
Mikha kemudian menggendong Aurora bak Koala dan membaringkan Aurora di atas meja makan. Aurora tersentak kaget dan refleks menutup dada dengan kedua telapak tangannya.
"Kalau malu telungkup lah!"
"Ka.....kau mau apa Mikha?"
Telungkuplah dan kau akan tahu. Aku yakin kau pasti menyukainya"
Aurora segera telungkup dan dia tersentak kaget lalu menoleh ke belakang untuk bertanya "Kau tuangkan apa di punggungku, Mikha?"
"Madu dan diamlah! Nikmati saja permainanku, Rora" Mikha kemudian menjilat madu yang dia tuangkan di punggung Rora hingga ke pantat.
Aurora sontak memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya. Kemudian wanita itu tersenyum senang dan bergumam, "Aku menyukainya, Mikha"
Setelah itu, Mikha membalik badan Aurora dan berkata, "Aku ingin memiliki kamu di setiap sudut rumahku, Rora" Lalu, ia mengajak Aurora bercinta di atas meja makan.
Setelah keduanya memekikkan kepuasan secara bersamaan, Mikha membopong Aurora naik ke kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi. Ia memutar keran ke tombol hijau dan mengucur lah air hangat dari shower.. Dia memandikan Aurora di bawah keran air hangat, Mikha memanjakan Aurora dan di sana, Mikha kembali mengajak Aurora bercinta.
Saat Aurora terkulai di dalam pelukannya, Mikha meraih handuk mandi, melilitkannya di tubuh Aurora dan membopong Aurora ke ranjang. Dengan pelan, Mikha memangku Aurora. Lalu, pria tampan itu mengambil hair dryer dari laci dan mencolokkannya sambil berkata, "Aku tahu kamu sudah sangat lelah, tapi rambut kamu harus dikeringkan dulu. Kalau nggak nanti kamu pusing tidur dengan rambut yang masih basah. Sandarkan kepala kamu di pundakku dan aku akan keringkan rambut kamu"
Aurora menuruti permintaan Mikha dan tidak begitu lama kemudian, wanita cantik itu mendengkur lirih dan tertidur pulas.
Mikha tersenyum melihat tingkah polosnya Aurora. Lalu, ia meletakkan. hair dryer di atas nakas kemudian merebahkan Aurora dengan pelan di atas ranjang. Pemuda tampan itu mencium kening Aurora saat ia menarik selimut sampai ke pundak Aurora. Lalu, ia berbisik, "Selamat tidur dan mimpi indah Kak Rora"
Sedikit kreatifitas dan kenakalan sederhana yang Mikha kenalkan pada Aurora tentang bercinta membuat Aurora merasa lebih hidup, bebas dan dia bisa menunjukkan sisi liar dirinya di depan Mikha tanpa malu-malu lagi Dia juga merasa cinta yang ada di hatinya kali ini menjadi lebih indah dan ceria.
Aurora juga merasa dia semakin dekat dengan Mikha dan tentu saja dia lebih merasa bahagia jika dibandingkan saat ia berpacaran dengan Theo yang kaku dan egois. Itulah kenapa di hari Minggu yang cerah, Aurora terbangun di dalam dekapan hangatnya Mikha Mahesa dengan senyum penuh kebahagiaan dan cinta. Wanita cantik itu memandangi wajah tampan bocah tengil dengan wajah yang masih menyisakan lelah karena semalam, bocah tengil itu mengajaknya bercinta secara gila-gilaan.
Aurora menggerakan jari jemarinya menyusuri wajah Mikha sambil bergumam, "Kenapa aku bisa jatuh cinta sama bocah tengil yang dulu sangat aku benci dan kenapa aku bisa membuang jauh-jauh semua prinsipku. Aku menyerahkan segel kesucianku kepada kamu sebelum aku menikah dan aku berpacaran dengan Muridku"
"Aku akan bertanggung jawab, Rora" Mikha Mahesa membuka mata dan langsung menarik selimut untuk mengajak Aurora berolahraga di pagi hari.
"Aaaaaaaa!!!!! Mikha!!!!!!!! Dasar bar-bar kamu!!!!!! Semalam, kan sudah.... hmpppttthhh!"
Mikha langung membungkam bibir Aurora dengan bibirnya dan kembali melanjutkan aktivitas tangannya. Alhasil Auroa kembali tertidur lelap dan Mikha menyelimuti Aurora kemudian setelah mengecup bibir wanita itu, Mikha turun dari ranjang, berlari ke kamar mandi dan setelah mandi, ia bergegas keluar dari kamar dan langsung turun untuk menuju ke dapur. Dia ingin memasak dimsum untuk Aurora.
Tepat jam sebelas siang Aurora terbangun karena ia merasa lapar. Wanita cantik itu turun dari atas ranjang dengan badan remuk redam. Dia berjalan ke kamar mandi dengan malas-malasan. Dia mandi dengan super kilat dan bergegas turun karena rasa lapar sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Dimsum! Ah, Mikha kenapa kamu selalu memanjakan aku seperti ini?"
Mikha memagut bibir Aurora lalu berkata dengan sorot mata penuh cinta, "Karena kamu pantas untuk dimanjakan. Makan yang banyak! Kamu sudah bekerja sangat keras semalam dan lagi tadi" Mikha tersenyum tengil dan Aurora langung menepuk bahu Mikha cukup keras sambil berkata, "Dan itu salah kamu!"
