
Ketika bibir Mikha hampir saja memagut bibir Aurora, wanita itu sontak bertanya, "Apa yang akan kau lakukan?"
Mikha refleks menarik wajahnya sambil berkata, "Tak ada"
Aurora mendorong dada Mikha lalu berbalik badan dengan cepat dan berlari pergi meninggalkan Mikha.
Mikha meraup kasar wajahnya dan beberapa kali menghela napas panjang.
"Om Mikha!" Teriak Marco yang sudah berganti baju berlari mendekati Mikha yang tengah melamun di depan kolam renang.
Mikha terkejut dan langsung menoleh ke asal suara dengan tawa renyah dan berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berkata, "Hei, jagoan!"
Marco melompat masuk ke dalam pelukan Mikha dan tertawa lepas saat Mikha membuatnya terbang seperti Superman.
Lalu, Mikha memangku Marco di atas kursi yang ada di dekat kolam renang dengan terengah-engah dan wajah berseri-seri.
Marco menatap Mikha dan bertanya dengan wajah ceria, "Mama mana, Om?"
"Mama kamu, emm, dia sedang berganti baju. Aku rasa Mama kamu saat ini ada di ruangan Papa kamu" Mikha melirik piring di atas meja dan bertanya, "Siapa yang suka roti bakar cokelat keju?"
"Aku, Om!" Marco mengangkat jari telunjuknya ke atas dengan wajah ceria.
Mikha menatap Marco dengan senyum dan sorot mata tidak percaya, lalu pemuda tampan itu berkata, "Om juga suka roti bakar cokelat keju. Om boleh minta sedikit?"
"Boleh, dong" Sahut Marco dengan tawa riang.
__ADS_1
"Thank you, jagoan" Mikha mencium pipi Marco.
Sambil memakan roti bakar cokelat keju, Mikha memandangi wajah tampannya Marco dan bergumam di dalam hatinya, kalau anakku dan Rora tidak naik ke surga. Apa anakku akan setampan ini? Mikha kembali mencium pipi Marco dan saat Marco membalas mencium pipi Mikha, tanpa Mikha sadari ia meneteskan air mata.
Marco terkejut dan sontak mengusap air mata di pipi Mikha dengan kedua telapak tangan mungilnya sambil bertanya, "Kenapa Om Mikha menangis?"
Mikha tersenyum lebar dan berkata setelah menghela napas lega, "Ini air mata bahagia. Om bahagia mendapatkan ciuman dari kamu"
Marco kembali mencium pipi Mikha dan berkata, "Aku cium lagi kalau gitu dan jangan menangis lagi!"
Mikha tertawa lepas dan langsung memeluk erat Marco sambil berkata, "Om sayang banget sama kamu"
"Aku juga, Om. Aku sayang banget sama Om Mikha" Marco mengusap punggung Mikha dengan kedua telapak tangan mungilnya dan Mikha mempererat pelukannya sambil beberapa kali menghela napas panjang dan memejamkan matanya erat-erat untuk mengusir kesedihan yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam sanubarinya.
Namun, Brandon hanya menatap sekilas lalu berkata, "Buruan ganti baju nanti masuk angin!"
Aurora melangkah pelan dan duduk di pangkuan suaminya lalu menggelungkan kedua lengannya di leher kokoh suaminya sambil bertanya, "Apa aku kurang seksi?"
Brandon menatap Aurora dengan kaget dan heran, lalu pria tampan itu menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu apa yang salah di diriku? Kenapa kamu sama sekali tidak tertarik?"
Brandon mengelus kedua bahu istrinya dan berkata, "Bukannya tidak tertarik. Tapi, aku harus segera rapat"
Aurora lalu bangkit berdiri dan melangkah ke kamar dengan wajah kesal.
__ADS_1
Brandon menatap punggung istrinya, lalu pria itu bangkit berdiri untuk memungut baju istrinya yang berserakan di lantai ke dalam keranjang khusus untuk baju kotor. "Jaket? Jaket siapa ini? Kenapa Rora bisa pakai jaket ini? Ah, sudahlah. Mungkin ini jaket salah satu karyawati hotel" Kemudian Brandon berteriak saat ia melihat istrinya belum kelar dari dalam kamar, "Sayang! Aku ke ruang rapat dulu!"
Aurora berteriak kesal dari dalam kamar, "Terserah kamu!" Lalu, wanita itu merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas kasur dan untuk sejenak ia melamun sambil memandangi langit-langit kamar. Lalu, ia teringat sama Marco. Dia masih meninggalkan Marco di kolam renang. Aurora kemudian bergegas bangun dan keluar dari dalam kamar.
"Kau..........kenapa kau ke sini?" Aurora menatap Mikha yang masih menggendong Marco dan tersenyum penuh arti.
"Om Mikha mengantarkan aku ke sini, Ma. Mama tahu nggak, Om Mikha ternyata suka sama roti bakar cokelat keju. Kenapa kesukaanku dan kesukaan Om Mikha bisa sama, ya, Ma?"
"Iya. Kenapa bisa sama. Apa kamu memikirkan aku saat kamu hamil Marco dulu?" Mikha bertanya dengan menatap lekat kedua bola mata indahnya Aurora.
Alih-alih menjawab pertanyaannya Mikha, Aurora menatap Marco dan dengan tersenyum wanita itu berkata ke putra tampannya, "Marco, kita pulang sekarang, yuk!"
Marco merosot turun dari gendongannya Mikha dan berlari ke mamanya dan berkata, "Ayok, Ma!"
"Aku akan antarkan kalian"
"Nggak usah! Aku bawa mobil"
"Mama bisa mengendarai mobil, Om. Mama aku keren banget, kan, Om" Marco berkata ke Mikha dengan enzim cerah.
"Iya, Mama kamu keren dan sangat cantik" Sahut Mikha dan sambil terus menatap lekat kedua bola mata indahnya Aurora.
Aurora langsung menggandeng Marco keluar dari dalam ruang kerjanya Brandon setelah Marco pamit sama Mikha dan Aurora tidak pamit sama Mikha.
Mikha menghela napas panjang dan hanya bisa menatap punggung Aurora dan Marco dengan sorot mata sedih.
__ADS_1