
Do Quo telah bersiap-siap dan melakukan pemanasan. Setelah itu ia melangkah santai keluar aula, menuju arena pertandingan bersamaan dengan diserukannya namanya oleh pembawa acara.
Do Quo melangkah dengan wajah gembira. Senyumnya terus tertebar dan lambaian tangannya terus terayun disambut para penggemarnya dari kalangan penonton.
"Uuuuhhh.... dasar Paman Lebay!!!" teriak Selena dengan nada mengejek. Nuzlan tertawa mendengar olokan gadis itu.
Havard sendiri menonton dari sisi bawah panggung bersama-sama dengan Rudra. Do Quo menatap Havard yang memandangnya dengan isyarat untuk berhati-hati terhadap lawannya. Lelaki dari Daipeh itu mengangguk tak kentara.
"Sekarang kita sambut kontestan berikutnya, seorang lelaki dengan kecepatan yang tak terkira! Inilah dia! Sinhala!!!!" seru pembawa acara.
Tak lama kemudian melengganglah dengan santai keluar menuju panggung, seorang lelaki berambut putih bagai salju. Kulit lelaki itu nampak pucat, kontras benar dengan pakaian ringkasnya yang berwarna hitam dan terbordir dengan benang emas, semakin sangar dengan tatapan tajam dari kedua kornea matanya yang berwarna seperti perak menyala. Dialah Sinhala, seorang petarung yang menurut berita berasal dari wilayah antah berantah yang disebut Shamvala.
Havard menangkap sesuatu yang lain dari penampilan lelaki bermata bagai perak itu. Ternyata Sinhala tidak menyandang senjata apapun. Ia terlihat percaya diri berhadapan dengan Do Quo tanpa senjata.
Kedua kontestan itu saling berhadapan. Bunyi bel berdentang menandakan pertandingan dimulai. Do Quo menatap Sinhala.
"Kau tak memegang senjata?" pancing Do Quo dengan senyum. Kumisnya yang tebal melintang itu terlihat gagah menempel diatas bibirnya.
Sinhala tersenyum tipis dengan tatapan setajam sembilu. "Aku menghormatimu. Menghadapi seorang pakar tinju dengan senjata, adalah sebuah penghinaan bagi kompetensiku." jawab Sinhala masih dengan sikap tenang.
"Wah, rasa percaya diri yang tinggi sekali." komentar Do Quo dengan serius. Senyum simpatiknya hilang. "Kuharap kau tidak menyesali keputusanmu itu."
Lelaki itu memasang gaya tempurnya. Kaki kanannya maju kedepan. Posisi tubuhnya menyerong. Tangan kanannya terangkat melindungi bagian leher dan dada dengan jemari membentuk cakar elang, sementara tangan kirinya tertegun disamping perut dengan jemari membentuk pola serpih.
Sinhala sejenak mendengus pendek ditengah senyum sinisnya. Ia mengembangkan tangan lalu menyatukannya diatas kepala dan menariknya dalam posisi bersilangan ke dada. Sinhala kemudian memutar lengannya dan mengembangkan kembali dengan posisi menyamping. Tangan kirinya didepan dan tangan kanannya terkembang dibelakang.
Lama keduanya dalam posisi tersebut. Tak ada yang berniat memulai serangan. Para penonton didera rasa tegang.
"Apa yang Paman Do Quo lakukan?!" desis Selena dengan cemas. "Mengapa ia tak maju menyerang saja lawannya?"
"Do Quo mempelajari gerak dan mendeteksi aura lawannya." jawab Nuzlan juga dalam sikap tegang. "Begitu juga sebaliknya. Keduanya sama-sama melakukan penjajakan..."
Namun karena lama diantara keduanya tak bergerak, membuat penonton menjadi tidak sabar. Mereka mulai berteriak-teriak menyuruh kedua kontestan untuk segera bertarung.
Sinhala tersenyum tipis. Tiba-tiba dengan kecepatan yang tak bisa dijangkau pandangan orang biasa, ia melesat menuju Do Quo.
Do Quo kaget tapi tak panik. Ia maju menyambut serangan lawannya. Tangan Sinhala maju terulur dalam bentuk tinju, dan ditangkis oleh Do Quo dengan tangan kanannya. Lelaki berusia empat puluh tahun itu balas menusukkan keempat jemarinya yang kokoh mengincar wajah Sinhala.
PLAKK... PLAKK... TAK...TAK...
