
"Di mana kamar Istriku?" Mikha Mahesa sontak bettanya seperti itu saat ia sampai di meja penerimaan tamu hotel tempat pak Bagas dan Aurora menginap.
Wanita cantik dengan seragam hotel tersebut yang berada di balik meja penerima tamu langsung mengerutkan kening dan bertanya, "Maaf, siapa nama Istri Anda"
Alih-alih menjawab pertanyaan penjaga meja penerima tamu itu, Mikha Mahesa justru membuka buku nikahnya di depan wanita itu, "Nih. Istriku tentu saja cantik"
Wanita itu dengan bersabar menunduk dan melihat nama wanita yang ada di buku nikah tersebut dan berkata, "Oh, Ibu Aurora Zeto, ya?"
Mikha menarik kembali buku nikahnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Ibu Aurora Zeto ada di lantai lima kamar 505 yang berada di ujung selasar lantai lima. Ini kunci cadangannya. Karena Anda adalah suaminya, maka saya rasa tidak apa-apa kalau saya berikan kunci cadangan kamarnya Bu Aurora Zeto.
Mikha mengambil kunci kamar istrinya dan pergi begitu saja dari meja penerima tamu lalu langsung melangkah lebar masuk ke dalam lift.
Wanita penjaga meja penerima tamu itu menghela napas panjang dan berkata, "Pasangan yang sangat serasi. Ibu Aurora Zeto sangat cantik dan suaminya sangat tampan. Sayangnya dia tipe pria yang tidak ramah dan menyebalkan. Beda sekali dengan Ibu Aurora Zeto yang sangat ramah pada siapa pun"
Mikha langsung masuk ke kamar 505 dan melihat Aurora tengah meringkuk di dalam selimut dan menghadap ke arah pintu. Mikha melepas jaket kulit hitam dan celana jins belelnya, kemudian memasukkan kopernya ke dalam lemari, setelah itu ia berlari kecil untuk merangkak masuk ke dalam selimut dan memeluk Aurora. Mikha mencium kening istri cantiknya dan berbisik di sana, "Aku merindukan kamu Istriku" Kemudian pemuda tengil itu jatuh ke alam mimpi sambil memeluk erat istri cantiknya.
Tepat jam lima sore, Aurora terbangun dan langsung kaget saat ia melihat wajah suami tampannya berada di atas bantal yang ada di sebelah kanannya. Aurora memandangi wajah tampan suaminya itu dengan senyum bahagia dan bergumam, "Kamu lucu banget kalau tidur kayak gini. Cute banget. Ketampanan kamu juga nampak lebih menggemaskan. Tapi, kalau pas bangun, hmm, jangan ditanya lagi, deh"
"Kenapa kalau pas bangun?" Mikha tiba-tiba membuka kedua kelopak matanya dan Aurora tersentak kaget.
Mikha menarik tengkuk istrinya dengan pelan dan dengan senyum jahil ia kembali bertanya, "Kenapa kalau pas bangun? Aku seperti apa kalau aku udah bangun kayak gini?"
Aurora menggelengkan kepalanya dan dengan tawa riang ia berkata, "Aku akan katakan tapi jangan marah!"
"Katakan dulu baru aku perhitungkan apa aku akan marah atau tidak" Mikha menempelkan keningnya di kening Aurora dan tangannya masih mengelus tengkuk Aurora.
"Kamu mirip keledai. Pas kamu gendong aku di punggung kamu waktu masih kecil, aku juga bilang kalau kamu gendong aku kayak keledai, kan, hahahahaha" Aurora tertawa lepas. Wanita itu sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
Mikha langsung menggelitik pinggang Aurora dan dengan seringai jahil, bocah tengil itu berkata, "Oh, keledai, ya? Sepertinya keledai ini kurang memuaskan tuan putrinya" Mikha kemudian membungkam tawa Aurora dengan bibirnya dan mengajak istrinya berciuman.
Namun, ketika Mikha ingin meminta lebih dari sekadar berciuman, terdengar pintu diketuk berulangkali.
Aurora langsung mendorong Mikha dan sontak bertanya, "Jam berapa ini?"
Saat Aurora bangun, Mikha kembali merebahkan istrinya di atas bantal dan mengajak istrinya berciuman sambil berkata, "Bodo amat dengan jam! Ayo kita lanjutkan dulu!"
Aurora kembali mendorong Mikha dan berkata, "Ada seminar jam enam. Aku harus buruan siap-siap. Aku buka pintu dulu. Emm, kamu sembunyi dulu Mikha" Wanita itu tampak kebingungan menoleh ke pintu dan ke Mikha.
