Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Hamil


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...............


Asisten pribadinya Bisma Mahesa menghadap tuan besarnya dan meletakkan amplop cokelat berukuran besar di meja sofa.


Bisma Mahesa membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya Setelah mengetahui apa isi amplop cokelat itu, pria tampan paruh baya itu meraup wajah tampannya yang sudah menua dan berkata ke asisten pribadinya, "Kenapa harus Aurora Zeto?"


"Bagaimana, Tuan? Apa langkah yang harus saya ambil selanjutnya?" Tanya asisten pribadinya Bisma Mahesa.


"Biarkan saja. Mereka beda usia dan beda karakter. Kita tunggu saja. Aku sangat yakin kalau mereka akan berpisah dengan sendirinya" Sahut Bisma Mahesa sembari bersandar di sofa.


"Tapi, saya lihat Tuan muda sangat mencintai Istrinya, Tuan. Saya rasa mereka tidak akan pernah berpisah"


"Kita lihat saja nanti. Aku sangat memahami Mikha Mahesa. Dia Putraku" Sahut Bisma Mahesa dengan senyum tipis.


"Baiklah, Tuan" Sahut asisten pribadinya Bisma Mahesa.


Kemudian pria paruh baya yang masih gagah dan tampan itu berkata, "Kalau mereka berdua berpisah, aku akan bawa Mikha ke luar negeri. Aku akan didik dia menjadi penerusku dan Aurrora Zeto akan aku jodohkan dengan Brandon anakku"


"Kenapa begitu, Tuan?"


"Karena Brandon lebih cocok untuk Aurora Zeto. Aku banyak berhutang budi pada kedua orangtua Aurora Zeto. Untuk itulah kenapa aku akan menjodohkan Aurora Zeto dengan Brandon"


"Baik, Tuan" Sahut asisten pribadinya Bisma Mahesa.


Mikha dan Dave membuka botol sampanye di atas podium untuk merayakan keberhasilan mereka menyabet juara satu kejuaraan balap mobil di Swiss.


"Aku akan pakai uang hadiah ini untuk melamar pacarku" Pekik Dave dengan wajah riang gembira.


Aurrora harus menahan diri di bawah podium melihat suaminya dipeluk dan dicium pipinya oleh wanita-wanita seksi nan cantik. Walaupun banyak wanita memeluk, mencium dan memberi selamat kepadanya, tatapan Mikha tetap tertuju ke istri cantiknya. Mikha terus memberikan senyum lebar dan tatapan penuh cintanya ke Aurora Zeto.

__ADS_1


Mikha bahkan menunjukkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manis tangan kanannya sambil berkata, "I'm married" Kepada setiap wanita yang mengajaknya berkencan saat itu juga.


Aurrora tersenyum dan menghela napas lega mengetahui suami tampan dan kerennya walaupun tengil itu, masih setia dan menjaga pernikahan mereka dengan sangat baik.


Mikha kemudian turun dari atas podium dan berkata ke Dave, "Istriku sudah menunggu. Aku balik ke penginapan dulu"


"Istri? Jadi, selama ini kamu ajak Istri kamu? Di mana dia? Bagaimana bisa kau sembunyikan Istri kamu selama tiga bulan ini dariku?" Dave melompat turun dari podium dengan wajah heran.


"Aku akan kenalkan kamu dengan Istriku. Tapi, jangan kaget dan jangan bilang ke siapa-siapa setelah aku kenalkan kamu ke Istriku"


"Hmm" Dave mengangguk penuh semangat.


"Ayo!" Mikha tersenyum lebar sambil merangkul bahu sahabatnya itu.


Aurora melambaikan tangan kanannya dengan canggung dan Dave sontak melongo dan melotot.


Dave lalu menoleh ke Mikha dengan ekspresi kaget, "Bu Rora? What?! Istri kamu adalah Bu Rora?"


"Hai, Dave" Sapa Aurrora dengan canggung.


"Hai, Bu Rora. Senang berjumpa dengan Anda di sini" Sahut Dave dan saat Dave ingin bersalaman dengan Aurrora, Mikha menepis tangan Dave dan berkata, "Nggak usah pakai pegang-pegang tangan!"


