
Sesuatu mirip benang bening mencelat keluar dari rerimbunan pohon. Benang bening itu mengincar Selena. Untung saja Havard yang siaga menyabetkan belati panjangnya memotong benang tersebut.
"Arachnas!!!" seru Nagini sembari menghunus pedangnya.
"Mereka tak kelihatan!" seru Nuzlan yang langsung menyiagakan Pasak Bianglala didepan dadanya. Tatapannya mengedar diseluruh tempat.
"Mereka pandai bersembunyi di pepohonan!" jawab Nagini tetap waspada diatas punggung kuda.
Nuzlan menggertakkan rahangnya. "Brengsek!! Pepohonan membantu mereka!" geram lelaki itu yang kemudian turun dari kuda dan menghambur ke dalam semak-semak.
"Nuzlan! Hati-hatilah!!!" seru Havard.
Terdengar bunyi senjata menyabet-nyabet sesuatu dan terdengar bunyi daging tersayat dan disusul dengan suara erangan makhluk.
Havard langsung turun dari punggung karkadan miliknya dan menatap Selena. "Tetap diatas pelana!!! Bukefals bisa menjagamu! Jangan turun kesini!" pesannya dengan tegas kemudian menatap Nagini. "Jaga temanku!!!"
Nagini hanya mengangguk dan mendekatkan kudanya dengan karkadan yang dinaiki Selena. Gadis itu juga telah menyiagakan anak panah dan busurnya.
Sementara Havard ikut menghambur ke semak-semak dimana Nuzlan berada. Sekali lagi terdengar bunyi-bunyi pertarungan.
Tiba-tiba beberapa makhluk Arachnas muncul dari sisi lain dan menyerang kedua wanita diatas tunggangannya. Selena dengan sigap telah membidik namun Bukefals ternyata lebih cepat mengantisipasi. Dengan raungan dan gerutuan keras, karkadan itu maju dan menyodokkan culanya yang besar ke depan.
Salah satu Arachnas tertancap cula tersebut. Lainnya menghindar dengan cepat dan kembali menyerang Selena dan Nagini.
Nagini menarik tali kekang kudanya membuat hewan itu meringkik dan mengangkat dua tungkai kaki depannya kemudian menyepak Arachnas yang kebetulan berada didekatnya. Arachnas itu tewas dengan kepala pecah. Nagini menyusulnya dengan sabetan pedang disampingnya, memotong sesosok lagi Arachnas yang hendak menyerang dari samping, menjadi dua potongan bangkai.
Arachnas yang menyerang dari arah belakang di sepak oleh kuda itu hingga lainnya terjengkang dan menyingkir ketakutan sedang yang sial, tewas dengan dada yang hancur terkena tendangan kuda tersebut.
__ADS_1
Bukefals ikut menyabet-nyabetkan ekornya, menampar beberapa Arachnas yang coba membokong dari belakang. Beberapa Archnas akhirnya menyerah dan memilih menyingkir melarikan diri sedang sisanya merelakan nyawanya lepas diujung tombak milik Nuzlan dan belati panjang milik Havard.
"Fiuh... untungnya mereka mutan-mutan berotak jongkok." ujar Nuzlan saat keluar dari rerimbunan semak. Tubuhnya banyak percikan lendir bercampur darah. Ia menatap tombak kesayangannya. "Uuughhh... Pasak Bianglala terpaksa harus kumandikan... penampilannya jadi jelek..."
Havard menyusul keluar dari rerimbunan semak. Kondisi fisiknya sama dengan Nuzlan, penuh dengan lendir dan darah makhluk-makhluk Arachnas yang dibunuhnya.
"Apakah kita lanjutkan lagi perjalanan?" tanya Havard sembari menyarungkan belati panjangnya.
"Ya... sebentar lagi, kita akan melewati persimpangan..." ujar Nagini. "Untuk sampai ke Turan, kita memilih persimpangan ke kiri..."
"Kalau ke kanan?" tanya Selena.
"Jalan ke kanan hanya menuju istana yang terlupakan..." jawab Nagini.
"Istana yang terlupakan?" sambung Havard seraya mengerutkan alis. "Aku baru dengar..."
Nagini melanjutkan. "Dalam pertempuran Maha Kubra, dia gugur bersama sahabatnya, dari bangsa Aesir, bernama Theoldur..."
"Pertempuran Maha Kubra?" desis Havard. "Aku ingat kisah itu..."
"Itu bukan kisah, Havard... itu nyata..." sela Selena.
"Ya, maksudku... kau ingat Selena? Dulu semasa kecil, guru kita, Ustadz Badabi sering menceritakan kisah kerajaan-kerajaan kuno dan Menara Agung Temen-Ni-Zur?" ujar Havard menatap Selena.
"Ah, ya! Aku ingat!" seru Selena kemudian. "Kalau tak salah, dalam legenda itu diceritakan, raja bangsa Gog menyerang kerajaan-kerajaan kuno di barat. Kaisar Dunia yang memerintah di Menara Temen-Ni-Zur kemudian mengerahkan tujuh orang prajurit terbaiknya melawan raja bangsa Gog itu. Namun dia berhasil memanfaatkan Naga Langit yang berdiam di gunung Pyrgo, mengamuk dan menghancurkan sebagian menara itu... akhir kisah, Kaisar Dunia berhasil memenjarakan raja bangsa Gog itu disebuah gunung, namun kerajaannya terlanjur hancur dan semua prajurit terbaiknya gugur dalam perang itu..." tutur Selena.
"Kisahnya mirip dengan yang kau ceritakan..." ujar Nagini dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Apakah Lupricala termasuk salah satu prajurit tersebut?" tebak Selena.
"Kau memang cerdas." puji Nagini.
Tak lama kemudian mereka tiba di persimpangan. Selena tiba-tiba melihat sesuatu dan ia berseru. "Aduhai, indahnya tanaman itu!"
Gadis itu menunjuk tanaman rambatan yang memenuhi dan menutupi beberapa bagian pepohonan yang berada dipersimpangan bagian kanan. Selena langsung melompat dari punggung Bukefals dan mendekati tanaman rambat itu.
"Hei, kita harus bergegas menuju Turan." tegur Havard. "Untuk apa kau turun? Tanaman itu nanti akan ku ambil untukmu setelah tugas kita di Turan, selesai..."
Tapi Selena terlanjur memetik setangkai bunga itu dan membawanya ke hadapan Havard. Ia memperlihatkannya.
"Lihatlah bunga ini... cantik sekali." ujarnya.
Havard mengakui bahwa bunga yang digenggam tangkainya tersebut memang cantik. Namun Nagini langsung memperingatkan.
"Jangan sentuh putiknya!" seru Nagini.
Namun terlambat. Mungkin saja Selena sempat menyentuh putiknya dan tak lama kemudian gadis itu merasakan aneh pada tubuhnya.
"Havard.... aku... aku merasa... kaku..." ujar Selena dan tak lama kemudian ia jatuh ke tanah.
"Selena!!!" teriak Havard dengan cemas dan bergegas turun dari punggung Bukefals. Dipeluknya gadis tersebut dan diperiksanya.
"Dia pingsan!!!" ujar Havard dengan panik. Ditatapinya Nagini. "Sebenarnya tumbuhan apa yang dipegangnya tadi?"
"Mawar Lailat...aslinya Lilithus Bacchaea... tumbuhan endemik disekitar wilayah dekat Kuil Bethania... putiknya mengandung racun yang dapat membuat penderitanya menjadi kaku dan membatu!!!" jawab Nagini, seketika membuat Nuzlan terkejut dan Havard langsung pias ketakutan.[]
__ADS_1