Sinhala meliukkan telapaknya kedalam, menampar tusukan jemari Do Quo dan membuang serangan lawannya ke samping. Disaat yang hampir bersamaan, Sinhala mengayunkan tangan satunya menetak ke arah kepala lawannya.
Do Quo cepat-cepat membuang tubuhnya ke samping dan melompat lagi menjauh beberapa meter dari Sinhala sembari mengatur napasnya. Sinhala hanya menatapinya dengan senyum sinis. Teriakan para penonton yang memberi semangat kembali terdengar.
"Mengapa Do Quo? Sudah lelah?" ejek Sinhala.
"Brengsek!!!" umpat Do Quo kembali memasang gaya tempurnya dan maju menerjang Sinhala dengan ayunan tendangan menyamping.
Sinhala hanya memiringkan separuh tubuhnya, membiarkan tendangan Do Quo mentah dan lelaki itu mendarat dua langkah disamping Sinhala.
Do Quo yang baru saja mendarat kini melompat lagi ke belakang dan mengayunkan tendangan memutar, mengincar wajah Sinhala.
Kali ini Sinhala tak menghindar. Ia menangkis tendangan itu dan melompat keatas lalu berputar mengirimkan tendangan memutar membalas Do Quo.
Do Quo dengan cekatan mengangkat lututnya memperisai bagian samping tubuhnya.
BRUKK!!! EHM!!!
__ADS_1
Tendangan Sinhala menghantam tekukan kaki Do Quo. Lelaki itu merasakan betis, lutut dan pahanya kesemutan namun ditahannya. Tubuh Do Quo terdorong ke samping akibat dorongan tenaga dari tendangan lawan.
Sinhala mengejar dengan dengan melompat sambil berpusingan bagai mata bor mengincar Do Quo. Lelaki berambut seputih salju itu mengembangkan tangannya dengan jemari yang membentuk cakar.
Ayunan cakar Sinhala terayun mengincar bahu Do Quo. Lelaki dari Daipeh itu memundurkan bahunya ke belakang sehingga cakar itu hanya lewat begitu saja. Namun Sinhala tak menyerah begitu saja. Ia kembali mengayunkan cakar tangannya yang satunya mengincar tengkuk lawannya.
Terpaksa Do Quo membuang wajahnya ke belakang, namun disaat yang bersamaan sebelah kakinya terayun melakukan sepakan ke tubuh lawan.
BUKKK... HEH!!!!
Sepakan kaki Do Quo mengenai tubuh Sinhala. Tubuh lelaki berambut putih itu menegak namun tubuhnya oleng kehilangan keseimbangan. Hal ini dimanfaatkan oleh Do Quo untuk bersalto ke belakang lalu melesat lagi menyerang Sinhala.
Do Quo menghantamkan tinjunya. Sinhala memaksakan menyambut tinju lawannya dengan tinju pula.
BAM!!!! UGHH... EHHH...
Ledakan tenaga dalam terjadi manakala kedua tinju kontestan itu bertumbukan. Akibatnya, tubuh keduanya terpental ke belakang. Do Quo meredam dorongan itu dengan memancangkan kedua kakinya dilantai dibarengi tenaga dalam memanipulasi berat tubuhnya. Adapun Sinhala melakukan salto berulang kali di udara dan mendarat di lantai dengan bagus.
Havard sendiri sesekali tanpa sadar berdiri melihat sahabatnya yang susah payah mempertahankan diri dari serangan lawannya yang beringas. Tatapan tajamnya tetap terarah ke arena pertandingan, mempelajari gerakan Sinhala.
Suara teriakan pemberi semangat dari penonton terdengar lagi. Kedua kontestan itu kini berdiri menegakkan tubuhnya.
"Gaya bertarung yang menarik..." puji Do Quo sembari menyeka darah yang menetes sedikit dari sudut bibirnya. Agaknya lelaki itu menderita sedikit luka dalam.
Dihadapannya, Sinhala sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ia berdiri dengan tenangnya.
"Aku semakin semangat menghadapi lawan sepertimu." ujar Do Quo kembali memasang jurusnya.
Sinhala menatap angkuh lalu mendengus lagi. Ia masih tetap pada gayanya yang tanpa gaya itu.
Do Quo merendahkan tubuhnya lalu melejit kembali dengan cepat menuju Sinhala. Ia mengayunkan tinjunya.
Namun betapa terkejutnya lelaki dari Daipeh itu ketika menyadari tinjunya hanya mengenai udara kosong saja tanpa adanya Sinhala disana menyambut serangannya. Ia menoleh.
