
Setelah Mikha pamit pulang dan benar-benar pulang, Aurora masuk ke dalam rumah dengan wajah riang gembira. Dia seperti anak remaja yang tengah dimabuk asmara dan mengalami cinta pertama. Ya, Aurora kembali jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang sama yakni, Mikha Mahesa.
Mikha menyetir mobilnya dengan wajah yang sama, riang gembira. Dia sungguh tidak menduga kalau Aurora mau kembali menjalani hubungan percintaan dengan dirinya mulai dari awal.
Sesampainya di rumah, Mikha masuk ke dalam kamar dan langsung mengirimkan pesan text ke telepon genggamnya Aurora, besok sore aku tunggu kamu di kafe XX untuk kencan pertama kita. Kamu boleh ajak Marco. Jam enam sore aku tunggu,ya. Aku tidak telpon karena aku yakin saat ini kamu sudah tidur nyenyak memimpikan aku. Love you, Bee.
Benar dugaan Mikha, karena kelelahan sekaligus bahagia yang membuncah bercampur menjadi satu, Aurora langsung tertidur nyenyak begitu kepalanya bersentuhan dengan bantal.
Aurora membaca pesan textnya Mikha di pagi hari dan langsung menelepon Mikha, "Maaf, aku baru baca pesan kamu. Aku langsung tidur kemarin malam"
"Aku tahu. Dengkuran kamu terdengar sampai sini" Sahut Mikha dengan terkekeh geli.
"Mana ada aku mendengkur. Enak aja! Aku nggak pernah mendengkur" Sahut Aurora.
"Mama mendengkur" Sahut Marco yang selalu tidur satu ranjang dengan Aurora sejak mereka tinggal di kediamannya Kakek Erlangga.
"Marco, ssstttt!" Aurora mendelik ke Marco dengan senyum jenaka.
Marco terkekeh geli begitu juga dengan Mikha di seberang sana.
"Iya. Kau kalah, deh. Iya, aku mendengkur" Sahut Aurora dengan helaan napas panjang.
Marco dan Mikha kembali terkekeh geli. Lalu, Aurora segera berkata, "Aku akan datang" Dan dengan cepat Aurora mematikan sambungan telepon itu.
__ADS_1
Mikha menatap telepon genggamnya dengan tawa lepas dan bergumam, "Kenapa kau selalu menggemaskan seperti ini, Bee"
Setelah selesai kuliah, Aurora mengantarkan Marco les piano jam enam tepat dan berkata ke Marco, "Mama akan jemput kamu jam delapan tepat. Tunggu Mama di dalam dan jangan keluar sebelum Mama jemput kamu, Oke?"
"Oke, Ma" Sahut Marco.
Setelah saling mencium di pipi dan kening, ibu dan anak itu pun berpisah. Marco masuk ke dalam kelas musiknya dan Aurora bergegas pergi ke kafe XX.
Mikha menerima pesan text dari Aurora, maaf aku telat. Aku harus mengantarkan Mikha ke les piano dulu. Ini aku udah meluncur. Tunggu aku.
Mikha menjawab, oke.
Wanita seksi dan sangat cantik yang duduk di depan Mikha bertanya, "Dari siapa? Apa dari anak didik kita yang baru?"
"Ah, bukan. Pesan text yang barusan saya baca adalah pesan text dari pacar saya" Sahut Mikha dengan senyum lebar.
"Baru saja kami jadian. Hubungan kami sedang hangat-hangatnya dan aku sangat mencintainya. Emm, maaf aku ngelantur. Ayo kita lanjutkan rapat kita. Kamu udah jauh-jauh datang kemari maka aku harus menghargai waktu, kan?"
Wanita seksi dan sangat cantik itu menganggukkan kepala dengan wajah kecewa, namun Mikha tidak menyadari kekecewaan di wajah wanita itu.
