Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Masak


__ADS_3

Mikha melirik roknya Aurora, lalu pemuda tampan berwajah tengil itu bertanya, "Apa kau dan Theo brengsek itu pernah melakukan yang sama seperti yang kita lakukan di bioskop tadi?"


"Belum" Aurora menjawab dengan menundukkan. kepala lalu mengalihkan pandangannya ke jendela kaca mobil karena malu.


"Berarti yang tadi di bioskop adalah pertama kalinya untuk kamu?"


Aurora menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Mikha.


Mikha langsung tersenyum lebar lalu berkata, "Terima kasih Rora. Kau ijinkan aku menjadi yang pertama kalinya. Kau manis sekali saat kau bergairah dan kau seksi saat kau mencapai puncak kenikmatan"


Aurora menempelkan keningnya di jendela dan bertanya dengan suara lirih, "Aku nggak terkesan murahan di mata kamu, kan?"


"Tentu saja tidak. Kamu wanita paling terhormat dan paling berharga di mataku. Aku sangat mencintaimu, Rora"


Aurora masih menempelkan keningnya di kaca mobil dan menghela napas panjang. Setelah itu, Aurora dan Mikha saling diam.


Beberapa jam kemudian, Mikha memarkirkan mobil sedan Aurora berdampingan dengan mobil Jeep miliknya di garasi mobilnya dan di saat Mikha menoleh ke jok penumpang, Aurora sudah lenyap. Mikha terkekeh geli dan bergumam, "Dia memang sangat menggemaskan dan unik dari dulu"


Mikha kemudian melompat dari dalam mobil, menutup pintu mobil dengan pelan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah santai. Mikha celingukan mencari keberadaannya Aurora dan pemuda tengil itu kembali terkekeh geli saat dirinya masih sempat melihat wanita pujaan hatinya itu berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan cukup keras.


Lalu, Mikha melangkah naik untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri sambil bergumam, "Cukup untuk hari ini. Selamat beristirahat dan mimpi indah, Rora"


Keesokan harinya, Mikha bangun jam empat pagi. Dia membuat pancake kesukaannya Aurora untuk sarapan mereka berdua di pagi hari itu. Pria tampan itu menyiapkan selai strawberry dan sirup maple di atas nampan sambil menunggu semua adonan pancake habis. Tepat di saat semua adonan pancake habis dan dari adonan tersebut menghasilkan sepuluh lembar pancake, Aurora muncul di dapur sambil menguap lepas dan matanya seketika membulat ceria, "Wah! Pancake! Ayo kita sarapan"


Mikha tersenyum senang melihat Aurora sangat bersemangat melihat pancake. Lalu, pria tampan itu berkata, "Kita sarapan di taman. Aku sudah gelar tikar di sana. Ayo ikut aku!"


"Biar aku yang bawa nampannya"


Mikha berjalan melintasi Aurora sambil berkata, "Ini berat. Biar aku yang bawa"


Aurora mengekor langkah Mikha dan dia terpesona dengan penataan sarapan di taman ala Mikha Mahesa. "Kamu kreatif juga. Aku suka" Auroa duduk di atas tikar dan terus tersenyum lebar.


"Pancake, taman, dan hangatnya sinar matahari yang masih malu-malu untuk muncul adalah perpaduan yang sangat indah dan sempurna. Aku sangat amat menyukainya, Mikha"


"Aku tahu kalau kamu akan sangat amat menyukainya. Kamu pernah sarapan di taman seperti ini sejak masa kecil kita dulu?"


"Belum. Ini pertama kalinya"


"Beruntungnya aku selalu menjadi yang pertama kalinya untuk kamu. Aku yang buka segel kesucian kamu, aku yang pertama kali mengajak kamu mencapai puncak kenikmatan di dalam bioskop, dan aku juga yang pertama kali mengajak kamu sarapan di taman. Aku bahagia, Rora. Terima kasih kau sudah hadir di hidupku dan membuatku sangat bahagia" Mikha menarik Aurora ke atas pangkuannya dan mengajak wanita itu untuk berciuman.


Aurora kemudian mendorong dada Mikha dan berkata, "Aku sudah lapar banget. Aroma pancake kamu sangat menggoda"


Mikha terkejut geli dan berkata, "Oke, makanlah dan cicipi pancake aku"


Aurora hendak merosot turun dari pangkuannya Mikha, namun pemuda tengil itu menahan paha Aurora dan berkata, "Jangan turun dari pangkuanku! Makan begini aja"


Aurora menghela napas panjang dan berkata, "Iya, baiklah"

__ADS_1


"Enak, nggak?" Tanya Mikha sambil menciumi leher Aurora.


"Enak. Aku suapi, ya"


Mikha membuka mulutnya dan tersenyum penuh cinta.


