Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Dentuman Jantung


__ADS_3

"Kalau begitu, aku akan pulang dan........"


"Kalau kamu pulang aku akan ikut kamu pulang dan mengobrol di rumah kamu. Kebetulan aku belum pernah ke rumah kamu karena semalam, kamu memintaku mengajak kamu pulang ke rumahku ini" Mikha tersenyum tengil.


"Kau! Kenapa kau, kau...........huffttttt! Oke, kita mengobrol saja di sini. Tapi, jangan bahas soal semalam dan aku beri kamu waktu satu setengah jam dan setelah satu setengah jam, aku akan pulang" Aurora mendengus kesal.


"Oke, deal!" Mikha tersenyum lebar penuh kemenangan.


"Boleh aku cicipi kue bikinan kamu dulu?"


"Silakan" Mikha tersenyum lebar.


"Hmm. Enak. Kamu pandai bikin kue. Kapan-kapan ajari aku dan ......." Aurora langsung mengentikan ucapannya saat Mikha menyentuh sudut bibirnya dan berkata, "Ada remahan kue di bibir kamu. Kamu ternyata belum berubah, Rora. Kalau makan masih suka belepotan. Padahal kamu udah dewasa sekarang"


Aurora berdeham untuk mengusir rasa canggungnya dan langsung mengalihkan pandangannya.


"Kamu cantik banget, Rora. Dari kecil kamu sudah memiliki wajah cantik yang sempurna"


Aurora sontak menoleh ke Mikha dan pemuda itu tersenyum tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik wanita pujaan hatinya itu.


"Jangan memandangiku terus!" Aurora langsung mengalihkan pandangannya dan kembali berkata, "Rumah kamu sangat besar dan aku suka desainnya. Kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?"


"Kalau tanya, tuh, bukannya harus menatap lawan bicara, ya? Kenapa kau memberikan contoh yang tidak baik ke murid kamu, Rora?" Mikha mengulum bibir menahan senyum setalah berkata seperti itu.


Aurora mendengus kesal, lalu ia menoleh ke Mikha dan bertanya kembali, "Kau tinggal sendirian di rumah sebesar ini?"

__ADS_1


"Hmm. Sejak Mamaku meninggal aku........."


"Tante Nisita sudah meninggal dunia? Kapan?"


"Sejak aku masih kecil dan sejak itu aku tinggal sama Papaku. Tapi, aku tidak akur sama Papa. Lalu, aku memilih tinggal di Belanda selama ini. Tapi, akhirnya aku balik lagi ke sini karena aku merindukan kamu" Mikha tersenyum penuh arti.


Aurora mengabaikan senyum Mikha dan memilih untuk berkata, "Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Tante Nisita. Lalu, kenapa kamu tidak tinggal bersama Papa kamu?"


"Terima kasih, Rora dan kenapa aku tidak tinggal dengan Papaku, ya, itu tadi. Aku sudah bilang, kan, kalau aku tidak cocok dengan Papaku"


Aurora memindai penampilan Mikha yang tengah menginjaknya mengibrol santai. kaos polos yang dipakai pemuda itu kerahnya berbentuk bulat dan terlihat longgar, memamerkan pangkal leher yang maskulin. Secara naluriah, tanpa dikomando, Aurora menggeser pantatnya untuk duduk lebih dekat dengan pemuda itu. Wanita itu bertanya-tanya seperti apa rasanya mengusap kulit maskulin kecokelatannya Mikha Mahesa, mencecap, menggodanya, sehingga pemuda tampan itu tidak punya pilihan lain selain meraihnya dan.........


"Apa kau kedinginan?" Mikha menautkan kedua alisnya saat ia melihat Aurora terus menggeser pantat hingga bahu wanita cantik itu menempel ke bahunya.


"A.....apa? Ah, iya! Kenapa aku bisa menempel ke kamu seperti ini?" Aurora mengutuk kebodohannya yang telah mempermalukan dirinya sendiri, wanita itu kemudian dengan cepat menggeser pantatnya mundur ke belakang untuk menjauhi Mikha.


Aurora langsung meraup kader wajahnya dan bergumam lirih, "Kenapa aku bodoh banget bisa tiba-tiba nempel ke Mikha?" Aurora kemudian menatap ke depan dan tiba-tiba ia bisa merasakan tubuhnya seolah meleleh karena gairah. hanya memandang punggung pemuda itu telah membuat Aurora sangat mendambakannya. Aurora bisa merasakan wajahnya memanas, jantungnya berdebar kencang akibat fantasi liar yang menari-nari di benaknya. Semua pikiran sensual itu membuatnya syok. Seketika Aurora bangkit berdiri dan berbalik badan dengan cepat untuk melangkah lebar ke teras depan. Ia butuh menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Mikha melangkah mendekati Aurora tanpa mengeluarkan suara. Pemuda tampan itu kemudian nekat memegang kedua bahu Aurora yang membuat Aurora tersentak kaget dan seketika berbalik badan.


