
Keesokan harinya, Aurora bangun dengan gelagapan. Dia menghela napas panjang saat menemukan suaminya telah berangkat ke kantor. Wanita cantik itu kemudian menenggak segelas air putih, lalu bersandar di ranjang sambil memikirkan mimpinya semalam. "Kenapa aku bisa bermimpi bercinta dengan Mikha Mahesa?" Gumamnya.
Mikha Mahesa ternyata juga mengalami nasib yang sama di pagi ini. Dia bangun dengan gelagapan karena ia bermimpi tengah bercinta deng. Aurora Zeto di sebuah pantai semalam. Mikha bersandar di ranjang mewahnya dan setelah melukis wajah bahagia ia meraup wajah tampannya dan bergumam, "Senang bisa bertemu denganmu lagi walaupun hanya bisa bertemu di dalam mimpi, Bee" Mikha kemudian melihat bagi kanannya dan ia melihat tato lebah. Bocah tengil itu membuat tato lebah di bahu kanannya sehari setelah ia bercerai dengan Aurora Zeto. Dia membunuh kerinduannya pada Aurora Zeto dengan membuat tato lebah di bahu kanannya. Namun, kerinduan itu masih tetap terus ada menyiksanya sampai enam tahun.
Aurora kemudian melompat masuk ke dalam kamar mandi dan setelah mandi, ia bergegas ke dapur. Namun, saat langkahnya baru sampai di ruang makan, meja makan telah penuh dengan makanan dan ada secarik kertas tertempel di meja makan. Aurora membaca kertas itu, "Aku membuat dua sarapan. Satu dimsum untuk Istri tercintaku dan yang satunya lagi roti bakar cokelat keju untuk putra tercintaku. Aku mencintai kalian berdua, sangat. Maaf aku harus pergi ke kantor buru-buru"
Aurora mencium kertas itu, lalu dengan senyum bahagia ia membuang kertas itu ke tempat sampah dan bergumam, "Brandon Mahesa, kau memang sempurna. Seharusnya aku tidak banyak mengeluh karena engkau sempurna, Brandon Mahesa, Suamiku"
Aurora kemudian pergi ke kamarnya Marco dan dia dikejutkan dengan kemunculan Marco di depan ruang makan. Wanita itu langsung mendekati putra tampannya, berjongkok, menciumi wajah tampannya Marco dan berkata, "Wah, anak Mama sudah bisa mandi sendiri"
"Iya, dong. Aku sudah duduk di bangku Sekolah Dasar hari ini, Ma. Aku harus bisa mandiri" Sahut Marco dengan senyum lebar
"Ya, ya, anak Mama memang yang terbaik" Auora kembali menciumi wajah Marco.
Jadi pertama mengantarkan Marco ke sekolah dengan mengendarai mobil, terasa luar biasa bagi Aurora Zeto karena sebelumnya ia mengantarkan Marco ke sekolah taman kanak-kanak yang ada di dekat Vila-nya hanya dengan berjalan kaki. Dia merasa bebas dan bahagia saat ia bisa kembali mengendarai mobil.
"Wah, Mama ternyata keren juga nyetir mobilnya" Marco menoleh ke mamanya. Marco yang baru pertama kali melihat dan merasakan mamanya menyetir mobil, merasa sangat gembira.
Aurora mengusap rambut Marco dan berkata, "Mama senang kamu nyaman dengan cara Mama mengemudi Mobil. Jujur udah lama banget Mama tidak menyetir mobil. Emm, sejak Mama hamil kamu, Papa tidak mengijinkan Mama menyetir mobil lagi. Ini perdana bagi Mama menyetir mobil lagi dan jujur Mama sedikit gugup tadi"
Marco tersenyum lebar ke mamanya dan berkata, "Mama keren"
"Terima kasih, Sayang. Kamu juga keren. Kamu selalu mendampingi dan memberi Mama dukungan" Aurora tertawa senang dan tanpa sadar ia menitikkan air mata bahagia.
Mikha turun ke lantai satu rumah lamanya. Rumah yang dulu ia tempati bersama dengan Aurora Zeto. Mikha tersenyum saat ia teringat kembali dia pernah bercinta dengan Arurora Zeto di anak tangga ini dan hampir di seluruh sudut rumahnya.
