
"Wah! Ada ayunannya juga" Aurora berlari kecil ke ayunan dan duduk di sana.
Mikha tersenyum bahagia melihat wajah Aurora ceria. Pemuda tampan itu kemudian berjalan ke pelan ke ayunan dan duduk di ayunan yang kosong.
"Kau cantik banget kalau tersenyum lebar seperti itu, Rora"
Aurora menoleh ke pemuda tampan itu dan semakin melebarkan senyumannya di depan Mikha, lalu berkata, "Simpan gombalan kamu itu untuk cewek ABG di luar sana"
"Aku nggak gombal. Aku serius dan asal kau tahu, aku nggak pernah memuji seorang wanita setulus ini" Mikha menatap dalam-dalam kedua bola mata Aurora.
Aurora langsung mengalihkan pandangannya ke depan dan berdeham untuk mengusir gelisah di hatinya.
Sial! Kenapa tatapan bocah tengil ini membuat hatiku jadi jumpalitan begini. Batin Aurora sambil kembali berdeham dan mengayunkan pelan ayunan yang ia duduki.
Mikha menyentuh rambut Aurora, lalu ia lepas ikatan di rambut Aurora sambil berkata, "Biarkan rambut kamu bebas menikmati angin"
Aurora menghentikan ayunan dan menoleh ke Mikha untuk menyemburkan, "Kenapa kamu suka banget menyentuhku tanpa permisi"
"Untuk apa pakai permisi. Kita sudah tidur bersama semalam, kan"
Aurora langsung bangkit berdiri dan dengan sigap Mikha mencekal pergelangan tangan wanita cantik itu dan menariknya.
Bruk! Aurora terjatuh di atas pangkuannya Mikha.
Mikha menahan paha Aurora ketika wanita itu ingin bangkit berdiri dari pangkuannya dan dengan tanpa permisi, pria tampan itu menempelkan keningnya di kening Aurora dan berkata dengan suara dalam yang seksi, "Apa kau mau memercayai aku, Rora? Memercayai aku untuk mencintaimu dan membahagiakan kamu. Aku serius kali ini dan aku belum pernah seserius ini sebelumnya. Maukah kau jadi pacarku, Rora?"
Mendengar suara seksinya Mikha Mahesa dan mencium wangi mint pemuda maskulin itu, membuat napas Aurora seketika tertahan di paru-paru dan di saat ia butuh mereguk oksigen, wanita itu mendongak dan mencium bibir Mikha.
Mikha terkejut, namun pemuda itu kemudian tersenyum semangat dan perlahan-lahan pemuda bertubuh atletis itu mengunci bibir Aurora dengan intens dan lembut. Mikha tersenyum senang saat ia merasakan Aurora mengikuti arusnya. Kemudian pemuda itu menggigit pelan bibir Aurora agar bibir wanita pujaan hatinya itu terbuka dan ia bisa melibatkan lidah di dalam ciumannya.
Saat Mikha nekat menangkup gundukan kenyal dan memainkan tangannya di sana di sela ciuman sensualnya, Aurora sontak menangkap tangan Mikha sambil berkata dengan napas terngah-engah, "Aku belum bisa, maafkan aku"
Aurora lalu menegakkan wajahnya, namun karena ia masih butuh menenangkan jantungnya, wanita itu menempelkan keningnya ke kening pemuda itu.
__ADS_1
Mikha menarik tangannya dari gundukan kenyal, lalu ia memeluk pinggang Aurora dengan kedua lengan kekarnya dan tanpa mengucapkan kata-kata, ia mencium pucuk kepalanya Aurora.
Aurora bisa mendengar dengan baik kalau jantung pemuda itu masih berdegup abnormal.
Di saat Mikha mengelus pelan rambutnya, Aurora berkata, "Apa ini tidak terlalu dini?" Aurora yang masih menempelkan keningnya di dada Mikha berucap dengan mata tertutup dan napas terengah-engah.
Mikha menghela napas panjang dan dengan masih mengusap lembut rambut Aurora, pemuda itu berkata, "Saat Mamaku meninggal semuanya serba mendadak dan itu mengajarkan aku bahwa hidup itu sangat singkat, kesempatan itu datang hanya sekali dan aku tidak mau menyia-nyiakan hal baik yang di depan mataku saat ini. Aku tidak percaya dengan kata dengan tanda kutip terlalu dini. Jadilah pacarku sekarang juga, Rora. Jangan berpikir lagi kalau ini terlalu dini"
Aurora langsung menarik keningnya dari kening Mikha dan bangkit berdiri sambil berkata, "Maaf. Aku baru saja putus dengan tunanganku karena ia selingkuh. Aku masih butuh waktu untuk bisa memercayai seorang pria. Apalagi kamu lebih muda dariku dan kamu adalah muridku"
Saat Mikha ingin menggenggam tangan Aurora, wanita itu berbalik badan dengan cepat dan melangkah lebar menuju ke bibir rooftop.
Mikha bangkit berdiri dan berjalan pelan mendekati Aurora.
Pemuda itu kemudian menoleh ke Aurora untuk bertanya, "Lalu, kita ini apa sekarang? Kita sudah bercinta habis-habisan semalam. Kita juga sudah berciuman sangat dalam barusan. Lalu, kita apa sekarang ini Rora?"
