Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Tertegun


__ADS_3

"Aku cuma ambil paper bag dari mobilku. Aku memang belum pulang. Aku beli oleh-oleh untuk kamu, Marco, dan Brandon dan aku lupa menurunkannya" Mikha mendekati Aurora karena ia ingin membantu Aurora berdiri.


Melihat Mikha berjalan pelan mendekatinya, Aurora bergegas berteriak, "Stop!" Sambil bangkit berdiri dan langsung memasang kuda-kuda.


Mikha mengulum bibir menahan geli sambil menghentikan langkahnya dan bertanya, "Kau mau apa, hah? Kenapa kau pasang kuda-kuda? Oh, iya, benar. Dulu, kita belum pernah melakukannya dengan gaya seperti itu, kan? Kau ingin mencobanya sekarang?"


Aurora langsung melotot dan menggeram, "Pergilah atau aku akan menendangmu! Aku bisa taekwondo sekarang"


"Aku akan pergi kalau kau mengakui masih ada rasa di hati kamu untukku. Walaupun itu hanya sebesar biji sesawi, akan cukup bagiku untuk......."


"Pergi!" Aurora mengarahkan tendangan kaki kanannya di depan wajah Mikha. "Pergi atau kaki ini akan membekas di pipi kamu"


Mikha mencekal kaki Aurora, menarik kaki itu dan membuat dirinya terjatuh di atas lantai dengan posisi Auroa berada di atas tubuhnya. Dengan cepat Mikha mendekap erat tubuh Aurora dan ia nekat mengecup bibir Aurora.


Aurora mendelik kaget dan langsung meronta sambil menggeram, "Lepaskan aku!"


Mikha melepaskan dekapannya dengan seringai tengil dan Aurora langsung mendorong dada Mikha untuk bisa bangun dari atas tubuhnya Mikha.


Wanita itu kemudian mundur ke belakang dan saat Mikha bangun, wanita itu langsung mengusap bibirnya lalu menyemburkan, "Kenapa kau mengecup bibirku?!"


"Kau boleh terus berkata tidak, Bee. Tapi, telinga kamu memerah, pipi kamu juga memerah. Itu cukup bagiku untuk terus melangkah mengejarmu" Mikha kemudian berbalik badan dengan cepat dan melambaikan tangannya ke Aurora.


Aurora sontak berteriak, "Jangan sok tahu! Telinga dan pipiku tidak memerah! Jangan kembali lagi, Mikha!"


Mikha terus melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang dan sambil terus terkekeh geli, pria tampan itu masuk ke dalam mobilnya. Mikha kemudian tertawa lepas saat ia mulai melajukan mobilnya dan pria tampan itu bergumam, "Kamu masih saja lucu, Bee. Imut dan lucu, hahahahaha. Kenapa hanya satu kecupan saja membuat pipi dan telinga kamu merah, Bee, hahahahahaha"


Aurora menghela napas panjang sambil mengusap keringat di keningnya, lalu ia meraih telepon genggamnya yang ada di atas meja makan dan menelepon suaminya, "Sayang, kamu pulang jam berapa?"


"Oh, maaf banget, Sayang, aku ada meeting dadakan dengan klien baru. Aku akan pulang larut malam. Ada apa?"


"Ah, nggak, kok. Cuma, emm, tadi adik tiri kamu ke sini. Mikha"

__ADS_1


"Oh, dia masih di sana? Bilang ke dia kalau aku tidak bisa menemuinya hari ini. Emm, mana dia biar aku ngomong sendiri ke dia"


"Nggak. Dia sudah pulang. Dia cuma kasih es krim dan oleh-oleh untuk kita"


"Oh, baiklah. Besok aku akan temui Mikha dan berterima kasih secara langsung ke Mikha"


"Baiklah. Ati-ati di jalan"


"Hmm. Aku mencintaimu"


"Aku juga" Sahut Aurora.


Aurora kemudian melangkah mendekati paper bag yang ditinggalkan oleh Mikha untuk melihat apa isi paper bag itu. Aurora mengeluarkan mainan robot-robotan mahal super canggih dari paper bag dan meletakkannya di atas meja makan, lalu ia mengeluarkan kotak berisi dasi, dan kotak terakhir yang Aurora keluarkan, membuat wanita itu tertegun. Kotak terakhir berisi tas berwarna putih. Dulu Aurora pernah meminta tas berwarna putih ke Mikha saat ia dan Mikha masih berada di Swiss. Karena sibuk mempersiapkan lomba balap mobil, Mikha belum sempat membelikan tas putih yang Aurora inginkan.


