Mantanku Bocah Tengil

Mantanku Bocah Tengil
Takdir


__ADS_3

Mikha langsung masuk ke dapur dan menenggelamkan diri memasak.


Aurora memeluk Mikha dari arah belakang dan dengan suara gemetar menahan tangis, ia berkata, "Katakan sesuatu! Jangan diam saja!"


Mikha mengurai gelungan tangan Aurora di perutnya dan berkata, "Istirahatlah dulu! Masuk kamar sana!"


Aurora melangkah mundur dengan perlahan lalu berbalik badan dengan empat dan masuk ke kamar dengan Isak tangis. Perempuan itu menangis sesenggukkan di tepi ranjang.


Dua jam kemudian Mikha masuk ke kamar dan menemukan istrinya masih duduk di tepi rajang dan menunduk menangis terisak.


Mikha berjongkok dan memegang tangan Aurora sambil berkata, "Maafkan aku! Mau tidak mau dan siap tidak siap, aku harus menerima kehamilan kamu. Maafkan aku beberapa jam yang lalu aku menjadi pria brengsek. Pukul aku!"


Aurora langsung memeluk Mikha dan menangis sesenggukkan di dalam pelukan suaminya dan berkata, "Aku tidak akan memukul Papa anakku. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu"


"Aku juga sangat mencintaimu, Bee" Mikha kemudian mengajak Aurora bangkit berdiri dan berkata, "Ayo kita makan. Kamu hamil Sekaran. Kamu harus makan banyak"


Mikha memasak kepiting dengan bumbu nanas dan aneka olahan seafood yang diasap.


Aurora makan dengan sangat lahap karena semua masakan itu adalah masakan favoritnya.


Tanpa Mikha dan Aurora ketahui, mengonsumsi kepiting di awal kehamilan dapat membuat rahim menyusut dan menyebabkan pendarahan internal.Selain itu hidangan laut yang diasap dan didinginkan mengandung listeria yang juga bisa menyebabkan keguguran.


Setelah makan, Mikha mengajak Aurora tidur dan pasangan suami istri itu tidur dengan nyenyak dengan saling berpelukan.


Keesokan harinya, Aurora terbangun saat ia merasakan ada sesuatu yang hangat dan lengket di sekitar pantatnya. Wanita itu sontak menyibak selimut dan tertegun melihat dirinya pendarahan bahanya sekali. Aurora sontak berteriak histeris dan Mikha seketika bangun dan langsung membopong Aurora untuk segera membawa istri cantiknya ke rumah sakit terdekat.


Beberapa jam kemudian, Aurora berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya saat dokter mengatakan kalau dia telah kehilangan janinnya. Mendengar istrinya mengalami keguguran dan menangis histeris, Mikha hanya bisa diam mematung di samping bed istrinya. Mikha semakin membeku saat ia mendengar bahwa akibat dari kegugurannya Aurora adalah kepiting dan olahan seafood yang diasap.

__ADS_1


Aurora meronta saat Mikha memeluknya. Perempuan cantik itu berteriak, "Kau pembunuh! Aku tidak menyangka kau tega membunuh anak kita, Mikha! Aku benci kamu! Aku sangat membencimu, Mikha!"


Mikha mendelik kaget dan sontak berteriak, "Aku memang tidak siap jadi Ayah. Tapi, aku bukan pembunuh, Bee! Aku juga tidak tahu kalau kepiting yang aku masak dan aneka olahan seafood yang aku masak kemarin bisa menyebabkan kamu keguguran"


"Bohong! Kamu Bohong!"


Karena stres, bingung, kalut dan mengalami kesedihan yang sangat dalam, Mikha berteriak dengan mata merah menahan tangis dan napas terengah-engah, "Iya! aku pembohong! Aku pembunuh! Bencilah aku, Bee! Jangan pernah memaafkan aku! Aku bersyukur kamu mengalami keguguran"


Aurora melongo untuk sesaat, kemudian ia berteriak, "Pergi dari sini Mikha! Pergi!!!!!" Aurora melotot ke Mikha dengan wajah merah padam penuh kebencian dan amarah.


Mikha keluar dari ruang one day care dengan membanting pintu ruangan itu. Mikha melangkah lebar ke taman belakang dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya.


