
Angela berjinjit dan hendak mencium pipi Brandon, Namun, Brandon langsung menutup wajah Angela dan mendorong pelan wajah itu sambil berkata, "Tolong, jangan pakai cium-cium lagi!" Setelah menarik tangannya dari wajah Angela, Brandon berkata kembali, "Ini terakhir kali kita saling membalas budi. Urusan kita di masa lalu sudah selesai"
"Oke" Angela berkata dengan nada dan wajah yang keberatan, tapi apa boleh buat itu yang harus ia lakukan. Brandon sudah menikah dan dia sudah bertunangan dengan Mikha.
Di dalam perjalanan menuju ke galerinya, Angela bergumam, "Ada apa denganku? Aku mencintai Mikha sejak dulu, tapi kenapa sejak kemarin aku terus memikirkan Brandon?"
Sementara itu, Brandon meraup wajah kadernya dan bergumam, "Kenapa jantungku berdegup kencang saat Angela ingin mencium lagi? Ada apa denganku? Nggak! Nggak mungkin aku tertarik padanya. Cinta pertamaku adalah Aurora. Ya, aku sangat mencintai Aurora. Nggak! Aku nggak mungkin tertarik sama Angela. Angela hanyalah sebuah kesalahpahaman yang pernah aku lakukan di masa lalu dan kesalahpahaman itu sudah jernih sekarang. Aku tidak boleh dan tidak akan pernah memikirkan Angela lagi"
Beberapa jam kemudian, setelah merebahkan Marco di ranjang, Aurora keluar dari dalam kamarnya Marco dan saat ia berbalik badan, dia hampir saja menabrak Mikha. Aurora sontak mundur selangkah ke belakang dan berkata, "Kok belum pulang?"
"Kita ke teras depan, yuk! Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu" Mikha berbalik badan dan langsung melangkah ke teras depan.
Aurora mengikuti langkah Mikha dengan langkah kecil dan pelan.
Sesampainya di teras depan, Mikha berbalik badan, menghadap Aurora, menatap lekat kedua bola mata indahnya Aurora, dan setelah menghela napas panjang, Mikha bertanya, "Ada apa? Kenapa wajah kamu beda? Apa yang kau pikirkan? Kau lihat apa di halaman resto tadi?"
Aurora mengulas senyum terpaksa, lalu berkata sambil mengibaskan tangan kanannya, "Nggak ada apa-apa. Aku hanya lelah"
"Bohong! Aku kenal betul siapa kamu, Bee. Aku tahu saat kau sedih, senang, banyak pikiran, dan saat kau kecewa, aku kenal betul semua ekspresi itu, Bee"
Alih-alih menjawab pertanyannya Mikha, Aurora justru menunduk dan menangis terisak. Dia butuh pelukan dan usapan di punggung, namun saat ia melihat kaki Mikha mendekat, ia justru berteriak, "Jangan dekati aku!"
Mikha menghentikan langkah kakinya dan bertanya, "Kenapa kau menangis? Apa salahku kali ini?"
Aurora yang masih menunduk dan menangis terisak, berkata, "Kenapa kau selalu mengaitkan tangisanku dengan kamu?"
"Karena hanya aku yang sering membuat kamu menangis, Bee. Itu betul, kan? Sekarang katakan apa salahku kali ini?" Mikha berkata dengan nada yang terdengar sedih. Sangat sedih.
Mikha yang tidak tega melihat wanita yang sangat ia cintai terus menangis di depannya akhirnya nekat memeluk Aurora dengan cinta kasih dan juga perlindungan seperti dulu, tetapi kini pelukannya terasa lebih longgar dan lembut. Mikha memandang bagian atas kepala Aurora dan merasa sangat ingin mendaratkan ciuman lembut penuh kerinduan pada belahan rambut wanita itu. Rambut Aurora masih terlihat begitu berkilau, indah, dan masih mengeluarkan aroma wangi yang sangat ia sukai.
Tubuh Aurora begitu indah. Ramping dan padat, namun tetap sangat feminin. Aroma tubuh Aurora terasa manis dan memabukkan. Perpaduan wangi buah jeruk bercampur vanila yang samar. Mikha sangat ingin menyentuh telinga Aurora dengan hidungnya, menyentuh anting berlian di daun telinga Aurora dengan bibirnya, memagut cuping Aurora, mencicipi imutnya telinga Aurora dengan lidahnya. Mikha sangat ingin merasakan Kembali semua bagian yang ada di diri Aurora.
__ADS_1
Mikha mengerang pelan saat Aurora memiringkan kepala dan menyandarkan dahi di dada Mikha. Pria tampan itu kemudian memeluk Aurora erat-erat, ia ingin menculik wanita itu, ingin memilikinya hanya untuk dirinya seroang, ingin melindungi dan mencintai wanita itu untuk selamanya. Dia kembali mengerang lirih saat Aurora menggelungkan kedua lengannya di leher Mikha.
Dulu Mikha begitu naif, bodoh, dan egois, sehingga ia kehilangan Aurora Zeto, wanita yang sangat ia cintai. Namun, kini ia sudah dewasa. Hasratnya pun sudah dewasa. Dia sungguh-sungguh ingin memiliki Aurora kembali sepenuhnya, tetapi logikanya masih berjalan normal. Dia tahu masih ada kendala dan dia tahu kalau Aurora tidak akan mau berselingkuh. Aurora adalah wanita yang memiliki martabat baik dan wanita itu sangat menghormati pernikahan. Untuk itulah, dengan sangat terpaksa Mikha melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Aurora sejenak, dia ingin mengusap air mata di kedua pipi Aurora dengan bibirnya, namun pria itu justru memilih untuk menghela napas panjang, lalu ia melepaskan kedua bahu itu dan melangkah mundur.
