
Havard terbangun dari tidur dan mendapati ruangan itu kosong. Perasaannya langsung tegang dan segera Havard bangun, cepat-cepat meraih kopesh yang menggeletak disisinya kemudian bergegas keluar ruangan.
Diluar ia mendapati Nuzlan yang asyik memasak sup dalam kuali yang lama dijerang dalam api.
"Mana Selena?" tanya Havard.
Nuzlan mengangkat wajah menatap Havard yang turun dari beranda dan mendatangi tempat lelaki itu memasak sup.
"Aku tak tahu... mungkin lagi berburu?" ujar Nuzlan sekenanya.
"Berburu?" desis Havard dengan pelan.
Nuzlan mengangkat bahu. "Ia menyuruhku memasak dan dia langsung menghilang di pepohonan..." Lelaki itu mengaduk lagi isi kuali. "Bagaimana menurutmu rasa dari sup ini?"
Namun Havard tak menanggapi melainkan bertanya lagi. "Kearah mana dia pergi?"
"Kurasa disana..." ujar Nuzlan menunjuk ke suatu arah.
Havard mendecak kesal lalu bergegas menuju arah yang ditunjukkan oleh Nuzlan. Tiba-tiba Nuzlan teringat sesuatu ia mencari-cari Havard.
"Aku baru ingat kalau Selena bilang dia mau..." seru Nuzlan namun ia mendesah melihat Havard tak berada lagi disana.
__ADS_1
"Mandi...." sambungnya lagi lalu meneruskan kembali kegiatannya yang tertunda.
...****...
Havard menyibak-nyibak rerumputan yang menjulang tinggi menghalangi pandangannya. Sesekali dilibasnya saja rerumputan itu dengan pedang bengkoknya itu.
Ketika ia melibas barisan rerumputan terakhir, terdengarlah jeritan kecil.
"Aaahhh... kurang ajar! Dasar pengintip!" pekik Selena dengan marah dan langsung membenamkan sebagian tubuhnya sebatas leher dalam sungai.
Havard terkejut dan buru-buru berpaling. "Maaf! Aku tak tahu kalau kau mau mandi!!!" seru Havard dengan canggung. Wajahnya memerah karena malu memergoki perempuan telanjang yang sedang berendam di sungai.
"Kalau laki-laki sih, memang sering lihat..." gumam Havard dengan pelan, kemudian dia bersuara agak keras. "Baiklah, tak usah marah-marah begitu. Aku kan nggak sengaja..." ujarnya kemudian membalik dan sontak Selena kembali menenggelamkan tubuhnya kedalam air.
"Ah, kau memang ingin saja melihat payudara dan pukasnya perempuan!!!" tuduh Selena dengan ketus.
"Eh, jangan sembarang tuduh ya?!" sergah Havard tak terima.
"Sudah! Pergi saja kau!" usir Selena mengibas-ngibaskan tangannya.
Dengan mendengus marah, Havard kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Ia tiba di gubuk dan duduk disisi Nuzlan sambil menggerutu panjang-pendek.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Nuzlan sejenak, namun kemudian dia paham dan tertawa pelan. "Kamu kepergok Selena sedang mengintipnya mandi?"
"Enak saja menuduhku begitu..." sergah Havard dengan kesal. "Aku kira dia tersesat! Aku mencari-cari... eh, tak tahunya malah..." setelah itu ia melenguh pendek.
Nuzlan tertawa lalu menepuk-nepuk pundak Havard. "Tabahkanlah hatimu... begitulah perempuan... gengsi, tapi sebenarnya mau-mau..."
Tak lama kemudian, Selena muncul dengan wajah ketus. Havard memalingkan wajah menghindari tatapan marah perempuan itu. Selena duduk disisi Nuzlan lalu menyendok sup dan mencicipinya.
"Uhmmm.... enak sekali." puji Selena.
"Oh ya? Terima kasih... terima kasih..." respon Nuzlan dengan bangga.
"Sekarang kau mau kemana?" tanya Havard ikut menyendok sup itu dan mencicipinya. Tak lama pemuda itu mengangguk-angguk membenarkan pendapat Selena tentang kelezatan sup tersebut.
"Aku mau ke Tel-Qahira..." jawab Nuzlan. "Tapi kita tidak bisa mengambil rute sebelah selatan..."
"Kau curiga, Tigris masih mengawasi hamparan rerumputan itu?" tanya Havard.
Nuzlan mengangguk. "Kita ambil rute utara.... jaraknya agak singkat sebab hanya melewati dua pegunungan ini..." ujar Nuzlan menunjuk pegunungan batu yang menjulang di belakang wilayah itu. "Kita akan memasuki Gua Basilisk."
"Gua Basilisk?" desis Selena dengan rasa takjub. Nuzlan mengangguk. []
__ADS_1