Aurora melangkah ke halaman kafe XX dan dengan cepat ia bisa menemukan Mikha Mahesa. Sosok pria itu memang paling menyita perhatian. Tampan jangkung, dan berpenampilan apa adanya. Namun, Aurora mengurungkan langkahnya saat ia ingin menghampiri mejanya Mikha karena ia melihat ada wanita yang sangat seksi dan sangat seksi duduk di depan Mikha.
Seketika Aurora terbakar cemburu, namun dia tidak akan bertindak seperti remaja. Aurora memilih mengabaikan Mikha. Setelah menyibakkan rambut dan mengangkat dagu, Aurora membuka pintu kafe dan berjalan ke dalam. Udara sore dan aroma masakan yang menggoda langsung menyapanya. Aurora mengikuti aroma itu dengan menaiki anak tangga dan berhenti di depan meja pemesanan makanan yang ada di lantai dua.
__ADS_1
Setelah memesan makanan dan minuman, Aurora memilih untuk duduk di meja yang berada di pinggir dari meja itu Aurora bisa melihat Mikha masih asyik mengobrol dengan seorang wanita yang sangat cantik dan seksi di sebuah meja bulat yang ada di halaman depan kafe super mewah tersebut. Aurora melihat Mikha menyeruput kopinya. Seperti biasanya Mikha memakai kaos putih dan jaket kulit yang dipadukan dengan celana jins belel. Dagu Mikha dibayang-bayangi janggut tipis dan rambut bergelombangnya Mikha yang tampak sedikit panjang tidak disisir.
Meskipun begitu, Mikha terlihat sangat tampan.
Aurora kemudian melihat wanita cantik dan seksi yang ada di depannya Mikha. Wanita itu memakai dress malam panjang berwarna merah menyala dengan belahan di samping kiri hingga ke paha. Lalu, bagian depan dress itu begitu rendah dan longgar sehingga memperlihatkan belahan seksi di sana. Kedua belahan itu sengaja dipertontonkan oleh wanita itu ke Mikha. Namun, Aurora bisa melihat kalau Mikha tidak memperhatikan belahan tersebut. Mikha fokus kepada berkas-berkas yang berserakan di atas meja dan pandangan Mikha terus terarah ke mata wanita itu.
Aurora hampir saja bangkit berdiri dan berlari ke bawah untuk mendamprat wanita yang sangat cantik dan sangat seksi itu ketika ia melihat tangan wanita itu memegang paha Mikha.
Mikha tampak tersentak kaget dan spontan bangkit berdiri dan menepis sopan tangan wanita itu.
"Dasar wanita ular. Kenapa kau terus menggoda Mikha? Aku cemburu saat ini, tapi gengsi kalau aku memperlihatkan kecemburanku saat ini. Aku sudah tua dan bukan saat lagi bagiku untuk mengumbar kecemburuan" Aurora bergumam kesal sambil bersedekap dan menyilangkan kakinya.
Aurora kemudian melihat Mikha terburu-buru membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja bulat itu dan memasukkan semua berkas ke dalam tas selempang. Ketika Mikha berbalik badan, wanita seksi itu nekat memeluk Mikha dari arah belakang. Aurora sontak bangkit berdiri dan saat Aurora ingin melemparkan sepatunya ke bawah agar sepatunya mengenai kepala wanita tidak tahu diri itu, Mikha mengurai dekapan wanita itu dan berlari kencang menjauhi wanita itu.
Aurora tersentak kaget saat telepon genggamnya berdering dan itu dari Mikha, "Halo?"
"Apa kau sudah sampai? Apa perlu aku jemput?"
"Aku sudah sampai"
"Hah?! Lalu, kau di mana sekarang?"
"Di lantai dua di meja paling pinggir sisi timur"
__ADS_1
"Oke. Aku ke sana" Mikha berlari menaiki anak tangga dan langsung menoleh ke timur. Mikha melambaikan tangan dengan senyum ceria saat ia berhasil menemukan sosok wanita yang sangat ia cintai.
Sementara Aurora tetap bersedekap dan menyilangkan kaki.