"Nah, kena selai, kan, tanganku, makan di atas pangkuan kayak gini nggak bebas, Mikha.


Mikha langsung meraih tangan Aurora yang terkena selai dan membersihkan tangan itu dengan mulutnya. Mikha menjilat satu per satu jari jemari Aurora dengan terus menatap wajah cantiknya Aurora.


Seketika wajah Aurora terasa panas, dadanya bergemuruh kencang, dan tubuhnya bergetar.


Mikha menjumput rambut Aurora dan berkata dengan suara dalam nan seksi, "Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap menyerahkan diri kamu ke aku, Rora" Mikha kemudian menciumi rambut Aurora yang ada di sela-sela jari jemarinya.


Mikha kemudian menatap tajam kedua bola mata Aurora dan berkata di delam hatinya, biasanya di kencanku di hari yang keempat seperti ini, aku sudah bercinta sebanyak puluhan kali. Tapi, tidak denganmu. Denganmu, aku akan melakukan dengan pelan-pelan. Karena kamu beda, Rora.


Mikha dengan sabar menemani Aurora sarapan dan wanita itu menghabiskan tujuh lembar pancake, lalu menenggak segelas kopi susu. Aurora kemudian menata semua piring dan gelas kosong ke dalam nampan dan berkata, "Aku akan mencuci semua ini. Kamu mandi sana! Kita bisa telat ke kampus. Kita ada kelas jam sepuluh"


"Kamu aja yang mandi" Mikha mengambil nampan dari tangan Aurora dan kembali berkata, "Aku akan bereskan semua ini"


"Mana boleh begitu. Kamu udah masak sarapan yang sangat enak untukku. Jadi, masalah beres-beres aku yang seharusnya mengerjakannya. Kalau nggak, aku, kan, sungkan, Mikha"


Mikha mengelus rambut Aurora dan berkata, "Mulai sekarang nggak usah lagi ada rasa sungkan dan malu sama aku. Kita ini sepasang kekasih nggak perlu malu. Jadilah diri kita sendiri. Lagipula kita sudah saling kenal sejak kecil. Sana buruan mandi dan bersiap-siaplah!"


Aurora masih mematung di depan Mikha dengan wajah memohon.


"Nggak! Aku yang akan bereskan semua ini. Mandi atau aku akan bereskan kamu juga di sini" Mikha mendelik.


Beberapa jam kemudian, Mikha memarkirkan mobil jeepnya agak jauh dari area kampus dan dia menarik lengan Aurora saat wanita itu melepas sabuk pengaman dan hendak melompat turun dari atas mobil jeepnya.


Aurora tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang untuk bertanya, "Ada apa? Kenapa kau menahan lenganku?"


"Kau belum menciumku. Kasih tiga kali kecupan dan aku akan melepaskan kamu"


"Kau gila, ya?! Kalau ada yang lihat gimana?"


"Aku parkirkan mobilku di balik pohon besar. Nggak akan ada yang melihat kita. Lagian kaca mobilku kaca reflektif"


Aurora menghela napas panjang dan memajukan wajahnya untuk memberikan tiga kecupan di bibir Mikha, namun Mikha malah mengajaknya berciuman lebih dalam. Setelah puas mengajak kekasihnya berciuman, Mikha mendorong kedua bahu Aurora dengan pelan dan merapikan rambut wanita itu sambil berkata, "Wah, kau liar juga, ya, Rora. Aku terpaksa melepasmu saat ini, karena ada kelas sebentar lagi"


Aurora langsung menepuk dada Mikha dan berbalik badan dengan cepat lalu melompat turun dari mobil Jeep.


Mikha tersenyum geli. Lalu, pemuda itu menunggu sepuluh menit berlalu barulah ia melompat turun dari mobil Jeep dan melangkah pelan ke kampus.


Mobil Dave melintasi Mikha dan Dave menghentikan mobilnya untuk bertanya, "Tumben jalan. Mobil Lo mana? Motor gede Lo juga ke mana?"


"Berisik! Sana masuk! Jangan pedulikan aku!" Mikha mendelik ke Dave.

__ADS_1


Di jam istirahat makan siang, Mikha melihat Aurora pergi ke perpustakaan dengan membawa kotak bekal yang ia siapkan tadi pagi. Pemuda tengil itu langsung berlari mengikuti Aurora. Di depan pintu perpustakaan, Mikha dicegat seorang mahasiswi baru yang memberikan kotak cokelat dan sebuah surat.


"Apa ini?" Tanya Mikha dengan wajah dan nada dingin.


"I....itu....emm.....terimalah. Aku menyukaimu Mikha Mahesa"


Mikha langung mengembalikan kotak cokelat dan surat itu ke cewek itu sambil berkata, "Aku sudah punya pacar" Lalu, Mikha berbalik badan dengan cepat dan berlari meninggalkan cewek cantik itu begitu saja.


