Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Pergi Ke Lombok


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Mikha bergegas melompat turun dari mobil dan langsung berlari kecil mengitari mobil untuk membopong Aurora.


Aurora sontak berkata, "Mikha, kakiku nggak papa. Aku bisa jalan sendiri"


"Udah diam! Biarkan Suami kamu melakukan kewajibannya" Mikha berlari ke kamarnya Aurora dan merebahkan Aurora dengan pelan di atas ranjang sambil berbisik, "Aku belum pernah tidur sama kamu di kamar ini, kan? Maka malam ini aku akan tidur sama kamu di kamar ini. Karena aku ingin memilik kamu di setiap sudut rumah ini, Rora"


Aurora sontak merona merah dan refrlks memukul bahu Mikha sambil menggeram, "Mikha! Aku malu"


Mikha mencubit pucuk hidung Aurora dengan mesra dan berkata, "Kita udah sering melakukannya kenapa masih malu? Oke, kamu istrirahat dulu! Aku akan mengemas barang-barang kita. Besok kita akan ke Lombok, kan? Setelah itu aku akan masak untuk makan malam kita"


"Aku bisa melakukannya sendiri, Mikha. Kaki ini nggak papa" Aurora hendak merosot turun dari atas ranjang dan Mikha langsung melotot dan berkata, "Istri harus nurut apa kata suami! Diam di atas ranjang dan beristirahatlah!"


Aurora langsung diam dan kembali merebahkan diri dengan menghela napas panjang.


Beberapa jam kemudian, Mikha membawa nampan masuk ke dalam kamarnya Aurora.


"Astaga! Mikha, aku baru aja mau turun dan pergi ke ruang makan"


"Kaki kamu harus benar-benar fit untuk perjalanan besok ke Lombok. Jadi, malam ini kaki kamu harus benar-benar berisitirahat. Ayo, makan! Aku suapi"


Mikha membantu Aurora bersandar ke ranjang dan Aurora langsung bertanya sambil melirik nampan, "Kamu masak apa?"


"Sup ayam dan perkedel kentang. Kalau kamu sakit, kamu selalu minta dimasakin ini sama Mama Tika, kan?" Mikha berkata sembari meniup pelan sendok yang berisi sup ayam.

__ADS_1


"Kamu masih ingat semuanya,x Aurora tersenyum kagum. Lalu, ia mengelus pipi Mikha dan berkata, "Kenapa kamu tercipta setampan dan sebaik ini, Mikha"


"Jangan sentuh aku! Kalau kamu seperti ini terus, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memakan kamu lagi" Mikha menyeringai tipis ke Aurora dan perempuan itu langsung menarik tangannya dari pipi Mikha dan berkata, "Apa, sih? Cuma elus pipi aja masak nggak boleh"


"Makan dulu! Nanti kamu boleh elus pipiku sepuasnya" Mikha tersenyum penuh cinta ke Aurora, lalu berkata, "Aaaaaaaa!"


Setelah selesai menyuapi Aurora, Mikha membawa kembali nampannya ke belakang dan setelah selesai membereskan dapur juga meja makan, pemuda tampan itu kembali ke kamarnya Aurora. Saat melihat Aurora sudah tertidur lelap, Mikha merapikan selimutnya Aurora, mencium selimut Aurora, lalu merangkak naik ke ranjang untuk tidur sembari memeluk tubuh ramping istrinya.


Keesokan harinya, Aurora bangun lebih pagi dari Mikha. Dia memang sengaja bangun lebih pagi karena ia ingin Mikha menyusul ke Lombok bukannya berangkat bareng. Aurora meninggalkan secarik kertas di atas nakas dan dia tindih secarik kertas itu dengan segelas susu cokelat hangat kesukaannya Mikha. Setelah mencium pelan pipi Mikha, Aurora kemudian pergi ke bandara dengan membawa mobilnya sendiri.


Mikha bangun dan langsung menemukan pesan dari Aurora, dia membacanya dengan cepat, "Aku masak orak-arik sama menggoreng tempe untuk sarapan kamu. Aku juga buatkan susu untuk kamu. Maaf aku tidak bangunkan kamu. Aku pergi ke bandara jam lima pagi. Love you"


Mikha menggeram kesal dan langsung melompat masuk ke kamar mandi. Dia mandi secepat kilat dan hanya menggerak habis susu cokelatnya tanpa sarapan, ia berlari ke garasi mobil dan bergegas ke bandara untuk menyusul Aurora ke Lombok.