Aurora kemudian mendekap erat kotak berisi tas putih dengan harga puluhan juta rupiah itu dengan derai air mata.


Aurora mengusap air matanya dengan cepat saat ia mendengar suara Marco yang bertanya, "Ma, Om Mikha mana, Ma?"


Aurora mengambil kotak berisi robot-robotan canggih super mahal, lalu tersenyum dan berjongkok, "Om Mikha sudah pulang dan dia kasih ini buat kamu"


"Untuk apa?" Aurora tersentak kaget mendengar permintaannya Marco.


"Aku mau mengucapkan terima kasih untuk robot ini dan es krimnya. Aku mau bikin roti bakar cokelat keju untuk Om Mikha besok"


Aurora hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan.


Angela bangkit berdiri melihat orang yang mengajaknya bertemu di sebuah restoran mewah telah melangkah pelan mendekati mejanya.


Pria itu duduk di depan Angela dan Angela meletakkan pantatnya dengan pelan di kursi mewah restoran itu sambil berkata, "Kamu tidak berubah, Mas Brandon"


"Kamu juga" Sahut Brandon dengan senyum tampannya.

__ADS_1


"Kita satu kantor, kan? Kenapa kita tidak pernah bertemu?" Tanya Brandon kemudian.


"Aku banyak melakukan pemotretan dan wira-wiri ke galeriku yang ada di luar hotel. Aku akan menggelar pameran lukisan sebentar lagi"


"Kenapa kamu pergi meninggalkan aku waktu itu dan tidak pernah memberikan kabar setelah kita menghabiskan malam pertama kita dengan sangat luar biasa. Kau tidak hamil, kan, setelah itu?"


"Tidak. Aku tidak hamil"


"Syukurlah" Brandon kemudian bangkit berdiri.


Angela sontak menyemburkan, "Kau mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan soal aku hamil atau tidak?"


Brandon kembali duduk dan menegakkan badannya, lalu berkata, "Iya. Terus terang hal itu terus membuatku terganggu. Aku lega ternyata kau tidak hamil. Jadi, aku rasa kita sudah benar-benar tidak ada hubungan apa-apa" brandon membungkukkan badan dan hendak bangkit berdiri.


Angela langsung berteriak, "Tunggu!"


Brandon kembali duduk tegak dan menatap Angela dengan sorot matan penuh tanda tanya.


"Temani aku makan dan minum dulu! Kau yang mengajak aku ketemuan di sini. Jadi, kau harus menemaniku makan dan minum lebih dulu. Demi masa lalu kita. Demi rasa cinta yang pernah ada di antara kita"


"Cih! Rasa cinta? Apa pernah ada rasa cinta di antara kita?" Brandon menyeringai kesal.


"Ada. Walaupun sedikit pasti ada. Kita sudah pernah tidur bareng dan aku rasa saat itu memakai perasaan"


Brandon langsung mematung di depan Angela. Dia teringat kembali masa-masa saat dia terpesona akan kecantikannya Angela dan mengejar Angela, kemudian dia berhasil mengajak Angela bercinta dengannya. Apa benar pernah ada rasa cinta di antara aku dan Angela. Batin Brandon kemudian.


Dan pada akhirnya Brandon menemani Angela makan dan minum sampai wanita itu berakhir mabuk berat. Brandon mengantarkan Angela sampai ke rumahnya Angela dan meninggalkan Angela ke asisten rumah tangannya Angela, lalu pria tampan itu pergi meninggalkan rumahnya Angela.


Brandon sampai di vilanya jam satu subuh dan langsung mandi, berganti baju, dan merangkak naik ke ranjang.


Keesokan harinya, Aurora bangun dan seperti biasanya, dia mendapati ranjangnya telah kosong. Brandon telah berangkat ke kantor di pagi buta.

__ADS_1


Aurora kemudian mandi dan membawa kantong plastik berisi baju kotor ke lantai satu untuk ia cuci. Saat wanita itu memasukkan kemeja putihnya Brandon, ia menemukan ada cap bibir berwarna pink dan dia mencium wangi parfum wanita. Aurora memasukkan kemeja itu ke dalam mesin cuci lalu ia tertegun di depan mesin cuci.


"Nggak! Brandon nggak mungkin selingkuh. Nggak!" Gumam Aurora kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2