Gelas berisi minuman soda yang dibawa Aurora miring ke depan dan isinya tumpah di kaosnya Mikha.


"Ma ...maafkan aku! Kenapa juga kau menyentuhku tiba-tiba? Aku, kan, kaget dan minumanku tumpah di kaos kamu, kan? Aku akan ganti kaos kamu dan........"


"Stop!" Mikha menutup mulut mungil Aurora dengan telapak tangannya yang besar.

__ADS_1


Aurora menarik tangan Mikha dari mulutnya dan berkata, "Buka kaos kamu!"


"Kamu yakin mau melihat aku membuka kaos di depan kamu?"


"Iya! Buruan! Kalau kelamaan akan sulit untuk dicuci. Aku akan mencucinya dan.........blush!" Seketika Aureoa menyesali ucapannya. Dia melihat Mikha melepas kaos dan melemparkan kaos itu ke sembarang arah sambil berkata, "Aku masih punya banyak kaos. Jadi, nggak usah kamu cuci kaosku. Aku nggak mau tangan halus kamu itu kamu pakai untuk mencuci kaosku"


Dengan jantung berdentum, ia terus menatap dada bidang pemuda itu. Tinggi Mikha Mahesa 185 sentimeter, dengan tubuh atletis, rambut lebat berwarna cokelat dan bola mata yang memiliki warna senada dengan rambutnya, membuat pemuda itu mampu menghipnotis semua wanita yang memandanginya lebih dari dua detik


"Kau ingin menyentuhnya? Sentuhlah! Aku akan biarkan kamu melakukan apapun yang kamu inginkan" Pemuda itu berkata dengan suara yang begitu rendah sehingga terdengar seperti bisikan yang membuat jantung Aurora berdentum tak beraturan.


Entah bagaimana, Aurora benar- benar menumpangkan tangan kanannya ke dada pemuda tampan itu. Wanita itu menyentuh tanda merah keunguan di dada atas sebelah kanan pemuda itu.


Mikha langung menahan tangan Aurora di sana dan berkata, "Tanda ini adalah hasil dari perbuatan kamu semalam. Apa sekarang ini kau sudah sadar betapa panas dan liarnya dirimu semalam?"


Aurora yang terhipnotis dada atletis pemuda itu, mengabaikan semua ucapannya Mikha. Kulit pria itu terasa hangat dan tampak berkilat dengan warna cokelat tua, sementara saat Aurora mendongak, wanita cantik itu melihat garis-garis halus tampak mengelilingi mata pemuda itu. Matanya...........


Napas Aurora seakan terperangkap di dadanya dan gelombang rasa pening sensual memenuhi dirinya. Ia sama sekali tidak pernah menyadari kalau Mikha Mahesa memiliki mata cokelat pekat yang sangat indah, namun kini mata itu penuh misteri. Sorot mata khas milik pemuda tengil itu mampu menghipnotis wanita lugu seperti Aurora.


Melihat Aurora membeku di depannya, Mikha nekat menangkup rahang Kanan wanita itu, lalu ia mengusap pipi Aurora dengan ibu jarinya. Aurora refleks menutup kedua matanya dengan tubuh gemetar. Lalu, pemuda itu menyusurkan bibirnya di pipi Aurora hingga sampai ke telinga wanita itu dan berbisik di sana, "Aku akan ajak kamu ke tempat yang kamu sukai. Ikuti aku!"


Mikha menarik wajahnya dan melepaskan rahangnya Aurora, kemudian pemuda tampan itu berbalik badan menuju ke pintu yang mirip dengan lift yang ada di ujung timur teras depan rumahnya Mikha.


Dan benar dugaannya Aurora, pintu itu memang pintu lift. Melihat Mikha masuk ke dalam pintu lift itu, Aurora sontak berlari kecil dan masuk ke dalam lift itu.


Tidak begitu lama pintu lift kembali terbuka dan Aurora sontak membeliak kaget dan memekik, "Wow! Ada kolam renang di rooftop kamu dan dari sini aku bisa melihat indahnya lampu kota"

__ADS_1


"Kau suka melihat lampu kota dari loteng waktu kita masih kecil dulu. Aku tahu kamu akan menyukainya jadi aku ajak kamu ke sini"


Aurora menoleh ke Mikha dan jantungnya kembali berdentum keras saat pemuda itu berjalan pelan mendekatinya dengan terus menatapnya.


__ADS_2