Mikha mengerem langkahnya di depan pintu ruang makan saat ia melihat Angela duduk di sana. "Apa yang kau lakukan di sini di jam tujuh pagi, hah?! Kenapa kau bisa tahu rumahku? Ah, sial! Pasti Papa yang kasih tahu"
"Aku bikin roti bakar cokelat keju kesukaan kamu. Kita sarapan bareng, yuk" Angela tersenyum dan menatap Mikha Mahesa dengan penuh cinta yang tulus.
Mikha terpaksa duduk di depan Angela dan berkata, "Hmm" Lalu, ia memakan roti bakar cokelat keju kesukaannya.
"Enak?" Tanya Angela.
"Standar roti bakar, ya, seperti ini rasanya. Pasti enak karena semua roti bakar rasanya sama seperti ini. Nothing special" Sahut Mikha acuh tak acuh.
Angela sontak menghapus senyum bahagianya dan menunduk kecewa. Mikha memang tidak pernah memuji semua hal yang pernah ia lakukan untuk Mikha.
__ADS_1
Lalu, Mikha dan Angela melanjutkan makan pagi mereka dalam keheningan. Beberapa jam kemudian mereka berdua berdiri di depan pintu kemudi mobil mereka masing-masing. Mikha membuka pintu mobil dan menoleh ke Angela untuk berkata, "Aku pergi ke kantor baruku. Aku tidak ke kantor Papaku. Jadi, kita pergi sendiri-sendiri. Kantor kamu berada di gedung yang sama dengan Papaku, kan?"
"Iya. Galeri seniku ada di sana" Sahut Angela.
Mikha kemudian tersenyum tipis dan masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan Angela begitu saja.
Angela menatap mobil tunangannya itu dengan helaan napas panjang dan setelah mengusap air mata yang menitik di pipinya, wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari halaman depan rumah mewahnya Mikha Mahesa.
Di siang hari, Mikha Mahesa pergi ke kantor papanya bersama dengan Dave. Dia ingin menyampaikan sesuatu ke papanya perihal proyek di salah satu bidang bisnis milik papanya yang sedang ia kerjakan. Dia berhasil memenangkan proyek itu dan ingin melaporkan ke papanya siang itu juga.
Mikha tertegun di depan pintu ruang kerja papanya yang sedikit terbuka saat ia mendengar papanya berkata, "Aku senang semua berjalan sesuai dengan skenarioku. Brandon bisa menikah dengan Aurora dan Mikha mau bertunangan dengan Angela"
Brak! Mikha langsung menendang pintu ruang kerja papanya dan pemuda itu langsung tertawa yang lahir dari rasa kecewa.
Bisma Mahesa terkejut melihat Mikha menendang pintunya dan tertawa aneh di depannya. "Ada apa? Kenapa kau seperti ini, hah?!"
"Cih! Masih nanya lagi. Dasar brengsek selamanya pun brengsek!" Mikha mendelik ke papanya.
"Tuan muda, jaga bicara Anda" Sahut asisten pribadinya Bisma Mahesa.
"Lebih baik aku tidak punya Papa. Dia egois dan tidak pernah mau memahami anaknya, cih" Mikha kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Dave sendirian di ruang kerja papanya.
Di tengah selasar menuju ke lift yang ada di ujung selasar, Mikha berpapasan dengan Angela. Wanita itu memeluk Mikha dan berkata dengan nada gembira, Aku senang kamu ada di sini. Ayo ke ruanganku. Kita makan siang bareng, Mikha"
Mikha memegang kedua bahu tunangan cantiknya itu dan mendorong Angela. Lalu, melangkah mundur.
"Kau kenapa? Kau bertengkar dengan Papa kamu?"
Mikha dia membisu lalu berlari kencang melintasi Angela sambil berkata, "Jangan ganggu aku!" Mikha masuk ke dalam lift dan meninggalkan Angela begitu saja.
Angela langsung berlari ke tangga darurat dan menyusul Mikha lewat tangga darurat. Dia tahu Mikha menuju ke kolam renang. Kalau stres, Mikha biasanya langsung masuk ke kolam renang untuk mendinginkan kepalanya.
