
"Seharusnya apa yang sudah hilang dan pergi kau abaikan saja, Mikha. Kenapa harus kau cari?"
"Karena kau terlalu indah untuk aku abaikan, Bee. Cintaku padamu sudah terlalu dalam sepeti tato Bee di bahuku ini" Mikha menunjukan bahunya yang bertato dan kembali berkata, "Sekali tergores akan ada untuk selamanya" Mikha terus menatap Aurora dari tempat ia berdiri. Mikha masih belum berani melangkah mendekati Aurora. Dia tidak berani memulai langkahnya. Namun, Mikha terus bergumam di dalam hatinya, Mendekatlah, Bee. Mendekatlah ke sini dan biarkan aku memelukmu. Mendekatlah, Bee.
"Kenapa kau tidak pakai alas kaki?"
"Bagian paling sensitif di tubuh kita adalah telapak kaki.Untuk itulah aku melepas sepatuku dan aku biarkan telapak kakiku merasakan tajamnya kerikil dan gelitikan rumput di halaman ini agar otakku tetap terjaga normal karena jika otakku tetap terjaga normal, aku tidak akan kehilangan kamu lagi" Mikha meringis santai di depan Aurora.
"Dasar bocah tengil! Suka bikin asumsi yang aneh-aneh" Aurora terkekeh geli dan tanpa Aurora sadari, ia melangkah mendekati Mikha.
Mikha terkejut dan sontak menegakkan badannya.
Aurora berdiri di depan Mikha. Berdiri begitu dekat dan wanita cantik itu berjinjit, menarik tengkuk Mikha, lalu mengecup bibir Mikha. Aurora menapakkan kembali ke kakinya di rumput dan menarik wajahnya sambil berkata, "Menurutku bagian paling sensitif di tubuh kita adalah bibir kita"
Mikha diam terpaku. Dia masih syok dengan kejutan yang Aurora berikan padanya.
Melihat Mikha diam membisu dan mematung Aurora bertanya, "Apa aku salah?"
Mikha terus menatap Aurora dan bertanya-tanya di dalam benaknya, "Apa Aurora bertindak terlalu impulsif dan naif?" Mikha lagi memiliki pandangan yang ideal untuk percintaan mereka. Dia tidak akan bertingkah seperti Romeo muda yang masih berwajah segar dan sangat menggilai Juliet-nya. Dia memang sangat mencintai Aurora, namun kali ini dia tidak akan menggilai Aurora. Dia akan menjadi pengantin pria yang sabar berdiri lama di altar menunggu sampai kekasihnya muncul dan berjalan ke arahnya.
"Apa aku salah?" Aurora kembali bertanya.
"Iya. Kau salah. Bibir bukan area paling sensitif di tubuh kita. Tapi, bibir adalah area yang tepat untuk mencecap manisnya cinta" Sahut Mikha dengan tatapan menggoda dan senyum penuh arti.
Aurora tersenyum lalu berkata, "Dasar penyair gila!Tapi, bagiamana pun juga selamat untuk lagu baru kamu. Lagu baru kamu melejit di pasaran"
"Kau tahu?" Mikha membeliak kaget.
__ADS_1
"Aku tahu" Aurora mengangguk mantap.
"Berarti kau terus mengikuti berita tentang aku?" Mikha menatap kedua mata Aurora dalam-dalam.
"Iya" Aurora menjawab tegas.
"Kenapa?" Tanya Mikha.
"Karena kau pernah ada di dalam hidupku"
"Hanya karena itu?"
"Iya"
"Lalu, kenapa kau mengecup bibirku tadi?"
"Apa kau pernah mendengarkan lagu baruku?"
"Pernah"
"Apa kamu menyukainya?"
"Iya"
"Baguslah. Karena lagu itu memang untuk kamu"
"Aku tahu"
__ADS_1
"Kau tahu dan kau tidak menghubungiku?" Mikha mendelik kaget.
"Untuk apa menghubungimu? Kau punya tanggung jawab yang besar sebagai seorang Mahesa dan aku tidak ingin menjadi beban dan mengganggu hidupmu"
"Kau tidak akan pernah menjadi beban dan pengganggu bagiku, Bee"
"Lalu, kita bagaimana sekarang?"
Mikha mengulurkan tangannya.
Aurora menatap tangan Mikha dengan wajah penuh tanda tanya. "Kenapa kau ulurkan tangan kamu?"
Mikha meraih tangan Aurora menggenggamnya dan berkata, "Kita mulai tahap baru hidup kita dengan saling berkenalan. Hai, Cantik, namaku Mikha Mahesa. Siapa nama kamu, Cantik?"
Aurora terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hei! Aku bertanya,kok, malah tertawa?"
Aurora tersenyum lebar dan berkata, "Namaku Aurora Zeto. Aku seorang janda dan punya satu anak laki-laki berumur enam tahun. Kau masih akan berkata, hai, Cantik?"
Mikha menarik Aurora ke dalam pelukannya dan berkata, "Hei, Cantik. Aku senang berkenalan denganmu"
"Meskipun aku ini janda beranak satu?" Tanya Aurora di dalam pelukannya Mikha.
"Iya. Meskipun kau janda beranak satu, bagiku kau tetap cantik dan tetap seksi" Sahut Mikha sambil mempererat pelukannya.
Aurora kembali terkekeh geli.
__ADS_1