ADS_1


Aurora menoleh kaget dan langsung berkata, "Wah, kenapa kita bisa bertemu di sini Tuan?"


"Aku rasa pertemuan kita adalah takdir. Kita tidak akan terpisahkan, Nyonya"


"Benarkah?"


"Hmm. Karena ini adalah takdir yang bagus aku bisa bertemu denganmu di sini, maka aku akan berikan tiga permintaan ke kamu. Ayo katakan apa permintaan kamu?"


Aurora tersenyum kesal, lalu berkata, "Satu, turunlah di halte bus yang ada di depan!"


"Nggak mau. Ganti permintaan kamu!"


Aurora mendengus kesal, lalu berkata, "Menyingkirlah ke bangku belakang! Aku baru malas ngomong hari ini"


"Nggak mau! Ganti lagi permintaan kamu"


"Semoga kamu punya karcis. Bus ini tidak pakai kartu. Bus ini bus umum biasa dan aku harap kamu punya karcis" Aurora tersenyum mengejek


Mikha sontak mendelik kaget karena naik bus itu secara dadakan dan dia belum bayar. Otomatis dia tidak memiliki karcis.Mikha juga baru pertama kalinya naik bus umum.


"Apa yang terjadi kalau aku tidak punya karcis?" Mikha bertanya dengan wajah penuh tanda tanya dan sedikit panik.


"Baru kali ini aku lihat wajah kamu panik, ya, walupun cuma terlihat sedikit panik" Aurora mengulum bibir menahan senyum.


Mikha sontak mendelik, "Hei! Aku belum pernah naik bus umum. Makanya aku........"


"Mana karcis Anda?"


Aurora memberikan karcisnya ke kondektur bus sambil mengulum bibir menahan senyum dan melirik Mikha.


Mikha meringis saat kondektur bus menoleh ke dia. Lalu, pria tampan itu langsung mengeluarkan dompet dan berkata sambil mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak tujuh lembar dan hanya itu uang tunai yang ada di dalam dompetnya, "Aku akan booking bus ini. Segini kurang tidak? Kalau kurang, kita berhenti di ATM sebentar, aku akan ambil uang lagi"


Kondektur bus tercengang kaget begitu juga Auroa.


Aurora melotot ke Mikha, "Mikha kau......."


Sedangkan kondektur bus umum itu langsung menyambar uangnya Mikha sambil berkata, "Cukup. Tapi, masih ada penumpang dan mereka berhenti di halte depan. Nggak papa, kan, Tuan?"


"Nggak papa. Santai saja" Sahut Mikha dengan senyum lebar penuh kemenangan.


Aurora langsung bersedekap dan mendengus kesal.


"Kenapa kau menikahi Brandon?" Mikha bertanya saat bus umum itu benar-benar kosong.


"Karena aku merasa aman dan dia menerimaku apa adanya. Kenapa tiba-tiba kau bertanya soal itu?"


"Aku lihat kamu bersedih. Aku menebak itu karena Brandon"


Sial! Kenapa dia bisa menebak dengan tepat. Batin Aurora.


"Kau lupakan hal yang penting"


"Apa?"


"Cinta. Di dalam pernikahan harus ada kata saling mencintai"


"Itu sudah pasti. Aku dan Brandon saling mencintai"


Mikha tersenyum mengejek dan berkata, "Kau bohong lagi, Bee"


Aurora hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke kaca jendela.

__ADS_1


__ADS_2