MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
PASAR RAYA DAN TURNAMEN TARUNG JAGAT


__ADS_3

Nuzlan baru saja masuk ketika Havard, Selena dan Nagini muncul di restoran itu. Selena melambaikan tangan dan Nuzlan membalasnya kemudian menunjuk tempat duduk mereka.


Meja di restoran tersebut berbentuk bundar. Mereka duduk melingkar saling berhadapan. Nuzlan mengembangkan tangan. "Silahkan memesan..."


Nagini mengambil lembar menu dan membacanya. Sejenak kemudian ia menggeleng pelan dan memesan saja sebuah minuman. Selena memesan daging bumbu bawang dan seledri sedangkan Havard hanya memesan nasi biryani. Nuzlan mengangguk.


"Baik, kurasa semua sudah memesan ya?" ujar Nuzlan kemudian menatap Nagini. "Bisakah anda memesan makanan? Saya melihat tadi anda hanya mencatat minuman itu dalam kertas tagihan..."


"Aku tidak suka menu restorannya... tidak ada menu vegetarian didalamnya." jawab Nagini sekenanya.


Nuzlan mengambil lembar menu ditangan Havard dan meneliti daftar menu tersebut. Ia kemudian menatap Nagini.


"Mengapa kau merekomendasikan restoran ini sedangkan menunya tidak ada yang kau sukai?" pancing Nuzlan.


"Aku merekomendasikan restorannya, bukan daftar menunya..." jawab Nagini dengan senyum datar.


Nuzlan menarik napas panjang. "Begini saja... menu apa yang kau sukai?"


"Apakah kau mentraktirku?" pancing Nagini kemudian tersenyum lagi membuat wajah Nuzlan bersemu merah.


"Ya..i-iyaaa..." jawab Nuzlan dengan gagap, tak menyangka mendapat respon begitu rupa dari wanita berwajah dingin itu.


Nagini mengangguk-angguk pelan dan menegakkan tubuhnya. Nuzlan dapat dengan jelas melihat gundukan dada wanita bermantel itu mencuat.


"Biasanya hanya pada saat-saat tertentu, restoran ini menyajikan menu vegetarian... tapi bukan saat ini..." ujar Nagini.


"Memangnya kapan mereka menyajikannya?" tanya Nuzlan.


"Di perayaan Bacchalia dan perayaan Gaealia..." jawab Nagini. "Tapi, kalau kau mampu merayu chef Barbatos, menyajikan Salad Ayam Gampong, aku akan sangat berterima kasih..."


"Kau menantangku?" pancing Nuzlan dengan senyum nakal.


Alis Nagini terangkat sebelahnya. "Jika kau menganggap itu sebuah tantangan... ya lakukanlah..."


Nuzlan tersenyum-senyum menulis menu yang dipesan oleh Nagini. Ia kemudian menatap Havard. "Kau mau menemaniku minum dua sloki Ginger Beer?"


Havard mengangguk dan Nuzlan menuliskan lagi menu minuman tersebut. Setelah itu ia bangkit.


"Mau kemana kamu?" tanya Havard. "Bukankah ada pelayan yang akan membawakan menu itu?"


"Duduk santailah kalian semua... biar aku bicara dulu dengan manajer penginapan ini..." ujar Nuzlan kemudian melangkah menuju kepada kasir.


"Aku mau bertemu manajermu..." ujar Nuzlan. Kasir itu mengangguk.


"Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya kasir itu. Nuzlan menyerahkan daftar menu itu kepada kasir.


"Jika kau bisa membantuku, maka lakukanlah..." ucap lelaki itu sembari melipat tangannya dibalik pinggul.


Kasir meneliti daftar menu tersebut lalu kembali menatap Nuzlan. "Untuk menu lainnya dapat kami siapkan, kecuali menu Salad Ayam Gampong... itu hanya khusus di sajikan pada perayaan Bacchaelia..." terangnya.

__ADS_1


"Justru itu aku mau bertemu manajermu. Bisa, kan?" tanya Nuzlan.


Kasir itu mengangguk dan menekan beberapa tombol pada mesin komunikasi. Tak lama corong diatas mejanya bersuara.


"Kenapa Rocky?" tanya seseorang.


"Salah satu pelanggan ingin bertemu anda..." jawab Rocky, "Ini sehubungan dengan menu Salad Ayam Gampong."


"Kalau begitu tunggu sebentar." ujar suara dicorong itu.


Tak lama kemudian seseorang muncul di restoran itu. Ia menjumpai kasir dan Nuzlan yang asyik berbincang-bincang.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu tentang Salad Ayam Gampong?" pancing manajer tersebut.


"Saya berharap, chef anda bisa menyajikan menu tersebut..." pinta Nuzlan.


"Wah, sayang sekali Pak. Menu itu adalah sajian khusus di perayaan tertentu..." tolak manajer tersebut dengan halus.


Nuzlan mendekati manajer dan berbicara setengah berbisik. "Anda lihat wanita bermantel hitam, bertiara tanduk itu?" ujar Nuzlan menganggukkan kepala ke arah Nagini yang kebetulan juga menatapnya. Manajer mengikuti anggukan kepala lelaki itu.


Nuzlan melambaikan tangan kepada Nagini. Wanita itu diam saja dan hanya menganggukkan kepalanya dengan dingin.


"Terus?" tanya manajer itu.


"Dia istriku, dan kebetulan dia lagi hamil muda..." ujar Nuzlan berbohong. "Ia mengidamkan menu itu sejak kami tiba di kota ini... bisakah anda mengabulkan harapan wanita itu? Saya menaruh harapan besar kepada anda." ujar Nuzlan dengan wajah dibuat memelas.