__ADS_1
Mikha terkekeh geli dan berkata, "Iya, semuanya salah aku dan aku akan menebusnya dengan benar"
"Kamu udah memasak dimsum untukku. Ini sudah cukup, Mikha"
"Nggak! Belum cukup. Habis ini, aku akan ajak kamu ke wahana permainan. Aku ingat banget kalau dulu kita sering bermain Komidi putar dan kamu suka banget naik kuda poni berwarna putih"
"Kamu bahkan masih ingat aja. hal itu?" Aurora membeliak kaget
"Aku ingat semuanya, Rora. Aku ingat semuanya jika itu tentang kamu" Mikha menatap tajam
Mikha dan Aurora menghabiskan waktu mereka di salah wahana bermain terbesar di kota J dengan penuh tawa kebahagiaan dan penuh cinta.
"Kau dulu pernah menangis waktu aku paksa naik Komidi putar. Dasar bocah cengeng penakut"
Mikha mencubit hidung Aurora dengan pelan lalu berkata, "Aku bukannya takut, tapi aku pernah jatuh dari kuda di peternakan kuda milik Papaku, jadi aku trauma sama yang namanya kuda"
Aurora terkekeh geli dan berkata kembali, "Kamu juga menangis waktu kamu kalah main bump-bump car sama Shasha"
"Aish! Nyesel aku ngajak kamu ke sini" Mikha langung memalingkan muka dan cemberut.
Aurora tertawa lepas dan langsung melangkah lebar ke depan untuk berhadapan dengan Mikha, lalu ia memeluk pinggang Mikha dan mengecup bibir Mikha, "Masih marah?"
Mikha masih cemberut dan bergeming.
Mikha langung tersenyum lebar dan berkata, "Sudah nggak marah. Tapi, kamu nggak boleh lagi bahas masa kecilku yang memalukan di sini"
"Iya" Aurora berkata dengan mengulum bibir menahan senyum.
"Janji?" Mikha menatap dalam-dalam kedua bola mata Aurora.
"Janji" Aurora mengangkat dua jarinya di depan Mikha.
Mikha langsung menggenggam tangan Aurora dan berkata, "Oke, kita istrirahat bentar makan es krim terus kita lanjut ke permainan roller coaster"
"Yakin mau main roller coaster? Nanti kamu ......."
"Aku apa?"
Aurora langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil mengulum bibir menahan senyum..
"Kau ingin meledekku lagi, ya?"
__ADS_1
"Nggak!" Sahut Aurora sambil berlari meninggalkan Mikha dan wanita itu mencebikkan bibirnya ke Mikha.
Mikha menyusul laju larinya Aurora dengan senyum lebar dan bergumam, "Kenapa dia imut banget pas ngejahilin aku? Bikin aku nggak bisa beneran marah sama dia. Huffttt! Sabar Mikha"
"Aku sudah mengajak kamu pergi ke wahana bermain maka sekarang giliran kamu menemani aku menonton konser musik" Mikha berkata sembari melajukan mobil jeepnya.
"Konser musik apa?" Tanya Aurora.
"Konser musik rock. Salah satu grup band favoritku mengadakan konser di sebuah kelab malam"
"Baiklah. Tapi, kamu nanti jangan jauh-jauh dariku. Aku masih trauma pergi ke kelab malam"
"Iya. Aku akan selalu ada di samping kamu" Sahut Mikha sembari mengelus rambut Aurora.
Selama menikmati musik rock di sebuah kelab malam yang mewah dan besar, Mikha selalu berada di sampingnya Aurora dan tidak memberikan celah sedikit pun kepada semua pria yang melirik Aurora dan ingin berkenalan dengan Aurora lewat lirikan mereka itu.
Tiba-tiba telepon genggamnya Aurora berbunyi dan demi menjaga kekasihnya, Mikha rela kehilangan satu lagu yang dimainkan oleh grup band rock favoritnya. Mikha rela menemani Aurora.duduk di dalam mobil untuk menerima panggilan telepon dari salah satu koleganya Aurora yang bernama Bagas.
Mikha merapikan roknya Aurora berkali-kali saat ia tahu kalau yang menelepon Aurora adalah seorang pria padahal panggilan telpon itu bukanlah panggilan video call.
Setelah selesai menerima telepon, Aurora.langsung bertanya ke Mikha, "Kenapa kau terus merapikan rok-ku?"
"Karena yang nelpon kamu cowok"
"Tapi, panggilan telepon tadi bukan panggilan video call. Pak Bagas bahkan tidak tahu kalau aku pakai rok saat ini. Aneh banget, sih, kamu"
Alih-alih ingin protes dengan sikap posesifnya Mikha yang kelewat batas, Aurora justru kena kecemburuannya Mikha, "Kenapa Pak Bagas mengajak kamu pergi dinas ke Lombok besok lusa dan berdua saja?"
"Itu perintah rektor, Mikha"
"Dia pasti ada niat sama kamu. Aku ikut"
"Mikha"
"Pokoknya aku ikut"
"Kalau kamu ikut, kamu nggak kuliah dong"
"Bodo amat. Nggak kuliah beberapa hari nggak akan membuat nilai anjlok. Pokoknya aku ikut"
"Kita bicarakan lagi nanti. Sekarang kita selesaikan nonton konsernya, yuk!"
__ADS_1
"Nggak! Kita pulang aja. Aku udah nggak minat lagi nonton konser" Mikha langung memasang sabuk pengamannya Aurora, memasang sabuk pengamannya sendiri, lalu melajukan mobil jeepnya dengan wajah kesal.
"Hufftttt" Aurora hanya bisa menghela napa panjang.