Sinhala berada beberapa jarak dari sisi kanannya, berdiri dengan sikap tanpa gaya tarung. Begitu angkuh sikapnya, seakan meremehkan kepandaian lawannya.
Dengan geram, Do Quo melesat ke samping mengayunkan tangannya memotong wajah lelaki berkulit pucat itu.
Sekali lagi Do Quo menelan kemarahannya ketika menyadari Sinhala tak juga berada disana menyambut serangannya. Lelaki kini berdiri dibelakang Do Quo.
"Hei, kenapa kau terus menghindar?!" sergah Do Quo dengan marah dan mengayunkan tendangan ke belakang.
Kembali tendangan itu mengenai tempat kosong dan begitu terkejutnya Do Quo, ketika Sinhala tiba-tiba saja susah berada didepannya menampilkan senyum sinisnya.
Havard dan Rudra sendiri terperangah melihat kecepatan yang dipamerkan Sinhala. Para penonton terpukau dan kehilangan suara untuk bersorak-sorai.
Belum sempat Do Quo melakukan serangan, Sinhala dengan cepat mencengkeram leher lelaki itu dan mengangkat tubuhnya ke atas. Dengan sekali ayunan, tubuh Do Quo melayang dan jatuh berdebam dilantai. Akibat daya dorong, lantai yang dihempas oleh tubuh Do Quo menjadi retak.
Tiba-tiba Sinhala melompat ke udara dan melayang sejenak diatas. Lelaki itu menyatukan telapaknya ke dada lalu menukik dengan cepat ke bawah. Lelaki itu mengarahkan tangan kanannya kepada Do Quo, mengembangkan jemarinya membentuk tapak.
"Celaka!!! Tapak Sakti Arhat Suci!" seru Rudra berdiri dan menatap terperangah.
"Apa katamu?!" seru Havard menatap Rudra dengan kaget lalu memalingkan wajahnya memandang Sinhala yang meluncur cepat dengan telapak tangannya membuka.
Do Quo merasakan hawa panas mengerubutinya. Jika ia tak segera mengantisipasi, ia pasti akan tewas sia-sia. Tidak ada cara lain. Lelaki itu merapal mantra dan kedua tangannya membentuk mudra kemudian lelaki itu mengarahkan dua tinjunya ke depan.
"Tinju Jirah Arhat Emas!!!" seru Do Quo. Seketika berkas cahaya keemasan menyelimuti tubuh Do Quo.
__ADS_1
DUARRRRR....
Terjadi ledakan bagai nuklir yang menghantam bumi. Abu menerjang ke udara membuat pemandangan terhalang. Para penonton kesulitan menyingkirkan debu-debu akibat ledakan tenaga dalam itu.
Havard nyaris saja maju memanjat panggung kalau saja Rudra tak mencegahnya. Lama juga arena tanding itu diliputi debu. Makin lama debu-debu itu hilang dan arena pertandingan nampak kembali.
Namun betapa terkejutnya para penonton, tak terkecuali Havard dan Rudra menatap pemandangan dihadapan mereka.
Panggung pertandingan itu rusak menyisakan lubang besar ditengah-tengah arena pertandingan. Beberapa jarak dari lubang itu, duduk setengah berlutut, Sinhala yang memegang dadanya. Setitik darah nampak mengalir dari sudut bibirnya.
Tubuh Do Quo lenyap. Kemungkinan ia tertanam jauh didasar lubang itu. Para penonton gempar bukan main.
"Do Quo!!!!" teriak Havard histeris. Ia memaksa naik ke atas panggung sedang Rudra mati-matian memeluk tubuh lelaki itu berupaya agar Havard tidak menaiki panggung yang bisa menyebabkan dia di disfikualifikasi dari pertandingan.
"Sadar Havard! Sadar!!!" teriak Rudra dengan kalap.
"Sahabatku didasar lubang itu!!!" teriak Havard dengan kalap pula. "Aku mau menolongnya!!!"
"Pertandingan belum berakhir, Havard!!!" seru Rudra mengingatkan. "Jika kau memaksa, kau akan melanggar peraturan. Kau akan dikeluarkan dan itu menempatkan Sinhala menjadi nomor satu tanpa cela! Apakah itu yang kau inginkan?!"
"Tapi sahabatku!!!" protes Havard dengan mata yang sudah basah. Ia lupa caranya menangis. Yang ada hanyalah kemarahan.