Aurora menghela napas panjang dan tanpa menoleh ke Mikha ia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, "IQ kamu sangat tinggi. Kenapa kamu nggak lanjutkan pendidikan bisnis kamu di Amerika, tapi malah ganti jurusan psikologi dan ambilnya di sini?"
Mikha tersenyum kesal melihat Aurora memilih untuk mengalihkan pembicaraan, namun pemuda itu tidak berbalik pergi dan meskipun kesal, ia masih bersedia bersabar dan menjawab pertanyaannya Aurora,"Untuk mengobati luka batinku dan untuk bertemu denganmu dan satu lagi untuk melawan keinginan Papaku"
Mikha mengulas senyum di wajah tampannya dan berkata dengan nada santai, "Iya. Aku sudah tahu. Makanya aku mendaftar ke kampus yang ada kamunya"
"Dasar gila"
"Iya. Aku gila karena kamu"
Aurora tidak menanggapi ucapannya Mikha itu dan dia memilih berkata, "Papa dan Mamaku pasti senang banget kalau mereka bisa bertemu lagi dengan kamu"
Mikha kembali tersenyum kesal, namun ia masih bersedia mengikuti alur pembicaraannya Aurora, "Bagaimana kabarnya Om Dito dan Tante Tika? Mereka sehat, kan?"
"Sehat. Papa dan Mama menetap di Amerika sekarang. Banyak kerabat kami yang tinggal di Amerika"
"Apa kau pernah ke Amerika?" Mikha bertanya sembari menyelipkan rambut Aurora di balik telinga.
__ADS_1
Kali ini Aurora membiarkannya. Kemudian wanita itu berkata, "Pernah. Cuma sekali dan cuma satu Minggu di sana. Aku nggak betah tinggal di sana lama-lama karena aku nggak doyan makanan di sana. Sudah terbiasa makan nasi soalnya. Wong Jawa lak ora mangan sego durung wareg (Orang Jawa kalau nggak makan nasi belum kenyang)"
Mikha sontak tertawa ngakak mendengar selorohannya Aurora itu. Lalu, pria tampan itu berkata, "Kamu punya wajah indo dan cenderung bule, tapi nggak doyan makanan Amerika. Lalu, semboyan mangan ora mangan penting ngumpul (Makan nggak makan yang penting kumpul) berarti, nggak cocok sama semboyan kamu itu, ya. Hahahahaha"
Aurora ikutan tertawa ngakak, lalu berkata, "Iya. Nggak cocok sama semboyanku. Aku kalau nggak makan nasi nggak bisa mikir dan nggak bisa lihat orang dengan jelas"
"Kamu beruntung masih punya keluarga yang lengkap, Rora. Tidak seperti aku. Aku anak korban dari perceraian. Orangtuaku akhirnya bercerai karena, Mamaku terlalu sibuk bekerja. Almarhum Mamaku wanita karir yang hebat dan itu membuat Papaku merasa tersaingi dan cemburu dengan karirnya Mama. Alih-alih berbicara baik-baik, Papa justru membawa anak haramnya ke rumah dan mendorong Mama pergi dari hidupnya"
Aurora menatap lekat kedua bola mata indahnya Mikha Mahesa, kemudian ia berkata, "Aku turut prihatin mendengar semua itu. Sungguh. Jadi, kamu punya adik tiri?"
"Bukan adik. Tapi, Kakak tiri. Namanya Brandon dan dia sangat menyebalkan"
"Sama seperti kamu. Waktu kecil kamu sangat menyebalkan. Aku sering dibuat kesal sama kamu"
"Lalu, sekarang bagiamana? Apa aku masih menyebalkan dan membuat kamu kesal, Rora?" Mikha berkata sembari melangkah pelan mendekati Aurora kerena pemuda itu ingin memeluk Aurora.
Aurora berbalik badan dengan cepat dan berkata, "Aku harus pulang. Ini sudah jam sepuluh malam"
"Aku akan antarkan kamu" Mikha melangkah pelan mengekor langkahnya Aurora.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Lagian aku bawa mobil"
"Tinggalkan mobil kamu di sini. Aku akan suruh supirku mengantarkan mobil kamu ke kampus besok. Ini sudah malam. Bahaya bagi seorang cewek cantik macam kamu kalau pulang sendirian. Perjalanan ke sini menuju ke rumah kamu melewati hutan karet, kan?"
"Sial! Iya, kamu benar. Baiklah aku minta tolong kamu untuk mengantarkan aku pulang"
"Dengan senang hati Nona cantik. Pangeran kamu yang tampan ini akan mengantarkan kamu sampai ke rumah kamu dengan selamat"
Beberapa menit kemudian, Aurora memekik kaget, "Hah?! Naik motor gede?"
"Iya. Biar cepat sampai dan aku ingin merasakan pelukan kamu dari arah belakang, Rora" Mikha memasangkan helm di kepala Aurora dengan senyum tengil.
"Dasar gila. Kalau ini belum malam banget, aku pilih jalan kaki" Ucap Aurora sambil melompat naik ke motor gedenya Mikha.
__ADS_1
Mikha sontak tertawa ngakak.
Dan Aurora memeluk pinggang Mikha dari arah belakang dengan mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! Aku kembali menyerah kalah di pesona bocah tengil ini? Huuffttt!