"Hei! kau bahkan pelukan dan dicium pipi kamu sama banyak wanita di podium tadi. Masak Istri kamu cuma berjabat tangan sama aku aja nggak boleh" Dave mendelik ke Mikha. Mikha mendelik ke Dave dan berkata, "Itu beda" Dan Aurrora sontak terkekeh geli melihat tingkah jenakanya Dave dan Mikha.


"Selamat untuk pencapaian kalian. Kalian hebat" Aurrora menoleh ke Dave lalu ke Mikha dengan senyum lebar.


Mikha mencium kening Aurora dan berkata, "Kamu yang hebat. Tanpa support dari kamu, aku nggak akan menang"


Aurora tersenyum penuh cinta lalu memeluk Mikha dengan erat.

__ADS_1


Dave pamit dan di dalam langkahnya menuju ke parkiran mobil, Dave bergumam, "Pantas saja kau sembunyikan pernikahan kamu selama ini"


Mikha langsung menarik Aurora begitu ia masuk ke jok belakang mobilnya. Pemuda tengil itu langsung menarik tengkuk Aurrora dan bruk! Bibir Aurrora mendarat manis di bibir Mikha. Pemuda tampan itu langsung memagut bibir ranum istrinya yang sudah menjadi candu baginya.


Tubuh Aurora berada di atas tubuh Mikha dan tangan Mikha merajai setiap lekuk sensitif tubuh Aurrora. Mikha kemudian melepas ciumannya untuk menatap kedua bola mata birunya Auroa dan tangannya membuka satu persatu kancing blus istri cantiknya itu.


Mikha terus menatap wajah Aurrora dengan tatapan penuh cinta berbalut gairah. Mikha kemudian menyusupkan bibirnya ke balik blus dan bermain asyik di dada istri cantiknya. Ia menciumi kulit halus dan lembut seindah sutra dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Lalu bibirnya kembali mencari bibir manis semanis madu dan kembali memagutnya dengan penuh damba. Tangannya mulai beraktivitas liar di dada istri cantiknya di saat lidahnya mengajak lidah Aurora berdansa.


Tiba tiba Aurora menarik wajahnya dan menekan dada Mikha.


Mikha menatap wajah istri cantiknya dengan penuh tanda tanya dan akhirnya ia menyemburkan, "Ada apa? Kenapa kau berhenti?"


Aurora mengambil sesuatu dari saku belakang celana jinsnya. Lalu, ia menunjukkan alat tes kehamilan ke Mikha dan denhan menundukkan kepala ia berkata, "Maafkan aku. Aku kurang berhati-hati dan aku hamil"


Mikha tertegun lalu ia merapikan blus dan rambut istrinya dengan diam seribu bahasa.


Kemudian ia mendorong Aurora dengan pelan sampai istrinya duduk di sebelahnya, lalu pemuda itu merebahkan kepalanya di jok mobil dengan helaan napas panjang.


Aurora merebahkan kepalanya di dada Mikha dan berkata, "Katakan sesuatu Mikha! Jangan diam saja"


"Bee, kamu tahu kalau aku belum siap jadi seroang Ayah. Lagipula ini adalah hari bahagiaku. Kenapa harus kau........."


Aurora menegakkan wajahnya. Ia kemudian menatap Mikha dan berkata dengan wajah kaget, "Jadi, kehamilanku tidak membuatmu bahagia?"


Mikha meraup wajah tampannya dengan kasar lalu ia keluar dari jok belakang mobilnya dan berkata, "Kita pulang ke penginapan dulu. aku capek dan kita bahas kehamilan kamu nanti" Mikha kemudian masuk ke jok kemudi, memasang sabuk pengaman, dan menoleh ke belakang, "Kau tidak pindah ke depan, Bee?"


Aurora menyahut dengan wajah sedih dan lesu, "Nggak! Aku tetap di sini saja"


"Yeaahhh, terserah kamu" Sahut Mikha sambil mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


Aurora menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya saat Mikha terus membisu dan mengebut.


__ADS_2