Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Kencan Pertama


__ADS_3

Papanya Mikha langsung meraup kasar wajah yang masih terlihat sangat tampan di umur lima puluh lima tahun itu. Kemudian Papanya Mikha berkata ke pengacaranya, "Jangan sampai pers tahu soal ini dan cepat bawa pulang Mikha. Jangan sampai Putraku tersayang itu mendekam di penjara yang dingin dan lembab"


"Baik, Tuan" Sahut pengacaranya Mahesa Grup.


"Kamu nggak akan dipenjara,kan? Kalau sampai kamu dipenjara, aku akan panggil pengacara terbaiknya Grup Elruno" Aurora mendongak dan melukis kepanikan di wajah cantiknya.


Mikha tersenyum senang melihat perempuan. itu peduli padanya dan mengkhawatirkan dirinya. Lalu, pria tampan bertubuh jangkung itu mencium kening Aurora dan mengecup singkat bibir Aurora sambil berkata, "Tenang saja! Aku tidak akan dipenjara. Kamu mau menungguku sebentar di sini?"


"Tentu saja aku akan menunggu kamu sampai proses hukum yang menimpa.kamu di hari ini selesai" Lalu, perempuan cantik itu menoleh ke kanan lalu ke kiri dan berjinjit untuk berkata, Kamu, kan, pacar aku" Bisik Aurora.


Mikha tersenyum senang mendengar Aurora masih ingat kalau dia dan dirinya sudah jadian dan setelah mendaratkan kecupan di pucuk kepala Aurora sebanyak tiga kali, bocah tengil yang mempunyai kepercayaan diri lebih dari seratus persen itu berbalik badan untuk masuk ke dalam ruang interogasi.


Theo langsung menyeringai puas melihat bocah tengil yang sudah memukuli dirinya sampai baba belur akhir masuk ke ruang interogasi. Pria tampan mantan tunangannya Auroa itu langsung berkata, "Bocah Tengil itu yang membuat wajahku seperti ini. Dia juga yang sudah membuat telapak tangan kiriku retak. Aku menuntutnya sepuluh tahun penjara karena penganiayaan berat. Aku bawa hasil visumnya.


Mikha mengabaikan Theo yang terus nyerocos. Pemuda tampan berkulit kecokelatan itu kemudian meletakkan sebuah flashdisk di atas meja dan mendorongnya ke depan sampai flashdisk itu diambil oleh petugas kepolisian. Mikha kemudian berkata, dengan sangat santai, "Itu bukti yang aku punya dan pengacara Papaku akan melanjutkan kasus ini tanpa aku..Aku permisi" Mikha bangkit berdiri dengan wajah tengil menyebalkan.


Theo sontak berteriak, "Tunggu! Kenapa.kalian membiarkan bocah tengil itu keluar dari ruang ini begitu saja, hah?!"


"Karena bocah yang Anda panggil tengil itu adalah pewaris tunggal Mahesa Grup dan dia punya bukti. Lagipula saya pengacaranya masih duduk di sini bersama dengan Anda" Sahut pengacara dari grup Mahesa itu.


Theo sontak terhenyak kaget di kursinya dan CEO perusahaan yang masih kecil itu langsung mengeluarkan keringat dingin dan mengumpat kesal di dalam hatinya. Dia terkena bumerang yang ia lemparkan sendiri.


Setelah satu jam menunggu di deretan bangku yang ada di depan ruang interogasi, Aurora langsung bangkit berdiri dan menubruk tubuh Mikha lalu ia dekap erat tubuh jangkung dan atletis itu dengan isak tangis.


Mikha mengusap pelan punggung Aurora dan berkata, "Kenapa nangis? Bukan aku yang akan dipenjara"


Aurora langsung menarik diri dari pelukan Mikha, lalu mendongak untuk bertanya, "Benarkah?"


"Iya benar" Mikha tersenyum tengil dan mendaratkan kecupan di kening perempuan yang sangat ia cintai itu.


"Lalu, siapa yang akan dipenjara? Kenapa pengacara kamu belum keluar dan pengacaranya Theo juga belum keluar. Apa Theo ada di dalam?" Aurora.berjinjit untuk melihat kaca bundar yang ada di pintu ruang interogasi dan Mikha langsung membopong Aurora dengan wajah penuh kecemburuan.

__ADS_1


Aurora memekik lirih, "Aaaaaa, Mikha!" karena kaget, lalu ia bertanya, "Kenapa kau tiba-tiba membopongku?"


"Karena kau melongok ke jendela pintu untuk melihat pria lain di depan mataku dan aku tidak suka itu"


"Kamu cemburu?"


"Hmm"


"Aku cuma pengen lihat seperti apa wajah Theo pas dia kena masalah. Turunkan aku!" Aurora menggerak-gerakkan kedua kakinya.


Mikha langung menggeram, "Kalau kau tidak bisa diam, maka aku akan nekat mengajak kamu bercinta di salah satu bangku yang ada di kantor polisi ini"


"Hahahahaha, kau tidak akan berani melakukannya"


"Kau mau mencobai kesabaranku, Rora?"


Aurora langsung diam membeku di dalam dekapan hangatnya Mikha Mahesa.


