Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Menikah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Mikha langsung mengantungkan tangannya di depan Aurora.


Aurora menautkan alisnya dan bertanya, "Kau minta apa?"


"Ponsel kamu"


Aurora mengambil telepon genggamnya dari dalam tas jinjingnya dan menyerahkannya ke Mikha dengan raut wajah penuh tanda tanya.


Mikha mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam celaan jins belelnya dan memasukkan semua telepon genggam itu ke dalam sebuah laci yang ada di belakang sofa ruang tengah, lalu ia mengunci laci itu, memasukkan kuncinya ke dalam saku celana dan berkata, "Mulai sekarang kalau ada di rumah tidak boleh main ponsel"


"Apa?! Kau gila, ya?! Kalau ada kerjaan atau kalau ada mahasiswa atau mahasiswi yang tanya soa tugas gimana?"


"Jawab saja besok pagi" Sahut Mikha sambil berbalik badan dengan cepat menuju ke anak tangga.


Aurora menghela napas panjang dan berlari menyusul langkah Mikha yang lebar, "Mikha! Jangan kekanak-kanakkan. Aku nggak suka. Kembalikan ponselku"


Mikha berkata, "Aku akan ganti baju dan membuatkan makan malam untuk kita"


Dan, Brak! Mikha menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.


Aurora mendelik kaget dan langsung berteriak, "Mikha! Kenapa kau kunci pintunya! Mikha!"


Setelah berteriak sambil mengetuk pintu beberapa kali dan tidak ada sahutan, Aurora akhirnya menyerah dan kembali turun ke lantai bawah sambil bergumam, "Dasar bocah tengil! Dari dulu ia memang menyebalkan, huh!"


Aurora kemudian masuk ke kamarnya untuk berganti baju dan setelah berganti baju ia keluar kembali dari dalam kamar dan langsung menuju ke dapur.


Aroma harum yang menguar dari arah dapur membuat Aurora refleks memejamkan kedua matanya dan bergumam, "Hmm! Baunya enak sekali. Kamu masak apa?"


"Tumis tauge dan tempe kering" Sahut Mikha.


Mendengar kata tumis tauge dan tempe kering, menguap sudah semua kekesalan Aurora. Wanita itu langsung duduk di meja makan dan berkata, "Terima kasih udah masak makanan kesukaanku"


Mikha tetap memasak dan tidak merespons ucapannya Aurora bahkan menoleh ke belakang sekilas pun, tidak.


Kenapa dia yang kesal? Seharusnya aku, kan, yang kesal karena ia sudah seenaknya menyita ponselku? Dasar bocah tengil. Batin Aurora.


Aurora kemudian menghela napas panjang. Lalu, wanita itu berinisiatif untuk mencoba membujuk Mikha. Dia lebih tua jadi dia yang harus mengalah. Begitu pikirnya. Maka wanita itu kemudian bangkit berdiri, melangkah pelan mendekati Mikha, lalu ia memeluk Mikha dari arah belakang.


Mikha terkejut dan langsung mematikan kompor sambil berkata, "Kenapa kau memelukku tiba-tiba, hah?! Kalau sampai kena cipratan minyak panas atau kena panasnya Sotil gimana?"


Aurora mengusap-usapkan wajahnya di punggung Mikha dan berkata di sana, "Jangan marah-marah terus! Aku capek kamu marah-marahin terus"


Mikha menggeram lalu berbalik badan dengan cepat dan langsung membopong Aurora, "Ini salah kamu sendiri kenapa kamu menggoda seekor beruang yang sedang kesal"


Mikha kemudian memangku Aurora di atas sofa ruang tengah, memagut bibir Aurora dengan tangan bergerak lincah melepas kaosnya sendiri dan membantu Aurora melepas dress. Lalu, Mikha tersenyum tengil dan berkata, "Kini giliran kamu"


Aurora yang duduk diantara pangkuannya Mikha menautkan alisnya dan bertanya, "Giliranku?"


"Iya. Ekspresikan diri kamu di atas tubuhku maka aku akan tenang dan tidak akan marah-marah lagi"


"Ta.......tapi, aku belum pernah melakukannya" Wajah Auroa langsung merona malu.


"Aku akan membimbingmu"


"Begini, benar?" Aurora bergerak dengan malu-malu.

__ADS_1


"Iya, benar, Rora! Kau.......kau luar biasa! Jangan berhenti! Teruskan!" Pekik Mikha sambil membimbing Aurora untuk terus bergerak.