Mikha bersila di atas tempat tidur dan dengan cemberut ia berkata, "Kenapa aku harus sembunyi? Kita sudah menikah dengan sah. Kita bukan pasangan selingkuhan"
Aurora menghela napas panjang dan berkata, "Tapi, yang mengetuk pintu kemungkinan besar adalah Pak Bagas. Kalau Pak Bagas tahu kamu di sini, kamu bisa kena sanksi dikeluarkan dari kampus dan aku nggak mau itu terjadi"
"Aku bisa cari kampus lain kalau dikeluarkan" Mikha masih cemberut dan bergeming.
"Mikha, kamu sekarang adalah seorang suami. Aku nggak mau punya suami yang punya riwayat buruk di studinya. Lalu, suamiku tidak bisa bekerja di kemudian hari karena riwayat buruk di studinya. Hmm, kamu sembunyi dulu, gih! Please!" Aurora mengatupkan kedua tangannya di depan Mikha.
Mikha mengembuskan napas kesal, lalu berkata, "Cium dulu" Mikha mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk dan Aurora segera mencium bibir suami tengilnya itu dan bergegas berlari ke pintu sambil mengibaskan tangan ke Mikha agar bocah tengil itu segera mencari tempat untuk bersembunyi.
Mikha mendengus kesal dan melompat dari atas ranjang lalu masuk ke kamar mandi. Pemuda itu bersembunyi di toilet sambil menempelkan telinganya di daun pintu kamar mandi untuk menguping.
__ADS_1
Aurora merapikan bajunya dan berlari ke pintu sambil berteriak, "Tunggu sebentar!"
Pintu terbuka dan nampaklah di depan Aurora wajah tersenyum milik pak Bagas. "Kenapa lama sekali buka pintunya, Bu?"
"Saya ketiduran, Pak. Ada apa?"
"Saya sudah siap untuk turun ke lantai satu aula Srikandi. Saya pikir kita bisa berangkat bareng ke sana. Tapi, ternyata Anda belum siap" Pak Bagas tersenyum sopan di depan Aurora.
"Ah, iya, maaf, Pak, saya ketiduran. Emm, saya akan bersiap dulu. Anda pergi saja dulu ke sana!"
"Saya akan menunggu Ibu. Kita berangkat bareng. Apa saya boleh masuk ke dalam dan........"
"Maaf! Saya harus segera bersiap" Auroa langsung menutup pintu kamarnya dan bergegas berlari ke kamar mandi untuk mandi dengan kecepatan kilat dan segera bersiap pergi ke lantai satu aula Srikandi hotel tersebut.
Pak Bagas sontak memundurkan wajahnya ke belakang saat wanita pujaan hatinya menutup pintu. Lalu, pria tampan berkacamata yang usianya lebih tua lima tahun dari Aurora itu bergumam sambil membetulkan letak kacamatanya, "Hmm, hampir saja hidungku kena pintu. Oke lah aku tunggu Bu Rora di lobi aja kalau begitu" Pak Bagas kemudian berbalik badan dengan cepat dan melangkah pelan masuk ke lift menuju ke lantai satu.
Mikha melihat Aurora masuk ke dalam kamar mandi dan langsung bertanya, "Apa kata Bagas? Dia mau ajak kamu ke mana?"
Aurora mendorong keras dada Mikha sampai pemuda tengil itu keluar dari dalam kamar mandi, dan dengan cepat Aurora menutup pintu kamar mandi dan langsung menguncinya sambil berteriak, "Aku harus segera mandi!"
Mikha melompat ke kasur dengan telungkup dan meninju bantal dengan kesal sambil menggeram, "Kenapa harus seminar? Lalu, aku menunggu sendirian di kamar?"
Aurora keluar dari dalam kamar mandi dan sudah memakai setelan blazer dan rok pendek di atas lutut.
Mikha mendelik, "Ganti! Itu terlalu pendek"
"Mikha, aku udah hampir telat"
"Iya, aku ganti" Aurora mengganti roknya dengan rok yang sama persis, tapi rok yang kedua panjangnya di bawah lutut.
"Oke" Mikha kemudian bertanya, "Seminarnya kapan selesai?"
"Jam delapan dan setelah itu aku milikku sepenuhnya. Kita akan jalan-jalan keliling Lombok. Tapi, harus sembunyi-sembunyi keluarnya agar tidak ketahuan sama Pak Bagas" Aurora memeluk pinggang Mikha yang mengantarkannya sampai di depan pintu.
"Cium dulu" Mikha mengetuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Aurora langsung mencium bibir suami tampannya dan berkata, "Jangan nyusul ke rumah seminar! Kalau sampai kmu nyusul, aku akan ngambek dan nggak mau bicara sama kamu untuk selamanya"
"Iya. Aku nggak akan nyusul" Mikha mendengus kesal.
Aurora tersenyum ke Mikha dan setelah melambaikan tangan, ia bergegas berlari ke lift.
Mikha kembali masuk ke dalam kamar dan membunuh waktu dua jam tanpa istrinya dengan makan camilan dan menonton televisi sambil sesekali melakukan trading dengan ponselnya.