Mikha kemudian celingukan mencari keberadaannya Aurora. Pemuda tengil itu berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri di setiap rak buku. Akhirnya di tersenyum lebar saat ia menemukan Auroa dada di lorong rak paling belakang yang ada di sebelah kanan dan Aurora tengah melompat-lompat ingin mengambil sebuah buku yang ada di tumpukan rak paling atas.


Mikha langung berlari dan berdiri di belakang Aurora lalu ia mengangkat Aurora dari belakang sambil berkata, "Ambilah buku yang kau mau!"


Aurora tesentak kaget dan setelah mendapatkan buku yang dia cari, dia langsung menggeram, "Mikha, turunkan aku!"


Mikha menurunkan Aurora dan langsung membalik tubuh wanita itu, lalu ia mengajak Aurora berciuman di sana. Aurora tersentak kaget dan semakin dia meronta ingin melepaskan diri dari dekapan Mikha, pemuda tengil itu semakin erat memeluknya dan semakin memperdalam ciumannya.


Saat Mikha merasakan Aurora butuh menarik napas, Mikha melepaskan ciumannya dan di saat Aureoa menggeram kesal ke Mikha sambil berkata, "Kalau ada yang lihat gimana?"


Mikha menunduk dan berbisik di telinga Aureoa, "Ciuman tadi bayarannya karena aku udah membantu kamu mengambil buku yang kamu cari. Aku tunggu kamu di kursi depan" Mikha kemudian merapikan rambut Aurora dan melenggang santai menuju ke kursi depan.


Aurora mengelus jantungnya yang hampir saja copot dan menghela napas lega saat tidak ada satu orang pun yang memergoki dia dan Mikha berciuman. Kemudian wanita itu menyelipkan rambut ke balik telinga dan sambil tersenyum malu berbalut senang, ia bergumam, "Dasar bocah gila! Hobi banget dia menciumku dadakan seperti ini. Huffttttt!


Tapi, aku menyukai sensasinya"


Di malam hari Aurora berkata ke Mikha, "Ayo kita masak bareng. Ajari aku memasak Nggak enak aku kalau kamu terus yang memasak untuk kita. Aku, kan, numpang di rumah kamu. Masak nggak ngapa-ngapain"


"Oke, mau masak apa?" Tanya Mikha sambil mengusap rambut Aurora.


"Yang gampang, cepat, dan lezat" Aurora meringis di depan Mikha.


"Emm, gampang, cepat, dan lezat. Oke, kita masak mie kuah aja. Kebetulan aku masih ada stock mie telor kering. Ayo kita ke dapur"


Aurora berjalan mendahului Mikha dan pemuda itu langsung memeluk Aurora dari arah belakang dan berjalan sambil memeluk Aurora dari belakang sambil sesekali menciumi leher Aurora.


Setelah selesai memasak, dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu langsung menyantap masakan mereka berdua dengan obrolan ringan dan penuh canda tawa. Mikha sesekali menggenggam dan menciumi tangan Aurora saat wanita cantik itu bercerita. Mikha memang selalu menyukai gaya bicara dan gaya berceritanya Aurora sejak ia masih berumur tiga tahun.


"Aku akan bereskan dapur dan meja makan. Kamu masuk kamar dan beristirahatlah!" Ucap Mikha sambil menunjuk semua piring kotor.


"Hmm" Sahut Aurora.


Namun, alih-alih pergi ke kamar, Aurora belok ke teras belakang untuk mencuci semua pakaian. Dia memasukkan semua pakaian kotor ke mesin cuci yang tidak begitu tinggi dan memiliki front loading.


Aurora menggelung rambutnya dan saat ia berbalik badan, dia dikejutkan dengan kemunculan Mikha.


"Kenapa malah di sini? Kenapa nggak masuk ke kamar?" Mikha berucap dengan pandangan mengarah ke leher lalu turun sampai ke bibir wanita itu.


"A.....aku akan ke kamar sekarang" Aurora hendak melangkah maju dan kedua pinggangnya langsung dicekal oleh Mikha. Mikha kemudian menaikkan Aurora di atas mesin cuci dan berkata, "Sudah terlambat. Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi saat ini. Salah sendiri kenapa kamu menaikkan rambut kamu dan menggodaku seperti ini"

__ADS_1


"Si......siapa yang menggodamu, hmpppttthhh!" Bibir Aurora langsung dibungkam Mikha dengan bibir. Mikha mencium Aurora lebih panas, sensual, dan liar dari yang sebelumnya dan beberapa menit kemudian, Mikha mengajak Aurora


bercinta di atas mesin cuci yang sedang berjalan


__ADS_2