Beberapa menit kemudian, Mikha merapikan rambut dan mencium pipi Aurora yang merona malu.


Lalu, Mikha menggandeng tangan Aurora dan menariknya ke dapur dan sambil menoleh ke Aurora ia berkata, "Masih berani membuatku ngambek dan marah?"


Aurora langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan Mikha langsung tersenyum dengan sedikit mendongakkan wajah puasnya.


"Makan yang banyak! Aku masak khusus untuk kamu. Pas ke Lombok nanti aku juga akan buatkan kering tempe, serundeng sapi dan kering kentang untuk kamu. Bisa kamu jadikan lauk makan kalau kamu tidak cocok dengan makanan yang ada di Lombok" Mikha berkata dengan senyum penuh cinta sambil membelai lembut rambut Aurora.


Aurora menoleh ke Mikha dan dengan senyum penuh cinta ia berkata, "Terima kasih. Ini enak banget. Kamu belajar masak dari siapa?"


"Dari tetangga sebelah. Mama sering meninggalkan aku sendirian di rumah dan kebetulan tetangga sebelah adalah seorang chef. Aku sering main ke sana, membantu dia sekaligus belajar memasak biar aku bisa masak sendiri pas Mama tidak ada di rumah"


"Dari anak yang cengeng berubah menjadi anak yang tangguh dan mandiri. Aku kagum sama kamu, Mikha" Aurora menatap Mikha dengan penuh kekaguman.


"Aku dulu cengeng karena kamu dan Kak Shasha sering menindas aku. Lagian Mama Tika dan Papa Dito sangat memanjakan aku. Mana mungkin aku tidak cengeng waktu itu, cih!" Mikha langsung melengos.


Aurora sontak menangkup wajah Mikha dan mengarahkan wajah Mikha ke wajahnya lalu ia kecup bibir Mikha dan berkata, "Iya, iya. Aku dan Shasha yang salah. Maafkan Kakak-kakak kamu ini yang tidak becus menjaga adik setampan kamu"


"Jangan panggil aku adik lagi! Aku udah gede. Udah dua puluh dua tahun" Mikha masih cemberut.


Auror mengecup kembali bibir bayi gedenya dan berkata, "Iya, Sayang. Baiklah. Aku nggak akan manggil kamu adik"


"Untuk selamanya"


"Iya, untuk selamanya"


Mikha kemudian memeluk Aurora dan berkata dengan nada ceria, "Emm, sepetinya kita harus mencari nama panggilan untuk kita berdua"


"Bee! Iya, Bee. Kita akan saling memanggil Bee kalau kita sedang berduaan seperti ini" Mikha tersenyum tengil ke Aurora.


"Nggak mau! Bee, kan, lebah. Jahat, kan, lebah. Lebah itu menyengat"


"Dia tidak jahat Rora. Bee itu tidak jahat. Dia garang tapi imut dan dia menghasilkan madu. Mirip banget sama kita berdua"


Aurora memiringkan wajahnya dan membatin, di mana letak kemiripannya coba?


Mikha lalu memeluk Aurora kembali dan berkata, "Bee, aku sangat mencintaimu, Bee. Ah! sweet, kan, nama panggilan pilihanku? Bee!"


Aurora diam membisu dan hanya bisa tertawa kecil sambil membatin, ya, ya, ya, terserah kamu aja. Daripada kamu ngambek bisa remuk pinggulku nanti.


Mikha kemudian menarik tangan Aurora dan berkata, "Aku akan ajak kamu ke suatu tempat"


"Ke mana? ini sudah hampir subuh"


"Justru itu kita harus bergerak cepat. Ganti baju dengan baju yang lebih formal. Aku juga akan ganti baju dan kita bertemu di depan mobil. Bawa semua surat-surat penting kamu. Semuanya!"


Sesampainya di mobil, Aurora menganggukkan kepala ke pengacaranya Grup Mahesa yang sebelumnya ia temui di kantor kepolisian.


"Saya akan mengantarkan Anda dan Tuan muda ke suatu tempat, Nona"


"Ke mana?"


"Nanti Anda akan tahu"

__ADS_1


Walaupun kebingungan, tapi Aurora menuruti semua permintaan Mikha.


Tepat jam setengah enam pagi, Mikha membangunkan Aurora setelah mereka sampai di Kota X dan sampai di depan kantor pencatatan sipil.


Aurora mengucek matanya dan seketika membeliak kaget, "Kenapa kita ke sini?"


