MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
UTUSAN DARI TEL-QAHIRA


__ADS_3

Kehidupan kedua orang itu berjalan normal sebagaimana biasanya. Namun untuk mengantisipasi penculikan, Havard memilih beristirahat sebagai pengawal kafilah dagang. Ia menjalani pekerjaan binatu. Bukan pekerjaan yang pantas memang, tapi Havard rela menjalaninya demi mengawasi Selena.


Ahmad sendiri hanya tertawa pelan saja melihat Havard yang pontang-panting mengangkat keranjang cucian dari sumur ke dalam bangunan kemudian diserahkan kepada para pencuci dan penjemur untuk dikeringkan di tengah lapangan.


Selena sendiri kembali kepada pekerjaan tak resminya sebagai tabib kota tanpa sertifikat. Tanpa sepengetahuan Selena, warga Las Mecca mengumpulkan biaya yang disetorkan kepada Syaikh Hasyim agar gadis itu menimba ilmu di Akademi Asklepian dan itu tidak pernah diberitahukan sama sekali kepada Selena. Warga memang sangat menyayangi perempuan itu.


Menurut isu, Syaikh Hasyim mengadopsi anak perempuan itu dari seorang wanita misterius. Tidak ada satupun yang tahu siapa nama wanita itu kecuali Syaikh Hasyim sendiri dan beliau tidak pernah berniat memberitahukan kepada siapapun nama asli wanita tersebut.


Dan warga pun tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Bagaimana pun Selena tumbuh dan berperan sesuai dengan harapan warga, bahkan lebih dari itu. Kompetensi alamiahnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan medis. Selena bahkan tahu meracik beberapa ramuan hanya dengan membaca kitab Hukum Pengobatan karya Avecina dan Kitab Penjelasan tentang Ketabiban karya Averoes.


Kecakapannya meracik ramuan elixir, membuatnya terkenal diseluruh kota dan warga pun beramai-ramai menasbihkan gelar tabib kepada Selena meski tanpa sertifikat.


Havard saat itu baru pulang dari toko binatu ketika ia memutuskan menemui Selena di tempat praktiknya. Ketika lelaki itu tiba, Selena baru saja selesai menyembuhkan seorang pasien yang berterima kasih sebanyak-banyaknya lalu meninggalkan tempat praktik tersebut.

__ADS_1


"Hai, Havard... masuklah..." panggil Selena ketika melihat Havard didepan pintu.


Lelaki itu masuk dan duduk disebuah bangku dekat pintu. Selena bangkit mendekati lelaki itu. Penampilannya sebagai tabib begitu mengesankan. Selena mengenakan jubah putih khas tabib meskipun didada kiri jubah itu tidak terpasang pin sepasang ular melingkari tongkat khas ketabiban, sebab Selena memang bukan seorang tabib resmi yang dikukuhkan oleh maklumat negara. Sebuah stetoskop tergantung dilehernya. Rambut coklatnya yang panjang digulung dan disanggul, membuatnya nampak cantik nan anggun. Didalam jubah putih itu, Selena hanya mengenakan abaya hitam sederhana.


"Apa keluhanmu kali ini?" tanya Selena dengan lembut, sembari menarik sebuah bangku lalu meletakkannya didepan Havard kemudian duduk disana.


"Aku sehat, nggak kurang suatu apapun." ujar Havard mengerutkan alisnya.


"Aku hanya memastikan keadaanmu." kilah Havard. "Apa kau baik-baik saja?"


"Apa maksud pertanyaanmu itu?" tukas Selena bangkit dan melangkah kembali ke kursinya. "Aku ini tabib. Aku paling memahami anatomi fisik dan non fisikku. Mengapa kau repot-repot menanyakan hal itu? Tentu saja aku baik-baik saja. Nah kau puas?"


"Tak usah marah begitu. Aku bertanya tentang hal yang baik. Kenapa kau sentimen sekali? Kau lagi menstruasi ya?" olok Havard.

__ADS_1


Selena langsung menarik stetoskop yang melingkar dilehernya dan hendak dilemparkannya kepada Havard ketika lelaki itu mengangkat tangan pertanda menyerah.


"Baiklah, baiklah... aku melihatmu baik-baik saja." ujar Havard kemudian bangkit dan melangkah ke pintu, tepat bersamaan dari pintu muncul seorang pria berpakaian perwira tinggi. Ia menatap Selena.


"Apakah Anda Selena binti Hasyim?" tanya lelaki perwira itu dengan datar.


Selena menatap perwira itu dengan heran, begitupun dengan Havard yang kemudian menatap Selena.


"Kau nggak memukul lelaki sembarangan kan?" selidik Havard membuat Selena mendecak kesal ke arahnya. Setelah itu ia menatap kearah perwira tersebut.


"Ya... Sajalah Selena Hasyim... ada yang bisa kubantu, Pak Tentara?" tanya Selena dengan santun.


"Nona Selena dan Tuan Havard di undang ke Istana kediaman keluarga Ishak di Tel-Qahira dan harus berangkat sekarang juga!!!" seru perwira itu menandaskan membuat Havard dan Selena saling melempar pandang dengan rasa heran.[]

__ADS_1


__ADS_2