Manajer menghela napas dan menimbang-nimbang, hingga akhirnya ia menganggukkan kepala.


"Terima kasih, atas kemurahan hati anda." ujar Nuzlan menjabat tangan manajer tersebut. "Saya akan membayarnya dengan harga yang pantas."


Manajer itu mengangguk dan pamit meninggalkan restoran. Nuzlan melenggang santai menuju meja dimana ketiga sahabatnya menunggu.


Ketika Nuzlan duduk, Havard mengejarnya. "Apa yang kau katakan kepada orang itu?"


"Yang jelas itu lobi tingkat tinggi dibidang kuliner..." jawab Nuzlan sekenanya kemudian menatap Nagini. "Aku menang, Nagini. Sebentar lagi, Chef Barbatos akan menyajikan menu yang kau inginkan..." ujar lelaki itu lalu tertawa senang.


Nagini menatap Nuzlan dengan curiga. "Apa yang kau katakan pada manajer itu? Kelihatannya kau berhasil merayunya. Setahuku, manajer itu adalah orang paling tegas..."


"Hanya sedikit kebohongan dan kuharap kau tak mengambil hati terhadapku." jawab Nuzlan dengan tersipu. "Yang penting, aku menang taruhan."


Nagini terus saja menatap Nuzlan dengan curiga sementara Havard mengamati pengunjung restoran itu.


"Kapan turnamen itu akan dilangsungkan?" tanya Selena tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Nuzlan.


"Aku mau menontonnya... aku ingin melihat pertunjukan orang-orang kuat dimuka bumi." seru Selena mengangkat tangan kanannya ke udara.


"Kau itu perempuan, tapi hobimu maskulin sekali." sindir Havard. "Sebaiknya ganti hobimu... misalnya belanja perkakas rumah di toko."

__ADS_1


"Kenapa kau memusingkan hobiku?" tukas Selena kemudian tersenyum nakal. "Bagaimana kalau kau ikut turnamen itu? Aku ingin lihat, sejauh mana teknik-teknik pedangmu itu menghadapi lawan..." tantangnya.


"Ah, turnamen itu hanya untuk anak-anak..." kilah Havard. "Aku mempelajari cara bertarung, untuk mempertahankan hidupku, bukan untuk melenggak-lenggok tak jelas di panggung itu..."


"Ah, kau saja yang takut..." ujar Selena.


"Aku nggak takut." bantah Havard dengan berang.


"Kalau begitu, Ikutilah turnamen itu, Havard..." pinta Nuzlan. "Ini juga berguna untuk mengalihkan mata-mata musuh yang memperhatikan gerak-gerik kita."


Havard menatapi Nuzlan Agak lama hingga akhirnya ia menyetujui tantangan Selena.


"Baiklah, aku akan mengikuti turnamen itu." ujar Havard pada akhirnya.


"Bagus." ujar Nuzlan dengan senyum. "Nanti aku yang akan menjadi sponsor kamu dalam pertarungan itu."


Tak lama kemudian muncul dua orang pelayan membawa nampan berisi menu yang dipesan. Mereka meletakkannya pada meja. Ketika menu Salad Ayam Gampong disajikan, salah satu pelayan membungkuk takzim kepada Nagini. Wanita bertiara tanduk itu langsung heran.


"Silahkan dinikmati sajiannya, Nyonya..." ujar pelayan itu. Seketika Havard tercengang sedang Selena dan Nagini terkejut.


"Hei, aku belum..." protes Nagini.


"Ya, nyonya sangat berterima kasih." sela Nuzlan dengan cepat. "Sampaikan salamku kepada tuan chef dan manajer."


Pelayan itu membungkuk lagi dan mengundurkan diri dari tempat itu. Sepeninggal mereka, Nagini langsung menatap Nuzlan dengan wajah semu merah.


"Katakan! Apa yang kau bilang pada manajer itu?" desak Nagini sembari menggenggam gagang pedangnya.


"Hanya sedikit kebohongan untuk bisa menyenangkan hatimu." jawab Nuzlan dengan senyum. "Jangan diambil hati."


Havard dan Selena menatapi keduanya yang terlibat pembicaraan serius.


"Kebohongan apa?! Kenapa kau melambaikan tanganmu kepadaku dihadapan manajer itu?!" desak Nagini lagi.


"Haruskah kuberi tahu?" pancing Nuzlan.


Nagini menatapnya dengan tajam. Nuzlan akhirnya mengangguk.


"Aku mengaku dihadapan manajer, bahwa kau... adalah istriku yang lagi hamil muda." jawab Nuzlan dengan tenang.


Seketika Havard tertawa sementara Selena membekap mulutnya tak menyangka Nuzlan bisa melakukan hal itu. Wajah Nagini makin merah mendengar keterangan itu.


"Sudah ku bilang, jangan dimasukkan kedalam hati." tekan Nuzlan. "Ini juga demi kepentinganmu..."


Nuzlan sengaja melengos menghindari tatapan Nagini yang masih tajam. Ia menatap Havard untuk menghilangkan gugupnya.


"Kau perlu pedang... nanti aku akan membawamu ke toko senjata... kau bisa memilih pedang yang kau suka disana..." ujar Nuzlan lalu menatap Selena. "Sekalian kita bisa belanja sepuasnya..." ujarnya sambil tersenyum.


"Berarti... kau juga harus memberikan uang belanja kepada Nagini..." goda Selena.

__ADS_1


Nuzlan tertawa lalu menjawab. "Sudahlah... mari kita makan..." ajaknya dan tidak lagi bicara.


Keempat orang itu menikmati menu pesanannya. Sementara Nuzlan mencuri-curi pandang kepada Nagini yang menyantap makanannya dengan wajah yang masih bersemu merah.[]


__ADS_2