Aurora menatap Mikha dan sambil mengusap air matanya, wanita itu berkata, "Terima kasih sudah memelukku dan memberikan rasa aman untuk sesaat"
Mikha tersenyum tipis, lalu ia berkata tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Aurora, "Aku ingin melakukan lebih dari sekadar pelukan, Bee"
"Mikha, jangan!"
"Yeeaahh, aku tahu kalau kamu akan berkata jangan. Lalu, kau tidak ingin menceritakan apa pun saat ini? Kenapa kau menangis?"
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menceritakannya. Tapi, aku senang kita masih bisa berteman saat ini"
Mikha diam mematung beberapa detik lamanya. Kemudian pria tampan itu tersenyum tipis dan berkata, "Aku pulang dulu. Aku takut kalau kelamaan memandangi wajah kamu seperti ini, aku bisa nekat menculik kamu"
Aurora terkekeh geli dan berkata, "Terima kasih untuk semuanya. Semua yang telah kau lakukan untukku hari ini, sangat berarti bagiku. Terima kasih, Teman"
Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mikha langsung masuk ke kamarnya begitu ia sampai di rumahnya. Pria tampan itu merebahkan diri dengan kesal di ranjang, lalu menindih kedua kelopak mata dengan lengannya dan menghela napas panjang beberapa kali. Hatinya terasa sesak dan pikirannya kacau. Air mata Aurora membuatnya tidak bisa tidur malam ini.
Brandon pulang ke rumah tepat jam sebelas malam. Satu jam lebih cepat dari hari biasanya dan kaget saat ia melihat istri cantiknya masih duduk bersedekap di sofa sambil bersilang kaki.
Brandon meletakkan tas kerjanya di atas meja, melepas jasnya dan memasukkan jas itu ke keranjang khusus untuk baju kotor sambil bertanya santai, "Kenapa belum tidur?"
"Aku menunggumu. Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu. Duduklah dulu!"
Brandon melangkah ke sofa dan duduk di samping Auroa dan setelah mencium pipi istri cantiknya itu, Brandon bertanya, "Ada apa?"
"Apa kamu berselingkuh?"
__ADS_1
"Hah?! Berselingkuh apa? Mana ada aku selingkuh. Aku cowok setia dan hanya mencintai kamu. Lagian kita sudah punya anak. Aku juga sangat mencintai anakku. Mana mungkin aku selingkuh" Brandon berkata sambil merangkul dan mengusap bahu istrinya.
Aurora membiarkan Brandon merangkul dan mengusap baahunya karena ia sudah merasa sangat lelah untuk sekadar menggedikkan bahu. Lalu, Aurora kembali berkata, "Benarkah kamu tidak selingkuh?"
"Iya! Tentu saja benar" Brandon menganggukkan kepala dengan sungguh-sungguh.
"Lalu, kenapa aku menemukan ada cap bibir wanita di kerah kemeja kamu dan tadi aku melihat kamu bersama wanita di resto Alam Permai padahal kamu bilang ke aku kalau kamu makan siang di kantor kamu dan sendirian"
Brandon tersentak kaget sejenak, lalu dengan santainya ia mengusap bahu Aurora dan berkata, "Aku tidak bohong. Kemarin malam aku bertemu klien. Klienku wanita. Dia mabuk dan aku mengantarkannya pulang. Aku mengantarnya hanya sampai di depan pintu rumahnya. Dia wanita dan mabuk. Aku tidak tega membiarkannya pulang sendirian"
"Apa dia Istri kamu? Saudara kamu?"
Brandon menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kamu harus mengantarkannya pulang. Kamu bisa pesan taksi untuknya"
"Dia klienku dan aku kasihan kalau dia harus pulang naik taksi karena dia wanita, dia masuk, dan sudah larut malam waktu itu"
"Oke, aku bilang sama kamu sekarang. Aku tidak bohong sama kamu karena aku suka kejujuran. Aku selalu terbuka padamu Aku tadi menangis dan Mikha menghiburku dengan memelukku. Bagaimana pendapat kamu?"
"Tidak apa-apa. Mikha adalah adik tiriku dan wajar kalau dia memeluk kamu hanya untuk menghibur kamu"
"Wajar kamu bilang? Kamu nggak cemburu dan bahkan kamu tidak nanya kenapa aku menangis?"
"Kenapa kamu menangis? Kalau cemburu, aku tidak cemburu karena aku percaya sama kamu dan Mikha. Kalian nggak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh di belakangku"
"Aku menangis karena kamu tega bohong sama aku. Kamu menjelaskan soal cap bibir di kerah kemeja kamu. Lalu, bagiamana dengan kebohongan kamu? Bagaimana dengan wanita yang kamu ajak ke resto Alam Permai tadi?" Aurora mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan penuh amarah.
"Dia orang yang sama. Orang yang aku antarkan pulang semalam. Dia mengajakku ke resto itu karena ia ingin berterima kasih dan saat kamu menelepon aku sedang tidak fokus, jadi menjawab asal pertanyaan kamu. Sudahlah. Aku tidak selingkuh. Aku berani bersumpah demi apapun di dunia ini. Tidurlah! Aku akan mandi dulu" Brandon bangkit berdiri dan melangkah menuju ke kamar mandi dengan santainya.
Aurora hanya bisa menatap punggung suaminya dengan kesal. Lalu, wanita itu bergumam, "Kenapa semuanya ia anggap ringan dan santai? Sepertinya ia tidak berselingkuh. Tapi, ia sudah berbohong"
__ADS_1