Mikha Mahesa tersenyum tengil, mendongakkan wajahnya sedikit dengan congkaknya dan sambil terus berjalan membopong Aurora, pemuda itu berkata, "Kalau kamu nurut gini, kan, manis"0


"Pas banget! Aku suka banget tempat ini, Mikha" Aurora menoleh ke Mikha dengan sorot mata penuh keceriaan.


"Aku selalu tahu apa yang kau suka, Rora. Itulah kenapa aku mengajak kamu ke sini untuk kencan pertama kita" Sahut Mikha sembari mencium punggung tangan Aurora yang ia genggam.


"Aku bisa kalap dan memborong semuanya" Aurora kemudian celingukkan dan saat ia melihat tidak ada siapapun di sekitar mereka, ia segera berjinjit dan mengecup bibir Mikha dengan wajah merona malu.


Mikha langsung mendekap Aurora sambil berkata "Kurang" Mikha kemudian mengajak Aurora berciuman dengan lembut dan saat ia merasakan Aurora tersengal, pemuda tengil itu terpaksa melepaskan ciumannya dan sambil mencubit mesra hidung perempuan cantik yang sangat ia cintai, Mikha berkata, "Kau dan aku sudah berciuman beberapa kali. Kenapa kau bisa tersengal?"


Aurora langsung mendorong Mikha dan berkata lirih sambil celingukkan, "Itu karena kamu menciumku di tempat umum. Kalau ada yang lihat bagaimana? Kau sudah gila, hah?!"


"Nggak ada yang akan mengenali kita di sini. Kita berada ribuan kilometer dari kota.J. Nggak akan ada yang kenal sama kita di sini"

__ADS_1


"Sama aku mungkin mereka nggak ngeh. Tapi, sama kamu.........Pasti ada beberapa klien atau kolega Papa kamu yang tersebar di kota ini dan salah satunya bisa memergoki kita"


"Lalu kenapa?" Mikha kembali memeluk pinggang rampingnya Aurora.


Aurora kembali mendorong pelan dada Mikha sambil berkata, "Aku belum siap bertemu dengan Papa kamu. Lagipula apa yang akan dikatakan Papa kamu kalau beliau tahu kamu berpacaran dengan dosen kamu, dengan perempuan yang tiga tahun lebih tua dari kamu dan perempuan itu adalah putri tunggalnya Dito Zeto dan Cantika"


"Oke. Lalu, mau kamu sekarang bagaimana?"


"Kamu berjalan di belakangku. Kita jangan. bergandengan tangan lagi!" Aurora berucap sembari berlari kecil dan saat ia merasa jarak dia dan Mikha sudah masuk di zona aman, perempuan itu melangkah pelan.


Mikha mengikuti langkah Auroa dengan wajah cemberut dan saat dia punya ide membopong Aurora untuk pergi ke bioskop agar dia bisa mencium dan memeluk Aurora.dengan bebas, ia melihat Aurora penuh antusias membeli banyak sekali barang vintage, mulai dari koin cantik, koper kecil dari kulit sapi yang sangat unik dan antik, perabot keramik, piringan hitam, sampai patung dan kerajinan kuno.


Mikha langsung menyesali dirinya yang lupa membawa kamera kesayangannya. Mikha hobi fotografi dan dia juga sangat suka melukis. Dengan helaan napas kecewa ia mengambil telepon genggam dari saku celananya dan menggunakan kamera di telepon genggamnya itu untuk memotret wajah cantik Aurora dari arah samping.


Setelah itu ia melihat layar telepon genggamnya dan berkata, "Hmm! Lumayan. Mau pakai kamera apapun kalau sudah cantik maka akan tetap terlihat cantik"


Lalu, Mikha kembali mengarahkan kamera telepon genggam mahalnya ke Aurora kemudian pemuda tengil itu berteriak, "Rora! Noleh ke kiri!"


Aurora menoleh ke kiri dengan wajah kaget dan jepret! Mikha berhasil menjepret wajah kaget perempuan itu yang bagi Mikha tampak sangat seksi.


"Hei! Aku belum pose tadi. Mana lihat dulu!" Aurora langsung berlari mendekati Mikha dan pemuda itu langsung berteriak, "Stop! Jaga jarak! Kalau kamu maju lagi, aku akan bopong kamu dan mencium kamu sekarang juga!"


Aurora langsung mendelik ke Mikha dan menoleh ke pedagang barang vintage sambil berkata, "Maafkan dia, Pak. Dia memang agak konslet otaknya"


Pedagang barang vintage itu berkata, "Tapi, saya lihat Anda sangat menyukai orang yang konslet otaknya itu, Nona"


Aurora sontak berdeham dan langsung berkata, "Berapa semuanya, Pak?"


Mikha langsung berlari mendekati Aurora dan berkata ke bapak pedagang barang vintage itu, "Orang yang otaknya konslet ini aka. membayar semua barang belanjaan perempuan cantik ini, Pak"


Aurora menoleh tajam ke Mikha dan bapak pedagang barang Vantage itu sontak tertawa ngakak dan berkata, "Paling nggak dompet Anda tidak konslet, ya, Tuan muda"

__ADS_1


"Betul"


Karena malu, Aurora berbalik badan dan berlari kecil meninggalkan Mikha dan pedagang barang vintage itu.


__ADS_2