"Aku akan menikahi kamu"


"Nggak! Aku belum siap untuk menikah dan aku belum bilang sama orang tuaku. Kamu juga belum bilang sama orang tua kamu, kan?"


"Kita sudah sering melakukan hal itu. Aku orang yang banyak dosanya nggak papa kalau berbuat dosa lebih banyak lagi. Tapi, bagiku kamu adalah malaikat dan suci. Aku ingin menikahimu karena kamu suci dan karena aku ingin melindungi kamu"


Akhirnya Aurora menganggukkan kepalanya dengan menitikkan air mata haru. Dia sudah memberikan segel kesuciannya ke Mikha dan wanita itu sungguh terharu mendengar Mikha begitu menghormati, menghargai,dan mencintainya.


Di dalam langkah menuju ke pintu masuk kantor pencatatan sipil tersebut Aurora bertanya, "Kenapa harus sepagi ini dan di luar kota?"


" Biar kita nggak telat masuk kelas jam sebelas nanti dan kenapa di luar kota? Biar nggak ada yang mengenali kita"


Aurora tersenyum penuh keharuan.


Dia benar-benar peduli padaku. Batin Aurora dengan senyum penuh haru.


Setelah resmi menikah, Mikha berkata ke pengacara papanya, "Makasih,Om, untuk bantuannya. Katakan ke Papa kalau aku sudah menikah. Tapi, jangan katakan dulu siapa wanitanya. Aku akan ajak Istriku menemui Papa nanti"


"Baik, Tuan muda. Saya balik sekarang. Mobil perusahaan sudah menjemput saya"


"Oke,makasih,Om"


Beberapa jam kemudian............


Papanya Mikha Mahesa tertawa mendengar cerita pengacaranya soal pertikaiannya Mikha dengan Theo dan pria paruh baya itu bergumam, "Yeeaahhhh,Mikha memang mirip sekali dengan almarhum Mamanya. Ia cerdas, tangguh, dan tidak kenal rasa takut. Terus jaga Mikha"


"Baik, Tuan. Lalu, bagaimana dengan Tuan Brandon?"


"Walaupun aku tidak kenal siapa Mama dari anak itu tapi hasil test DNA menegaskan kalau Brandon adalah putraku. Aku akan krim dia ke Belanda biar ia urus perusahaanku yang ada di sana. Dengan begitu, aku bisa membujuk Mikha untuk mau mengurus perusahaanku yang ada di sini menggantikan aku nanti" Sahut papanya Mikha Mahesa.


"Baik, Tuan"


Pengacara yang bijak itu memilih untuk tidak mengatakan perusahaan hal pernikahannya Mikha Mahesa untuk menjaga kesehatan jantung Papanya Mikha Mahesa.


Sementara itu di kelas, Mikha juga menunjukkan sikap posesif yang berlebihan. Dia langaung bangkit berdiri dan mencegah seorang mahasiswa yang ingin maju mengumpulkan kertas tugas di mejanya Aurora.di saat asistennya Aurora tidak ada. Biasanya yang bertugas mengumpulkan kertas tugas adalah asistennya Auroa. Mikha langaung berteriak di dalam kelas, "Kumpulkan kertas tugas teman-teman di sini dan aku yang akan membawanya ke kantornya Bu Aurora!"


Teman-teman kuliahnya Mikha yang mengetahui kalau Mikha adalah pewaris tunggal grup Mahesa langsung menuruti permintaannya Mikha Mahesa. Mereka tidak mau berurusan dengan grup Mahesa kalau mereka sampai mereka membuat Mikha Mahesa kesal.


Setelah semua kertas tugas di hari itu terkumpul di depan Mikha, Mikha membawa kertas itu di depan meja Auroa dan berkata, "Ayo! Aku akan temani kamu ke kantor dosen"


"Kenapa kamu menggantikan tugas asisten dosen?"


"Karena aku tidak mau meja kamu dihampiri banyak cowok"


"Mereka.muridki, Mikha. Sama seperti kamu. Nggak ada salahnya, kan, kalau mereka mengumpulkan tugas mereka ke.mejaku?"


Mikha menunduk dan berbisik di telinga Aurora, "Salah! Pokoknya salah! Pokoknya aku nggak suka ada cowok menghampiri kamu karena kamu adalah istriku sekarang ini, titik. Ayo, kita ke.kantor dosen sekarang!"


Aurora hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap posesifnya Mikha yang menurutnya terlalu berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2