Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Kesal


__ADS_3

Mikha, Shasha, dan Marco duduk di bangku yang sudah disediakan khusus bagi mereka. Bagi khusus untuk keluarga author terkenal dengan nama pena, Bee dan author Bee yang sudah menelurkan dua buku novel yang karis manis di pasaran.


Mikha tersenyum bahagia karena Arurora memakai nama Bee untuk dijadikan nama pena.


Aku masih berarti di hatinya. Batin Mikha dengan senyum semringah.


Namun, senyum semringah di wajah tampannya Mikha langsung lenyap saat ia melihat seorang pria muda dan tampan duduk di sebelahnya Aurora dan tersenyum penuh arti ke Aurora.


Mikha menoleh ke Shasha saat Marco turun untuk mengambil minum di tempat yang tidak jauh dari tempat mereka duduk dan sebelum Mikha bertanya, Shasha segera berkata, "Dia Abimanyu Kusuma, umur dua puluh delapan tahun, masih lajang, sangat tampan, cowok culun berkacamata yang sopan, dia adalah pemilik perusahaan percetakan yang menerbitkan dua buku novelnya Rora, dan dia..........."


"Naksir Rora" Mikha menggeram kesal.


"Yups. Kau benar. Tapi, Rora selalu menolaknya. Walaupun tahu Rora sudah menikah, dia tidak pernah patah semangat untuk terus mendekati Rora" Sahut Shasha.


"Dasar brengsek!"


"Hei! Jangan mengumpat! Marco jalan ke sini. Kau harus menahan diri untuk tidak mengumpat"


Mikha menghela napas panjang untuk mengusir kecemburuan dan kekesalannya.


Sial! Kenapa pesona Rora belum pudar. Masih banyak pria yang menginginkan dirinya padahal dia sudah menikah dan punya anak. Aku akan bikin perhitungan sama cowok itu. Batin Mikha dengan wajah penuh kecemburuan.


Begitu acara selesai, Marco mengajak Shasha mengambil balon yang bisa dibentuk menjadi beragam bentuk sementara Mikha berlari ke depan, menggamit pinggang Auroa dengan penuh rasa kepemilikan, lalu mendorong dada pria yang bernama Abimanyu Kusuma agar berdiri jauh dari Aurora dan Mikha kemudian berkata, "Saya minta Anda jangan mendekati Rora lagi! Dia sudah menikah dan punya anak. Dia tidak mungkin Anda miliki. Cari saja wanita lain!"


Aurora menoleh terkejut ke Mikha dan spontan menarik lengan Mikha dari pinggangnya, namun Mikha menahannya.


Pria tampan berkacamata yang memang mencintai Aurora, tersenyum dan berkata sambil membetulkan letak kacamatanya, "Lalu, Anda siapa?"

__ADS_1


"Aku adalah........"


"Ini adik iparku, Abu. Mikha memang suka seperti ini. Spontan dan maafkan dia kalau dia kurang sopan" Sahut Aurora sambil menarik lengan Mikha dari pinggangnya.


Mikha akhirnya menyerah dan melepaskan pinggang Auroa. Namun, sebelum pria yang bernama Abimanyu Kusuma itu berkata, Mikha menarik tangan Aurora untuk meninggalkan pria itu.


Abimanyu Kusuma menatap punggung Aurora dan bergumam lirih sambil membetulkan letak kacamatanya, "Aku akan tetap mencintaimu kamu dan tidak akan pernah mencintai wanita lain selain kamu, Rora. Semoga kita berjodoh meskipun kamu sudah menikah dan punya anak, aku masih berharap Kuta berjodoh"


Aurora menarik tangannya dari genggaman tangan Mikha dan mendelik, "Kenapa kau berlaku tidak sopan pada Abi?"


"Kita nggak akan bahas si culun itu di sini. Kita ke perkebunanku dulu. Marco dan Kak Shasha sudah menunggu kita" Mikha berkata dengan wajah datar dan nada dingin. Lalu, pria tampan itu berbalik badan meninggalkan Aurora begitu saja. Mikha dibakar cemburu mendengar Aurora memanggil si culun itu dengan panggilan yang akrab dan si culun itu juga tampak akrab dengan Rora.


Aurora menghela napas panjang dan mengekor langkah Mikha dengan beberapa kali menghela napas panjang.


Brandon datang ke acaranya Aurora dan dia bertemu dengan Abimanyu. Brandon bertanya, "Di mana Anak dan Istri saya? Emm, Rora dan Marco, di mana mereka?"


"Iya benar"


Wah, tampan sekali pria ini. Batin Abimanyu.


"Saya terlalu sibuk dan tidak pernah bisa datang ke acara peluncuran bukunya Rora. Saat saya bisa datang, saya justru terlambat" Brandon tersenyum tipis.


Abimanyu hanya bisa tersenyum dan membetulkan letak kacamatanya.


Abimanyu yang tidak menyukai masalah orang lain memilih diam dan tidak mengatakan kalau Aurora pergi bersama pria yang bernama Mikha. Abimanyu juga membiarkan pria yang bernama Brandon berbalik badan dengan wajah lesu dan pergi meninggalkannya.


Abimanyu yang cerdas, langsung bergumam, "Ada yang beres di pernikahannya Rora. Aku sudah tahu sejak buku pertamanya aku garap. Untuk itulah aku nekat terus mendekati Rora"

__ADS_1


Brandon masuk ke dalam mobilnya dan sebelum ia memasang sabuk pengamannya, ia mencoba menelepon Aurora dan tidak ada jawaban. Lalu, Brandon mencoba menelpon Shasha dan Shasha juga tidak menjawab panggilan teleponnya. Brandon meraup wajah tampannya dan bergumam, "Oke. Aku akan biarkan kamu menenangkan diri kamu, Rora. Dan saat kamu kembali nanti, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kembali hatimu"


Mikha sampai di perkebunan miliknya tepat di jam tujuh petang. Sesampainya di vila, Mikha langsung berkata ke Shasha, Marco, dan Aurora untuk langung makan, "Aku sudah suruh penjaga vila untuk membersihkan kamar dan memasak. Makanan sudah siap. Kita makan malam dulu baru mandi dan beristirahat"


"Hore! Marco udah lapar banget, Ma" Sahut Marco.


"Oke. Kita makan dulu" Sahut Aurora sambil mengusap pucuk kepala Marco.


"Setelah makan, kita bisa bersantai di halaman belakang. Pegawaiku sudah menyiapkan alat panggang dan api unggun. Kita bisa duduk santai sambil barbekyuan di halaman belakang"


"Hore! Aku mau, aku mau" Sahut Marco dengan senyum riang.


"Om akan ajari kamu cara memanggang daging nanti" Mikha tersenyum lebar ke Marco dan Marco menyahut, "Oke, Om. Aku suka, aku suka"


"Dan besok kita bisa jalan-jalan ke kebun untuk memetik buah-buahan"


"Siap, Bos" Sahut Shasha"


"Siap, kak Shasha.


"Terima kasih untuk semuanya, Mikha" Sahut Aurora.


Mikha menunduk dan mengabaikan Aurora. Mikha masih terbakar cemburu.


Eh, kenapa dia mengabaikan aku. Batin Aurora.


Shasha yang sangat memahami sahabatnya langsung berbisik, "Mikha cemburu sama Abimanyu"

__ADS_1


"Hah?!" Aurora memekik lirih dan menoleh kaget ke Shasha.


__ADS_2