Mikha sampai depan pintu kolam renang dan dia tertegun saat ia melihat ada Aurora Zeto dan Marco di sana. Namun, Aurora dan Marco tidak sendirian di tepi kolam renang. Ada Brandon juga di sana. Mikha melihat kebersamaan Aurora, Marco, dan Brandon dengan kedua tangan terkepal dan rahang mengeras. Dia cemburu dan marah melihat Aurora tersenyum di depan Brandon. Seharusnya senyum itu hanya untuknya seorang. Saat ia melihat Brandon melangkah pergi meninggalkan Aurora dan Marco sendirian di tepi kolam renang, Mikha tersenyum senang dan melangkah perlahan mendekati Aurora dan Marco.
Namun, saat Mikha hampir saja sampai di dekatnya Aurora dan Marco, lengannya ditarik oleh seseorang. Mikha menggeram kesal saat tahu siapa yang menarik lengannya. Mikha mendelik ke Angela dan menggeram, "Lepaskan aku!"
"Nggak! Aku ingin kita makan siang bareng Mikha dan aku berhak memintanya karena kau adalah, tunanganku" Angela kasih menahan lengan Mikha
__ADS_1
Mikha menarik lengannya dengan kasar sambil menggeram, "Lepaskan aku dan jangan ganggu aku! Pergi!"
"Kau memang brengsek, Mikha!" Angela mendorong dada Mikha cukup keras dan dai berjalan melintasi Mikha dengan penuh amarah dan secara tidak sengaja Angela menyenggol Aurora dan membuat Aurora jatuh ke dalam kolam renang.
Mikha sontak berteriak ke Angela, "Hei! Berhenti! Kau harus minta maaf dulu!" Namun, Angela tetap melangkah pergi dan menoleh ke belakang untuk berteriak, "Kau brengsek, Mikha"
Mikha berdiri di tepi kolam renang dan mengulurkan tangannya ke Aurora sambil berkata, "Aku akan membantumu naik"
Aurora memilih naik sendiri sambil berkata, "Aku tidak butuh bantuan kamu"
"Ma! Mama baik-baik saja?" Marco berteriak dan langsung memeluk mamanya.
Mikha kemudian menoleh ke salah satu anak buah papanya yang ia kenal dan ia percayai, "Mandikan Marco!"
"Mari, tuan muda Marco, ikut saya! Mama Anda butuh mandi dan berganti baju"
Aurora tersenyum dan menganggukkan kepala ke Marco. Marco akhirnya mengikuti wanita dengan seragam hotel milik opanya itu.
"Aku memimpikan kamu semalam, Rora" Mikha menatap lekat kedua bola mata indahnya Auora sambil melepas jaketnya dan memakaikan jaket itu ke Aurora.
Aurora hanya bisa diam mematung saat Mikha menarik ritsleting jaket kulit itu. Wanita itu terus menatap kedua bola mata cokelat milik Mikha Mahesa dan dia pun ingin berkata, aku juga memimpikan kamu semalam, Mikha. Namun, bibirnya terkunci rapat dan tubuhnya mematung.
Mikha mencium kening Aurora dan berkata di sana, "Aku marah dan cemburu kamu memberikan senyum kamu untuk pria lain"
Aurora menyahut dengan nada lirih, "Dia bukan pria lain. Dia suamiku, Mikha"
"Ya. Tapi, aku dapat harapan. Senyum kamu paling indah hanya saat kamu bersama denganku. Kamu tidak bahagia bersama dengan Brandon" Mikha kemudian mencium pipi Aurora.
Jantung Auroa seakan ingin terbang bebas lepas dari cangkangnya saat ia merasakan napas hangatnya Mikha menyentuh pipinya.
"Aku dengar jantung kamu berdegup kencang dan untuk apa ini?" Mikha mengusap pipi Aurora.
Aurora mengumpat kesal saat dia masih belum bisa menggerakkan semua anggota badannya bahkan otaknya pun membeku saat ini.
Mikha menyeringai dan menundukkan wajahnya dengan. perlahan, ia ingin mencium bibir ranumnya Auora yang sangat ia rindukan.
Semakin dekat dan semakin dekat...............
__ADS_1