"Sial! Kenapa Rora ceroboh banget? Apa dia tidak bisa merasakan kalau si Bagas itu suka sama dia? Padahal,kan, terlihat jelas banget kalau si Bagas itu suka sama dia? Dasar Rora bodoh. Untung aku tahu di mana tempat ia menginap. Kalau enggak, aku bisa kecolongan besar-besaran. Si Bagas itu pasti pakai segala cara dan modus untuk merayu Istriku" Mikha terus mendengus kesal di dalam pesawat.


Seorang gadis yang duduk di sebelahnya menoleh dan bertanya, "Kenapa dari tadi kamu bersungut-sungut dan wajah kamu merengut? Apa yang membuatmu kesal?"


Mikha menoleh tajam ke gadis itu, "Diam dan urus sendiri masalah kamu! Cih! Ganggu aja!"


Gadis itu langsung bergidik ngeri dan membatin, dia tampan banget dan rambutnya seksi. Tubuhnya juga sangat sempurna. Sayangnya, sikap dan perilakunya tidak sempurna. Tengil dan menyebalkan.


Supir pribadinya Mikha menghadap ke ruangan dosen dan duduk di depan salah satu dosen di fakultas Psikologi.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" Tanya Bu Christie.


"Tuan muda saya, Tuan muda Mikha Mahesa tidak bisa masuk kuliah hari ini sampai lusa karena ada urusan keluarga. Ini surat ijinnya"


Supir pribadinya Mikha menyerahkan sebuah amplop ke atas mejanya Bu Christie.


Bu Christie mengikat amplop itu dan menemukan di atas surat ijin itu ada cap Mahesa Grup. Lalu, dosen wanita yang berpenampilan modis itu tersenyum dan berkata, "Baik, Pak. Saya sudah menerima surat ijinnya Mikha Mahesa. Anda boleh pulang"


"Terima kasih banyak" Sahut supir pribadinya Mikha Mahesa.


Bu Christie kemudian membatin, dia pasti saat ini sedang belajar bisnis dengan Papanya ke Jerman, Paris, atau ke Amerika. Wah, enak banget, ya, jadi Mikha Mahesa. Bisa jalan-jalan ke mana saja sambil mencetak uang.


"Wah, kebetulan yang tidak disangka-sangka, Bu. Kamar kita bersebelahan, hehehehehe" Pak Bagas tersenyum canggung ke Aurora sambil membuka pintu kamarnya dengan menggunakan kartu chip. Pak Bagas melirik jari manis di tangan kiri maupun tangan kanan Aurora dan pria itu tersenyum senang saat ia tidak menemukan cincin melingkar di salah satu jari itu.


"Ada apa, Pak? Kenapa Anda melihat tangan saya terus?" Tanya Aurora sembari mendorong daun pintu kamarnya.


"Oh, nggak, kok. Saya melihat kartu chip Anda. Kalau tidak bisa berfungsi, saya bisa membantu membukanya, hehehehehe" Pak Bagas kembali tersenyum canggung di depan Aurora.


"Oh, begitu. Saya masuk ke kamar dulu, Pak"


Aurora menganggukkan kepala dan tersenyum ke koleganya itu. Pak Bagas sontak menganggukkan kepalanya dengan cepat dan berkata, "Ah, iya, iya, silakan, Bu. Selamat beristirahat. Kita bertemu sore nanti di acara pembukaan seminar di lantai satu aula Srikandi, kan?"


"Iya, mari Pak" Aurora kembali tersenyum dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Mikha sampai di depan hotel tempat Aurora dan dosen yang bernama Bagas itu menginap. Pemuda tampan itu mendengus kesal dan bergumam sambil melangkah lebar menuju ke lift, "Rora bahkan lupa nggak bawa ponselnya. Masih ceroboh aja dia. Lihat saja aku akan kasih hukuman ke Istri cantikku itu karena ia berangkat ke Lombok sendirian tanpa aku dan dia lupa membawa ponselnya"


__ADS_2