Dave datang tergopoh-gopoh dan menemukan Mikha di kamar. Mikha langung memeluk Dave dengan erat dan menangis sesenggukkan di dalam pelukannya Dave sambil bergumam, "Aku brengsek, Dave! Aku tidak berguna! Aku tidak bisa menjaga Istri dan anakku dengan baik"


Dua jam kemudian setelah Dave berhasil menenangkan bocah tengil itu, Dave merangkul bahu Mikha dan mengajak Mikha melangkah ke ruangan tempat Aurora dirawat.


Mikha terkejut dan menoleh ke Dave, "Di mana Rora?"


Mikha menemukan secarik kertas dan setelah membacanya bocah tengil itu berlari keluar dari dalam ruangan one day care untuk mencari istrinya dengan berlari seperti kesetanan.


Dave kemudian merangkul Mikha dan berkata, "Kita pulang ke Indonesia. Aku rasa saat ini Istri kamu ada di rumah kamu"


"Oke. Kita balik" Sahut Mikha dengan tubuh lesu dan wajah penuh dengan air mata.


Di dalam pesawat, Dave bertanya, "Apa isi surat yang kamu temukan di ruangan one day care tadi?"


"Bee, emm, maksudku Rora menulis pesan kalau dia ingin sendirian saat ini dan melarang aku mencarinya"

__ADS_1


"Oh, gitu" Sahut Dave singkat.


"Perjalanan kita memakan waktu dua puluh delapan jam. Semoga saja itu cukup untuk membuat Rora berpikir jernih dan bisa diajak bicara" Ucap Mikha dengan nada sedih.


"Iya. Semoga begitu" Sahut Dave.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir sepuluh jam, Aurora sampai di Amerika. Dia langsung memeluk papa dan mamanya dengan isak tangis.


Dito langsung meminta istrinya untuk memasak dan ia mencoba untuk mengobrol dengan Aurora. Sejak kecil Aurora memang dekat sekali dengan Dito dan lebih senang mencurahkan semua isi hatinya ke papanya.


Namun, kali ini Aurora hanya tersenyum dan berkata ke papanya kalau dia baik-baik saja. Dia hanya merasa sangat merindukan papanya.


Keesokan harinya, Aurora mengirim paket berisi buku nikah, cincin pernikahannya, kunci rumahnya Mikha, kunci mobilnya, dan surat meminta cerai. Dia mengirim paket itu ke Shasha.


Shasha yang sudah mendengar semua permasalahan yang dialami oleh Aurora sontak meradang dan tidak sabar ingin segera menemui Mikha Mahesa dan melabraknya.


Setelah menenangkan diri di rumah papa dan mamanya selama tiga hari, Aurora pamit pulang. Namun, perempuan itu tidak balik ke Indonesia. Ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke Jerman mengunjungi sahabatnya waktu kuliah. Aurora tidak berani tinggal berlama-lama di rumah papa dan mamanya karena ia, tidak ingin papa dan mamanya lama-lama mengetahui permasalahan yang ia alami.


Dan tanpa Aurora sangka, di Jerman ia berjumpa dengan Brandon Mahesa di sebuah kafe. Brandon tersenyum senang dan bergumam, "Ternyata takdir mempertemukan kita kembali secepat ini, Bu Aurora"


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh delapan jam lebih, Mikha membuka pintu rumahnya dan berharap melihat wajah cantik istrinya yang sangat ia rindukan, namun yang ia lihat adalah Shasha yang memandangnya dengan wajah garang menakutkan dan bersedekap gagah.


"Kenapa Kakak bisa masuk ke rumahku?" Mikha meletakkan koper dan tas ranselnya dengan asal.


"Rora mengirimkan kunci rumah dan kunci mobil ke aku. Aku ke sini mau mengambil mobil dan semua barang-barangnya Rora"


"A......apa maksudnya? Kenapa mengambil mobil dan semua barang-barangnya Rora? Di mana Rora sekarang, Kak?"

__ADS_1


"Kau nanya sekarang? Lalu, di mana kamu pas Rora butuh kamu. Kamu memang egois dan brengsek Mikha. Aku menyesal mempertemukan kamu dan Rora kembali. Ini pengacara yang ditunjuk oleh Aurora untuk mengurus perceraian kalian. Aku pergi sekarang dan mengobrol lah dengan pengacara ini" Shasha melangkah pergi meninggalkan Mikha begitu saja.


Mikha menatap pria paruh baya yang berdiri di depannya dengan Maya nanar dan jantung berdegup kencang penuh amarah.


__ADS_2