Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Ingat


__ADS_3

Aurora melihat Brandon keluar dari dalam kamar mandi dan suami tampannya itu merangkak naik ke ranjang dan dengan santainya menyetel televisi untuk melihat siaran debat kusir kesukaannya alih-alih memeluk, meminta maaf, menghibur istrinya dengan kata-kata manis, atau mengajak istrinya bercinta.


Karena kesal dan masih dipenuhi kecemburuan, Aurora.merebut remote televisi dari tangan Brandon dan melemparkan remote itu dengan asal di atas kasur, lalu wanita cantik itu naik ke atas tubuh suaminya dan mengajak suaminya berciuman.


Aurora menyeringai senang saat ia merasakan Brendon mengimbangi permainannya. Namun, di saat dirinya menuntut lebih jauh, tiba-tiba Brandon berteriak, "Dasar bodoh! Kenapa kau bilang anggota kongres itu tidak bersalah?"


Aurora menatap suaminya dengan terkejut dan kecewa.


Brandon meringis dan berkata, "Maafkan aku! Ini bukan hari bercinta kita. Jadi, aku pikir kamu hanya ingin bermain-main santai. Apa kau menginginkannya? Ayo kita lanjutkan!"


Aurora langsung melompat turun dari atas dada Brandon, lalu merebahkan diri di atas kasur dengan kesal dan langsung memunggungi suaminya sambil berkata dengan amarah yang membuncah, "Lupakan saja!"


Alih-alih menghibur istrinya yang merajuk, Brandon justru mengomentari acara debat kusir yang tayang setiap hari Rabu malam itu. Aurora mendengus kesal dan memejamkan mata untuk meredakan gairahnya yang masih menyala-nyala.


Keesokan harinya, Aurora memutuskan untuk berjoging. Dia ingin melepaskan kekesalan, amarah, dan kekecewaannya semalam dengan berjoging.


Saat Aurora sampai di rumah, dia dikejutkan dengan pemandangan apik, Brandon tengah menyuapi Marco sarapan. Brandon menoleh ke Aurora dan berkata, "Nanti malam jam tujuh aku akan ajak kamu berkencan. Aku akan ajak kamu ke galeri seni. Aku juga sudah menelepon Shaha untuk menjaga Marco dan Shasha setuju. Marco juga setuju"


"Hmm" Sahut Marco dengan senyum lebar dan anggukkan kepala karena mulutnya penuh nasi goreng.


Aurora seketika tersenyum lebar dan mencium pipi kedua pria tampan miliknya lalu berkata dengan senyum semringah, "Terima kasih semuanya"

__ADS_1


Tepat jam tujuh pagi, Aurora pergi berkencan dengan suaminya dengan wajah semringah. Namun, begitu sampai di galeri seni, Aurora menghela napas panjang. Ternyata galeri seni itu milik tunangannya Mikha dan acara pembukaan pameran lukisan itu karyanya Angela tentu saja menghadirkan Mikha Mahesa di sana. Aurora menoleh ke Brandon, "Kenapa kau tidak bilang kalau kau kan mengajakku ke sini, ke pameran lukisannya Angela, tunangannya Mikha?"


"Aku diundang oleh Angela dan aku ingin bikin kejutan untuk kamu. Kamu suka seni, kan?"


Aurora mendengus kesal dan bergumam lirih, "Aku suka seni, tapi aku lebih suka kalau bisa berdua saja denganmu Brandon dan tidak melihat Mikha di sini"


Aurora yang sedang kacau pikiran dan perasaannya, lebih memilih menghindari Mikha Mahesa. Namun, kenapa dia justru dipertemukan dengan Mikha Mahesa di sini.


Aurora terus mengindari Mikha dan saat suaminya mengobrol dengan beberapa tekan bisnisnya, Aurora memilih untuk menghilang diam-diam dan duduk di bangku taman sendirian.


Mikha duduk di sebelah Aurora dan saat Aurora bangkit berdiri dan bergegas melangkah menjauhi Mikha, dengan sigap Mikha menghadang langkah Aurora dan berkata, "Jangan pergi! Aku bosan di dalam dan butuh teman ngobrol"


"Kamu selalu pergi ke taman ke belakang dan menyendiri setiap kali kamu berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan bagimu"


Aurora tersenyum dan berkata, "Yeeaahhh, kau benar"


Kemudian Aurora menyerah kalah dan memilih untuk mengobrol dengan Mikha daripada masuk ke dalam.


Satu jam kemudian, Aurora bertanya,


"Apa tunangan kamu tidak akan mencari kamu? Kamu sudah cukup lama berada di sini denganku"

__ADS_1


"Tidak. Dia takkan mencariku. Aku sudah bilang padanya kalau aku akan menemui teman lama dan aku akan mengobrol cukup lama dengan teman lamaku ini" Mikha menyeringai tengil.


Aurora mendelik kaget dan menyemburkan, "Kau......"


Mikha langsung menyahut, "Lupakan tunanganku, lupakan Brandon, lupakan semuanya. Ingatlah masa lalu kita saat ini. Kau ingat dress yang kau pakai saat ini?"


"Ya, maksudku, tidak. Aku lupa. Aku akan mencari suamiku dan aku akan pulang sekarang. Marco dan Shasha menungguku di rumah. Selamat malam"


Mikha meraih lengan Aurora ketika wanita itu melangkah melewatinya. Lalu, pria tampan itu mendorong bahu Aurora sampai punggung Aurora membentur tembok. Mikha mengungkung Aurora dan setelah menyeringai tengil, pria itu berkata, "Kamu mengingatnya. Aku katakan ke kamu, Bee, aku hapal semua gerak-gerik dan ekspresi wajah kamu. Kamu ingat dress ini. Begitu juga aku. Kau mengenakan dress ini waktu kita makan malam pertama kali di Swiss" Tangan Mikha bergerak menekan pundak kanan Aurora lalu tangannya bergerak melintasi dada dengan perlahan dan menekan pundak kiri Aurora.


Tanpa Aurora sadari, ia mengerang lirih dan seketika itu semua simpul sensualnya bergetar hebat dengan diiringi detak jantung abnormal.


Mikha kembali berkata, "Kau mengenakan kalung mutiara kecil di sini" Jari jemari pria tampan berkulit cokelat itu menelusuri dasar kerongkongan Aurora dan tetap di sana untuk menggelitik dan membelai.


Aurora menengadah ke atas dan memejamkan kedua kelopak matanya.


Mikha kembali menyeringai penuh arti dan berkata, "Rambutku kau biarkan terurai" Mikha melepas gelungan rambut Aurora dan membiarkan rambut itu terurai lepas. Lalu, pria berambut bergelombang itu menarik lembut seuntai rambut di sekitar wajah Aurora dan mencium rambut itu dengan penuh kerinduan.


Ingatan akan semua hal yang dikatakan oleh Mikha kembali menyeruak nyata di benaknya. Namun, Aurora memilih untuk tetap menyangkalnya, "Aku tidak ingat"


"Ya, kau ingat, Bee" Suara Mikha begitu dekat.

__ADS_1


__ADS_2