Tiba-tiba terdengar suara ceklek pintu dibuka dan seperti anak kecil yang melihat mamanya datang, Mikha tersenyum lebar dan langung melompat dari atas kasur dan berlari kencang untuk memeluk Aurora dengan sangat erat sambil, "Kenapa lama banget? Aku merindukanmu"
Krucuuuk! Aurora mendorong dada Mikha dan berkata, "Maaf, Istri kamu sudah membuatmu kelaparan"
"Iya. Aku laper berat" Mikha merebahkan kepalanya di pundak Aurora.
Aurora mengelus kepala Mikha dan berkata, "Oke, kita keluar sekarang. Pak Bagas udah masuk kamar. Kita harus buruan keluar sebelum Pak Bagas keluar kamar dan mengetuk kamar ini"
__ADS_1
"Ayo, cepat keluar!" Mikha langsung membopong Aurora dan berlari keluar dari dalam kamar langsung melesat masuk ke dalam lift.
Mikha menurunkan Aurora yang tengah tertawa renyah di atas lantai lift.
"Kita seperti main film detektif dan kita sembunyi dari polisi yang bernama Bagas. Hahahahaha, ini seru banget, Mikha" Aurora masih menggemakan tawa renyahnya dan Mikha langsung berkata dengan wajah datar, "Enak aja. Si Bagas itu yang jadi penjaganya. Kita berdua polisinya"
"Hahahahahaha. Iya, iya, terserah kamu saja" Sahut Auora masih dengan tawa renyahnya.
Setelah masuk ke dalam taksi online, Aurora menoleh ke suaminya, "Kita makan apa?"
"Makan sate aja. Aku pengen makan sate"
"Sate apa?"
"Sate apa aja" Sahut Mikha.
"Pak, antarkan kamu ke tempat makan yang menyajikan aneka macam sate" Auroa langsung berkata ke supir taksi online dan supir taksi online itu langsung menyahut, "Baik, Nona"
"Nyonya. Nyonya Mikha Mahesa. Wanita cantik ini Istri saya, Pak" Sahut Mikha dengan nada bangga dan sambil merangkul bahu Aurora.
"Ah, iya. Selamat berbahagia kalau begitu. Maaf tadi saya memanggil Nona" Sahut supir taksi online itu.
"Pantas nggak saya bersanding dengan wanita secantik ini, Pak?" Hanya Mikha kemudian.
"Pantas. Anda tampan, Tuan"
Aurora langsung mendelik ke Mikha dan mengeram, "Udah cukup! Aku malu"
Mikha mengecup kening Aurora dan berkata, "Sudah cukup, Pak. Istri saya malu"
Supir taksi online itu sontak tergelak geli dan Mikha sontak mengaduh karena mendapatkan cubitan gemas di pinggang dari Aurora.
Setelah makan bermacam sate dan kekenyangan, Mikha mengajak Aurora berjalan-jalan sebentar untuk menurunkan kekenyangan mereka berdua.
Saat berada di lorong yang sepi dan dilihatnya benar-benar tidak ada orang yang bakal lalu lalang di gang lorong tersebut, Mikha langsung mendorong Aurora sampai punggung wanita itu membentur tembok dan bocah tengil itu langsung mengajak istrinya berciuman dengan sangat liar dan membalik badan Aurora sampai wajah cantik istrinya membentur tembok dengan pelan dan dengan segera bocah tengil itu mencumbu mesra istri cantiknya dengan penuh gairah.
Aurora mencoba melawan dan menurunkan roknya, namun cumbu mesranya Mikha begitu hebat dan wanita itu akhirnya menyerah kalah saat Mikha mengajak istri cantiknya bercinta di sana.
Setelah menuntaskan penyatuan raga yang penuh sensasi dan luar biasa itu, Mikha membalik tubuh Auroa hingga wajah mereka kembali berhadapan dan sambil mengajak istrinya berciuman, ia merapikan rok istrinya. Lalu, pemuda itu merapikan celananya dan dia tertawa senang saat ia melihat istrinya tertawa senang dan berkata, "Mikha! Kau gila!"
Mikha langsung merangkul istrinya dan dengan tawa renyah ia berbisik di telinga Aurora sambil mengajak Aurora berjalan kembali, "Kamu menyukainya, kan?"
"Iya. Aku akui aku menyukai sensasinya. Tapi, Mikha bagaimana kalau tadi ada yang lewat dan melihat kita?"
Mikha yang masih merangkul Aurora menciumi pelipis istrinya dan berkata dengan napas yang masih terengah-engah, "Bodo amat kalau ada yang lihat. Kita ini suami istri yang sah"
Aurora tertawa geli dan berkata, "Dasar gila!"
Mikha kembali mencium pelipis istrinya dan berkata, "Itu, aku gila karena sangat mencintaimu"
"Aku juga sangat mencintaimu, Mikha" Aurora mencium bibir Mikha.
__ADS_1