"Biarkan panitia menetapkan keputusannya!!!" seru Rudra lagi.
Havard hanya bisa memendam kemurkaannya, menggigit bibirnya keras-keras hingga tanpa sadar ia melukai bibirnya sendiri dengan gigitan itu.
Diatas panggung, Sinhala perlahan bangkit dan melangkah pelan menuju lubang. Ia menatap lubang yang dalam menghitam itu dengan tatapan datar.
"Sinhala!!!" teriak Havard. "Aku menantangmu!!! Aku menantangmu!!!" serunya menudingkan jari ke arah lelaki bermata perak itu.
Sinhala menoleh menatap Havard yang berdiri gemetar menahan kemarahannya yang memuncak. Dibelakangnya, Rudra berdiri siaga untuk mengantisipasi jangan sampai lelaki dihadapannya kelepasan emosi dan hendak memanjat panggung.
Sinhala kembali memamerkan senyum dinginnya. Sementara diatas tribun, Nuzlan menatap dengan geram sedang Selena sejak tadi sudah tersedu-sedan menangisi nasib Do Quo yang tenggelam dalam lubang dalam ditengah arena pertandingan itu.
"Kita akan bertemu Havard. Tak perlu terburu-buru..." ujar Sinhala kemudian menudingkan telunjuknya ke arah Havard. "Kau akan menyusul sahabatmu mendiami lubang ini!" serunya sembari menunjuk lubang didepannya.
Havard menggeram muntab. Sedang Rudra hanya menatap tajam. Ia tak bisa apa-apa lagi tanpa busur kebanggaannya. Senjatanya yang tersisa hanyalah tombak pendek berhulu trisula dan itu tak akan berarti apa-apa dihadapan Sinhala.
Sebenarnya, Rudra masih memiliki satu jurus pamungkas, yaitu seni beladiri tangan kosong yang disebut Tandwa Natarja. Seni itu berupa gerak mirip tarian namun mematikan sebab penuh gerakan tipu, apalagi dimainkan dengan menggunakan trisula. Seni ini dipelajari langsung oleh Resi Amoghasidhi kepada Raja Manikmaya. Rudra mempelajarinya dan berhasil menguasai setiap gerakan dalam tarian maut itu.
Namun Rudra ragu, apakah tarian Tandwa Natarja akan mempan menghadapi jurus Tapak Sakti Arhat Suci milik Sinhala. Sepengetahuannya, Jurus itu merupakan seni yang ditemukan Amitabha Julai di Bukit Lima Elemen di dataran Guon Luon. Pencipta jurus itu sama-sama merupakan tokoh legenda yang serupa dewa. Kemungkinan kedua jurus itu juga tak akan mempan satu sama lain.
"Ya!!!! Berhubung kontestan kita, Do Quo tidak lagi menampakkan tanda-tanda perlawanan, maka dengan ini, predikat pemenang ditasbihkan kepada Sinhala dari Shamvala!!!!" seru pembawa acara.
Sinhala mendengus pendek dan tersenyum kemudian berbalik meninggalkan arena pertandingan.
"Do Quo!!!" teriak Havard langsung lari menaiki panggung dan bergerak menuju lubang. Ia menuruni lubang itu dan mendapati Do Quo terbaring pingsan dengan tubuh penuh luka dan pakaiannya robek-robek.
Havard mengeluarkan tubuh sahabatnya dari lubang itu. Beberapa panitia menyambut tubuh Do Quo dan paramedis langsung mengamankan lelaki itu keluar dari area pertandingan menuju Rumah Sakit Kota Turan.
"Pertandingan Grand Final akan diselenggarakan pada pukul tiga sore, menunggu keputusan tim medis perihal status dari pada Tuan Do Quo...." seru pembawa acara. "Apabila, pemeriksaan medis menunjukkan arah yang kurang baik, maka otomatis, gelar juara ketiga Turnamen Tarung Sejagat diberikan kepada kontestan Rudra Sarwa dari Svaradwipa!!!"
Para penonton setelah itu berhamburan meninggalkan tribun. Nuzlan mengajak Selena.
"Ayo, kita menjenguk Tuan Do Quo..." ajak Nuzlan. Selena mengangguk.
Lelaki itu mendesah. "Mudah-mudahan Nagini pulang hari ini..." Keduanya menyusuri deretan bangku tribun dan menuruni tangga hingga tiba pada pintu keluar Koloseum.[]
__ADS_1